Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Tiga Kisah Cinta


__ADS_3

Mendengar para pemuda diistirahatkan, warga dan para gadis belia berduyun-duyun berdiri di depan gerbang istana. Mereka berharap dapat melihat salah satu dari pemuda penuh pesona itu. Mata tajam mereka sibuk berkeliling menyusuri satu persatu sudut terdalam istana agar tak ada yang terlewatkan. Mereka mencoba menelusuri lebih dalam lagi untuk memperoleh pemandangan indah itu. Hingga pada akhirnya, beberapa pemuda berjalan melewati gerbang menghasilkan tatapan kagum dari para gadis. Suasana ribut tercipta dan mengalir bersama dengan kenikmatan mata itu.


Young, dia berlari melewati gerbang utama istana dengan lengannya yang terbalut kain. Saat itu, orang-orang menyadarinya. Melihat lengan yang terluka, mereka heboh dan sontak berebut untuk datang melihatnya lebih dekat. Memberikan pengobatan dan berharap dapat mengucur perhatiannya. Namun sayang, dia berlalu sangat cepat. Tampak sangat ingin menghindar.


Tiga Kisah Cinta 


Saat itu, untuk menghindari para warga yang ingin melihatnya, Young berbelok menuju tempat yang sedikit sepi. Di tempat itu Young tanpa sengaja menabrak seorang gadis dengan gaun biasanya. Hingga tangannya yang terluka menjadi sangat sakit. 


Rasa sakit yang dirasakan Young tergambar jelas dari lengannya yang kembali berdarah di balik pembalut lukanya itu. Gadis itu terkejut, ia melihat ada beberapa gadis belia yang mengejar Young tampak dari kejauhan. Gadis biasa itu memberanikan diri menarik tangan Young lebih dekat dan membawanya bersembunyi di balik sebuah batu besar. 


Young melepaskan genggaman gadis itu dari tangannya. Ia tergesa-gesa dan tampak memaksa gadis itu melepaskan genggamannya. Menghindar, dan segera pergi dari gadis itu adalah yang ingin dilakukannya saat itu. Namun, gadis itu kembali menarik tangannya. 


Tanpa mengatakan apapun, gadis itu merobek gaunnya. Gadis itu, wajahnya tampak khawatir, itu bisa terlihat dari raut wajah dan air mata yang mengalir di pipinya. Ia mengikatkan potongan gaunnya pada lengan Young yang terluka.


“Terimakasih,” ucap Young singkat.


Tanpa memandang wajahnya, Young berdiri, merapikan jubahnya dan sesekali mengintip keluar. Dia pergi dari tempat itu meninggalkannya gadis yang terdiam oleh permainannya itu. Air mata sang gadis berhenti. Sekarang dia sedang berada dalam puncak khayal tingkat tinggi. Terdiam, terpaku menyentuh tangannya sendiri. Tangan yang berbekas dengan darah Young membuatnya tersenyum tiada henti. Sangat indah, pikirnya.


“Semoga anda baik-baik saja, ”gumam gadis itu sambil menatap ke jalanan kosong.


 


Sementara itu, ternyata ada gadis lain yang daritadi memperhatikan mereka. Gadis lain, yang hatinya patah. Pemandangan yang ia lihat barusan membuatnya ingin menangis. Ia meremuk dadanya erat. Sangat sakit, membuatnya tak mampu untuk bersandar lagi. Entah karena cemburu, atau karena tangan Young yang terluka. Yang jelas, rasanya menyesakkan, membuatnya lelah untuk mencoba berpikir ringan.


Gadis lain itu, wajahnya berubah pucat, ada sedikit amarah terukir dari sudut wajah cantiknya. Dia berlari ke istana hendak menimpali seluruh kemarahan itu pada dalang utamanya. Ia berlari dan terus mencari di setiap sudut istana, hingga akhirnya ia bertemu Won Bin di depan gerbang utama.


“Apa yang Kakak lakukan pada Young?” tanyanya dengan mata yang bengkak.


