
Kabar tentang telah teracuninya Putra Mahkota akhirnya sampai di telinga raja hari itu juga. Tangannya bergetar hebat. Dengan pandangan yang sudah tak lagi jelas, raja dibantu para pelayan bangkit dari duduknya yang lemah. Ia diantar menuju istana Putra Mahkota. Kabar mengejutkan ini menghantam keras seluruh tenaganya, hingga ia tak mampu bahkan untuk sekedar menopang tungkainya yang lemah.
Tak peduli pakaian apa yang sedang digunakannya, raja terus saja berjalan menuju kediaman putranya itu. Sementara itu, para menteri yang masih ada di sekitar istana saling berbisik, bergemuruh menciptakan lautan manusia yang keji. Mereka bukannya khawatir dan mendoakan yang terbaik untuk Putra Mahkota, tapi malah bersiasat dan mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Bukankah, jika Putra Mahkota tewas kita tak perlu menciptakan kelompok pendukung untuk menaikkan Pangeran Yul ke atas tahta?" bisik salah seorang menteri di depan istana Putra Mahkota.
"Benar. Selain mendiang penasehat negara, siapa yang akan membela Putra Mahkota? Hidup atau mati, dia tetap tidak akan bisa bertahta. Rakyat menolak kepemimpinannya," tambah yang lainnya.
"Bukankah lebih baik mati saja? Sudah banyak yang membencinya, lantas kenapa dia tetap ingin berkuasa?"
"Tunggu. Siapa orang hebat yang berhasil meracuni Putra Mahkota? Bukankah selama ini dia selalu terbebas dari percobaan pembunuhan?" bisik Kepala Menteri Perang.
Para menteri saling perpandangan, saat menyadari sesuatu yang telah lama tertinggal. Youra sang permaisuri baru saja keluar dari istana suaminya. Hal ini, menimbulkan kecurigaan bagi para menteri dan oleh seluruh penghuni istana.
***
Di dalam kediaman Putra Mahkota, raja hanya bisa terpaku. Wajahnya memerah tampak sangat ketakutan dan penuh amarah. Hingga ia berjalan mendekati Kasim Cho dan menarik kerahnya. "Katakan padaku, apa yang sudah terjadi?!!" teriak raja pada Kasim Cho.
Kasim Cho menangis pilu, tanpa mampu menjawab pertanyaan sang raja. Raja melepaskan kerah Kasim Cho dari tangannya, segera mendekati para tabib yang wajah mereka tampak sangat tegang.
"Apa yang terjadi pada putraku?!" tanya raja berteriak kencang di telinga para tabib.
Para tabib itu hanya bisa tertunduk layu, seolah menggambarkan betapa berbahayanya situasi ini. "Yang Mulia, kami sedang melakukan yang terbaik. Tampaknya, Putra Mahkota meneguk terlalu banyak racun."
Para tabib saling berpandangan cemas, menyisakan sedikit ketegangan dan wajah terkejut yang aneh. "Yang Mulia, ada hal yang aneh dari pemeriksaan ini," tambah salah seorang tabib setelah selesai beradu argumen dengan tabib lainnya.
Raja melotot, menatap lekat berusaha menggali informasi lebih dalam. "Aa-apa?" tanya raja bergetar risau.
"Racun ini, hanya di temukan pada cangkir yang telah diminum oleh Yang Mulia Putra Mahkota saja. Sedangkan cangkir lain, air, dan kendinya tidak memiliki racun sama sekali. Ini adalah percobaan pembunuhan, Yang Mulia."
Seorang pelayan yang menyajikan minuman itu datang menghampiri. Dengan ketakutan, tangannya bergetar tak henti.
"Katakan padaku, apa yang kau berikan pada putraku?!!" raja berteriak tinggi. Suara amarah itu menggema hingga membangkitkan ketakutan mereka semua.
Sang pelayan bersimpuh di kaki raja, bersujud memohon ampun padanya. "Yang Mulia, hamba sama sekali tidak mengetahui itu. Ca-cangkir, cangkir itu bukanlah yang hamba letakkan pada Putra Mahkota, Yang Mulia," jawab sang pelayan ketakutan.
