Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Ikutlah Denganku


__ADS_3

Jun duduk termangu di depan rumahnya. Keluar sang ibu-Nyonya Han tertatih-tatih. Dia mendekat pada putranya dan merangkul pundak putranya itu karena iba. "Jun, pagi-pagi sekali kau sudah datang kemari. Apa yang sedang kau pikirkan, Putraku?" tanya Nyonya Han.


Jun segera menatap wajah ibunya. Matanya bengkak dan memerah. Nyonya Han langsung memegang pipi putranya itu dengan kedua tangannya. Buliran air mata tak terasa menetes satu persatu. "Anakku, jangan bersedih. Youra sudah menemukan pilihannya." Nyonya Han menyeka air mata Jun. "Semua itu ada di tanganmu. Ibu mempercayaimu. Ibu percaya ... kau adalah putra yang baik. Kau adalah Jun, pemuda paling pintar dan paling bijaksana di negeri ini. Ibu sangat mempercayaimu."


Jun langsung memeluk ibunya dengan tangis luar biasa yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. "Ibu maafkan aku, aku tidak bisa. Aku tidak bisa." Sangat erat ibu dan anak itu berpelukan. Bahkan jika saja sebuah DVD memutar kembali adegan itu, air mata yang melihatnya tak akan mungkin pernah terbendung lagi. Entah kenapa, suasana menjadi sangat dramatis. Ada yang berbeda hari itu, tak tahu mengapa.


Di kediamannya, Perdana Menteri Han duduk bersandar di atas bangku kayu dengan tenang. Dia menyeduh teh hangat yang terhidang di meja sebelahnya. Tiba-tiba, rasa santai itu berubah suram ... tatkala matanya tak sengaja memandang ke depan gerbang. Jun sedang berdiri membungkukkan tubuhnya, pada sang ayah.


***


"Jun? Tumben sekali kau datang mengunjungiku. Ada apa?" tanya Perdana Menteri Han sembari menuangkan teh ke porselin indah untuk putranya.


"Aku kemari untuk meminta izin Anda." Teh yang mengalir dari teko emas itu, lantas berhenti. Mata Perdana Menteri Han membelalak pada putra yang selama ini sangat angkuh dan dingin kepadanya. "Meminta izin dariku? Tumben sekali?" bingung Perdana Menteri Han.


"Aku akan menemui Ratu Lee. Aku akan membawa Ratu Lee pergi."


Sebuah kalimat yang berbahaya membuat Perdana Menteri Han terperangah. "Jun! Apa yang kau katakan?! Apa kau sudah gila?! Dia adalah ratu! Lupakan gadis itu, dan carilah wanita lain!"


Wajah tanpa ekspresi itu menjatuhkan air mata. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai gadis lain."


"Jun!"


"Apa aku berdosa?" tanya Jun lirih pada ayahnya. "Ya! Itu dosa besar! Dia sekarang pemimpin negeri ini! Dia jandanya Putra Mahkota! Dia sedang mengandung anaknya!" Perdana Menteri Han terlihat penuh amarah.


"Bukankah aku putramu ... Ayah?"


DEG


Hening...


Setelah sekian lama, ini pertama kalinya Jun menyebut Perdana Menteri Han sebagai "Ayah" sejak ayah dan ibunya berpisah.


"Jun?" Perdana Menteri Han menatap mata putranya yang menyimpan banyak arti. Dua buah bola yang terus memandangnya itu mulai merintih. Jun tak mengeluarkan raut apapun, selain air mata yang terus saja terjatuh.


"Aku permisi." Jun meletakkan sebuah kotak kecil yang tak tahu berisi apa di hadapan ayahnya.


"Jun jangan bertindak gila!" Perdana Menteri Han berusaha mencegah kedatangan putranya ke istana, tetapi Jun tak peduli.

__ADS_1


Dia terus saja melangkah pergi meninggalkan ayahnya.


***


Kepala Menteri Perang tergesa-gesa menarik tangan putranya yang saat itu menjabat sebagai jenderal di istana. "Apa kau sudah menemukannya?" tanya Kepala Menteri Perang sedikit bebrisik.


"Maaf Ayah, sampai saat ini aku belum menemukannya." Won Bin memelankan suaranya sekecil mungkin.


"Sudahlah, jangan mencari lagi. Kita tidak boleh terlibat." Kepala Menteri Perang menyentuh pundak putranya. "Kita masih di pihak yang sama," tambahnya.


***


Di istana utama, para dayang berlari menemui Youra. "Yang Mulia ... Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ingin menjumpai Anda. Saat ini beliau menunggu di pustaka pribadi mendiang Putra Mahkota."


Entah kenapa pengumuman itu terasa sangat menegangkan. Dia mengangkat gaunnya berlari menuju pustaka tempat dimana Jun menunggu. Cara Youra berlari berhasil mencuri perhatian banyak orang. Para pejabat yang dapat melihatnya terheran-heran.


Kreeettt!


Deritan pintu utama pustaka menandakan bahwa tempat itu telah terbuka lebar. Para dayang berlarian keluar. Mereka bergidik ngeri beberapa saat sebelum menjauh. Memberikan ruang untuk Jun dan Youra berbicara terasa sangat aneh.


"Kak Jun? Apa yang ..."