“Kau habis menangis?” tanya Won Bin.


Won Bin ingin menghapus air mata sang adik, namun sang adik mengelak. 


“Apa Kakak yang melakukannya?" tanya gadis itu sekali lagi.


Won Bin keheranan. Ia menyipitkan mata, mencoba mengerti apa yang terjadi dan segera sadar.


“Pergi dari sini. Disini bukan tempatmu,” jawab Won Bin mengalihkan pandangannya.


“Aku bertanya pada Kakak, apa Kakak yang melakukannya?” tanya gadis itu memaksa.


“Ara! Apa kau sudah gila?" bentak Won Bin pada adiknya.


“Ya, aku gila. Kenapa?” jawab sang adik menahan puncak amarahnya.


“Begitu? Ya! Aku yang melakukannya. Aku yang sudah melukainya. Lain kali, Akan kucabik-cabik anak sialan itu! Apa kau puas?!” teriak Won Bin dengan kedua alisnya yang naik.


Ara terdiam dan pelan-pelan mundur, ia hendak menyudahi seluruh amarah yang dipendamnya. Namun harus bagaimana, Won Bin adalah kakak kandungnya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berlari meninggalkan kakaknya, membawa seluruh rasa kesal itu dan menyimpannya rapat.


“Berhentilah kau bermain dengan adik si pengecut itu!” teriak Won Bin yang malah semakin melukai hati adiknya.


**


Sementara itu, dari kediamannya, Putri Shih sibuk mondar-mandir.


“Yang Mulia Tuan Putri, apa ada hal yang mengusik pikiran anda?” tanya pelayan pribadinya.


“Mengapa aku tidak bisa berhenti mengingatnya,” keluh sang putri.


“Ma.. maksud anda?” bingung sang pelayan.


“Pemuda itu, apa dia mengumpulkan jawabannya?” tanya sang putri.


“Maksud anda, pemuda di barisan belakang itu?” tanya balik sang pelayan.


Putri Shin tidak menjawabnya. Ia hanya menatap sang pelayan. Tatapan sang putri, membuat pelayan pribadinya hampir saja tertawa, tampaknya gadis muda itu sedang jatuh cinta.

__ADS_1


“Ah iya Tuan Putri, pemuda itu, aku melihatnya. Ia akhirnya mengumpulkan jawabannya,” jelas sang pelayan gugup, tapi penuh semangat.


“Syukurlah," jawab Putri Shin lega.


Para pelayannya pun saling memandang dan tersenyum kecil satu sama lain. Putri Shih yang melihat mereka tersenyum seperti itu, menjadi gugup dan berusaha menghindari situasi.


“Aku hanya tidak suka melihat orang bodoh yang mudah menyerah,” bentak sang putri berusaha mengelak.


“Iya, iya Tuan Putri,” kata sang pelayan genit.   


Sementara itu, di sisi yang berbeda, pemuda yang sedang mereka bicarakan itu, ternyata sedang berjalan-jalan di sekitar istana. Dari tempat Putri Shin mengintip sebelumnya, pria itu sekarang sedang berdiri di sana, berdiskusi dengan dirinya sendiri. Namun saat itu juga, pemuda itu menghentikan langkahnya.


Ia menemukan sesuatu di tempat itu. Sesuatu yang terlihat sangat berharga. Sebuah batu mulia yang sangat mahal. Ia menyentuh batu itu dan berkali-kali memperhatikannya. Sesaat setelahnya, pemuda itu mengingat kejadian tadi. Seorang gadis muda yang tadi mengintip dan berlari disini, dan berpikir mungkin saja itu miliknya. Tanpa ia tahu, itu adalah milik Putri Shin, milik seorang putri raja. 


Ia yang mengambil batu itu, segera membersihkannya, membungkusnya dengan sapu tangan miliknya, dan menyimpan itu di balik jubahnya. Dia membawa batu itu, dan melangkah dari sana secepatnya.


