Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pagi Menggoda


__ADS_3

Youra menjadi mual. Rasa canggung luar biasa yang memacu detak jantungnya, membuat napasnya sangat sesak. Sementara Pangeran Hon masuk lebih dulu, memberikan salam hormat pada sang kakak yang saat itu sedang bersandar di atas ranjang. "Yang Mulia Putra Mahkota, maaf sudah mengunjungi Anda pagi sekali. Aku mendengar kabar bahwa Anda sedang tidak enak badan karena sangat kelelahan. Jadi aku datang kemari untuk membesuk." Sangat ramah Pangeran Hon bersuara, hingga tak lama gadis bertubuh mungil itu masuk ke dalam bilik suaminya sangat canggung dan gemetaran.


Pangeran Hon menoleh pada Youra dan tersenyum padanya. "Tak sengaja hamba bertemu kakak ipar di depan istana Anda. Tampaknya beliau juga ingin berkunjung. Bukankah begitu, Putri Mahkota?"


Youra tersentak. Dia yang dari tadi hanya menundukkan tubuhnya setelah memberikan salam hormat akhirnya menengadah. Youra menoleh lebih dulu pada Pangeran Hon dan membalas senyum adik iparnya itu. "Ah iya, benar sekali Adik Ipar," jawab Youra gelagapan.


"Senang sekali, Anda memanggilku dengan panggilan seperti itu, Yang Mulia." Pangeran Hon memperlihatkan betapa senangnya dia dipanggil secara tidak formal oleh kakak ipar yang sebenarnya lebih muda darinya. Putra Mahkota menatap reaksi kedua orang yang malah membuatnya cemburu. Dia tak berpaling sedikit pun dari Youra yang saat itu terus saja tersenyum pada Pangeran Hon. Hingga mata yang terus saja Youra tahan untuk tak menatap suaminya tak lagi bisa dikendalikan. Dan, dia melihat sang suami yang juga sedang menatapnya tajam. Dengan jubah mandi mewah itu, suaminya sedang bersandar di dipan, memperlihatkan aura kemarahan.


Youra terkejut, Putra Mahkota tak berkedip sedikitpun darinya. Pelan-pelan garis senyum itu terhapus dari wajah Youra. Pangeran Hon yang sedang tersenyum juga ikut memudarkan senyumnya. Dia menatap mata Putra Mahkota yang terus memandangi Youra. Pangeran Hon tersenyum, dia mengangguk kecil setelahnya. Seolah mengerti situasi, dia bergegas untuk kembali.


"Yang Mulia, aku pamit undur diri dulu. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Semoga Anda lekas sehat dan sembuh. Oh iya Putri Mahkota, aku titip kakakku pada Anda." Pangeran Hon berdiri untuk lekas meninggalkan mereka berdua. Youra kembali menoleh, membalasnya dengan senyuman. Kini, Youra benar-benar tertinggal di dalam kamar suaminya. Dia ingin sekali keluar, tetapi dia terkunci di tempat karena sang suami sedang menatapnya.


"Putri Mahkota, kau tidak mau keluar juga? Aku sedang sibuk. Kembalilah ke kediamanmu." Youra menjadi semakin kesal, ingin berteriak dan menampar wajah suaminya itu, tetapi dia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa. Sangat tak menyangka sang suami malah mengusirnya. Dia tak menegakkan kepala. Terus menundukkan pandangannya. Merasakan jangkauan tombak yang menancap hatinya. Membuat air mata kekesalan menggenang di pelupuk matanya.


Putra Mahkota masih di atas ranjang, memandangi wajahnya tajam.


"Lee Youra, kau tahu kau telah menyakiti hatiku? Ratusan kali hingga aku ingin bunuh diri." Sangat yakin Putra Mahkota mengatakan hal itu. Sangat jelas wajah kecewanya yang menyedihkan. Suara Putra Mahkota bergetar, dia hampir saja menangis karena terlalu sering disakiti. "Kembalilah ke kediamanmu," tambah Putra Mahkota berusaha tenang. Menahan kekecewaan yang membuatnya kembali sakit.


