
Ada bintang yang bersinar sangat terang di langit yang gelap. Cahayanya bahkan bisa terpancar hingga menyisir setiap helaian dedaunan di hutan yang sunyi. Tapi, bahkan sebelum ia menyinari, langit yang gelap selalu tertawa menghalanginya. Hujan yang turun terus mengalir hingga bintang itu pergi sendiri.
Putra Mahkota, Sang Pangeran Hina
Suatu hari, mengingat permintaan raja sebelumnya pada saat perjamuan makan malam yang telah lalu, seperti yang raja katakan bahwa ia akan memilih para putra terbaik negeri. Untuk memperlancar rencananya, ia melakukan upacara pertemuan, yang wajib dihadiri oleh para petinggi negara dan para pangeran. Undangan pertemuan itu telah disebarkan oleh raja beberapa waktu yang lalu.
Pada pertemuan itu nantinya, akan diresmikan dan dibentuk sebuah badan pelaksana yang dinamakan “Biro Minat Bakat”.
“Baiklah. Karena para putra pejabat dan para menteri akan tiba, sampaikan pada semua pangeran untuk datang menghadiri upacara di lapangan sesegara mungkin. Pastikan Putra Mahkota tidak bolos lagi, kalian mengerti?!" perintah pelayan raja yang merupakan kepala kasim di istana.
“Kami mengerti Kepala Kasim," jawab para pelayan itu.
Serentak para pelayan istana itu berlarian menuju kediaman masing-masing tuannya.
Beberapa saat kemudian para petinggi negeri tiba di lapangan, mereka dikumpulkan bersama atas perintah Yang Mulia Raja. Namun, untuk kesekian kalinya, Putra Mahkota tidak menghadiri upacara, baik upacara apapun itu. Hal ini bertolak belakang dengan pangeran yang lain. Salah satunya Yul, yakni Pangeran Gyeongin putra sah Raja Baek Sam dengan ratu pengganti (Seol), ratu baru yang diangkat resmi secara rahasia kala itu. Meski sedikit terlambat, ia sudah tiba di lapangan.
Para pelayannya merapikan jubah Pangeran Yul yang masih sangat kusut.
“Apa tidak begitu kentara bahwa aku baru bangun? Aku sibuk membaca sastra malam tadi”.
Pangeran Yul tampak lucu, raut wajahnya begitu menyesal karena datang terlambat.
“Dimana Putra Mahkota?" tanya Yang Mulia Raja kepada pelayannnya.
Pangeran Yul yang mendengar ayahnya bertanya kemudian berhenti merapikan jubahnya. Ia memandang ayahnya yang sedang duduk di singgasana itu.
Pelayan itu hanya bisa saling memandang dan bergeleng pelan.
Ternyata hal itu juga di dengar oleh para menteri yang ada di sekitar raja.
“Inilah sebabnya aku sangat tidak setuju ketika Yang Mulia Raja mengangkat Pangeran Hyeon yang sudah hina itu menjadi Putra Mahkota negeri ini. Saat mengetahui kematian ratu yang dirahasiakan, aku langsung terkejut mendengar kabar bahwa selir tingkat satu (Seol) diangkat menjadi ratu malam itu juga. Bukankah saat itu beliau sedang mengandung Pangeran Yul? Mengapa tidak menunggu kelahirannya saja. Usia mereka terpaut sangat dekat, tidak akan ada yang tahu siapa putra pertama yang lahir,” Bisik salah seorang wakil menteri keuangan kepada teman satu divisinya dengan sangat hati-hati pelan.
“Benar, secara langsung kita bisa melihat siapa yang paling memiliki potensi. Rumor buruk tentang masa depan Putra Mahkota juga sudah tersebar luas. Bukankah itu sebuah penghinaan? Mengapa harus dipertahankan? Aku mengatakan ini bukan karena aku kerabat ratu pengganti,” ujar salah satunya lagi.
