
"Putri Shin, Yang Mulia Ratu meminta Anda untuk beristirahat di istana." Seorang dayang yang dikirim oleh ratu menyampaikan perintah dengan kalut. Putri Shin tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan halaman istana. Sikap lancang Putri Shin yang duduk tepat di depan gerbang berhasil mencuri perhatian para pejabat dan rakyat yang berlalu lalang. Wajah cantiknya memucat dan mulai berkeringat.
Jung Hyun sedang bersandar pada tiang-tiang tegak yang mengurungnya di dalam sana. Putus asa menyandarkan tubuhnya di tepi pintu tahanan itu. Tak sengaja, dia mendengar perbincangan seorang opsir yang sedang duduk santai di depan sana. "Apa kau dengar itu?" Satu dari beberapa orang opsir membuka pembicaraan yang terdengar sedikit sensitif. "Mendengar apa?" sambung yang lainnya penasaran.
"Katanya, Putri Shin sedang mengandung. Apa itu benar?"
"Hamil?"
Belum lama mendengar cuitan itu, Jung Hyun yang dalam keadaan sekarat berusaha bangkit dari rasa sakit yang merayapi tubuhnya. Dia berjalan, menopang tubuhnya pada pintu tahanan itu berlumuran darah. "Ma-maaf, boleh aku bertanya?" panggil Jung Hyun pada salah seorang opsir yang menjaga rumah tahanan. Suaranya terdengar parau dan sedikit tersendat. Mungkin, tubuhnya terlalu lemah untuk mencoba kuat.
Awalnya, para opsir enggan menanggapi. Akan tetapi, satu di antara mereka tiba-tiba mendekat dan menaruh empati. "Ada apa?" tanyanya pada Jung Hyun setelah memandangi tubuh penuh luka itu. "Apa ... apa ... apa Putri Shin masih disini?" tanya Jung Hyun tak lagi takut.
"Bukan urusanmu. Lebih baik kau memikirkan bagaimana nasibmu setelah ini."
"Kumohon, aku hanya ingin tahu." Jung Hyun tak mau kalah dari rasa penasarannya.
"Aiish! Sudah kubilang bukan urusanmu. Kenapa masih memaksa?!" Setiap kali Jung Hyun bertanya, tiap kali pula mereka menolak. Namun, orang yang sama kembali menjawab meski sedikit tidak ikhlas. "Dia masih di istana, mempermalukan dirinya sendiri."
Jung Hyun menyentuh tangan opsir itu dari sela-sela tiang besi yang bersusun. "Tolong antarlah beliau pulang. Mintakan dia untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi." Jung Hyun memegang erat tangan itu, menyuarakan permohonannya. Opsir itu melirik ke arah lain, sebelum akhirnya berjongkok mendekati Jung Hyun. "Hei Bung, jagalah sikapmu disini. Mereka akan mencurigai hubunganmu dengan Putri Shin jika kau terus seperti ini." Opsir itu berbisik, seolah tahu tentang hubungan terlarang itu. Seolah berusaha keras membantu Jung Hyun yang merasa sendirian.
Opsir itu kembali menoleh ke segala arah, memastikan tak ada yang mendengar mereka. Saat semua orang terlihat lengah dan asik berbincang, opsir itu kembali berbisik kepada Jung Hyun. "Aku bukan bagian mereka. Aku juga bukan bagian Putra Mahkota. Tapi aku seorang opsir. Opsir yang pernah berjuang bersama mendiang Ayahmu. Aku akan membantumu, tapi katakan dulu padaku ... kau berada dipihak mana?"
"Apakah orang ini berkata jujur? Atau mungkin ... dia hanya suruhan seseorang untuk mencari tahu keberadaan Putra Mahkota? Apa yang harus aku katakan?"
__ADS_1
"Aku ... "
Belum selesai Jung Hyun menjawabnya, orang itu sudah lebih dulu menyelipkan sebuah kertas ke tangan Jung Hyun diam-diam. "Berhati-hatilah jika ada yang menanyakan hal yang sama. Kau tidak boleh menjawabnya. Kau mengerti?" Kembali opsir itu berbisik. Opsir itu pergi setelah Jung Hyun berhasil menyadari keberadaan kertas kecil itu.
"Lee Young?" gumamnya setelah membaca secarik kertas. Benar, Lee Young saat ini sudah berhasil menyelinapkan pengawal milik Putra Mahkota untuk memata-matai istana. Cepat atau lambat mereka akan memasang taktik untuk menjebak dalang terbesar yang sudah menghancurkan stabilitas negara.
***
Putra Mahkota dan Young duduk berdua di dekat perapian yang mereka ciptakan dari onggokan kayu kering, sementara Youra sedang membongkar barang bawaan kakaknya, di belakang sebuah batu besar yang tidak jauh dari mereka. Tak ada siapapun di sudut hutan itu selain mereka bertiga. Para pengawal sudah dikirim Putra Mahkota untuk kembali ke istana. Sebagian lagi diperintahkan Young untuk menjebak para pengawal istana yang sedang mencari Putra Mahkota dan Youra. Ini berguna, untuk mengelabui keberadaan mereka.
"Yang Mulia, di kaki gunung ada tempat bersembunyi yang aman. Dulu aku dan Youra tinggal disana sangat lama. Anda dan Youra harus tinggal disana untuk sementara. Aku harus kembali ke desa." Sembari memperbaiki perapian itu, Young menggigit potongan ubi yang sudah dibakar oleh Youra untuknya. Putra Mahkota terus menatap ubi bakar itu, tiada berpaling.
