
Sejak hari itu, Youra tak bisa lagi makan. Dia terus saja duduk di sudut ranjangnya dengan wajah yang bengkak. "Yang Mulia, makanlah terlebih dahulu." Dayang Nari menghidangkan makanan kesukaan Youra, tetapi dia sama sekali tak menginginkannya.
"Dayang Nari ... " panggil Youra lirih. Suaranya sedikit parau. "Aku tidak lapar. Bisa singkirkan semua makanan ini?" Youra benar-benar sangat bersedih.
Karena sejak hari itu, Putra Mahkota benar-benar tak ingin bertemu dengannya. Tak pernah terlihat di kediaman. Tak pula menerima surat yang dia kirimkan. Ada perasaan sakit setelah itu. Ini pertama kalinya, Putra Mahkota menolak surat darinya. Youra bahkan tak peduli lagi dengan surat-surat yang Jun kirimkan. Otaknya terus saja membayangkan hal yang menyedihkan. Dia sangat takut. Takut kehilangan Putra Mahkota.
Tiba-tiba lamunan itu terjaga. "Yang Mulia, Kasim Cho ingin bertemu dengan Anda." Mendengarnya, entah kenapa Youra sangat bersemangat, cepat-cepat merapikan pakaiannya. Berharap, Kasim Cho datang bersama Putra Mahkota atau sekedar memberikan kabar bahagia.
"Senang bertemu Anda, Yang Mulia," hormat Kasim Cho. "Kasim Cho, Anda sendiri?" tanya Youra kecewa saat sadar Kasim Cho memang sendirian.
"Yang Mulia, Anda ingin bertemu dengan Putra Mahkota?" tanya Kasim Cho mendadak, penuh harap. Wajah itu sangat sembab, dengan mata cekung yang berlebihan.
"Kumohon ... katakanlah iya, Yang Mulia." Dayang Nari menaruh harapan itu di dalam hatinya.
"Tidak," jawab Youra. Tak pernah mau mengalah, dia terus saja mempertahankan egonya. Seluruh pelayan yang mendengarnya sampai kecewa. Padahal, masih ada kesempatan baginya untuk menunjukkan cinta agar Putra Mahkota memaafkannya.
"Yang Mulia. Sejujurnya, hamba tidak punya hak untuk mencampuri urusan ini." Kasim Cho menundukkan wajah sedihnya. "Tapi kenapa, Anda begitu tega kepada Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Kasim Cho setelahnya. Kasim Cho bersimpuh di kaki Youra, hingga seluruh pelayan berjalan mundur untuk tidak mendengar pengakuan. Mereka meninggalkan Youra bersama Dayang Nari dan Kasim Cho saja.
"Jika Anda marah karena Putra Mahkota menghancurkan kendi-kendi Anda saat di desa, mohon hukum sajalah hamba. Jika Anda marah karena Putra Mahkota menyentuh Anda, maka hukum jugalah hamba saja. Tapi hamba mohon ..." Kasim Cho menyatukan kedua tangannya, menggosok-gosoknya bertemankan air mata. "Mohon, bersikaplah baik. Setidaknya menghormati Yang Mulia sebagai calon pemimpin negeri ini, jika tidak bisa menghormatinya sebagai suami." Youra yang hanya melamun putus asa, semakin tak dapat bersuara.
__ADS_1
"Putra Mahkota membelikan keramik cantik termahal di negeri ini, untuk mengganti kendi-kendi Anda yang dulu pernah dia tabrak saat di pasar, tetapi beliau tak pernah lagi bisa keluar karena ketahuan oleh petugas istana raja. Setiap hari, dia akan memandangi keramik itu sampai dia tertidur. Beliau juga berhenti sejenak memandangi Anda saat berada di pasar. Jung Hyun mengatakan semuanya, hingga hati hamba sangat terluka, Yang Mulia. Beliau tidak memiliki siapapun di negeri ini. Jika Anda merasa sangat menderita karena sendirian, tidak tahukah Anda, beliau jauh lebih kesepian dan jauh lebih menderita daripada Anda?" Kasim Cho menangis terisak di depan Youra sembari berlutut, terus saja memohon.
"Beliau tidak makan dengan baik, dan tidak tidur dengan baik. Dari tiga mangkuk nasi yang terhidang setiap hari, hanya 1 sampai 3 sendok yang beliau telan." Tak habis-habisnya Kasim Cho melemparkan seluruh emosi kesedihan itu.