“Kalau dilihat dari potensi, Pangeran Hon juga memiliki potensi untuk menjadi Putra Mahkota. Meski yang paling muda, tapi dia juga sangat cerdas dan berwibawa. Lihat saja, siapa yang pertama tiba dilapangan,” salah satu menteri mencoba memprovokasi lebih.
__ADS_1
Pangeran Hon adalah anak ketiga dari ratu pengganti (Seol). Ia adalah adik kandung Pangeran Yul dan Putri Shin. Tetapi, baik Pangeran Yul maupun Pangeran Hon, mereka berdua tidak tahu bahwa Putra Mahkota bukanlah kakak yang lahir dari rahim ibu yang sama dengan mereka.
“Walau bagaimanapun, dalam sistem kerajaan, putra pertamalah yang berhak mewarisi gelar itu. Lagi pula, raja mau tidak mau mengangkat Pangeran Hyeon menjadi Putra Mahkota untuk mengelabui rumor itu. Dia kan anak dari mendiang ratu yang asli, wanita yang sangat dicintai Yang Mulia. Apa Anda tidak ingat? Kelahiran Pangeran Yul di umumkan satu tahun setelah kelahiran putra mahkota. Itu dilakukan agar tidak ada yang curiga kalau ratu telah diganti. Sudah jelas ini siasat raja, agar tidak ada yang percaya jika rumor itu benar. Bahwa Putra Mahkota, pembawa sial,” bisik salah satu diantara mereka dengan sangat pelan dan semakin pelan.
“Benar, ini pasti karena dia adalah anak dari Ratu Kim sebelumnya, raja tidak mau itu terbongkar,” timpal wakil menteri keuangan itu kembali.
Tiba-tiba,
“Tutup mulut kalian, berani-beraninya kalian mencela Putra Mahkota bahkan saat menginjakkan kaki di istana ini. Jika, pengangkatan Ratu Kim baru yang sudah sepakat dijadikan rahasia itu terbongkar oleh mulut busuk kalian, aku tidak akan segan-segan meminta raja untuk memenggal kepala kalian,” penasehat negara yang mendengar itu terbakar emosi karena sikap para menteri yang suka bergosip di belakang raja.
Tuan Lee itu pergi bersama seluruh amarahnya yang meluap-lupa.
(Sakit dan Kematian Ratu Kim yang sebenarnya hanya diketahui oleh menteri-menteri yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerjaan, dan orang diluar keluarga kerajaan yang mengetahuinya, hanya penasehat negara, Lee Tae Hwon).
Perdana Menteri Han yang ada di lapangan melihat wajah tidak senang penasehat negara yang tampak sedang marah pada para menteri itu, tapi ia hanya diam melihat mereka. Ia menatap semua menteri dalam-dalam. Dipandanginya satu persatu para menteri yang menjabat dan sedang berkumpul itu. Matanya terus berkelana hingga berlabuh di singgasana milik putra mahkota yang masih kosong itu.
Sedang di sisi lain tempat itu Pangeran Yul dan Pangeran Hon sudah duduk dengan baik.
Tidak peduli seperti apa dirimu, mereka yang membencimu, akan mencari cara, untuk semakin membencimu.
**
Para pelayan raja yang berlari menuju kediaman Putra Mahkota, berdiri di depan kediamannya.
“Yang Mulia Putra Mahkota, ap-apakah Anda sudah bangun? Yang Mulia Raja sedang menunggu Anda di lapangan,” teriak mereka hati-hati dari depan kamar sang Putra Mahkota.
Namun, tidak ada jawaban dari bilik putra Mahkota.
“Kasim Cho, apa Putra Mahkota belum bangun?" tanya pelayan itu kepada Kasim Cho, pelayan pribadi Putra Mahkota.
“Beliau sedang flu dan tidak ingin diganggu,” jawab Kasim Cho kepada pelayan raja.