**


Sementara itu di pasar, Youra dan ibunya sibuk berbelanja. Disana mereka banyak mendengar gosip orang-orang soal para pemuda. Youra dan ibunya tidak memperdulikan itu. 


“Tunggu disini bersama belanjaan ibu, ibu mau ke sana sebentar,” kata ibu Youra.


Youra duduk di suatu sudut kedai kecil. Di samping kedai itu, ada jalan kecil yang menghadap ke timur. Youra tetap duduk di sudut kedai itu sambil melamun, memikirkan banyak hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun, lamunannya gusar saat ia mulai melihat seseorang. Seseorang yang sangat familiar.


Youra kecil tak berkedip sekalipun. Ia terus terdiam di tempat dengan pandangan yang tak berubah. Seluruh pikirannya terbang melayang, entah kemana. Apa yang dipikirkannya menjadi lebih rumit lagi.


Aku pikir, saat itu aku sedang tidak baik-baik saja. 


Seseorang itu, sedang berdiri diam di sudut jalan itu. Sambil menatap kertas yang sedang dipegangnya, seseorang itu berdiri dengan bawaan cerdas yang melekat pada dirinya.


Begitu indah, hingga aku tak tahu, apa aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


Youra matanya berbinar. Tak lama setelah itu, wajahnya berubah pucat. Seseorang itu membalas tatapannya dengan hangat. Youra terkejut, detakan jantung yang bahkan dapat di dengarnya, membuatnya tak mampu bertahan disana lebih lama.


Pemuda itu, kini berjalan ke arahnya.


Dia, bunga yang indah.


Youra yang terpana, ia bahkan tidak bisa bergerak. Seolah terpaku, dia berusaha memberontak dirinya sendiri agar segera sadar. Dengan sekuat tenaga, Youra berhasil mendapatkan jiwanya yang hampir saja melayang. Secepatnya ia memalingkan wajahnya ke arah sang ibu dan berlari dari sana.


Pemuda itu menghentikan langkahnya, menatapnya heran. Sambil mengerutkan dahi, ia tersenyum ringan. Tampak tak percaya, seorang gadis imut berlari menghindar seolah akan diterkam olehnya, membuatnya hampir saja tertawa.


Aroma bunga nan indah, menyerbak hingga melekat pada tiap-tiap benda yang kubawa. Meski tak di tempat, mengapa indah dan harumnya masih tersisa hingga kenangnya terus terasa.


**


Lee Young duduk di bawah pohoh tua di belakang sebuah rumah yang sudah tak berpenghuni tidak jauh dari istana. Ia memegang lengannya yang basah karena darah itu erat-erat. 


“Ini aneh,” gumamnya.


Young tampak heran. Meski luka itu cukup besar, Young tidak pernah merasakan perih yang lebih buruk dari itu sebelumnya.


“Luka ini tidak terlalu besar. Kenapa bisa seperih ini?".


Tiba-tiba,


“Lee Young, apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang datang entah darimana.


Young yang terkejut sontak menoleh ke arah suara itu.


“Jung Hyun, kenapa kau bisa disini?" tanya Young kembali.


Jung Hyun merupakan putra mantan ketua inspektur kerajaan yang gugur dalam medan perang. Ia dan Lee Young merupakan sahabat karib sejak kecil. Meski Jung Hyun seorang yatim, berkat jasa ayahnya, ia diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian di istana. 


“Ada yang ingin aku sampaikan padamu,” jawab Jung Hyun.

__ADS_1


Jung Hyun mendekat dan duduk di sampingnya.


“Aku berjalan di sekitar istana dan menemukan sesuatu yang aneh. Pedang yang digunakan Won Bin sepertinya telah dibaluri cairan serangga beracun. Racun itu, tidak bisa terdeteksi dengan mudah. Tapi sepertinya, itu tidak berbahaya. Ini mungkin hanya menyebabkan perih yang hebat, tapi akan pulih segera,” jelas Jung Hyun.


“Pantas saja,” jawab Young singkat.


Jung Hyun menatap luka Young lekat. 


