
Saat musim semi, bunga dan dedaunan berguguran di sepanjang jalan. Melewatinya saat angin berhembus lembut adalah cara yang terbaik menikmatinya. Tapi, di dunia ini, dari jutaan manusia, apakah mungkin, semua menyukainya? Apakah mungkin, semua pernah melewatinya?
Pengagum Rahasia dan Keputusan Young
Youra duduk di kursi kayu separuh lapuk karena tetes hujan di halaman rumahnya. Ia melihat-lihat sekeliling tempat tinggalnya yang damai dan tenang. Banyak anak-anak berlarian dengan baju lusuh yang rapi melekat pada tubuh mereka. Youra terus mengayunkan kakinya sambil terus memperhatikan mereka. Kemudian ia berpaling pada dirinya. Ia melihat gaun indah yang dia gunakan hari itu.
Apa mungkin tawa dan kebahagiaan yang kulihat, semuanya adalah kepalsuan?
Angin sejuk pegunungan menghembus hingga membuatnya menutup mata. Tapi, sepanjang waktu ia merasa tidak nyaman. Pemandangan itu berubah saat ia membuka matanya kembali. Orang-orang berlarian dan memaksa anaknya untuk pulang ke rumah. Suasana itu menjadi berbeda dalam sekejap karena langit berubah gelap.
Youra tetap menunggu ayahnya di tempat itu tak gentar. Hari itu, dia hanya berharap ayahnya cepat tiba di rumah karena hari mulai gelap dan hujan akan segera turun. Sementara ibunya tertidur karena lelah sehabis merajut. Zaman itu, orang-orang percaya bahwa naga dengan apinya melintas saat langit begitu gelap. Orang-orang akan beramai-ramai memanggil anaknya pulang dan berlindung di rumah. Hal ini dipercaya sebagai pertanda buruk. Namun, ayah Youra belum juga tiba dirumah.
Tak lama setelah itu,
“Selamat Sore Tuan Lee,” ucap salah seorang pelayan kepada Tuan Lee Tae Hwon setelah membuka gerbang.
“Ayaahh…..,” Teriak Youra sambil memeluk ayahnya.
Sang ayah kaget.
“Masuklah, kenapa kau diluar? Lihatlah hari begitu gelap. Apa kau tidak takut putriku?” tanya Tuan Lee pada putrinya.
Youra yang saat itu sedang memeluk ayahnya, melepaskan pelukan itu. Ia kemudian menunjuk langit yang gelap dengan jari telunjuknya yang mungil.
“Saat musim paceklik akibat kemarau panjang, orang-orang berdoa agar hujan segera turun. Lantas, kenapa sekarang mereka menghindarinya?” tanya polos Youra pada ayahnya.
Tuan Lee terdiam. Tidak percaya atas apa yang dikatakan putrinya, membuatnya tak percaya. Setengah menunduk, ia mengusap kepala putrinya lembut.
“Siapa yang memberitahumu tentang itu?” tanya Tuan Lee.
“Kakak. Dia memang tidak takut apapun ternyata,” Youra tersenyum kecil.
Tuan Lee yang mendengar itu ikut tersenyum. Setelah mengusap kepala putrinya, ia masuk ke rumahnya. Tak lama setelah itu, beberapa tetes hujan mulai berlabuh di tubuhnya. Young yang entah darimana, berlari dan melompat melewati pagar rumahnya yang berdinding batu. Meski punya gerbang, ia memang suka melakukan sesuatu yang membuat orang terkejut. Ya, Youra yang masih berdiri di halaman rumahnya terkejut melihat kakaknya yang tiba-tiba saja muncul tepat di belakangnya entah darimana. Dengan ekspersi yang biasa saja, Young hanya melewati adiknya.
__ADS_1
“Masuklah, nanti masuk angin,” ucap Young sambil terus saja berjalan melewatinya.
Sambil mengernyitkan dahi, Youra kebingungan. Youra mencoba mencari jalan masuk kakaknya yang tiba-tiba saja muncul itu. Saat matanya sibuk menjelajah, ia dikejutkan dengan seseorang yang tampak sebaya dengannya sedang mengintip diantara tembok tinggi itu. Seseorang itu tidak sadar bahwa Youra memergokinya. Hanya terlihat separuh wajahnya, tapi dengan jelas Youra dapat melihat mata gadis itu mengikuti langkah kakaknya Young yang baru saja masuk kerumah. Youra yang penasaran, tersenyum. Ia bermaksud ingin mengejutkan anak itu. Pelan-pelan ia melangkah dari samping agar anak itu tidak sadar bahwa Youra sedang mendekatinya. Tapi, saat Youra akan segera mengejutkannya, hujan kemudian turun dengan deras, sehingga gadis yang mengintip itu terkejut dan spontan berlari pergi. Sayang sekali, gadis itu menjatuhkan sesuatu yang sepertinya sengaja ia bawa.
Aku membiarkannya berlari, dan meninggalkan jejak.
Youra segera mengambil benda yang terjatuh itu. Sebuah sapu tangan yang kelihatannya masih baru. Saat ia membuka sapu tangan itu, ada sulaman bunga cantik di ujungnya.
Youra cepat-cepat berlari masuk ke rumahnya. Ia tersenyum genit.
“Gadis ini, pasti salah satu penggemar kakakku,” gumamnya dalam hati.
