Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Dua Takdir yang Segera Bersatu


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, Youra memutuskan untuk kembali ke rumah paman dan bekerja di pasar, meski Jun dan ibunya sudah melarang. Namun, Youra tak bisa membiarkan Nana terus bekerja sendirian mengingat paman yang sedang sakit.


Saat hendak pergi, Jun menarik tangan Youra.


“Menikahlah denganku,” kata Jun.


Kata-katanya, seolah menghapus seluruh lukaku. 


“Dengan begitu, kita tak perlu berpisah lagi,” tambah Jun.


Dia selalu berhasil membuatku bahagia.


“Tinggallah bersamaku dan ibu disini. Bawa juga paman dan Nana. Biar aku saja yang bekerja,” tambah Jun sekali lagi dengan wajah seriusnya.


Saat itu, aku benar-benar tidak menyangka.


“Apa kau mau, menikah denganku?” tanya Jun sekali lagi.


Pria yang kucintai, mengajakku hidup bersamanya.


Youra tersenyum mengangguk pelan dan kemudian berlari meninggalkan Jun yang terdiam senang. 


Aku sangat mencintainya.


**  


Saking bahagianya, Youra hanya terus tersenyum sepanjang perjalanannya ke pasar tiada henti. Ia bahkan lupa pada perasaan sedih dan takutnya. Dia terus tersenyum ceria, tak peduli orang-orang memandangnya dan menganggapnya gila. Namun, saat itu, tiba-tiba Youra tak sengaja menabrak seorang gadis. 


“Maaf,” kata Youra membungkuk pada gadis itu tanpa memandang wajahnya.


Youra meninggalkan gadis itu dan kembali pergi bersama senyumnya.


Sang gadis yang ditabrak Youra, tak dapat bergerak. Pupilnya membesar seolah tak percaya. Ia bahkan tak sanggup menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang baru saja dia lihat. Selang beberapa detik, ketika gadis itu menemui kesadarannya, ia cepat berbalik badan untuk kembali melihat.


“Youra? Kau kah itu?”. 


Saat mereka saling berselisih, waktu seakan berjalan sangat lambat. Dua orang yang berpisah di masa kecil itu, kembali dipertemukan.


Gadis itu membatu di tempat terus memandang ke arah jalanan yang kosong. Angin yang berhembus seolah menghapus jejak pertemuan hari itu. 


“Ara!” teriak seorang teman pada gadis itu.


“Apa kau sudah siap?” tanya sang teman.


Ara yang tertegun diam tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia lihat. Temannya yang penasaran dengan raut wajah Ara kembali bertanya.


“Ara, ada apa?”.


Ara menggeleng pelan.


“Tidak, tidak ada,” jawabnya kebingungan.


**


Masih dengan senyuman, Youra terus berjalan hingga sampai di tempat dia bekerja. Nana yang melihat sang nona yang terus tersenyum, ikut tersenyum pula. Tiba-tiba, 


CRACK!! 


Suara pecahan gelas dari pelanggan membuat senyuman Youra terusik. Orang-orang lantas menoleh ke arah pecahan itu.


“Ampun Tuan, ampuni aku”. 

__ADS_1


Tampak seorang pria tua berlutut di kaki seorang pemuda berbaju mewah. Youra yang melihat itu tampak tidak terima. 


“Apa yang Anda lakukan?!” tegas Youra sambil membantu pria tua itu berdiri. 


Youra kembali menoleh ke arah pemuda itu menatapnya tajam. Namun, ia menyadari sesuatu.


“Kau? Kau pemuda yang waktu itu membuat keributan di pasar?” tanya Youra.


Aku kembali bertemu dengannya.


Ya, pemuda itu adalah Putra Mahkota yang sedang menyamar. Entah kenapa Youra masih mengingatnya. Padahal, Putra Mahkota memakai penutup wajah yang menutupi seluruh wajahnya. Hanya berlapis kain tipis di area matanya, untuknya supaya dapat melihat.


“Jangan menghalangiku,” jawab Putra Mahkota singkat.


Masih dengan keangkuhan. 


Youra menjadi semakin marah.


“Dasar bangsawan tidak tahu malu!” teriak Youra tanpa tahu bahwa pria yang diteriakinya itu sebenarnya adalah Putra Mahkota.


Yang aku bisa, hanya mencacinya.


Putra Mahkota diam saja. 


“Cepat minta maaf pada orang tua ini!” perintah Youra pada sang Putra Mahkota. 


Putra Mahkota masih berdiri di tempat tak bergerak sedikit pun. 


“Pengecut seperti dirimu, hanya bisa membuat onar dengan wajah yang tertutup, ha?!” Youra berteriak di hadapannya.


Karena geram, hampir saja Putra Mahkota membuka penutup wajahnya. Tapi, saat menyadari seluruh orang sedang memperhatikannya, dia mengurungkan niatnya.


“Jangan berteriak padaku, jika tidak mengetahui apapun,” jawab Putra Mahkota.


Putra Mahkota mengepal tangannya kuat-kuat menahan amarah, dia akhirnya meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan apapun sebelumnya. 


**


Di perjalanan tak jauh dari kedai tadi.


”Dasar tidak tahu diri. Dia tidak sadar sedang berteriak kepada siapa,” gerutu Putra Mahkota sambil memperbaiki jubahnya.


“Yang Mulia, pencuri yang bersama pria tua di kedai tadi berhasil kabur. Apa aku perlu membunuh mereka?” tanya Jung Hyun yang habis mengejar sekelompok pencuri.


