Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Teman


__ADS_3

Seorang yang setia, akan mendukungmu dan bukan menghinamu. Segala yang baik tentang dirimu, dia akan bangga karena itu. Saat berbuat salah, di barisan terdepan, dia menegurmu. Seorang yang setia, bukan yang tersenyum di depanmu, padahal jatuhmu yang ia tunggu.


Teman   


Saat itu di istana, raja melakukan pertemuan bersama para menteri dengan mengadakan makan malam bersama. Para menteri berkumpul begitu pula seluruh anggota biro dan para cendekiawan. Para menteri dan tamu-tamu kehormatan yang tengah sibuk berbincang satu sama lain itu kemudian menghentikan perbincangan saat raja masuk.


Penjaga Pintu : “Tunjukkan rasa hormat kepada Yang Mulia Raja.” 


(Kedatangan setiap anggota kerajaan akan diumumkan oleh penjaga pintu agar para tamu bersiap memberi hormat. Begitu pula untuk setiap pintu dan ruangan pribadi. Selalu ada penjaga yang  akan memberitahukan kedatangan seseorang).


Kemudian, para tamu serentak mengucapkan “Selamat datang, Yang Mulia,” seraya menundukkan setengah tubuh mereka. Lalu, raja duduk bersila di singgasananya dan memancarkan senyum ramah.


“Selamat datang di perjamuan malam ini. Aku harap, kalian menikmatinya. Aku melakukan pertemuan ini, sebagai rasa terimakasihku atas kerja keras kalian. Sekarang, para pangeran sudah mulai beranjak dewasa. Aku harap, kalian bisa membantuku mendidik mereka. Apalagi, aku banyak mendengar kabar bahwa anak para pejabat adalah anak-anak berbakat dalam berbagai bidang. Aku juga berharap, anak-anak kita bisa bekerja sama di masa depan. Oleh karena itu, aku raja negeri ini, di malam perjamuan ini sekaligus menyampaikan bahwa aku akan membentuk suatu biro yang akan memilih putra-putra berbakat untuk menjadi calon menteri dan pejabat yang akan menggantikan kita. Mengingat, usia kita juga akan semakin tua dengan dewasanya putra kita. Aku tahu, ini mungkin begitu cepat, membuat kalian semua terkejut. Mengingat, raja-raja sebelumnya yang belum pernah melakukan ini. Namun, aku sangat ingin, pemerintahan yang kita isi menjadi pemerintahan terbaik yang tercatat dalam sejarah. Bukankah begitu Penasehat Lee?”. 


Tuan Lee terdiam. Ia kemudian memandang para menteri yang lain. Wajah para menteri itu, terlihat tidak senang. Namun, karena tidak ingin merusak suasana hati raja, dengan tersenyum seperti biasa, ia menyetujui secara tidak langsung apa yang sudah dikatakan raja.


“Tentu, tentu saja Yang Mulia,” balasnya terpaksa. 


Raja kemudian tersenyum kepada para menteri.


“Aku menantikan, putra-putra yang kalian rekomendasikan”. 


Hari itu, perjamuan berjalan baik-baik saja di depan raja. Namun siapa yang tahu, bahwa ada orang-orang yang tidak menyetujui hal itu.


**


(Di depan istana)


Setelah selesai melakukan pertemuan, kepala menteri perang membuka pembicaraan kepada para menteri saat hendak pulang.


“Apa menurut kalian, ini adalah ide dari penasehat negara?”.


Para menteri yang tidak senang hati itu saling bertatapan.


“Tentu saja. Aku mendengar, bahwa putranya adalah anak yang sangat berbakat dalam berpedang. Aku bahkan bisa mendengar itu dari rakyat jelata. Dia bisa saja menjadi jenderal di istana ini nanti. Penasehat negara yang licik itu pasti sudah mencuci otak Yang Mulia untuk menjilat agar putranya itu masuk ke istana,” ujar salah seorang menteri.


Menteri yang lain terdiam sesaat setelah saling mengompori, mereka mengangguk pelan. Tanda setuju.


“Apa yang kalian pikirkan? Didik dan latih putra kalian agar mampu menyainginya. Lagi pula akan sangat aneh, putra seorang penasehat negara, malah memilih jalan untuk menjadi jenderal nanti. Harusnya dia lebih berbakat dalam akademik”. 


Perdana Menteri Han selalu saja menengahi para menteri yang berselisih. Melangkah pergi setelahnya, meninggalkan kesan buruk di hadapan menteri yang lain.


“Lihat perdana menteri itu, dia terlihat biasa saja setelah semua ini. Bagaimana bisa dia tetap tenang seperti itu?" gunjing menteri yang lain setelah melihat Perdana Menteri Han pergi.


Dengan kening yang berkerut, kepala menteri perang tersenyum setelahnya.


“Dia itu sangat pintar dan licik. Kita tidak tahu apa yang dia pikirkan,” ucap kepala menteri perang kepada para menteri yang lain, membuat para menteri terdiam.

__ADS_1


Siapa yang akan tahu, ada berapa banyak wajah yang tersenyum dan mengutuk saat kita tak melihatnya.


