Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putra Mahkota Tidak Akan Datang


__ADS_3

Sekelompok orang yang tak dikenal berkunjung ke kediaman Pangeran Yul dan Ara. Mereka mengetuk pintu gerbang itu cukup kuat. Ara yang sedang merapikan pakaian dan barang-barang suaminya yang sangat berantakan berjalan pelan menuju jendela kamar untuk memeriksa.


"Siapa itu?" tanya Ara pada para pelayan yang berjaga di luar kediaman.


"Tidak tahu, Nyonya. Mereka menanyakan keberadaan Pangeran Yul."


Ara menaruh curiga, sesekali dia kembali menatap gerbang yang terus saja diketuk itu.


"Katakan pada mereka, suamiku tidak ada di rumah," balas Ara.


Sang pelayan berlari ke gerbang itu untuk segera menyapa dan menyampaikan pesan itu. "Maaf Tuan, Pangeran Yul sedang tidak ada di rumah. Kembalilah setelah Pangeran Yul tiba."


Para tamu itu saling berpandangan, mereka mendorong tubuh pelayan itu, mendobrak masuk ke halaman rumah mereka. "Pangeran Yul! Keluar kau!"


Para pelayan ketakutan mendengarnya, kediaman mereka benar-benar diterobos masuk orang tak di kenal. "Tuan, mohon pergilah dari sini. Dilarang memasuki kediaman wanita bersuami saat suaminya tidak ada di rumah." Seorang pelayan berani mendekat, meminta orang-orang itu beranjak dari sana.


"Suruh istrinya keluar!" mereka berteriak keras.


Ara duduk di atas ranjangnya sangat khawatir.


"Aku tidak akan keluar, sebelum suamiku tiba di rumah," pungkas Ara pada pelayannya. Ara memeluk jubah sang suami yang sedang disusunnya di dalam bilik. Dia ketakutan. Entah apalagi kali ini yang telah dilakukan Pangeran Yul, yang jelas tampaknya orang-orang itu penuh amarah.


Mereka, orang-orang tak bermoral itu menghadap pintu kediaman Ara ingin mendobraknya, tetapi seseorang menghentikan langkah mereka.


"Berani-beraninya kalian memasuki kediaman seorang pangeran dengan cara yang tidak sopan!" Suara itu berasal dari arah gerbang yang terbuka lebar. Pangeran Yul telah sampai di rumahnya.


"Pangeran Yul, dimana janji dan hutang yang akan segera kau bayar?!" teriak mereka saat melihat kedatangan Pangeran Yul.

__ADS_1


"Sudah kukatakan akan kubayar dan akan kulunasi secepatnya! Pergi kalian dari rumahku!" Pangeran Yul mengusir orang-orang bertubuh besar dan penuh emosi itu. Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, meski tampaknya orang-orang itu sangat marah.


Mereka benar-benar tak terima. Berjalan cepat menuju Pangeran Yul dan segera melayangkan pukulan mereka. "Bren*sek!"


Para pelayan mencoba membantu, tapi orang-orang itu bahkan jauh lebih kuat dari Pangeran Yul. Mereka benar-benar mengeluarkan tenaga mereka. Memukul Pangeran Yul tanpa ampun.


Pangeran Yul tergeletak di tanah, dengan hidung dan bibir yang mengeluarkan darah. Dia kesakitan, tetapi tetap tak ingin menyerah meski tahu dia tak akan memenangkan perkelahian itu. Melihat sang suami dikepung senjata oleh orang-orang keji itu, Ara berlari keluar dari kediamannya tanpa alas kaki.


"Hentikan!" Ara mengejar tubuh sang suami yang penuh luka. Memeluknya dengan baik. "Apa yang kalian lakukan pada seorang pangeran?! Kalian tidak takut jika istana mengetahuinya?!"


Mereka menarik kembali senjata mereka, tersenyum senang melihat kehadiran Ara di sana. "Wah! Istrimu benar-benar cantik, Pangeran." Kalimat yang sangat menakutkan untuk Ara, membuatnya memeluk sang suami lebih erat.


"Baiklah, karena Nyonya cantik kita yang memintanya, kami akan pergi dari sini. Tapi ingat, kami akan kembali lagi nanti. Dan jika kau belum membayarnya, kami akan membawa si cantik ini pergi." Mereka akhirnya beranjak dari sana, meninggalkan Pangeran Yul yang tergeletak.


Para pelayan kembali merapikan kediaman mereka yang hampir saja hancur berantakan. Ara membantu suaminya berdiri, mengiringnya masuk dalam bilik mereka.