Cukup hening, hingga tak terdengar satu suarapun setelahnya. Youra masih diam di tempat tak sedikitpun bergerak. Putra Mahkota sadar, sang istri tampaknya tak ingin beranjak. "Lee Youra mendekatlah."

__ADS_1


Youra membatu, dia tak juga mendekat atau pergi keluar dari bilik suaminya. "Lee Youra, aku bilang mendekatlah kepadaku, " Kembali Putra Mahkota bersuara. Youra menegakkan kepalanya yang tertunduk, memandang wajah tampan itu dari tempatnya duduk. Putra Mahkota terlihat sangat marah. Matanya terus saja menatap Youra tajam.


Youra bangkit dari duduknya, pelan-pelan mendekati suaminya. Dia menyisiri tepi ranjang, dan duduk di sudutnya. "Lee Youra, apa kau tidak mendengar perintah suamimu? Mendekat."


Jantung Youra berdegup kencang, dia tak juga mendekat. Tetap duduk di sudut ranjang dengan wajah cemberutnya. Namun, gengsi itu berubah mendadak, saat Youra kembali memandang wajah suaminya yang pucat. Wajah Putra Mahkota terlihat sangat sedih. Cairan merah kental yang hampir saja keluar dari hidung Putra Mahkota menarik tubuh Youra tanpa sadar untuk mendekat. "Putra Mahkota, Anda masih sakit?" tanya Youra mendadak perhatian tak ragu untuk menyentuh hidung mancung itu dengan tangan telanjang.


Putra Mahkota membatu, memperhatikan wajah itu lebih lama. "Lee Youra, bagaimana caranya kau menghapus luka yang ada di hatiku?" tanya Putra Mahkota menyedihkan.


"Mengapa tersenyum kepada pria lain? Tapi tidak pernah tersenyum untukku." Pertanyaan Putra Mahkota mengejutkan Youra. Youra menelan ludahnya sendiri karenanya. Putra Mahkota yang sedang bersandar di ranjang tak sedikitpun berhenti menatap Youra dengan raut kecewanya yang sangat dalam. Entah kenapa perasaan yang seharusnya takut itu malah berubah menjadi menyenangkan, membuat Youra benar-benar tersenyum. Ada perasaan lega di hatinya. Setidaknya, sikap Putra Mahkota menjawab kegelisahannya. Suaminya, masih mencintainya.


"Minta maaflah kepada suamimu ini," perintah Putra Mahkota begitu yakin dengan raut wajah kecewanya itu. Youra malah terkunci, mulutnya bungkam tak bisa berkata. Setelah begitu lama terpelongo, Youra berusaha untuk bersuara. "Ma-maaf," jawab Youra malu-malu.


Setelah menyadari apa yang baru saja mulutnya katakan, Youra terpaku. Tak dapat bertindak lebih jauh selain hanya bisa membersihkan darah yang keluar dari hidung suaminya tanpa memandang wajah tampan itu. Mendengar jawaban Youra, Putra Mahkota menggerakkan tubuhnya mendekat ke wajah Youra. Putra Mahkota terus saja menatap mata istrinya. Sedang Youra masih terus membersihkan hidung itu.


Di keheningan pagi itu, Putra Mahkota menarik Binyeo (tusuk konde Putri Mahkota) hingga rambut Youra terurai lepas. Youra terkejut, saat matanya menatap mata sang suami yang sedang memandanginya. Youra menjadi canggung dan mengalihkan wajah. "Ya-yang Mulia. Jangan memandangiku seperti itu."


"Malam itu aku tidak melihatnya dengan jelas," jawab Putra Mahkota sejengkal dekat dengan wajah istrinya.


"Aa-apa, apa maksudnya?" tanya Youra dengan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


"Wajah cantik yang menggerai rambutnya. Aku ingin selalu melihatnya."