"Beberapa waktu ini, aku tak lagi melihat Jung Hyun. Dimana dia?" tanya Putra Mahkota penasaran. Young berhenti mengunyah, lantas langsung membungkuk hormat pada Putra Mahkota. "Maafkan aku, Yang Mulia. Sejujurnya, aku ingin menyimpan ini lebih lama. Namun, aku rasa Anda perlu mengetahui hal ini." Young bahkan meletakkan potongan ubi bakar itu kembali pada tempatnya.
"Mengapa mereka menangkap Jung Hyun?" Kembali Putra Mahkota bertanya, kali ini tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Inilah permasalahannya, Yang Mulia. Kami tidak tahu mengapa Jung Hyun ditangkap. Aku curiga ini ada hubungannya dengan ratu." Lee Young kembali duduk bersila. Meraih kembali potongan ubi bakar itu untuk segera menyantapnya.
Putra Mahkota mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan puing-puing yang tersisa soal bukti. "Tentang orang yang berusaha membunuhmu, dia ... "
"Kakak!" Teriakan Youra memotong pembicaraan Putra Mahkota. Dia keluar dari balik batu, memecah keheningan malam di hutan menyeramkan itu. Saat ini, semua pandangan tertuju padanya. Young dan Putra Mahkota menjadi panik karena teriakan Youra yang terkesan berlebihan. "Ada apa?" tanya Putra Mahkota dan Young bergantian khawatir. Youra datang, tetapi malah duduk di sebelah sang kakak, bukan suaminya. Hal ini membuat Putra Mahkota berubah urung.
"Kakak bilang membawa gaun lamaku? Mana? Hampir semuanya pakaian Putra Mahkota. Sedangkan gaun yang kakak bawakan itu sudah mengecil, bagaimana aku mau menggantinya?" Protes Youra sembari melemparkan gaun lamanya pada sang kakak.
__ADS_1
"Hei, untuk apa mengganti pakaian kalau tidak mandi?" Young santai saja menanggapi, seolah sudah biasa melihat tingkah adiknya yang menyebalkan sejak kecil.
"Bukankah sudah aku bilang, seharusnya kita mencari mata air. Kenapa malah duduk diam disini?" kembali Youra melayangkan protes.
"Kau mau diintip serigala, mandi malam-malam begini?" Young terus saja menyantap cemilan malam sederhana itu, seolah tak mau tahu apapun yang sedang adiknya pikirkan.
Youra bergidik takut, sesaat setelah menyadari betapa gelap dan sepinya hutan yang mereka tinggali saat ini karena perkataan kakaknya. Suara hewan yang tak pernah ia kenali bahkan saling tumpang tindih. Menyeramkan. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan betapa mengerikannya tempat itu.
Youra tiba-tiba duduk, ikut melingkari perapian bersama kakak dan suaminya. Wajah merengutnya tiba-tiba berubah tatkala mata indah itu menoleh pada suaminya yang sedang cemberut, menundukkan pandangannya. Sementara Young tak sengaja menoleh pada sudut mencurigakan jauh disana, ia beranjak meninggalkan Youra dan Putra Mahkota untuk memeriksa.
"Lee Youra, mengapa kau mengabaikan aku?" Kalimat pertama Putra Mahkota pada istrinya berhasil membuat Youra tersentak. Ia merangkak menuju suaminya, dan duduk di sebelahnya. Youra menyentuh lengan suaminya, bersikap sangat manja. "Aku tidak mungkin mengabaikan Anda, Yang Mulia Suamiku."
Putra Mahkota tidak kuasa jika Youra menyentuhnya. Kemarahan itu sirna begitu saja. Dia langsung luluh saat tangan itu mendarat di lengan kokohnya. "Tapi kenapa tidak membolehkan aku makan ubi bakar buatanmu?" Pertanyaan Putra Mahkota berhasil membuat Youra tertawa. "Anda tidak boleh memakan umbi-umbian, Yang Mulia." Youra menyandarkan kepalanya di pundak sang suami setelahnya. Putra Mahkota langsung bereaksi membawa Youra berbaring di pangkuannya.
"Lalu kenapa duduk di sebelah kakakmu padahal ada suamimu disini?" Putra Mahkota benar-benar kecewa. Youra memandangi wajah tampan yang sedang menatap manja matanya.
"Sayang, ajaklah aku jika ingin mandi. Jangan berganti pakaian di tengah hutan. Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya? Aku tidak ingin tubuh permaisuriku terlihat oleh orang lain. Lain kali minta izinlah pada Suamimu. Aku yang akan menemanimu berganti pakaian dan mandi. Aku yang hanya akan melihatnya, kau mengerti?" Putra Mahkota sangat serius mengatakannya. Dia kecewa, lantaran Youra tak sedikitpun bertanya dan minta izin padanya.
SET!
Tiba-tiba sebuah panah yang datang entah darimana melesat hampir mengenai lengan Putra Mahkota. Merenggut momen romantis keduanya. Youra langsung duduk karena khawatir, lantas memeluk suaminya. "Anda baik-baik saja, Suamiku?" tanya Youra risau.
"Yang Mulia, sepertinya ada pergerakan mencurigakan di atas sana. Mereka menembakkan panah ke sembarangan arah untuk memeriksa. Lebih baik kita mematikan api ini, dan beranjak dari sini secepatnya." Young yang baru saja memeriksa, lantas mematikan perapian. Putra Mahkota mendekap Youra sangat erat. Mereka mengendap-endap meninggalkan tempat itu secepat mungkin sebelum keberadaan mereka diketahui. Secepatnya menemukan tempat untuk ditempati Youra dan Putra Mahkota sementara waktu berdua saja.
__ADS_1