“Tapi, ini perintah raja. Aku pikir kau juga mengerti betapa pentingnya pertemuan ini,” jelas pelayan itu pada Kasim Cho, membuat kasim itu cemas.
Kemudian ia berbisik.
__ADS_1
"Aku sudah memintanya, tetapi, beliau tetap tidak ingin mengikuti upacara itu,” dengan menyesal kasim itu mengatakan alasannya.
Mendengar jawabannya, para pelayan raja yang sudah putus asa itu hendak pergi. Namun, saat mereka membalikkan badan, dari arah yang berlawanan Putri Shin dan para dayangnya datang untuk mengunjungi adiknya itu.
“Sampaikan bahwa aku ingin menemuinya,” perintah Putri Shin.
“Maaf Putri, saat ini bel…”.
Belum lagi selesai Kasim Cho menjelaskan, Putri Shin menerobos kamar adiknya itu. Dilihatnya sang adik yang bersembunyi di balik selimut.
“Apa yang kau lakukan Putra Mahkota? Ayah sudah menunggumu disana. Jangan membuat ayah marah dan kesal lagi. Cepatlah berdiri dan ganti pakaianmu sekarang,” Putri Shin mencoba untuk membujuk adiknya itu.
“Apa kau tidak mendengarku ha? Apa kau tahu, selama ini aku tidak diizinkan untuk menemuimu? Dan setiap kali aku bisa mengunjungimu, kau selalu dalam keadaan memalukan seperti ini. Apa tidak bisa kau menghargai kedatanganku?" Putri Shin terlihat sangat kesal dan penuh emosi. Kemudian ia tarik selimut Putra Mahkota itu dengan cepat.
“Putra mahkota! Kau..,” belum lagi selesai Putri Shin berbicara, Putra Mahkota spontan mematahkan kalimatnya.
“Kalau kau tidak bisa kemari, maka jangan pernah kemari. Aku tidak pernah memintamu untuk menemuiku,” jawab Putra Mahkota sambil memperbaiki selimutnya.
Tidak masalah jika harus dibenci,
“Kau ini, kenapa selalu seperti ini?” hampir menangis, Putri Shin hanya bisa berpura-pura tetap tersenyum.
Mendengar jawaban adiknya tadi, Putri Shin hanya bisa menahan air matanya, mencoba tetap tenang adalah solusi satu-satunya untuk tidak memicu pertengkaran. Ia membalikkan badan, pergi dan meninggalkan kediaman Putra Mahkota.
Karena yang lebih sakit adalah ketika melihat mereka yang dicinta, hatinya sedang terluka.
**
Tidak lagi menunggu, di pagi hari yang cerah itu akhirnya raja memulai upacara pembukaan Biro Minat Bakat yang nantinya akan melakukan seleksi kepada para putra terbaik yang berbakat. Biro ini nantinya bertugas melakukan pelatihan dan mempertajam skill setiap bakat yang dimiliki putra-putra terpilih.
“Semua putra pejabat dan menteri tertinggi diberikan kewajiban untuk mengikuti seleksi ini, dan untuk putra pejabat menengah diberikan hak untuk memilih ikut atau tidak. Peraturan macam apa ini? Ini akan sangat menguntungkan bagi mereka yang terlahir dari keluarga kaya raya dan petinggi-petinggi negeri. Lalu bagi mereka yang hanya punya seorang putri bagaimana? Penasehat negara menjijikkan itu, entah apa yang sudah dibisikkannya kepada raja. Dia benar-benar iblis yang sangat tamak,” kesal para menteri.
Hari itu berlalu dengan diresmikannya Biro Minat Bakat oleh raja. Para putra itu diberikan kesempatan untuk mengasah dan mencari keahlian masing-masing selama 14 hari penuh sebelum akhirnya akan dilakukan tes.
Terkadang, kita tidak menginginkan sesuatu, sedang kita harus memilikinya.
__ADS_1