Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Permohonan Putri Shin


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Ara tak bersuara sama sekali. Dia bahkan tidak berlaku seperti biasanya. Setelah selesai memasak, dia menghidangkannya pada sang suami tanpa berbicara. Padahal, dia selalu cerewet meski Pangeran Yul tak memperdulikannya. Duduk menyudut memainkan kuku jempol kakinya di beranda rumah. Saat tidurpun dia memunggungi Pangeran Yul, tak seperti biasa yang bermanjaan meski Pangeran Yul selalu menolaknya.


Sikap diam istrinya, membuat Pangeran Yul merasa tidak nyaman. Pangeran Yul yang jarang pulang, kali ini selalu pulang bahkan sebelum malam menyapa. Biasanya Pangeran Yul hanya pulang untuk menggaulinya lalu pergi lagi meninggalkannya di tengah malam, sendirian di atas ranjang. Sama sekali tidak peduli akan perasaan Ara. Tapi kali ini, dia bahkan tak bisa berpaling sedikitpun dari istrinya. Gengsinya patah oleh mata yang tiada henti memandangi sang istri. Baru sadar, dia telah memiliki sesuatu yang lebih mewah dan mahal harganya daripada istana berbeton emas.


Seperti biasa, Ara selalu membantu Pangeran Yul memakaikan jubah. Biasanya dia tersenyum, tapi kali ini tidak lagi. Wajahnya sembab, terkikis oleh air mata.


"Ara ... " Pangeran Yul menahan tangan mungil istrinya bertahan di dada bidangnya. "Kau masih marah padaku?" tanya Pangeran Yul. Ara terpaku, melihat tangan gagah yang menyentuh indah tangannya. "Tidak. Mana mungkin aku berani, Pangeranku." Ara menundukkan wajahnya, setelahnya dia hendak bergegas keluar dari biliknya.


"Ara .. " Pangeran Yul melingkarkan tangannya di pinggul kecil sang istri. Ara sampai sesak saat Pangeran Yul memangku wajah di pundaknya. "Pangeranku, apa Anda menginginkannya saat ini?" Pertanyaan Ara berhasil menyentak perasaan Pangeran Yul menjadi puing-puing remuk tak berbentuk. Memang begitu. Selama ini, dia hanya bersikap manis saat ingin menggauli Ara. Dengan nafsu, bukan cinta.


Pangeran Yul semakin erat memeluknya. "Bagaimana kabar bayi kita?" Setelah beberapa waktu berlalu, baru kali ini Pangeran Yul bertanya soal kandungan Ara. Ara memutar tubuhnya menghadap sang suami. Wajah sembabnya tampak lebih cantik karena ada sinar kebahagiaan yang mencuat sedikit. Sepertinya, dia senang Pangeran Yul menanyakan kehamilannya. "Teman-temanku bilang, istri mereka yang hamil meminta mereka untuk membawakan buah atau makanan yang diinginkan. Mengapa kau tidak memintaku untuk melakukan hal yang sama?" Pangeran Yul masih melingkarkan tangannya di punggung sang istri, saling berhadapan.


"Apa yang aku inginkan, saat ini sudah aku dapatkan, Suamiku." Ara sampai menitikkan air mata karenanya. Pangeran Yul menyeka air mata sang istri, membawanya masuk lebih larut dalam pelukan. Ara akhirnya menangis pilu, membalas pelukan sang suami. "Jangan tinggalkan aku sendirian di rumah. Aku sangat takut, Suamiku."


"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan ke rumah bordil lagi, sampai kapanpun."


...----------------...


Putri Shin terpaku di kediamannya, setiap hari setelah sadar bahwa suaminya adalah seorang pengkhianat. Belum lama bermanjakan dengan tangis dan air mata, tiba-tiba Ha Sun datang dan langsung menarik kencang rambutnya. "Kurang ajar! Putri raja sepertimu ternyata gadis kotor dan hina!" Ha Sun menarik rambut Putri Shin, membawanya keluar dari kediaman. Dia mendorong tubuh wanita malang itu hingga terjatuh.

__ADS_1


Ha Sun mencapit dagu Putri Shin dengan tangannya, menyekatnya lebih kuat. "Sekarang kau harus menggugurkan bayi itu. Dia harus mati bersama ayahnya." Ha Sun terlihat seperti orang gila.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Putri Shin berkilah untuk tidak mengakui kesalahan fatal yang sudah dia lakukan.


