Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kebohongan Pertamaku Pada Kakak


__ADS_3

Youra dengan segera berlari ke kaki gunung sebelum kakaknya tiba di rumah. Ia berlari sekencang-kencangnya karena takut Young lebih dulu tiba di rumah.


Dengan pakaian yang basah kuyup akhirnya ia menyadari, bahwa dia sedang membawa jubah Jun lari bersamanya. Dia yang tadinya takut menjadi sangat bahagia.


“Hihi hangat sekali pakaian Guru Jun ini,” gumamnya.


Tak lama, ia tiba di rumah. Syukurlah, kakaknya sepertinya juga terjebak hujan sehingga belum pulang. Paman Nana datang memberikan handuk kepada Youra.


“Nona, Anda kehujanan? Sini, biar pakaiannya dikeringkan dulu".


“Tidak usah, Paman. Biar yang ini, aku cucikan,” jawab Youra yang tampak sangat bahagia.


Paman Nana hanya terdiam karena menyadari, jubah itu, adalah milik seorang pemuda. Ia terus memandangi Youra yang bahagia, tetapi tidak tersenyum sama sekali.


**


Suatu hari, Youra diam-diam kembali ke desa bersama Nana untuk mengembalikan jubah milik Jun. Ia melihat Jun sedang tiduran santai memejamkan mata setelah bertani di sebuah bukit. Youra yang menutup wajahnya dengan selendang datang dan meletakkan jubah itu cepat-cepat di sebelah Jun kemudian berlari sedikit, kembali ke arah Nana yang menunggunya. 


“Dia rajin sekali, bukankah Guru Jun itu adalah guru yang hebat dan kaya? Kenapa dia malah berpikir untuk menjadi petani,” katanya pada Nana.


Nana yang mendengar itu, jadi tertawa.


“Nona, mungkin Tuan Muda itu orang yang sangat bosan duduk santai".


Youra mengangguk setuju, dan akhirnya ikut tertawa.


“Nana, bisakah kau mengantarkan aku ke makam ayah dan ibuku?”.


Tawa mereka meredup setelah pertanyaan itu.


“Nona, aku minta maaf, tetapi, Tuan Muda sangat tidak mengizinkan kita mengunjungi makam Nyonya dan Tuan Lee. Kumohon, bersabarlah sedikit lagi, sampai Tuan Muda mengizinkannya,” jawab Nana.


Youra yang sedang berjalan itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam dan berjongkok, menangis menutupi wajahnya.p


“Nona, maafkan aku. Apakah aku melukai hati Anda? Nona, aku tidak bermaksud. Ini demi kebaikan Nona dan Tuan Muda. Ayo kita kembali cepat ke rumah,” Nana membantu Youra berdiri.


Tapi,


“Tunggu,” seseorang menghentikannya.


Mereka berbalik dan terkejut, ternyata Jun sedang ada di belakang mereka.


“Aku terbangun karena mendengar suara anak kecil menangis,” ledek Jun.


Jun melangkah pmendekat padanya.


“Aku akan menemanimu mengunjungi makam Ayah dan Ibumu,” tambah Jun.


Youra terdiam. Sementara itu, Nana dengan wajah khawatirnya tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tahu, Youra menyukai Jun.


Youra yang masih terisak itu mengangguk pelan. Jun mengulurkan tangannya, menarik tangan Youra dan membawanya pergi.

__ADS_1


“Apa kau mau ikut?” tawar Jun pada Nana.


“Tidak Tuan Muda, aku akan kembali untuk memeriksa apakah Tuan Muda Young ada di rumah atau tidak. Nona, kembalilah segera, ya,” kemudian Nana pergi meninggalkan mereka dengan perasaannya yang sangat khawatir.


**


Diperjalanan menuju makam, Youra terus menitikkan air mata.


"Jika merindukan ayah dan ibumu, kau bisa mengunjunginya kapanpun tanpa izin dari siapapun,” Jun mencoba menenangkan Youra.


“Aku sangat merindukan mereka. Hari itu, aku dengan jelas melihat senyum ibuku, rasanya sakit sekali,” cerita Youra.


Jun memutar tubuhnya kehadapan Youra.


“Kau jauh lebih beruntung. Ada anak di luar sana yang punya kedua orang tua lengkap, tetapi tidak disayangi sama sekali. Bahkan ada mereka yang dibuang oleh orang tuanya sendiri. Jadi, jangan menangis untuk cinta dan kasih sayang ibu dan ayahmu yang sudah tertinggal,” kata Jun.


“Bagaimana dengan Guru Jun?” tanya Youra. 


Jun kembali pada porosnya, berdiri tegap di sebelah Youra melanjutkan perjalanannya.


“Ayah dan ibuku sudah berpisah. Sekarang aku tinggal bersama ibuku,” jawab Jun.


Youra melihat wajah Jun yang sedih.


“Apa hari ini Anda tidak mengajar?” tanya Youra, memalingkan diri.


“Hari ini, aku ingin membantu Ibuku. Jadi, aku tidak mengajar hari ini,” jawabnya.