Dia meletakkan telapak tangan kanannya di sisi wajah Youra, perlahan-lahan mendekatkan wajahnya. Menciptakan ritme baru yang saling berhembus satu sama lain. Putra Mahkota mendekatkan bibir merahnya. Yap, Youra terbungkam. Putra Mahkota menjajaki bibir Youra yang indah dengan bibir merahnya. Putra Mahkota sangat wangi. Wajahnya benar-benar, sangatlah tampan. Tubuhnya tinggi dan gagah. Rambutnya indah dan lebat. Dia memperlakukan Youra sangat manis dan tak pernah kasar, meski Youra selalu menyakitinya. Dia membelai rambut itu dengan mesra, mencium bibir Youra dengan kasih. Tak terburu-buru, Putra Mahkota sangat sempurna luar dan dalam. Youra terpaku, saat bibir itu menjelajahi bibirnya dengan bebas. Sangat lama, hingga Youra hanya bisa mengalah. Tak membalas permainannya.


"Lee Youra, sampai kapan kau terus menyakitiku?" Putra Mahkota mengangkat bibirnya, saat ini memandang Youra dekat sekali.


"Kita berpisah, hanya jika aku mati," bisik Putra Mahkota pelan dengan napas wanginya, terlalu dekat. Matanya masih terus menatap bibir merah Youra.


Dia tersenyum melihat wajah merona Youra. Menyentuh bibir Youra dengan tangannya. "Aku tahu kau tidak mencintaiku," kata Putra Mahkota sembari merayapi bibir Youra dengan jari-jemari. "Tapi aku akan jadi yang pertama dan terakhir yang merasakannya," tambah Putra Mahkota sangat bahagia.


Dia menarik tubuh Youra lebih mendekat dan cukup menempel pada bidangnya, menciumi bibir berisi itu kembali. Kali ini tidak terlalu lama tetapi sangat manis dan penuh emosi. Youra sangat sesak saat Putra Mahkota terus saja bermain dengan bibirnya. Dia tak membalas apapun, hanya mematung dan tak lagi bisa bergerak. Putra Mahkota mendekapnya cukup mesra dan kuat.


Sesak itu makin menjadi tatkala Putra Mahkota melengos menyusuri leher Youra dengan napasnya yang berat. Putra Mahkota menyentuh rambut indah itu. Mengelusnya lembut dari pangkal sampai ke ujung. Membawanya mendekat pada hidung dan bibirnya. Tak lama setelahnya dia mengendus dan menciumnya.


Putra Mahkota mengambil tusuk konde yang dia lepas, membantu Youra mengikat rambutnya kembali. Sang suami mengangkat rambut itu pelan sebelum dia benar-benar memasangkan tusuk konde itu ke rambut istrinya. Dia mengecup tengkuk sang istri lalu menurunkan sedikit gaun Youra hingga pundaknya terlihat. Putra Mahkota diam saja, menunggu reaksi apakah Youra akan marah atau tidak. Nyatanya, Youra tak memberontak, membuat Putra Mahkota semakin yakin untuk mengecup pundak itu sangat lama. Kemudian beliau kembali mengangkat wajahnya.


Youra membalikkan badannya setelah Putra Mahkota selesai. Youra malu-malu memandang wajah suaminya. "Apa pekerjaan negara itu terlalu banyak hingga Anda jadi sakit seperti ini?" tanya Youra sedikit canggung. Ini pertama kalinya Youra bertanya seolah mengajak berbincang. Putra Mahkota mengangguk manja di depannya.


Wajah Putra Mahkota yang terlalu tampan, membuat Youra tak kuasa untuk berlama-lama memandangnya, dia memalingkan wajah itu cepat.

__ADS_1


"Jangan memalingkan wajah dari suamimu lagi," lirih Putra Mahkota dengan nada kecewanya yang terkesan manja, kembali meraih pipi Youra untuk segera memandangnya lagi.


Apa benar, suamiku ini yang sudah membunuh kakakku? Mengapa, aku ingin sekali memeluknya? Tunjukkan kepadaku, bahwa Anda memang bukan pelakunya, Yang Mulia, Suamiku.


__ADS_2