Ha Sun melotot tajam kepadanya. "Jangan kau kira aku tidak tahu, kau sedang mengandung seorang bayi hina, padahal aku bahkan belum menyentuhmu. Apa hebatnya dia dibanding aku? Dia miskin dan anak rakyat jelata. Sedangkan aku ... aku anak seorang menteri terkenal. Aku kaya, aku punya segalanya!" Ha Sun memperlihatkan obsesinya yang besar.


"Anda pria rendahan, yang suka meniduri sembarangan wanita! Penjudi! Penipu! Pengkhianat! Pencuri! Pembunuh! Apa lagi dosa yang belum Anda lakukan?!"


PLAK!


Ha Sun mendaratkan telapak tangan kirinya di pipi indah Putri Shin yang bahkan selalu dirawat saat dia masih di istana. "Jangan melawan padaku, jika kau ingin hidup lebih baik. Pria itu sudah ditangkap oleh istana! Sebentar lagi, bayi ini juga akan mati, ikut bersama ayahnya. Kau adalah milikku, hanya milikku!" Ha Sun menekan tenggorokan sang istri, hampir saja membunuhnya. Dia pergi dari sana, meninggalkan Putri Shin bersama rasa terkejut yang luar biasa. Putri Shin langsung berlari panjang menuju istana. Tak peduli jika orang terus melihat betapa kusutnya dia.


Putri Shin menerobos masuk istana Ratu Kim, menabrak seluruh pengawal yang berjaga ketat. "Dimana ibuku?!" teriak Putri Shin di kediaman ratu. Tak ada ratu disana, hanya para pelayan yang ketakutan. Putri Shin tak perlu pikir panjang untuk berlari menuju Biro Investigasi. Dan benar, pemandangan pertama yang dia lihat adalah seorang pria yang sudah berlumuran darah, diseret masuk ke hadapan para hakim. Dia Jung Hyun, ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Anda yang sudah melakukan ini? Mengapa Anda tidak pernah berhenti? Anda tidak takut pada langit, Ibunda?"


"Shin!" teriak Ratu Kim karena malu orang-orang sedang memandangi putrinya yang mulai gila. "Pengawal! Bawa Putri Shin menuju kediamanku!"


Putri Shin diseret paksa oleh pengawal istana. "Ibunda! Anda harus berhenti! Ibunda ... !" Ratu Kim sangat sesak melihat bagaimana putrinya bertindak di luar kendali.

__ADS_1


Jung Hyun mengepal kedua tangannya. Menyimpannya erat bersama rasa sedih yang mendalam. "Bawa pria hina ini kembali ke rumah tahanan!" Ratu bergegas turun dari singgasana, penuh emosi menuju kediaman.


***


Putri Shin sedang tertunduk. Bersimpuh di atas ubin, melotot tajam dengan deraian air mata. "Ibu, Anda harus mengakhiri semuanya." Sangat yakin Putri Shin berucap, tanpa memandang wajah ibunya. "Shin!" teriak ratu sangat marah.


Ratu mendekat pada putrinya, ikut berjongkok. "Anda tidak boleh membunuhnya, Ibunda." Putri Shin menyentuh ujung gaun ratu. Ratu tertawa, mengangguk pelan. "Hahahaha! Memalukan!"


"Ratu! Dia ayah bayi yang sedang aku kandung!" Putri Shin memberontak, menghentikan ratu dari tawanya. "Jika Anda seorang ibu, Anda pasti tahu bagaimana jadinya aku tanpa ayah dari anakku."


"Shin! Jangan bodoh! Kau sedang bercanda padaku?!" Ratu semakin menggebu-gebu menyuarakan kemarahannya. "Jika Anda membunuhnya, aku akan bunuh diri."


"Shin! Kau sudah punya suami. Jangan sampai orang lain mendengarnya." Ratu memelankan suaranya, berbisik tidak percaya. "Aku tidak takut mati, Yang Mulia." Putri Shin semakin meremas gaun ibunya. Terus saja menitikkan air mata. "Aku hanya takut langit akan menghukum kita karena sudah berkhianat pada negara," tambahnya.


"Pulang kau sekarang, Shin! Pengawal! Antar dia pulang!"


"Ibu, aku tidak main-main dengan kata-kataku."


"Cepat pengawal!" teriak ratu terus menerus.

__ADS_1


"Ibu! Anda tidak boleh membunuhnya, jika Anda ingin aku tetap hidup!" Putri Shin tak mau kalah, meski tubuhnya telah ditarik paksa keluar dari sana. Ratu mendadak pingsan setelah bergulat dengan kenyataan yang menyesakkan dada.


***


__ADS_2