“Ayah, Ibu, maafkan aku, karena tidak pernah mengunjungi kalian,” Youra mengelus kuburan itu dan terus memeluknya.


Sambil menangis Youra bangun dari pelukannya.


“Apa Ayah marah padaku? Apa Ibu juga marah padaku? Kenapa kalian meninggalkan aku?” Youra menangis sejadi-jadinya.


Jun yang menyadari seseorang tampak dari kejauhan mendekati pemakaman itu, segera mengajak Youra bergegas pergi.p


“Youra, ayo kita pergi. Sepertinya ada seseorang yang juga ingin ziarah,” panggil Jun cepat.


Youra kemudian menghapus cepat air matanya. 


“Ayah, Ibu maafkan aku karena tidak membawakan bunga untuk kalian. Tapi, aku berjanji, aku akan membawa kalian di setiap doaku. Aku juga akan berkunjung lagi nanti".


Youra dengan segera memperbaiki gaunnya yang kusut dan menutupi wajahnya cepat. Jun dengan cepat menarik tangan Youra, dan menutupinya. Benar-benar tidak disangka. Saat itu, Youra berselisish dengan kakaknya sendiri. Membuatnya hampir saja tertangkap. Untung saja, Young dengan sifatnya yang cuek tidak menyadari itu.


Jun yang tampak khawatir membantu Youra melewati sang kakak dan menyembunyikan wajah Youra. Setelah agak jauh, Jun tertawa.


“Lihat wajahmu itu, benar-benar lucu,” ledek Jun pada Youra sambil tertawa.


Dia tertawa di depanku.


Youra hanya terpana. Tidak berkutik sama sekali, dan hanya terus memandangi Jun yang tertawa terbahak-bahak. Namun, ia berusaha bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


“Guru Jun, tadi itu tidak lucu. Jika kakak tahu, dia akan sangat marah. Aku tidak mau dia marah. Akan sangat menyeramkan,” jawab Youra.


“Kakak pasti baru pulang belajar. Dia datang kesini tanpa aku, ke biro pendidikan juga tanpa aku, kejam sekali," tuturnya sedih.


Jun tersenyum.


“Hei, kau ingin belajar? Apa kau lupa, yang berdiri di hadapanmu sekarang ini adalah seorang guru. Kalau kau mau, datanglah setiap hari sebelum matahari terbenam. Aku akan mengajarkanmu banyak hal. Semua pelajaran, yang tertinggal. Aku juga akan meminjamkanmu buku, apa kau mau?”.


Youra berbinar.


“Tentu, tentu saja,” jawabnya semangat.


Dia senang, bukan hanya karena itu, tetapi, juga tentang kenyataan yang segera mengantarkannya pada impian. Karena dia yang akan sering melihat Jun, itu akan membuatnya lebih tumbuh.


Hari itu, mereka saling tersenyum, tertawa, dan saling bercanda.


Youra sangat bahagia. Ia tidak tahu, apakah kakaknya juga bahagia atau tidak.


Saat itu, Youra kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Tanpa sadar, wajah ceria itu seketika berubah takut. Ia mendapati kakaknya sedang berdiri diam di depan kediamannya, kakaknya menatapnya tajam.


Saat itu, Nana sedang tertunduk takut jauh di sebelah tumpukan kayu bakar.


“Darimana saja?” tanya Young dengan wajahnya yang datar.


Youra melirik Nana.


“Aku baru saja dari bukit,” jawabnya.


“Kau ke bukit tanpa temanmu? Apa kau mencoba menipuku?” Young mendekatkan wajahnya.


“Aku tidak mungkin berbohong,” jawab Youra gugup.


Young mendekati sang adik lebih. Youra yang ketakutan, malah terkejut karena sang kakak malah mengelus kepalanya.


“Aku akan mempercayaimu. Jadi, tolong jangan pernah melanggar aturan yang sudah kita sepakati”. 


Young degan perasaan curiganya,masuk ke rumah. Paman Nana datang menyambut Young dan melepaskan jubahnya. Paman itu melirik Nana dan menghampirinya.


“Bukankah sudah aku katakan, tolong jagalah dia, jangan sampai dia pergi sendirian. Apa yang kau lakukan?” bisik sang paman marah.


“Dia sedang jatuh cinta, Paman. Bagaimana aku bisa menghalangi dua orang, yang tampaknya saling menyukai. Pemuda itu sangat baik padanya. Dia ceria dan ramah, Nona Youra sangat bahagia bersama Tuan Muda itu,” jawabnya takut.


“Dengar, apapun yang terjadi padanya, adalah tanggung jawabmu sebagai pelayannya. Jangan biarkan perasaanmu menghancurkannya”.


Sang paman meninggalkan Nana. Ia kembali mengurus dan menyiapkan makanan untuk Young.


Sementara itu, Youra yang melihatnya merasa bersalah.


“Maafkan aku,” dia memeluk Nana.


Itulah kebohongan pertamaku pada kakak.

__ADS_1


 


__ADS_2