**


Keesokan harinya, di biro pendidikan untuk kesekian kalinya, Youra datang terlambat. 


“Kau ini selalu saja terlambat, apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh masuk kali ini. Bersihkan dulu seluruh halaman di sekitar  sini, baru kau boleh masuk".


Inspektur menghukum Youra karena datang terlambat. 


“Apa? Nanti aku ketinggalan pelajaran,” keluh Youra pada inspektur.


“Kau ini mau kusuruh pulang? Lakukan saja sana!”.


Inspektur pergi meninggalkan Youra. Tak lama kemudian beberapa orang teman datang dan menawarkan diri untuk membantunya. Tak hanya teman, tapi juga beberapa guru.


Mereka selalu saja menghormatiku, karena aku putri penasehat negeri ini.


“Tidak usah. Ini memang kesalahanku, jadi aku yang harus melakukannya. Aku akan mulai dari halaman yang disana. Terimakasih, aku permisi”. 


Setiap hari mereka akan datang padaku. 


“Youra, apa kau tidak lelah? Sini biar aku yang melakukannya,” tawar seseorang.


Tapi tidak satupun dari mereka, yang tulus.


Hingga akhirnya..


“Hei sssst, apa kau juga terlambat?" bisik pelan seorang gadis kepadanya saat sedang membersihkan halaman.


Youra melihat gadis itu. Gadis itu, dia cantik dan ramah. Tapi, Youra hanya mengabaikannya setelah itu.


“Hei, ayolah. Ah iya mungkin kita perlu berkenalan dulu. Aku Ara. Hehe, kupikir hanya aku yang datang terlambat. Untung saja, aku ternyata punya teman disini. Aduuh, aku tidak menyangka kalau ternyata halaman biro pendidikan besar juga ya. Oh iya, namamu siapa?” tanya gadis itu padanya ramah.


“Kau, tidak kenal denganku?" tanya Youra padanya.


Ara hanya berkedip beberapa kali dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Youra. Tatapan itu hanya menghadiahi dirinya yang menggeleng pelan.


“Hmm, tidak. Maksudku, mungkin aku mengenalmu, tapi, otakku mudah sekali melupakan orang. Kau tahu, aku bahkan kadang tidak ingat namaku sendiri, haha. Jadi, aku tidak menjamin kalau aku akan mengingatmu juga jika kita pernah bertemu sebelumnya. Jadi, siapa namamu?” sekali lagi Ara bertanya padanya.


Youra menoleh padanya, pandangan berbeda Youra tampak meruntuhkan kecurigaan. Youra kemudian tersenyum.


“Aku Youra. Senang bertemu denganmu”. 


“Ohh, Youra. Apa kau suka bunga teratai?".


Sambil membersihkan halaman mereka berbincang pelan.

__ADS_1


“Aku suka dandelion,” jawab Youra singkat.


“Tapi, namamu dan orangnya, secantik bunga teratai,” jawab Ara sambil mengutip beberapa helai daun.


Jawaban Ara yang polos malah membuat Youra tertawa. 


“Apa kau ini anak lelaki? Kau ini lucu sekali,” Youra terus tertawa dengan renyah. 


Ara yang terkejut melihat respon Youra kemudian tersenyum.


“Kau ternyata orang yang sangat ceria ya. Youra, Youra, Youra…”.


Ara terus menyebut nama Youra berkali-kali pelan. Namun tiba-tiba,


“Ttu-tunggu. You-ra, Yo.. Young..?".


Tiba-tiba Ara melepaskan daun-daun itu dari genggamannya. Ia menghampiri Youra, memegang pundaknya dan melototinya.


“Ada apa?".


Youra yang terkejut, bingung karena sikap Ara yang tiba-tiba berubah hanya bisa diam di tempat.


“Ka-kau, kau adiknya Lee Young, yang terkenal itu? Ha?!” Ara terus memegang pundak Youra.


“Ii.. iya,” jawab Youra singkat dan gugup sambil melepaskan tangan Ara dari pundaknya.


Anak ini.. 


“Waahh… kalau begitu bisakah aku menjadi temanmu?" tanya Ara padanya.


“Jangan bilang ini karena kakakku?" jawab Youra kesal.


Ara kemudian tersenyum genit. Dia membersihkan tangannya, merapikan sedikit gaunnya yang mulai kusut. Berdehem, membusungkan tubuhnya di depan Youra, berusaha terlihat sempurna.


“Apa kau pernah dengar istilah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui? Hidup harus seperti itu teman”.


Dia memang tidak setulus itu,


Youra hanya diam saja dengan sedikit senyuman.


“Karena kau diam, aku anggap kau setuju,” jawab Ara semangat. 


Tapi sejak saat itu, dia adalah temanku. Aku bahagia karena itu.


Ara kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat gembira.


Setiap orang mungkin saja tersenyum di depanmu, tertawa bersamamu, memujimu, bersumpah bahwa dia adalah teman. Tapi, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan tetap bersama. Saat tidak ada lagi yang dimiliki, siapa yang akan tetap seperti itu, saat semuanya pergi?

__ADS_1


__ADS_2