Raja menoleh pada putranya yang terbaring lemah. Darah itu berserakan di atas ranjangnya, membuat semua orang merinding, hingga raja menangis setelahnya. "Katakan padaku, siapa yang telah berkunjung? Mengapa Putra Mahkota minum di cangkir tamunya?" tanya raja putus asa.
Kasim Cho mendekat, terisak lalu bersimpuh di kaki raja. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hari ini, Putra Mahkota dikunjungi oleh ratu dan permaisuri."
Mendengarnya, raja terjatuh lemah, mencoba menyusun kepingan tentang akal sehatnya yang hancur berantakan. Berusaha berpikir yang baik-baik saja tanpa harus memikirkan hal-hal buruk lainnya. Hingga akhirnya, "Siapapun pelakunya, berikan dia hukuman mati secepatnya!"
__ADS_1
***
Youra masuk ke dalam biliknya, bersandar pada pintu bilik yang sudah tertutup itu hingga tubuhnya melemah. Mata bulatnya terus saja melotot tajam, menghasilkan butiran bening yang tak dapat lagi ditahannya.
Dia menekuk kedua lututnya, menyandarkan dagu di atasnya. Menggigit-gigit jempolnya yang pucat berkali-kali. Dayang Nari yang melihatnya sangat khawatir, ia mendekat pada Youra dan menahannya untuk tak menyakiti diri.
"Yang Mulia, jika Anda ingin kembali, hamba akan mengantarkan Anda kembali ke kediaman Putra Mahkota."
Youra tak membalas perkataan itu, ia terus menggoyangkan tubuhnya yang mulai pucat dan berkeringat.
"Yang Mulia, mau tidak mau, Anda harus kembali ke kediaman Putra Mahkota, agar Anda tidak tertuduh telah meracuni suami Anda sendiri. Sebagai orang yang terakhir bersama Putra Mahkota, seluruh bukti akan memberatkan Anda."
Apapun yang dikatakan Dayang Nari sama sekali tak mengubah apapun. Youra masih bersikukuh untuk tak kembali. "Aku tidak akan menemui pria bodoh itu lagi," jawab Youra.
Dayang Nari menyentuh kedua tangan Youra dan mengenggamnya erat. "Yang Mulia, bahkan semua ini demi keselamatan Anda. Masihkah Anda tak mau sedikit saja mengalah?" pinta Dayang Nari dengan wajah risaunya.
Youra terus saja menggoyangkan tubuhnya, kali ini semakin menangis, sangat tertekan dan ketakutan. "Yang Mulia, hamba mohon tolong jang..."
"Dayang Nari, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Youra mematahkan kalimat sang dayang.
Dayang Nari terdiam, samar-samar memandang mata Youra yang ketakutan. Terus menyelam lebih dalam hingga menembus kegelapan yang ada di balik tatapan itu.
"Apa Putra Mahkota akan baik-baik saja?" tanya Youra dengan air mata yang tak henti mengalir sekali lagi. Sudut mata itu menggambarkan sesuatu, entah kebencian atau sebuah perhatian. Yang jelas, kali ini sangat berbeda.
***
Porselin cantik itu pecah, terhempas jatuh dari tangan Putri Shin yang lemah. Kabar mengerikan itu, memorak-porandakan jiwa Putri Shin. "Aku akan ke istana."
Melangkah cepat, Putri Shin berlari keluar dari tandu yang mengantarnya. Segera ia mengatur napas dan langkahnya menuju kediaman Putra Mahkota, mendapati seluruh tabib yang tertunduk sedih di depan biliknya, membuat kaki Putri Shin menjadi lemah.
"Bagaimana kabar adikku?" tanya Putri Shin terisak menerobos masuk.
"Maaf Tuan Putri, Anda tidak bisa menemui beliau saat ini."
Putri Shin menoleh pada seluruh orang yang menunggu Putra Mahkota. Jangankan Jung Hyun sang pengawal, permaisurinya pun tidak ada disana. "Apa permaisurinya ada disini?" tanya Putri Shin pada salah seorang pelayan. Semua pelayan itu menggeleng pelan, dengan raut menyedihkan. "Permaisuri baru saja berkunjung, tetapi beliau.."
Tak perlu mendengar lama, Putri Shin berlari kencang menemui Youra dengan seluruh kekecewaannya.
