Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Di luar Dugaan


__ADS_3

Menegangkan..


Kreek!


Pintu gerbang itu berderit nyaring. Menghasilkan irama menggema yang memekakkan telinga. Para pengawal Putra Mahkota masuk, berbaris rapi membuat dua jalur untuk penyambutan. Sangat silau, hingga mereka menyipitkan mata mereka untuk menembus cahaya yang masuk memastikan siapa yang datang. Hingga seorang pria yang amat sangat mereka kenal hadir berjalan dari tengah gerbang. Kasim Cho, berlari membawa beberapa tumpukan kertas istimewa ke arah singgasana raja. Sementara, Jung Hyun pengawal pribadi Putra Mahkota berlari ke sisi lain singgasana.


Perdana Menteri Han tercengang. Lautan keributan menjadi tenang dan terdiam. Manik mata mereka berubah jauh menegangkan. Benar-benar di luar dugaan, Sang Pewaris Tahta memasuki aula pertemuan itu dengan langkah angkuhnya yang gagah. Pakaian resmi khas pewaris tahta yang belum pernah dikenakan Putra Mahkota akhirnya dia gunakan untuk memasuki aula kebencian itu.


Tak ada satupun dari mereka yang tersenyum senang, tanda bersyukur. Sebagian mereka yang terbelalak bahkan menampar pipi mereka sendiri untuk memastikan keadaan ini bukan mimpi. Sekretaris Negara tersenyum bangga, segera menyingkir dari tempatnya berdiri untuk memberi jalan. Dengan terpaksa, semua mata yang melotot itu memberikan salam kehormatan, membungkukkan tubuh mereka 90 derajat.


"Selamat datang, Yang Mulia Putra Mahkota."


Serentak mereka mengucapkan salam, hingga mata setajam elang itu langsung berkeliaran menatap mereka satu persatu. Putra Mahkota naik perlahan melewati anak tangga untuk duduk di singgasana. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir, lalu berbalik badan untuk menghadap para menteri yang masih membungkukkan tubuh mereka.


"Duduklah." Perintah Putra Mahkota semakin mencengangkan. Ini pertama kalinya seorang pemimpin rapat meminta para hadirin untuk duduk. Mereka saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya mereka benar-benar duduk bersila di atas ubin. Pertama kali bagi mereka, mendengar suara Putra Mahkota yang berat, dan sangat jantan. Menunjukkan sesuatu yang luar biasa.


"Apa itu benar Putra Mahkota?" bisik salah seorang menteri pada rekan di sebelahnya.


"Dari matanya, dia tampaknya sangat tampan. Tidak seperti yang dikatakan orang," tambahnya setelah itu.


Putra Mahkota duduk di atas anak tangga itu, sama sekali tidak menyentuh singgasana, membuat semua orang yang bergidik tak percaya menjadi takjub.


"Kasim Cho, bawa mendekat semua surat keputusan itu."


Kasim Cho membawa tumpukan kertas mewah itu ke hadapan Putra Mahkota. Putra Mahkota membuka satu persatu kertas itu, hingga tak sengaja membaca sebuah petisi yang sudah di tanda tangani oleh sebagian warga.


"Cabut gelar Putra Mahkota pada Pangeran Baek Hyeon!"

__ADS_1


Putra Mahkota berdiri, melempar kertas itu dari tangannya ke hadapan para menteri. Mereka semua sangat terkejut, meratapi apa yang tertulis di atasnya.


"Siapa yang ingin gelar untukku dicabut?" Pertanyaan Putra Mahkota benar-benar di luar kepala. Tak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat tangan untuk bersuara. Hanya bisa tertunduk malu tak berani menatap sang pewaris tahta.


Putra Mahkota meraih sebuah kertas lain. Kali ini mengeluarkan keputusan luar biasa yang membuat mereka langsung melotot tajam kepadanya.


"Aku akan mengutus orang kepercayaan raja untuk melakukan negosisasi dengan Dinasti Qing. Tidak ada perebutan tanah kekuasaan politik. Dan, aku kan mencabut sistem pembayaran pajak bagi rakyat."


Jung Hyun, sang pengawal pribadi spontan menoleh pada Putra Mahkota. Benar-benar tidak percaya terhadap apa yang menjadi keputusan Putra Mahkota.


"Yang Mulia, bagaimana bisa Anda mel..." bantah cepat salah seorang menteri terpotong oleh sanggahan cepat Putra Mahkota.


"Tuan tanah membayar pajak 70 persen dan rakyat membayar 30 persen. Jika masih ada rakyat yang dipaksa membayar 80 persen, serahkan padaku siapa nama pejabat itu. Aku akan menghapus statusnya dan menyingkirkan dia dari negeri ini bersama seluruh keluarganya," tambah Putra Mahkota tak peduli mereka setuju atau tidak.


"Yang Mulia, Anda tidak bisa semena-mena terhadap keputusan. Semua aturan dan perintah yang dibuat oleh raja tidak bisa diganggu gugat. Selama beberapa dekade rakyat yang meminjam tanah harus membayar pajak 80 persen, sementara tuan tanah hanya 20 persen. Ini akan menimbulkan kesenjangan ekonomi," bantah Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan.


"Yang Mulia, walau bagaimanapun Anda tidak bisa mengubah aturan yang sudah berlaku," bantah yang lainnya.