Ara menyapu darah di wajah suaminya. "Apa yang sudah Anda lakukan? Bagaimana seorang pangeran bisa memiliki hutang?" tanya Ara lirih.


"Bagaimana bisa aku membiarkan mereka menyakiti suamiku?" tak memandang mata suaminya, sambil menangis Ara terus saja menyapu bersih sisa-sisa darah yang menempel di wajah Pangeran Yul.


"Aku akan menjadi raja."


Perkataan Pangeran Yul seolah menghentikan detak jantung Ara. Dia membatu di depan suaminya tak percaya. "Aa-apa?"


"Aku akan menyingkirkan Putra Mahkota." Pangeran Yul tersenyum sinis di depannya, memperlihatkan betapa ambisinya dia.


"Tidak. Anda tidak boleh melakukan hal keji itu. Pemberontak tidak akan diampuni. Anda tidak boleh berpikir seperti itu," sanggah Ara ketakutan.

__ADS_1


"Semua orang mendukungku. Mereka menyukaiku, bukan Putra Mahkota. Kau tidak ingin jadi istri seorang raja?"


Ara tertegun, wajah indahnya terlalu cantik untuk terus menitikkan air mata. "Tidak," jawabnya sangat pelan dan lirih.


"Kalau begitu, mari berpisah."


**


Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu itu tiba. Rapat penting yang seharusnya dipimpin oleh raja menjadi tempat mereka mencurahkan gelak tawa penghinaan mereka. Wajah-wajah yang sangat damai dan tenang, sangat tahu bahwa Putra Mahkota tidak akan menghadiri rapat penting itu.


"Hai sekretaris negara! Sampai berapa lama lagi kita harus menunggu kedatangan Putra Mahkota? Apa kita harus menunggunya sampai kiamat tiba?" teriak Kepala Menteri Perang pada sekretaris negara.


Mereka saling melemparkan senyuman. Tertunduk ragu-ragu, masih berdiri di tempat mereka menunggu. Sekretaris Negara terus saja menatap gerbang aula pertemuan itu, menaruh harapan besar pada sebuah keajaiban. Putra Mahkota harus hadir, jika tidak semuanya akan lebih buruk dari itu. Para pemberontak akan mencari cara untuk menyingkirkan Putra Mahkota dari status dan wewenangnya.


"Oi sekretaris negara! Kenapa Anda diam saja? Lihatlah matahari sudah berada dimana!"


"Sudah sangat jelas dia tidak akan datang! Mengapa raja masih memaksa keadaan?!"


"Jangan memperlihatkan kebodohan! Lebih baik mencari pemimpin rapat yang benar-benar punya kemampuan! Ini demi keselamatan negara! Lupakan soal harga diri dan pandangan rakyat!"


Protes itu terus saja menggema di aula pertemuan itu. Sangat kelam dan gelap. Mereka menyerbu sekretaris negara untuk secepatnya mengganti pemimpin rapat.


Perdana Menteri Han tersenyum tipis. Dia maju beberapa langkah dari tempat dia berdiri, hingga berdiri tepat di depan seluruh para menteri menghadap pintu aula pertemuan.


"Patuh dan taatlah pada aturan dan perintah raja jika kalian memang abdi yang setia. Apa salahnya menunggu terlebih dahulu?" Perdana Menteri Han selalu saja menengahi semua permasalahan. Mereka terdiam, saling memandang satu sama lain. Namun, hingga siang berganti sore, Putra Mahkota belum juga datang. Mereka akhirnya tersenyum lega, keinginan mereka tampaknya akan segera terwujud. Sekretaris Negara akhirnya mengalah pada keadaan. Dia berdiri di atas anak tangga singgasana raja, segera menyampaikan keputusan bersama.


"Baiklah, tampaknya Putra Mahkota tidak akan menghadiri rapat ini. Oleh karena itu, keputusan bersama akan jadi jalan terakhir. Kita akan mengganti pimpinan rapat ki..."

__ADS_1


"BERIKAN HORMAT KALIAN PADA YANG MULIA PUTRA MAHKOTA!"


Perkataan sekretaris negara terputus. Suara pengawal penjaga pintu aula pertemuan membuat bulu kuduk mereka berdiri. Mereka terbelalak, dengan keringat dingin yang mencuat dari sudut kening mereka semua. Tak lagi mampu untuk saling menatap, kini mata mereka bahkan tak lepas dari gerbang yang akan segera dibuka.


__ADS_2