
Ara terbangun dari tidurnya. Suara ribut itu sedikit mengganggunya. Dia membuka matanya perlahan-lahan, terkejut melihat Pangeran Yul sedang berada dalam bilik yang sama, sedang berganti pakaian. "Pangeran?" panggil Ara sangat lembut. Pangeran Yul menoleh, sebelum kembali meraih jubahnya.
Ara duduk dari tidurnya, mendapati dirinya pelontosan tanpa busana. Tadi malam, Ara masih melayani suaminya, meski Pangeran Yul terus saja menawarkan perpisahan. Ia meraih kekuatannya untuk berdiri, meraih pakaian tipis yang sangat terbuka di sebelahnya dan cepat memakainya. Dia mendekat membantu suaminya memakai jubah. Ara menarik jubah itu naik ke atas pundak sang suami yang sedang bertelanjang dada. Dia menahan cukup lama genggamannya yang bergetar. Susah payah dia menahan kesengsaraan yang mengikat batinnya, tapi akhirnya lepas. Menangis sangat keras, menyandarkan kepalanya yang tertunduk pada bidang sang suami. "Aku tidak ingin berpisah." Sambil terisak, Ara memukul-mukul dada suaminya itu pelan-pelan. Pangeran Yul membiarkannya, tak bergerak. Bahkan hanya terus memperhatikan tanpa mengatakan apapun juga.
"Aku siap, aku siap menjadi istri seorang pekhianat. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku." Tangis itu tak ubah barang sedikitpun.
Pangeran Yul menyentuh kedua pundak sang istri, memundurkannya sedikit. Dia menundukkan tubuhnya yang gagah, memandang wajah sang istri yang sedang menangis di hadapannya. "Jika kau tetap menjadi istriku, kau tidak akan kujadikan ratu."
Ara menghapus cepat air matanya, "Apa maksud Anda?" tanyanya masih terisak. Pangeran Yul tertawa, sangat keras. Menganggap semua hanyalah sebuah candaan. "Tentu saja sebagai seorang selir. Aku tidak menyukaimu, dan juga aku akan mencari wanita yang lebih berani dan tidak cengeng sepertimu."
Ara terhenyak ke lantai. Perkataan sang suami benar-benar telah menusuk hingga ke jantungnya. Meradang, luka itu semakin meradang. Tak lagi bisa mengeluarkan air mata saking sakitnya. Dia mendongak, menyentuh kaki suaminya yang segera melangkah keluar kamar. "Anda tidak perlu menganggapku istri."
Pangeran Yul berhenti, memandangi tangan mungil yang sedang menahan langkahnya. "Aku akan membantu Anda meraih tahta. Anggap saja aku rekan bisnis. Tapi, aku mohon jangan ceraikan aku," tambah Ara menahan pedih di hatinya.
Pangeran Yul mendesis, sebelum akhirnya berjongkok. "Kau mulai tertarik pada tahta rupanya?" tanya Pangeran Yul tak merasa bersalah. Ara lantas langsung menatap matanya. Menganggukkan kepala.
"Suamiku, aku melakukan semua ini bukan karena tahta. Aku melakukannya, karena aku mencintai Anda," rintih Ara jauh dalam hatinya hanya bisa berpura-pura menunjukkan ambisi.
"Kalau begitu, mari kita lihat. Sejauh mana kau bisa membantuku." Segera Pangeran Yul bergegas meninggalkan sang istri. Meninggalkan Ara, sendirian bertemankan tangis.
***
Setelah pertimbangan cukup lama, raja akhirnya memutuskan untuk menandatangani surat keputusan Putra Mahkota. Persetujuan bersyarat itu, memungkinkan untuk membersihkan nama Putra Mahkota. Mendengarnya, para menteri hanya bisa gelang kepala. Ingin menolak, tapi tak punya kuasa.
Rakyat mulai mendengar keputusan ini. Mereka tercengang akan kebijakan yang dikeluarkan Putra Mahkota. Setidaknya sedikit tekanan mulai menghilang, mereka mulai menaruh simpati pada Putra Mahkota. Berbondong-bondong, membatalkan petisi yang mereka tanda tangani. Hingga tak lama setelah itu, seorang pria datang menerobos kerumunan.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya pada Putra Mahkota. Dia melakukan ini hanya untuk membersihkan nama. Kalian sudah tahu bagaimana dia, kenapa masih terpengaruh juga?" teriak pemuda itu di tengah-tengah masyarakat yang berlalu lalang.
Jung Hyun yang sedang berjalan menuju istana, mendengarnya. Pada awalnya, dia terlihat tak peduli. Namun, semakin lama, perkataan lelaki itu semakin menyedihkan.
"Putra Mahkota itu ingin mencuri perhatian kita. Nanti ketika dia sudah menjadi raja, dia akan meminta bayaran ini kembali," tambah pemuda itu. Pelan-pelan rakyat mengembalikan rasa untuk membenci.
Jung Hyun tak terima. Dia mendekat, menarik kerah pemuda itu dan mengangkatnya. "Apa kau ini punya otak?! Kau ingin mati, ha?! Aku bisa melaporkanmu ke istana, kau tahu itu?" Jung Hyun sangat geram.
Pemuda itu melepaskan genggaman Jung Hyun dari kerahnya. "Dia itu membawa kutukan! Apa lagi yang kurang jelas? Bahkan sampai sekarang istrinya belum hamil juga. Kutukan apa lagi yang dia bawa ha?! Putra Mahkota bahkan dikutuk oleh langit. Dan kau masih saja membelanya?!"
