
Kesadaran itu kembali, saat Putra Mahkota menatap tangan mungil yang menyentuh lengan kokohnya.
"Yang Mulia, aku ... "
"Apa kau mencintaiku?" tanya Putra Mahkota mematahkan kalimat Youra. Youra tersentak, menggali kembali apa yang sedang dia pikirkan. Cinta atau kebencian yang selama ini bersarang, nyatanya membuatnya terluka dan kebingungan.
"Keluarlah dari kamarku, dan jangan pernah lagi kemari." Putra Mahkota melepas paksa tangan Youra dari lengannya, pergi meninggalkan bilik itu. Youra terpojok hingga tubuhnya melemah. Tertunduk dengan air mata yang berjatuhan. Ada sakit di dalam sana hingga menyesakkan dada. Para pelayan memaksa tubuh lemah itu keluar dari sana secepatnya.
**
Berita tentang Putri Mahkota menerobos kediaman Putra Mahkota saat sedang bermalam bersama seorang selir tersebar luas. Rakyat saling melempar tawa penuh kehinaan mereka. Memalukan, bagi mereka seorang wanita berkelas seperti Youra melakukan hal semacam itu adalah hal yang memalukan.
Hukuman untuk Han Ji-Eun belum dibicarakan. Perdana Menteri Han yang tahu sang putri dijadikan tahanan menjadi sangat marah. Dia melakukan penolakan bersama para menteri yang lain. Kekuasaan dan popularitas Perdana Menteri Han mengakibatkan rusaknya stabilitas negara. Youra tak sekalipun ingin menarik titahnya, bersikeras untuk menghukum Han Ji-Eun seberat mungkin.
Putra Mahkota mengeluarkan surat permohonan pelepasan status Han Ji-Eun sebagai istri. Namun, surat itu sama sekali tidak disetujui oleh ratu. Mereka termasuk para menteri tetap memaksa Putra Mahkota mengulurkan niatnya untuk menceraikan selir licik yang sedang dalam penahanan itu karena Putri Mahkota tak kunjung mengandung.
***
Kenyataan yang seharusnya mempermalukan Youra malah memberatkan Putra Mahkota. Para rakyat melemparkan semua kesalahan pada Putra Mahkota.
"Terkutuklah Putra Mahkota yang mandul! Kutukan yang membawa malapetaka! Beristrikan wanita rendahan yang tidak punya etika! Mengapa raja tidak menurunkannya dari tahta?!"
Ujaran kebencian yang membelenggu, menggentayangi istana hingga raja sakit parah. "Yang Mulia, saat ini kondisi raja semakin memburuk," lapor seorang dayang kepada ratu. Ratu menggoyangkan tubuhnya yang gelisah, tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan sang suami. Fakta bahwa dia terlibat dalam kesalahan Han Ji-Eun juga membuatnya jatuh sakit karena takut diseret masuk ke penjara.
Kabar Yang Mulia Raja sakit parah menjadi dilema di tengah masyarakat. Prasangka buruk soal masa depan raja menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Sesuatu yang sangat berbahaya. Kabar tentang memburuknya kondisi raja, ditambah dengan sakitnya ratu menambah spekulasi buruk para rakyat tentang Putra Mahkota. Mereka semakin melakukan protes untuk penurunan Putra Mahkota yang dianggap pembawa sial. Akibatnya raja tak sadarkan diri karena banyak pikiran. Belum sampai disitu, seorang menteri tengah berlari ke istana Putra Mahkota, menyampaikan berita mengerikan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Yang Mulia, Dinasti Qing menolak penyimpanan emas lantaran menganggap Anda menyimpang dari kesepakatan sebelumnya. Genjatan senjata yang terjadi belakangan ini dengan negeri bagian Barat tak dapat lagi dipertahankan. Mereka menyandera rakyat tak mampu yang hidup di pesisir pantai. Menurut laporan oleh Biro Investigasi, kekurangan pasokan beras berhasil menipu mereka untuk menolak tahta politik kerajaan kita. Mereka menganggap Anda terlibat dalam persetujuan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab soal kebijakan pajak palsu pada penanam modal. Yang Mulia, negeri kita akan berperang."
__ADS_1
Selesai sudah menteri itu menyampaikan musibah global yang telah terjadi, Putra Mahkota yang sebenarnya sakit hanya terus berpura-pura sehat agar negeri musuh tak mengambil kesempatan. Putra Mahkota menahan kepalanya yang sangat pusing itu dengan sejumlah cara. Ia terduduk lemah di atas ranjang terus menyapu darah yang keluar dari hidungnya. "Yang Mulia, Anda sedang sakit. Anda tidak boleh banyak pikiran dan tetaplah beristirahat." Kasim Cho membantu Putra Mahkota duduk bersandar di atas ranjangnya.
"Aku tahu ayah sangat membenciku, tapi aku tidak ingin ayah semakin sakit jika tahu negeri ini dalam keadaan darurat."
"Jadi, apa yang akan Anda lakukan Yang Mulia?" tanya Kasim Cho sembari menyeka keringat Putra Mahkota dengan handuk.
"Menurutmu, apa lagi yang harus aku lakukan?" jawab Putra Mahkota.
"Yang Mulia, hamba mohon jangan lakukan hal itu. Pikirkan kesehatan dan keselamatan Anda." Seolah tahu, Kasim Cho menunjukkan rasa khawatirnya.