“Kupikir, kau pasti menang jika melawan putra kepala menteri perang itu. Kenapa tidak kau lakukan?” tanya Jung Hyun.


“Melawannya berarti membunuhnya. Aku tidak ingin membuang tenagaku untuk hal yang tidak berguna,” jawab Young sambil memegang lengannya.


Jung Hyun melihat luka itu khawatir.


“Tunggu. Sepertinya, ini tidak beres,” kata Jung Hyun.


Young menatapnya heran. Jung Hyun mencoba memeriksa luka Young. Ia mencoba membuka kain pembalut itu dan terdiam setelahnya. Kini, ekspresi keduanya tampak lucu saat Jung Hyun melihat kain pembalut itu.


“Bukankah, kain ini potongan gaun, milik seorang gadis?” kata Jung Hyun, menatap Young bingung.


Young dengan malu mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ini perih, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Young coba menghindar.


“Baiklah. Kupikir itu akan baik-baik saja. Ah iya, aku menemukan ini di istana". 


Jung Hyun menunjukkan sebuah batu mulia yang ia temukan di sekitar istana tadi. 


Young mengambil batu itu dan memperhatikannya.


“Ini milik seorang gadis,” kata Young.


Mendengar jawaban Young, Jung Hyun langsung melirik ke arah kain pembalut Young lagi.


“Tidak mungkin, tidak mungkin,” alihnya sambil bergumam keras.


Young yang menyadari temannya yang mencoba menggodanya itu kembali memperhatikan batu itu.


“Ini batu yang mahal, kembalikanlah ini segera. Sepertinya itu milik keluarga kerajaan” kata Young sambil mengembalikan batu itu pada Jung Hyun.


Jung Hyun meraih batu itu. Kini ia kembali memperhatikannya.


“Apa mungkin ini milik gadis itu?". 


“Gadis?" tanya Young.


Jung Hyun adalah pemuda barisan paling belakang yang terus diperhatikan oleh Putri Shin tadi, pemuda yang berhasil mencuri hati putri raja.


“Tadi ada seorang gadis yang ditegur karena mengintip, tampak melihat ke arahku. Dia memakai gaun yang indah. Aku tidak pernah melihat gaun seindah itu. Dia sangat cantik,” kata Jung Hyun membuat Young menoleh ke wajahnya.


Jung Hyun terdiam dan mencoba mengalihkan pembicaraan saat menyadari apa yang baru saja dia katakan.


“Ahaha tidak mungkin gadis seperti itu mengintipku, tidak mungkin. Anak yatim sepertiku sudah sangat beruntung bisa mengikuti ujian itu. Sejak ayahku meninggal, aku harus bekerja untuk membiayai ibuku yang sakit. Dan kau adalah satu-satunya sahabatku yang terbaik. Kau mau berteman dengan orang susah sepertiku, dan banyak membantu,” jelas Jung Hyun pada Young.


Young yang mendengar itu menatapnya datar. Ia tampak geli dengan ucapan sahabatnya itu.


“Sejak kapan, kau menjadi dramatis seperti itu?” tanya Young dengan wajahnya yang datar.


“Kau ini menyebalkan sekali. Apa kau tidak bisa tersenyum sedikit? Sudahlah, ayo kita kembali ke istana. Aku tahu kau kuat, aku tak akan membantu meski lenganmu luka begitu".


Jung Hyun pun berdiri bersama Young dan merangkul pundak temannya itu. Kini mereka berjalan kembali ke istana. Membawa seluruh harapan mereka. Sahabat, cinta, dan kebencian, lihat bagaimana perjalanan ini menemani dan melengkapi kehidupan.


Gelapnya sirna saat cahaya itu menyapa. Bintang-bintang itu terus menyinari langit yang gundah hingga lelap di malam yang gulita. Satu bintang dengan cahaya yang redup, akan bersinar ditemani bintang bercahaya dengan sinar yang cukup. Mereka kuat, dan terang meski awan yang angkuh selalu mencoba saling menutup.    


**  

__ADS_1


__ADS_2