"Putra Mahkota memiliki gangguan kepribadian sejak kecil. Jika beliau terluka hatinya, beliau akan mengamuk, atau melukai diri sendiri. Jika beliau terlalu banyak pikiran, hidung beliau akan terus mengeluarkan darah. Tangan beliau penuh luka. Saat tidur, beliau tak pernah nyenyak sama sekali. Terus saja menggaruk tangannya hingga terluka jika hatinya sedang sakit. Jika Anda tidak bisa mencintainya, tidak bisakah Anda kasihan sedikit saja padanya?"
Youra terhenyak. Terduduk, menghempaskan tubuh pasrahnya terjatuh di lantai. Sementara Kasim Cho hanya terus menundukkan wajah. "Anda sudah sangat mengecewakan beliau. Beberapa hari ini, beliau sama sekali tidak mau makan, Yang Mulia. Beliau tidak tidur, dan tidak pula beristirahat. Hidungnya tidak berhenti mengeluarkan darah, dan menolak dipanggilkan tabib. Tolong, sekali saja, temuilah beliau dan berikanlah dukungan."
Youra tak menjawab apapun. Terpaku di tempat sangat lama. "Hari ini beliau menikahi wanita itu. Apa tidak ada, sedikit saja rasa cemburu di hati Anda?"
Ya, aku sangat cemburu.
***
Hari ini, Putra Mahkota menikah lagi. Acara itu diadakan tertutup dan terburu-buru. Namun, hingga acara selesai, Putra Mahkota sama sekali tidak memandang wajah mempelainya. Putra Mahkota beranjak dari tempat duduknya, hingga Han Ji-Eun menahan lengannya. "Yang Mulia, Anda mau kemana?" tanya Han Ji-Eun menggenggam erat lengan itu. Putra Mahkota menatap tangan yang menahannya. "Jangan pernah, menyentuhku." Putra Mahkota menarik paksa tangannya lepas dari genggaman Han Ji-Eun. Han Ji-Eun sangat sesak. Dia tidak dapat menerima perlakuan itu.
Sejak mendengarkan kabar tentang sang adik yang ditunjuk menjadi selir untuk Putra Mahkota, Jun menjadi lebih bersemangat dari biasanya. Berita baik ini menciptakan sedikit harapan bagi Jun untuk dapat membawa kembali Youra keluar dari istana dengan mudah.
Putra Mahkota menunda malam pertamanya dengan alasan sakit. Hal ini semakin membuat istana terutama Han Ji-Eun tak terima. Oleh karena itu, istana hanya menunda malam pertama itu selama dua hari. Bersama ratu, Han Ji-Eun menggunakan dua hari itu untuk memikirkan cara agar Putra Mahkota mau menidurinya.
__ADS_1
***
"Cepat berikan aku obatnya," ketus Han Ji-Eun tanpa sopan santun. Ratu tertawa, sembari memberikan obat itu kepada ratu. "Ini. Kau benar-benar selir yang menantang dan berani."
"Apa Anda yakin, dia akan terangsang dengan ini?" tanya Han Ji-Eun bersemangat. Ratu mengangguk. "Tanpa obat perangsang pun, seorang pria akan tergoda dengan wanita pemberani seperti dirimu." Han Ji-Eun tersenyum. Tidur dengan Putra Mahkota dan memiliki keturunan darinya, tidak hanya akan membantunya untuk mendapatkan gelar ratu, tetapi juga akan membuat Putra Mahkota jatuh cinta padanya.
***
Akhirnya, malam itu pun tiba. Malam dimana Putra Mahkota akan bersama dengan wanita lain.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Dayang Nari saat memandang wajah pucat Youra yang bersedih. Youra diam saja, tetapi dia tak juga urung dari tempatnya berdiri. Masih di balkon istananya, memandangi istana sang suami.
"Malam ini, adalah malam pertama Putra Mahkota dan pengantin barunya, setelah beberapa kali selalu ditunda. Apa Anda benar-benar akan membiarkannya, Yang Mulia?" tanya Dayang Nari. Youra sangat gelisah, mondar-mandir tak menentu. Dia berjongkok di tepi balkon itu setelahnya, menggigit tangannya sendiri. Jantungnya sudah berdetak tak karuan. Perutnya sakit, hingga dia muntah-muntah karena tak dapat menerima kenyataan.
"Yang Mulia ... " Dayang Nari ikut berjongkok di sampingnya.
"Masihkan Anda mencintai Tuan Muda Jun? Jika memang begitu, mengapa Anda jadi seperti ini?"
Pertanyaan itu, seolah menjawab seluruh rasa sakitnya. Benar, jika cinta itu milik orang lain, mengapa harus sakit dan terluka?
__ADS_1
***