"Aku tidak bisa melihat rakyatku menderita. Aku tidak ingin ada korban lagi karena diriku." Putra Mahkota menengadah, menahan darah itu agar tak terlalu banyak keluar dari saluran pernapasannya.
"Semua itu terjadi bukan karena Anda, Yang Mulia. Semua itu terjadi karena kebodohan mereka yang terus saja menghina Anda."
"Mereka hanya rakyat kecil, mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya salah paham." Putra Mahkota memejamkan mata setelahnya. Merebahkan tubuhnya yang sakit.
***
"Raja dan ratu jatuh sakit, Yang Mulia. Semua permasalahan akan jatuh ke tangan Putra Mahkota selaku pewaris tahta. Ini ada beberapa dokumen negara yang memerlukan persetujuan dan saran Anda. Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya selama turun temurun. Tidak hanya akan membahayakan negara, masalah ini juga akan membahayakan posisi dan nyawa Putra Mahkota." Dayang Nari menyerahkan dokumen itu pada Youra.
"Membahayakan Putra Mahkota?" tanya Youra.
Dayang Nari mengangguk, "Anda pasti tahu, rakyat sangat membenci beliau. Mereka ingin Pangeran Yul mengambil tahta. Jika Pangeran Yul memang akan merebutkan tahta, pelengseran yang terjadi adalah dengan membunuh Putra Mahkota. Kematian beliau lah yang akan membuat Pangeran Yul berkuasa. Itulah alasan Putra Mahkota harus memiliki keturunan, untuk melindungi nyawa dan tahtanya. Jika beliau tidak memiliki pewaris, tahta bisa saja jatuh ke tangan orang lain. Hamba rasa, Anda sudah mengetahuinya."
Youra terperangah, wajah cantiknya menunjukkan rasa kalut luar biasa. "Dayang Nari, apa kau tahu dimana beliau saat ini?" tanya Youra.
Dayang Nari tersenyum karenanya. "Saat ini, Putra Mahkota sedang berada di pustakanya. Apa Anda ingin mengunjungi beliau?" tanya Dayang Nari bersemangat.
"Ya, aku ingin menemuinya."
__ADS_1
Perkataan Youra berhasil mencuri seluruh kebahagiaan para pelayan yang sangat mendukung hubungannya dengan Putra Mahkota. Mereka merapikan rambut dan gaun Youra sebelum mengantarnya bertemu sang suami. Youra melangkah cantik penuh keanggunan menuju pustaka itu.
"Yang Mulia, Putri Mahkota ... Senang bertemu Anda," sapa Kasim Cho terbelalak. "Apa Putra Mahkota ada di dalam?" tanya Youra.
Kasim Cho mengangguk pelan, sebelum akhirnya mematahkan semangat Youra. "Maaf Yang Mulia, saat ini Putra Mahkota tidak ingin bertemu dengan siapapun."
"Katakan padanya, aku ingin bertemu dengannya," Youra memaksa.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak bisa membantah perintah Putra Mahkota." Kasim Cho membungkukkan tubuhnya, diikuti oleh para opsir yang bersiap mencegahnya.
Youra menarik napas panjang, sebelum akhirnya beranjak pergi. Namun, belum lama langkah itu mengantarnya pergi, seseorang tampak datang ke istana Putra Mahkota. Dia bisa masuk setelah sedikit berbincang dengan Kasim Cho.
"Kasim Cho!" teriak Youra dari kejauhan, berhasil mencuri perhatian seluruh orang yang ada disana.
"Yang Mulia, tahanlah emosi Anda." Dayang Nari mencoba mengejar Youra yang hendak melangkah lagi.
Youra mengangkat gaunnya, berjalan cepat ke arah Kasim Cho. "Kasim Cho! Kenapa dia bisa masuk, tapi aku tidak bisa? Ha! Katanya tidak ingin menemui siapapun, kenapa orang itu bisa?!" bentak Youra tak terima.
Kasim Cho langsung berlutut di kaki Youra, "Maafkan Hamba Yang Mulia. Putra Mahkota, tidak ingin menemui Anda." Sangat menyesal Kasim Cho mengatakannya.
"Dia ... tidak ingin menemuiku?" Kasim Cho mengangguk, membenarkan pernyataan itu secara tidak langsung.
Youra merasa sedih, dia terus saja menatap pintu pustaka pribadi Putra Mahkota berharap sang suami keluar dari sana.
"Apa ... dia baik-baik saja?" tanya Youra pada Kasim Cho. Kasim Cho spontan memandang wajah cantik Youra setelah mendengar kalimat kepedulian itu. "Anda mengkhawatirkan beliau, Yang Mulia?" tanya Kasih Cho melukis sudut senyum haru di bibirnya. "Mohon jawablah saja Kasim Cho," tegas Dayang Nari karena tahu Youra sangat terpukul.
"Beliau sedang sakit, Yang Mulia. Hari ini darah itu tak berhenti keluar dari hidung beliau. Beliau terus saja menolak dipanggilkan tabib. Apa ada, yang perlu hamba sampaikan, Yang Mulia?" tanya Kasim Cho.
Youra mematung selama beberapa lama, sebelum kembali menatap pintu pustaka itu.
__ADS_1
"Katakan padanya, makanlah yang teratur dan jangan lupa istirahat yang cukup."
Jawaban Youra berhasil membuat Kasim Cho menitikkan air mata bahagia. "Baik Yang Mulia, baik. Hamba pasti akan menyampaikan itu secepatnya kepada beliau," jawabnya sangat bersemangat.