**
"Dimana wanita iblis itu?!" teriak Putri Shin memecah keheningan tepat di depan bilik Youra.
__ADS_1
"Tuan Putri, tenangkan diri Anda."
Tak peduli seberapa banyak pelayan yang menghadangnya, Putri Shin terus menerobos para pelayan itu, mendapati Youra yang sedang berbaring nyaman di atas ranjangnya.
"Wanita busuk tak punya otak sepertimu, bangun kau!" Putri Shin menarik selimut Youra, membangunkan Youra yang sebenarnya tak pernah tidur.
"Putri Shin, mohon tenangkan diri Anda."
Para pelayan Youra dengan wajah khawatir mereka mencoba menahan tubuh Putri Shin yang tampaknya ingin segera melepaskan dan melemparkan seluruh amarahnya. Emosi itu meledak, bahkan dengan tenaga sederhananya.
"Wanita terkutuk! Bisa-bisanya kau tidur dengan nyaman di atas ranjang busukmu ini, saat suamimu dalam keadaan yang mengkhawatirkan!" tak henti-hentinya Putri Shin melayangkan sumpah serapahnya. Namun, Youra diam saja, tetap berbaring di atas ranjang itu tanpa memandang Putri Shin sama sekali.
Tangan lancang itu menarik pundak Youra dengan kasar, "Katakan padaku, apa yang sudah kau lakukan?!"
"Tuan Putri, bersikaplah patuh pada Permaisuri," ujar para pelayan menahan diri.
Putri Shin menghela napas dengan kasar, terhenyak di atas ubin dingin itu. Ia menangis tak kuasa, terisak terus menjadi-jadi.
"Mengapa, kau membiarkan adikku terluka?" tanya Putri Shin, dengan nada rendahnya yang menyedihkan. Youra tak menimpali, masih kokoh dengan egonya yang tinggi.
"Mengapa dia mencintai wanita sekeji dirimu?" tambah Putri Shin sekali lagi.
Youra menarik seluruh ego itu dari pikirannya. Baginya, Putra Mahkota hanya pria hina dan menyedihkan yang tidak tahu apa-apa soal cinta.
"Berhenti mengatakan apapun soal cinta. Kalian tak tahu apa-apa tentang cinta. Kalian hanya menjadikan aku yang sudah hidup menderita ini, sebagai tameng untuk menutupi kebusukan kalian," jawab Youra seketika.
Jawaban Youra benar-benar mengerikan. Mulut tajamnya menyayat luka cukup besar di hati Putri Shin.
Putri Shin bangkit dari duduknya yang lemah, berdiri cepat memegangi kokoh pundak Youra dengan kedua tangannya.
"Apa kau, yang sudah meracuni adikku?"
Mata itu memerah, menampilkan sedikit urat-urat kecil yang sudah lelah menangis. Terus memegangi pundak Youra dengan wajah sembabnya yang menakutkan.
Tiba-tiba ...
"Bawa Permaisuri Lee Youra!" suara langkah para opsir menciptakan melodi apik, yang menyeramkan. Mereka membuka pintu bilik itu dengan paksa. Lalu membungkukkan tubuh mereka.
"Sebagai orang terakhir yang berada di bilik Yang Mulia Putra Mahkota, kami meminta kesaksian Anda, Yang Mulia."
Putri Shin langsung membeku. Dia melepaskan genggaman itu dari pundak Youra. Menatapnya lekat dan mengiba. "Permaisuri, jika kau yang melakukannya, aku bersumpah, langit tidak akan memaafkanmu. Dan jika kau bukan pelakunya, aku bersumpah, langit akan segera menghukummu. Kau benar-benar manusia tak punya hati. Kau akan menyesal, menyia-nyiakan cinta adikku," bisik Putri Shin tepat di wajah Youra.
__ADS_1
Sambil menangis Youra tersenyum, "Tidak akan. Karena tidak ada cinta disini. Kalian semua, adalah penipu."
Youra beranjak dari ranjang itu, menghapus air matanya dan segera mengikuti para opsir. Meninggalkan Putri Shin yang membatu, setelah melawan kerasnya hati yang tak ingin disentuh itu.