Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Demi Putra Mahkota


__ADS_3

Set!


Set!


"Siapa disana?" Panah-panah tajam yang entah darimana melesat di tubuh musuh. Mereka satu persatu mati di tempat. Seorang pria berpakaian serba hitam turun dari salah satu kastil dengan pedangnya. Mengacungkan pedang itu seyakin mungkin. Para pengawal istana datang setelah pemuda berpakaian serba hitam itu berhasil mengelabui musuh. Hujan tampak seolah badai. Tubuh Putra Mahkota yang berlumuran darah dibiarkan basah oleh guyuran hujan.


Suasana menjadi sangat kacau. Rakyat berlarian pergi. Dua kubu itu sedang berkelahi, menciptakan irama epik yang saling tumpang tindih. Sibuk berkelahi di bawah hujan, sengaja mereka rencanakan untuk mengelabui.


***


"Lee Youra. Tentang cinta, hanya kau yang aku ketahui."


Sambil menangis, Youra menapaki tanah dengan kakinya yang penuh luka. Berlari kembali mengarungi hujan dan kumpulan air yang menggenangi jalan. Youra menutup wajah dan kepalanya.


"Putra Mahkota!" Youra berteriak di antara ramainya orang yang sedang beradu pedang saat melihat sang suami yang tergeletak jauh disana.


Salah satu pria berjubah hitam segera mendatangi tubuh Putra Mahkota, bersama satu orang lain membawanya pergi.


Seseorang menarik kembali tangan Youra untuk tidak mendekat. "Youra kau tidak boleh kesana!"


Youra menarik tangannya, tak peduli siapa yang menahan langkahnya. "Jangan bawa suamiku!" Dia memaksa lepas dari genggaman pemuda itu hingga tubuh lemahnya hampir saja terjatuh. Namun, seseorang yang menahannya lekas memegang erat wajah Youra dengan kedua tangannya. "Youra tahan dirimu!"


Pemuda itu menahannya sangat lama, sampai Youra kalah. Youra menangis dalam dekapan yang amat sangat dia kenal. "Kakak?"


"Youra, kau harus kembali ke istana. Posisi kosong itu akan direbut oleh pengkhianat. Sekarang, kembalilah. Kau ingin melindungi suamimu kan?" Lee Young, sang kakak yang dikira sudah tewas itu sekarang sedang memegang wajah adiknya yang hampir saja pingsan.


"Hei, hei Liat aku! Youra? Kau mendengarkan aku kan?" tanya Young meyakinkan. Youra mengangguk pelan sembari menitikkan air mata. "Kembalilah ke istana. Lindungi tahta itu untuk suamimu. Aku akan membawanya pergi." Lee Young masih memegang wajah sang adik, menatapnya lekat. Jung Hyun datang membungkukkan tubuhnya, segera mengiring Youra yang lemah masuk ke dalam tandu.


"Aku titip adikku kepadamu. Putra Mahkota akan aku bawa dulu." Lee Young memberikan lencana milik Putra Mahkota kepada Jung Hyun. Mereka saling melempar pandangan. Young berusaha mengalihkan perhatian musuh, selagi tandu Youra beranjak dari sana.


***

__ADS_1


Di tengah hujan, seorang pelayan datang menemui Pangeran Yul. "Pangeran, raja telah mangkat dan Putra Mahkota sepertinya sudah tewas. Ada kelompok berjubah hitam membawa jasadnya pergi. Saat ini Pangeran Hon sedang ditawan. Tahta sedang kosong. Sebelum tahta direbut pasukan bagian Barat yang memberontak, ini kesempatan Anda untuk segera tiba disana."


Pangeran Yul melepaskan genggaman sang istri dari tangannya, tak lagi sabar untuk mendapatkan posisi itu secepatnya. Namun, tiba-tiba saja Pangeran Yul berhenti di anak tangga terakhir kediamannya. Dia lantas berbalik kembali, mendekat pada sang istri yang sedang menangis.


Ini pertama kalinya, Pangeran Yul mengangkat wajah istrinya dengan tatapan yang berbeda. Setelahnya dia mengecup dahi wanita yang sangat mencintainya itu. "Terimakasih karena sudah menemaniku sejauh ini. Aku tidak merebut tahta, tapi tahta yang datang kepadaku." Segera Pangeran Yul bergegas ke istana.


***


Derasnya hujan sama sekali tidak mengubah apapun. Derap langkah para menteri dan seluruh pejabat istana menggema hingga ke langit. Bercucuran air mata. Wajah-wajah lelah telah bertaruh lebih lama dari usia mereka bersama raja, membawa mereka larut dalam gelapnya suasana. Semakin kencang angin itu menunjukkan kekuasaannya, semakin dahsyat pula lemparan tajam itu menahan mereka.


Tak boleh. Bagi mereka, Pangeran Yul satu-satunya yang berhak mewarisi tahta. Melihat di hari kematian raja istana dikepung oleh para pemberontak dari luar kerajaan membawa mereka semakin larut dalam ketakutan. Belum lagi duka itu selesai, kabar meninggalnya Putra Mahkota lebih dulu menyapa mereka. Mereka saling melemparkan tatapan kemenangan. Berbeda dengan Sekretaris Negara yang tak henti-hentinya menangis, Perdana Menteri Han berdiri di paling depan sedang memikirkan sebuah strategi untuk mengembalikan efektivitas istana.