Dedaunan yang bertebaran saat musim semi, mungkin saja tetap tinggal bersama pohonnya, meski sudah mati.
**
Di dalam rumah, Tuan Lee memandang putranya Young sambil mengingat keputusan raja yang hendak mencari kandidat terbaik untuk mengisi posisi penting kerajaan di masa yang akan datang. Tuan Lee tidak pernah memaksa putranya untuk terlibat dalam urusan politik kerajaan. Ia bahkan sangat tidak ingin anaknya terlibat politik kerajaan. Lee Young memang berbeda dengan ayahnya. Young lebih suka seni terampil berpedang ketimbang membaca dan menulis.
Young yang saat itu sedang makan hanya mengangguk pelan.
“Apa maksudmu, suamiku?” tanya Nyonya Eri pada suaminya.
Tuan Lee dengan wajah gelasnya memandang sang istri. Sesaat setelah itu ia melangkah ke arah putranya yang sedang makan dan duduk tepat di depan putranya itu. Sementara, Youra duduk di sisi lain sambil memainkan sapu tangan yang ia temukan itu.
“Dengar putraku, kami tidak akan memaksamu untuk mengikuti pendidikan di istana. Tapi, melihat keterampilanmu yang hampir dikenal seluruh rakyat itu akan memaksamu untuk masuk ke istana,” jelas Tuan Lee pada anaknya.
Youra dan ibunya yang mendengar itu membuyarkan lamunan mereka, lantas spontan menjadi fokus.
“Wah, benarkah? Kakak akan masuk Istana? Kalau begitu kenapa tidak? Nanti aku bisa mengantarkan bekal Kakak ke istana. Ya kan, Ibu?” tanya Youra bahagia.
“Benarkah itu, suamiku?” pungkas Nyonya Eri pada suaminya.
Young yang sibuk makan itu tidak menjawab apapun. Berbeda dengan Youra, Nyonya Eri tampak tidak senang. Mungkin, ia juga tidak setuju putranya akan masuk istana.
__ADS_1
“Young, kau tidak perlu menempuh pendidikan di istana. Ibu tidak akan memaksamu. Belajarlah di biro pendidikan saja dengan baik. Lagipula, konsentrasimu juga sangat berbeda dengan ayah. Berpedang adalah seni yang berbahaya. Di istana, tentunya akan lebih rumit pembelajarannya,” jelas Nyonya Eri pada putranya yang masih belia itu.
“Tapi, ini adalah perintah raja, Istriku. Bagaimana mungkin, aku mengingkari perintah Yang Mulia? Aku juga tidak setuju akan hal ini. Tapi, sebagai bawahan yang setia, apa yang bisa aku lakukan?” jelas Tuan Lee pada istrinya.
Youra yang mendengar percakapan mereka terheran-heran. Dia yang masih kecil itu bahkan sangat berharap bisa masuk ke istana. Mereka semua terdiam dan saling memandang satu sama lain.
“Aku akan ke Istana”.
Sambil berdiri, Young merapikan pakaiannya dan membawa piringnya pergi.
Kedua orang tuanya saling memandang. Kemudian sang ibu mengikuti putranya yang hendak mencuci piring itu.
“Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?” tanya Nyonya Eri.
Sambil mencuci piringnya di dalam wadah berisi air, Young dengan tatapan sendunya memandang sang ibu.
“Aku akan mengikuti pendidikan itu, Bu. Lagipula, selama ini aku sudah belajar dengan baik,” jelas putranya.
“Tapi Putraku, kalau kau sudah masuk Istana, akan sulit bagimu untuk keluar,” bantah ibunya.
“Aku tidak keberatan, bukankah itu gunanya anak lelaki? Membanggakan kedua orang tuanya?” Young tersenyum dan duduk sambil melepas ikat kepalanya.
“Yang lebih sulit adalah punya kemampuan seperti Ayah, pintar dan bijaksana bukanlah milikku. Berpedang juga pasti banyak yang lebih baik dariku,” jelas Young pada ibunya.
Mendengar jawaban Young, Nyonya Eri yang tidak dapat berbuat apa-apa memperlihatkan wajah khawatir. Young yang melihat ekspresi ibunya itu, mendekatinya.
“Aku melakukan ini, bukan karena takut ayah akan ditegur. Aku melakukan ini, karena ini keinginanku. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku,” sambil tersenyum Young menatap mata ibunya.
Bagaimana bisa, sedang semua itu adalah miliknya, hanya miliknya.
Hari itu, secara tidak langsung Young memutuskan untuk bersedia mematuhi perintah raja. Tak disangka, empat belas hari setelah itu, panggilan secara khusus dari raja datang melalui surat yang dikirimkan seorang opsir. Isi surat yang menyatakan rasa tidak sabar Yang Mulia Raja untuk melihat secara langsung keterampilan berpedang, berkuda, dan memanah yang dimiliki Young ditumpahi dalam surat bertinta emas. Isi surat tersebut disimbolkan sebagai panggilan kehormatan untuk orang istimewa raja. Tentunya, surat juga dikirim kepada putra yang lain. Tapi, yang bertinta emas mungkin tidak banyak.
Mentari hanya ada satu, penerang yang lain mungkin hanya pelengkap. Lantas, bagaimana jika ada dua mentari dalam hidup?
__ADS_1