Tak bisa lagi sabar, Jung Hyun mengeluarkan pedangnya. Menempalkan pedang itu tepat di tenggorokan pemuda itu. "Tutup mulutmu sebelum kau mati di tanganku!"
Semua rakyat berteriak, merinding ketakutan. Mereka tak berani mendekat, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Pemuda itu tak kenal ampun. "Hai warga negeriku tercinta! Jika kalian tidak percaya lihatlah beberapa tahun ke depan! Putra Mahkota itu tidak akan punya keturunan! Kutukan dari langit! Dia adalah para mandul yang sudah dikutuk!" tambah pemuda itu semakin menyakitkan.
Jung Hyun ingin segera memenggal kepala pemuda itu, tetapi tatapan rakyat yang ketakutan menghentikannya. Dia menarik pemuda itu, dan menyeretnya menjauh dari kerumunan. Masih dengan pedang yang menempel di leher pemuda itu, Jung Hyun memaksanya untuk mengaku. "Katakan padaku, siapa yang mengutusmu?" bisik Jung Hyun pelan.
Jung Hyun kembali menekan, kali ini membiarkan darah mulai mengalir di sisi pedangnya. "Kau benar-benar ingin mati?" ancam Jung Hyun.
Pemuda itu menelan ludah. Darah segar mengalir bebas dari lehernya yang kesakitan. "Ja-jangan, Tuan. Aku punya anak dan istri yang menungguku di rumah. Aa-aku, aku tidak mengenal orang itu, Tuan," jawab pemuda itu meringis. Jung Hyun menarik kembali pedangnya.
"Ceritakan kepadaku," balas Jung Hyun.
"Aku tidak tahu. Aku hanya mengikuti apa yang mereka suruh. Mereka menggunakan pakaian bangsawan, aku tidak mengenal mereka," jawab pemuda itu.
Jung Hyun menatapnya, mencoba mengolah lebih dalam maksud sang pemuda, "Mereka? Apa jumlah mereka banyak?" tanya Jung Hyun waspada. Pemuda itu mengangguk cepat.
__ADS_1
"Sudah berapa lama mereka melakukannya?" tanya Jung Hyun. Pemuda itu tampak berusaha keras memikirkannya, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan. "Setiap tahun, mereka membayar orang untuk menjelek-jelekkan Putra Mahkota. Ha-hanya itu, hanya itu yang aku tahu, Tuan."
Jawaban pemuda itu, menampar keras perasaan Jung Hyun. Putra Mahkota yang sudah sangat dibencinya selama ini, ternyata benar-benar sedang difitnah. Bahkan sejak kelahirannya, Putra Mahkota hidup sangat menderita.
Tak perlu berpikir panjang, Jung Hyun berlari cepat menuju istana. Tak sabar ingin segera memberikan laporan.
***
Sementara itu, Youra yang mendapat kabar tentang keputusan Putra Mahkota termenung di dalam bilik mewahnya, membuka surat kiriman dari Jun diam-diam.
"Putri Mahkota, kurasa Anda sudah memikirkan persoalan ini. Putra Mahkota menutup kasus yang menimpanya. Aku harap Anda tidak cepat terpengaruh. Seorang pelayan yang bekerja di kediaman Putra Mahkota, mengatakan mungkin saja Putra Mahkota sedang membuat jebakan. Berpura-pura diracuni, agar Anda menaruh empati kepadanya. Menurut catatan saksi yang aku temukan, seorang petani yang lewat saat penyerangan Anda menuju kuil waktu itu, Putra Mahkota tiba-tiba saja hadir disana. Menurut Anda, apakah tidak sangat aneh dia tahu lokasi penyerangan Anda? Rute Anda diubah, bagaimana bisa dia mengetahui perubahan rute itu? Dan satu lagi, beliau dalam keadaan sakit saat menyelamatkan Anda. Namun, bisa selamat dari para penyerang. Maafkan aku Putri Mahkota, surat ini aku tulis bersamaan dengan penyelidikan yang dilakukan. Aku harap, ini dapat membantu Anda."
Deg..
Youra membatu, menarik surat itu untuk segera membalasnya. Perasaan merasa bersalah yang hampir saja berpaling dari Jun membuatnya menitikkan air mata. Dia meraih tinta hitam itu, menggoreskannya di atas kertas mewah. Setelah selesai, kembali ia meletakkannya pada tumpukan kertas yang akan dikirim.
"Berhati-hatilah mengirimkan surat ini."
Para pelayan cekatan bekerja. Membawa surat itu untuk dikirimkan kepada Jun. Namun tak lama setelah itu, sesuatu yang tidak disangka-sangka pun terjadi. Langit yang cerah berubah abu, menyisakan kegelapan yang menyelimuti hampir seluruh negeri.
"Kutukan!" para pelayan istana memandang langit yang gelap. "Ini badai atau kutukan? Ini belum masanya untuk terjadi badai, mengapa langit sangat mengerikan?"
***
Seorang peramal tua renta, dengan tongkat yang menopang tubuhnya berjalan turun dari kediamannya memandang langit yang gelap, setelah berbincang dengan beberapa orang. "Ada apa, Nyonya?" tanya salah seorang tamu padanya.
__ADS_1
Dia menunjuk langit yang hitam. "Seorang wanita bodoh masuk ke istana, membawa dendamnya yang salah! Dia akan menyesali itu sampai mati, jika tidak segera sadar diri."
***