"Hei, bagaimana ini? Kekosongan singgasana akan membuat banyak negeri menyerang kita untuk merebut tanah ini. Bukan hanya kita yang mati, ratu dan para keluarga kerajaan juga akan ikut mati lebih dahulu. Karena istana Putra Mahkota dan Putri Mahkota kosong, Pangeran Yul harus lebih dulu tiba di istana dari pada para pengkhianat di luar keluarga kerajaan itu," bisik para menteri. Mereka berlomba-lomba menjadi raja. Keluarga dan bukan keluarga, semua sama gilanya. Sama kejamnya, berharap sang pewaris tahta meninggal dunia.


"Dimana Putri Mahkota? Apa dia meninggalkan istana?!"


"Bahaya! Pangeran Hon ditawan oleh musuh! Apa yang harus kita lakukan?" Mereka langsung menoleh pada sumber suara. Badan penuh luka seseorang yang berasal dari pertempuran adalah salah satu Menteri Hukum dan Pidana.


"Bahaya! Cepat memutar langkah. Jasad raja harus segera dikawal untuk tidak turun dari kediamannya." Para menteri yang khawatir itu mengepung kediaman raja. Mereka basah-basahan karena hujan semakin menusuk kulit. Mendengar langkah para pemberontak segera tiba, mereka berduyun-duyun mengirimkan pesan kepada istri dan keluarga mereka.


Tak perlu pikir panjang. Mereka segera berlarian ke dalam aula rapat. Sampai saat itu terjadi, kondisi ratu tak kunjung membaik. Terpaksa mereka memulai rapat mendadak tanpa pemimpin.


"Putra Mahkota tidak punya keturunan, dan permaisurinya dinyatakan hilang. Itu artinya tahta jatuh ke tangan salah satu pangeran. Saat ini Pangeran Hon telah ditawan, kita harus menobatkan Pangeran Yul secepatnya agar tahta tidak kosong!" Mereka saling melempar cemas satu sama lain. Namun, belum lagi selesai kecemasan itu mengungkapkan rasa, tiba-tiba gerbang utama istana itu dibuka oleh para opsir.


"Berikan sambutan kalian kepada Putri Mahkota!"


Hujan menjawab betapa lantangnya suara itu. Para menteri berhamburan keluar dari aula, diikuti oleh seluruh pelayan yang bekerja di istana.


Dayang Nari yang sedang menghitung banyaknya duka, turut berlari setelah Kasim Cho yang menangis pedih datang membawa kabar mengejutkan itu.


"Para pelayan Putri Mahkota! Permaisuri Lee kembali ke istana!" Mereka berlari, kejar-kejaran bersama detak jantung yang berdebar semakin cepat.

__ADS_1


Mengejutkan.


Ketika gerbang itu dibuka, Jung Hyun mengiring langkah seseorang yang masuk dengan langkah putus asa. Saat itu, mata mereka membola tajam. Seluruh orang membungkuk hormat pada Youra. Sang permaisuri Putra Mahkota berjalan dari tengah gerbang di bawah guyuran hujan bertelanjang kaki. Para pemberontak yang mengepung siap-siap mencegatnya, tetapi Jung Hyun dan para pengawal Putra Mahkota dengan sigap pula menghentikan mereka.


"Itu, Putri Mahkota? Lihat betapa putus asanya dia!" Mereka merujuk sedih pada sudut wajah yang sedang melangkah mendekat. Tetap mereka memberikan hormat, tetap pula Youra melangkah sampai ke hadapan para menteri.


Youra berhenti di tengah-tengah mereka. Naik ke atas singgasana yang teduh di tengah halaman istana.


"Apa yang dia lakukan?" mereka saling bertanya-tanya.


Youra tak sekalipun berhenti menitikkan air mata, saat ini sedang kalut memikirkan nasib apakah dia benar-benar telah menjadi janda Putra Mahkota.


"Youra! Kau harus menyelamatkan tahta! Pikirkanlah apa yang harus kau lakukan untuk membantu Putra Mahkota."


Pesan dari Lee Young, sang kakak membuat Youra semakin yakin. Demi cinta, apapun harus dia terima.


"Kalian tidak bisa mengganti pewaris tahta dengan siapapun!" teriak Youra dari tengah, berhasil mengguncang istana.


"Karena ... " Youra mengepal kedua tangannya, berusaha keras memikirkan cara untuk tidak membiarkan mereka berperang lagi soal siapa yang memimpin tahta.


"Karena aku ... " Belum selesai Youra berbicara, para menteri dan pejabat sudah sibuk menebak-nebak apa yang akan Youra katakan.


"Karena aku mengandung anak Putra Mahkota!"


DEG!


"Apa?!" Mereka terperanjat mendengar pernyataan tidak masuk akal itu. Tapi mereka tak dapat mengelak, karena Youra memang istri satu-satunya yang sudah terhitung tahun menjadi permaisuri. Jung Hyun terkejut, segera menoleh pada Youra. Semua pelayan Putra Mahkota termasuk para pelayan Youra langsung menoleh padanya. Mereka tahu Youra berbohong. Mereka menjadi ketakutan karena tahu soal apa yang akan terjadi setelahnya. Kebohongan itu jika ketahuan, akan membuat Youra dihukum mati.


Youra sangat sesak. Dia mengepal tangannya erat-erat. Terpaksa berbohong, karena berharap Putra Mahkota masih hidup dan akan kembali ke istana. Setidaknya sementara ini, Youra harus mengorbankan dirinya demi sang suami yang dikabarkan tewas. Tak menunjukkan reaksi apapun, wajah Youra yang menyedihkan memperlihatkan letak posisi nya sebagai ratu. Dia berjalan angkuh, menegakkan kepalanya menuruni hujan.


Apapun akan aku lakukan, asal Anda kembali, Suamiku.

__ADS_1


__ADS_2