“Tidak perlu,” jawabnya. 


Jung Hyun menoleh balik ke arah kedai itu.


“Apa aku perlu, menyingkirkan pria tua yang hampir saja melukai Anda tadi?” tanya Jung Hyun kembali.


Putra Mahkota terus saja berjalan menuju istana, tanpa menjawab pertanyaan Jung Hyun. 


“Gadis yang bekerja di kedai itu, apa dia benar-benar seorang budak?” tanya Putra Mahkota.


“Maaf?” Jung Hyun heran, sebab itu pertama kalinya Putra Mahkota tampak memperhatikan seorang budak, apalagi budak itu seorang wanita.


**


Di depan kediaman Putra Mahkota, ternyata ada Pangeran Yul sedang berdiri sudah menunggunya sejak tadi. Putra Mahkota yang melihat saudaranya disana, mengabaikan dan hanya terus berjalan melewatinya. Namun,


“Apa susahnya bagimu untuk mematuhi perintah ayah?”.

__ADS_1


Satu pertanyaan yang dilontarkan Pangeran Yul membuat langkah Putra Mahkota terhenti. Jung Hyun yang berada di antara mereka menatap Pangeran Yul dan membungkuk hormat padanya. Dengan sigap, Jung Hyun pun meninggalkan mereka berdua.


Pangeran Yul melangkah mendekat kepada Putra Mahkota. Sekarang dia berdiri tepat di sisi telinga kanan sang Putra Mahkota.


“Kenapa kau sangat pengecut?”.


Pangeran Yul membisikkan kalimat yang membuat Putra Mahkota menoleh padanya.


“Apa maumu?” tanya Putra Mahkota.


“Mauku? Apa pedulimu terhadap kemauanku?” tanya Pangeran Yul.


“Apa belum puas kau mempermalukan ayah? Apa kau tidak bisa sedikit saja menghormatinya?!” bentak Pangeran Yul pada Putra Mahkota.


Saat itu, para pengawal yang melihat Pangeran Yul berteriak pada Putra Mahkota, dengan sigap mendekatinya segera menahan sang pangeran. Namun, Putra Mahkota menghentikan para pengawal dengan kode tangannya.


“Bukan urusanmu. Pergi dari sini, kau akan dihukum jika berteriak kepadaku,” jawab Putra Mahkota sembari melangkah pergi.


“Kau memiliki segalanya, sedangkan aku, aku tidak punya apa-apa”.


Perkataan ini, membuat Putra Mahkota berbalik.


“Jika yang kau maksud adalah tahta, sayang sekali, aku tidak pernah menginginkannya,” jawab Putra Mahkota tersenyum di balik penutup wajahnya itu.


Pangeran Yul bergetar. Dia berusaha menahan diri, tetapi hati dan akalnya memberontak. Lantas, sang pangeran akhirnya menarik kerah jubah Putra Mahkota dan menggenggamnya erat.


“Dasar kau tidak punya rasa syukur. Kau memiliki segalanya. Tahta, kasih sayang dari ayah, perhatian dari Putri Shin, kepedulian ibu, rasa hormat, jab..,” perkataan Pangeran Yul terhenti saat Putra Mahkota membuka penutup matanya dan menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.


“Jika kau merasa begitu, ambillah semua semaumu. Aku tidak butuh,” jawab Putra Mahkota sembari melepaskan genggaman Pangeran Yul dari jubahnya.


Putra Mahkota meninggalkan Pangeran Yul yang masih berapi-api.


“Kenapa orang seperti dia, dilahirkan di istana ini,” gumam Pangeran Yul kesal.


Jung Hyun terus mengawasi mereka dari kejauhan. Pemandangan itu, membuat Jung Hyun bertanya-tanya. Kenapa, mereka tampak tidak akur.


Jung Hyun mengikuti Putra Mahkota masuk ke dalam biliknya. Saat itu, Putra Mahkota langsung membuka penutup wajahnya. Jung Hyun cepat-cepat memalingkan wajahnya.


“Pulanglah,” perintah Putra Mahkota sambil bersandar pada dipan ranjangnya.


“Istirahatlah, kau pasti kelelahan menemaniku hari ini,” tambah Putra Mahkota.


Sikap Putra Mahkota, membuat Jung Hyun tidak menyangka. Sebab, selama ini, sikap Putra Mahkota sangat baik padanya, tidak seperti kata orang-orang. 


Jung Hyun ingin memandangnya, tetapi, aturan kerajaan memaksanya untuk tidak boleh melihat Putra Mahkota saat sedang melepaskan penutup wajah.


“Apa aku benar-benar pengecut?” tanya Putra Mahkota padanya sambil membuka jubah dan bajunya.


Jung Hyun tertegun.


“Jangan mengasihani aku lagi. Aku lebih kuat dari apa yang kau bayangkan. Pulanglah, dan istirahat,” tambah Putra Mahkota.


Jung Hyun terkejut atas perkataan yang baru saja dikatakan Putra Mahkota.


“Baik, Yang Mulia,” Jung Hyun membungkuk hormat dan undur diri dari kamarnya.


“Tunggu,” Putra Mahkota kembali memanggilnya, membuat Jung Hyun kembali berbalik.


“Ya, Yang Mulia?”.


“Cari tahu, siapa gadis yang bekerja di kedai itu. Gadis berwajah cantik itu, berkali-kali menghinaku”.

__ADS_1


Perintah Putra Mahkota, membuat Jung Hyun dan Kasim Cho yang sedang ada disana terbelalak kaget. 


**


__ADS_2