"Apa aku memintamu untuk bicara? Aku adalah pewaris tahta kerajaan ini. Aku punya hak untuk mengubah segalanya." Aula pertemuan itu semakin gelap, hati para menteri terus saja mengutuk dan ingin segera melawan. Hanya saja, mereka ketakutan karena aura Putra Mahkota yang sangat menakutkan itu mengisi hampir seluruh sudut ruangan.


Putra Mahkota mengambil kertas lainnya. "Tidak ada lagi pembayaran pajak untuk air bersih," sambungnya.


"Yang Mulia! Anda tidak bisa mencabut dan mengganti aturan yang sudah ada!" protes para menteri akhirnya tumpah. Mereka bahkan berteriak tak lagi hormat pada Putra Mahkota.


"Apa ayahmu pemilik bumi dan air di bumi ini?" tanya Putra Mahkota santai sekali. Putra Mahkota berjalan menuruni anak tangga itu, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. "Kalian minum arak bersama para wanita di rumah bordil sepuasnya. Mandi dan minum air sepuasnya. Gratis dan tidak membayar, apa itu karena kalian yang memiliki bumi ini? Kalau begitu aku jauh lebih miskin dari kalian."


Mendengarnya para menteri hanya bisa mengelus dada. Ingin sekali mereka melemparkan tombak dan pedang ke leher Putra Mahkota yang memutuskan perkara tanpa rapat bersama. "Yang Mulia, raja tidak akan menerima keputusan ini!"

__ADS_1


"Jika raja tidak menerimanya, aku siap mundur dari posisiku dan mengganti semuanya dengan kekayaan yang aku miliki," sanggah cepat Putra Mahkota, semakin memanaskan suasana.


Putra Mahkota kembali duduk di atas anak tangga itu. "Aku mencabut status terdakwa pada istriku, Putri Mahkota. Pembersihan nama dan surat permintaan maaf untuk Putri Mahkota dari kalian akan aku tunggu dalam 2 pekan. Kasus ini aku tutup secara resmi. Tak ada lagi tuduhan untuk permaisuriku."


Putra Mahkota menatap wajah para menteri itu satu-satu. Mereka cepat-cepat menundukkan pandangan mereka. "Aku akan menghukum, siapa saja dalang di balik penyerangan yang terjadi pada istriku beberapa waktu yang lalu."


Mereka tak mampu lagi untuk berkata-kata atau membantah perkataan Putra Mahkota. Perdana Menteri Han yang dari tadi hanya bisa tutup mulut akhirnya mengeluarkan pujian. Mengagetkan seluruh penghuni aula pertemuan itu.


"Terima kasih atas seluruh kebijaksanaan Anda Yang Mulia. Sangat senang melihat Anda disini dalam keadaan sehat dan bersemangat," jawab Perdana Menteri Han.


Di balik wajah yang ditutupi kain itu, Putra Mahkota tersenyum tipis. Dia segera menutup pertemuan hari itu. Namun, langkahnya terhenti ketika Perdana Menteri Han kembali bersuara.


"Yang Mulia, rakyat melemparkan kebencian terus menerus kepada Anda. Belakangan, mereka membuat petisi karena alasan baru yang lebih mengejutkan. Hamba pikir, Anda pasti tahu apa yang harus Anda lakukan," tambah Perdana Menteri Han.


Putra Mahkota berdiri, segera enyah dari tempat itu. Dia berjalan mendekati Perdana Menteri Han, membuat semua orang semakin ketakutan. Tubuh tingginya terlalu gagah untuk berdiri di depan orang tua renta. "Mereka terlalu sibuk mencampuri urusan pribadiku. Kuharap, kau tidak melakukan hal yang sama." Segera setelahnya, Putra Mahkota keluar dari aula pertemuan itu bersama para pelayan dan pengawalnya, tanpa mengucapkan kata penutup atau sekedar ucapan maaf karena membuat mereka lama menunggu.


Sesaat setelah Putra Mahkota berjalan menjauh, seluruh amarah yang sudah di ubun-ubun itu akhirnya dikeluarkan.


"Benar-benar hina! Anak yang tidak tahu diri itu bahkan belum menjadi raja! Berani sekali dia membuat peraturan baru padahal tidak ada yang membutuhkan keputusannya!" teriak para menteri saling menyambung satu sama lain.


"Tunggu, bukankah sangat aneh dia menutup kasus percobaan pembunuhan yang menimpanya? Seharusnya dia mencari dalam di balik itu semua." Para menteri saling melempar pandangan penuh curiga.


Perdana Menteri Han hanya bisa terdiam setelah mendapatkan perkataan super tajam dari Putra Mahkota tadi. Dia berpura-pura tenang, untuk mengelabui para menteri.


"Hei Perdana Menteri Han! Apa yang Anda maksud pada Putra Mahkota tadi?" tanya salah seorang menteri disambut baik oleh menteri yang lain. Mereka semua akhirnya menoleh pada Perdana Menteri Han.


Perdana Menteri Han terlihat sangat sopan dan santai. Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. "Anak. Dia harus memiliki seorang anak agar rakyat tidak semakin membencinya. Apa lagi Pangeran Yul sudah menikah. Dua kubu akan tercipta, jika Pangeran Yul lebih dulu menanamkan bibit di istana."

__ADS_1


"Dia tidak akan memiliki anak, dari istri yang mencintai putraku. Kasihan sekali Anda, Yang Mulia," gumam Perdana Menteri Han, sejenak setelah berhenti bicara.


__ADS_2