"Yang Mulia ..." Jun membalikkan tubuhnya, maju beberapa langkah mendekati Youra. "Lee Youra."


Panggilan Jun membuat Youra terpaku pada satu titik menegangkan dalam hidupnya. Kali ini tatapan Jun terlihat sangat berbeda. Bagaimanapun juga, dulu mereka pernah lebih dari sekedar berteman.


"Apa kau menderita?" tanya Jun dengan wajah berkeringat. Buliran air mata terus mengalir di pipinya.


"Kak Jun, aku ..."


"Cukup jawab iya atau tidak." Jun masih terus memandangi Youra.


Youra yang tidak kuasa, tak bisa lagi menahan tangisnya. Dia ikut menititkkan air mata tetapi tidak mampu menjawab pertanyaan Jun.


"Jika di istana membuatmu menderita ... ikutlah denganku. Kita keluar dari istana ini dan hidup damai jauh di tempat lain. Aku akan membawamu pergi dari sini."


Perkataan Jun yang menyedihkan malah semakin membuat Youra menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Kak Jun, kumohon ..."


"Aku akan bertanggung jawab atas bayimu. Aku akan menganggap dia seperti anakku sendiri," potong Jun cepat.


Youra semakin terisak. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa." Youra maju beberapa langkah untuk semakin dekat dengan Jun. "Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku tidak bisa meninggalkan Suamiku, Kak ..." Menangis Youra di hadapan Jun sejadi-jadinya.


"Youra ... dia sudah tiada."


"Tidak, tidak. Jangan berkata seperti itu, Putra Mahkota pasti akan kembali. Dia sudah berjanji untuk selalu mendampingiku." Youra membalas tatapan penuh cinta Jun dengan air mata.


"Youra ... dia tidak akan kembali. Untuk apa hidup sendirian di istana mengerikan ini? Kau tidak akan bisa keluar lagi dari sini selamanya jika tidak lari dari sekarang." Semakin menggebu-gebu Jun meyakinkan Youra untuk pergi.


"Kau sendirian disini. Istana ini berbahaya untukmu. Pergilah denganku. Tidak masalah jika kau tidak mencintai aku. Kita bisa memulai semuanya dari awal." Jun bersikeras membawa Youra pergi dari istana.


"Aku tidak bisa, Kak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkannya." Youra terhenyak ke atas lantai, terisak-isak semakin menyulut.


Jun memandanginya, berjongkok kemudian. Meski ragu-ragu, tangan itu akhirnya sampai di pundak Youra. "Kau mencintai Putra Mahkota? Kau yakin dia masih hidup?" tanya Jun sekali lagi.


"Aku cinta ... aku sangat mencintainya. Maafkan aku, Kak. Maafkan aku ... aku sudah, aku sudah mengingkari janji kita. Aku akan menunggunya, aku akan menunggunya sampai kapanpun. Meski harus menderita, aku akan menunggunya kembali."


Jun mengangguk pelan. Semakin lama air mata pemuda itu semakin berjatuhan. "Baiklah." Jun membantu Youra berdiri kembali, memegangi kedua pundaknya. "Aku tidak akan menawarkan apapun lagi. Ini terakhir kalinya aku menemuimu." Jun tersenyum pada Youra. "Berjanjilah untuk tidak menangis lagi ... karena ini keputusanmu."


Dua pasang mata itu saling bertemu, menciptakan kenangan haru yang membuat Dayang Nari yang mendengarnya menitikkan air mata. Sangat ragu, tetapi Jun memberanikan diri untuk yang terakhir kalinya menyeka air mata Youra. "Jangan menangis. Bayi di perutmu nanti juga ikut menangis." Jun masih sempat bercanda pada pujaan hatinya. Meski dengan hati yang sangat sakit, Jun masih tetap tersenyum pada Youra.


"Aku baru sadar. Sekeras apapun aku berusaha mengubah takdir, pada akhirnya ... kau akan tetap membenciku." Entah kenapa perkataan Jun memiliki makna tersirat yang membuat Youra terperanjat.


"Sejak awal, kau ditakdirkan untuk membenciku. Tapi aku ... aku malah ingin mengubah takdir itu menjadi cinta. Kau akan sangat membenciku. Kemarin atau yang akan datang, kau akan membenciku." Jun masih tersenyum, meski perkataannya terdengar menyakitkan.


Jun menarik panjang napasnya. Matanya sangat merah dan menggambarkan luka yang begitu berat.


"Kak Jun, aku tidak pernah membencimu. Meski kau telah berbohong padaku, aku tidak pernah membencimu." Pertemuan keduanya sangat emosional. Tangis mereka bersahut-sahutan.


Jun sekali lagi menyeka air mata Youra. "Kau sangat jelek saat menangis. Mengapa Putra Mahkota bisa menyukaimu?" ledek Jun di tengah-tengah tangis mereka. Youra membalas perkataan itu dengan sedikit tawa.


"Jangan mengatakan sesuatu seolah-olah kita akan berpisah. Bagiku, Kak Jun sudah seperti keluarga. Aku tidak akan pernah melupakan Kak Jun."


Jun mengelus kepala Youra sebelum membungkukkan tubuhnya untuk pamit dari sana. "Terimakasih, Yang Mulia ... Ratu Lee."

__ADS_1


__ADS_2