
Dua jalan yang berbeda. Mereka saling mengikat menjadi simpul yang kokoh. Simpul yang terjalin erat, terus mengikat ikatan itu dengan sangat kuat. Terus tertarik, hingga simpul yang lemah menjadi tipis. Tanpa gunting sekali pun, simpul putus dan kembali pada jalannya sendiri. Bukankah begitu, saat suatu perbedaan yang kuat dipaksa untuk saling menggenggam?
Sesampai di perkarangan Istana, Youra terus berjalan dengan santai, sambil memuat kembali ingatannya tantang hal yang baru saja terjadi. Dia berhenti dan berdiri tepat di depan gerbang istana. Ia terus memandang gerbang yang kokoh tertutup itu dan lalu tersenyum indah. Sementara itu, gadis yang ia bawa itu hanya bisa terdiam melihat wajahnya yang asik mendongak.
“Kita sama,” kata Youra yang daritadi hanya sibuk menatap gerbang itu.
Gadis itu terus menatap wajah Youra.
“Ya?” tanya gadis itu bingung.
Youra membalas tatapan gadis itu dengan cinta. Gadis itu terkejut, segera menundukkan kepalanya.
“Apa kau pernah masuk dan melihat istana?" tanya Youra.
“Ha? Maaf, mana mungkin aku pernah, Nona,” jawab gadis itu.
“Aku juga tidak pernah. Sekarang, kita tidak punya perbedaan,” jelas Youra yang membuat gadis itu tak berkedip.
Sesaat setelah itu, Ara datang.
“Kenapa lambat sekali? Kau tahu betapa menyenangkannya itu. Mereka semua, aku tidak bisa berkata apa-apa. Wah, benar-benar luar biasa,” cerewet Ara membuat Youra hampir saja tertawa.
Namun setelahnya, Ara menyadari kehadiran gadis tidak dikenal yang sedang bersama Youra itu. Gadis itu seolah tampak terkejut. Ia terus berusaha mengalihkan wajahnya dari pandangan Ara. Menyadarinya, gadis itu langsung berlari dari tempat itu meninggalkan mereka berdua.
“Siapa anak tadi? Apa dia temanmu?” tanya Ara.
“Ah iya. Dia temanku,” jawab Youra.
“Pantas, aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya,” pikir Ara.
Youra yang melihat Ara sibuk berpikir menarik tangannya mengajaknya beranjak dari tempat itu. Ara hanya diam saja saat tangannya ditarik pergi.
“Ah iya! Aku ingat sekarang,” ucap Ara yang membuat Youra terkejut.
“Aku sering melihat gadis itu disekitar rumahmu. Sepertinya, dia habis mampir,” jelas Ara.
Youra tampak bingung. Bagaimana tidak, gadis yang ia jumpai itu bahkan baru saja bersamanya hari itu.
“Dimana kita menunggu kakakmu?” tanya Ara.
Youra yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap matanya.
__ADS_1
“Maksudku, kakak kita,” bantah Ara kembali.
“Hari ini, aku berjanji akan menemani ibuku ke pasar. Kak Young akan pulang bersama ayah. Kalau kau mau menunggu kakakmu, tunggulah disini,” jawab Youra padanya.
“Yah mau bagaimana lagi, kalau begitu pulanglah lebih dulu. Aku akan tetap disini menunggu kakakmu keluar,” jawab Ara ceria yang disambut wajah heran Youra.
“Kau menunggu kakakmu, atau hanya ingin melihat kakakku?” tanya Youra dengan senyum genit.
“Begini temanku, apa kau pernah mendengar pepatah mengatakan sekali menday..".
“Aku tahu,” bantah Youra cepat.
Youra akhirnya meninggalkan sahabatnya itu di depan gerbang istana. Ara yang lucu dan humoris itu hanya terus memandang sang sahabat pergi. Tak lama, senyum di wajahnya berubah urung. Meninggalkan jejak aneh yang tak pernah terjadi sebelumnya.
**
Kebencian
Sementara itu di istana orang-orang dengan perasaan tidak sabar mereka menantikan duel seni terampil pedang antara Won Bin dan Lee Young berlangsung. Lee Young yang menjadi pusat perhatian itu kini melangkahkan kakinya pelan. Langkahnya seolah berat melihat bagaimana ia melangkahkan kaki untuk yang pertama kali dari tempat ia berdiri. Semua orang menatapnya tajam. Tanpa berpaling sedikitpun.
Entah cinta, atau kebencian, semuanya terlihat sama.
Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Orang-orang di seluruh Istana terpelongo melihat bagaimana visual remaja yang masih berusia 15 tahun itu sekarang benar-benar menjadi konsumsi publik. Lee Young punya wajah dengan tatapan tajam yang sangat kharismatik. Di usia muda ini, ia bahkan bertubuh tinggi dengan proporsi yang mengagumkan. Seringainya benar-benar mematikan. Saat itu, setelah hampir sampai ke panggung pertunjukan, ia berhenti sejenak. Ia membalikkan badan, menatap orang-orang yang ada disana, lalu tersenyum pada mereka semua. Senyuman itu, membekas dan menusuk tatapan mereka. Sangat aneh, yang membuat orang-orang terdiam takut.
“Orang-orang ini, mereka tidak akan bangga jika aku hebat. Mereka juga tidak akan sedih jika aku kalah. Tapi, mereka akan tertawa, mencari celah agar aku mempermalukan ayah."
Ucapnya dalam hati saat tersenyum pada para menteri.
“Lee Young! Adalah suatu kebanggaan bagiku, bisa berduel pedang dengan anak terhebat yang ada di negari ini,” ucap Won Bin padanya dari atas panggung itu.
Lee Young membalikkan tubuhnya, menoleh pada wajah Won Bin dan mengakhiri senyumannya. Kini mata tajamnya tertuju pada Won Bin. Ia bahkan tidak terlihat ramah. Pelan-pelan ia melangkah ke atas panggung pertunjukan itu tanpa memalingkan mata sedikitpun. Lee Young putra sulung penasehat negara dan Won Bin putra sulung kepala menteri perang, kini mereka saling berhadapan diatas panggung yang mempertaruhkan harga diri mereka yang bahkan masih sangat muda. Won Bin membalas tatapan Young, mencoba menyeberang lebih dalam lagi soal rasa benci.
“Sudah kukatakan padamu, jangan mencoba mencampuri urusanku. Aku putra kepala menteri perang, menteri yang sangat berpengaruh di istana ini. Aku tidak takut padamu. Melihat tatapanmu yang mengerikan itu, aku tahu kau membenciku. Kenapa? Karena aku menyukainya,” bisik Won Bin padanya dengan raut wajah penuh penghinaan.
Perkataan sombong Won Bin sama sekali tidak digubris oleh Young. Ia hanya terus diam memandang wajah Won Bin dengan wajah tampannya yang mengagumkan.
“Aku tidak membencimu. Meski kau adalah orang nomor satu di muka bumi yang ingin menjatuhkanku,” bisik Young dalam hatinya.
Won Bin dengan sigap melangkah cepat ke arahnya.
“Lihat betapa menyedihkannya dirimu,” ucap Young padanya singkat.
__ADS_1
Dua orang yang saling berpandangan ini membuat orang-orang yang melihat merinding takut. Para ksatria dengan tangan mereka yang lihai berpedang, begitu menegangkan melihat tatapan tajam dari keduanya.
“Yang Mulia!” teriak Won Bin sambil menatap tajam ke arah Young, membuat semua orang hampir saja jantungan.
Young hanya diam saja. Sedangkan ayahnya begitu khawatir.
“Sepertinya, putra sulung penasehat negara ini, ingin mengajakku bertanding,” tambah Won Bin tersenyum di hadapan Young.
Sontak semua orang terkejut.
“Izinkanlah hamba menyanggupi ini, dan bertanding dengannya di lapangan, tidak di atas panggung ini,” ucap Won Bin.
“Kalian benar-benar ingin menghiburku. Baiklah, aku mengizinkannya. Kali ini, pertunjukan dari kalian, akan kuberikan poin lebih. Aku sudah lama ingin melihat kemampuan luar biasa kalian. Tetapi ingat, aku menganggap ini hanya sebuah pertunjukan. Aku yakin kalian tidak akan saling melukai,” jawab raja.
Jawaban raja malah membuat semua orang tercengang. Mereka berpikir raja tidak akan membiarkan anak di bawah umur melakukan adu pedang di istana. Namun, ternyata raja tidak berpikir buruk soal itu. Raja menganggap bahwa semua ini memang sebuah penampilan untuk menghibur. Sementara itu, orang-orang tahu, bagaimana kepala menteri perang dan keluarganya memusuhi penasehat negara dan keturunannya.
Saat itu, Young hanya tenang dan tersenyum tipis. Ia tampak tidak terpengaruh sama sekali. Ia melangkah ke lapangan setelah Won Bin tiba disana. Orang-orang mendekat untuk melihat mereka. Sedang saat itu, Pangeran Hon tampak cemas.
“Siapa yang kau pilih, adikku?" tanya Pangeran Yul pada adiknya, Pangeran Hon yang terus memainkan tangannya mencoba untuk tenang.
“Aku? Aku rasa ini bukanlah sesuatu yang harus dipertaruhkan,” jawab adiknya sedikit gugup.
“Aku dengar putra penasehat negara adalah siswa militer terbaik terutama dalam seni bela diri. Tapi, aku juga mendengar bahwa putra sulung kepala menteri perang adalah orang yang sangat disegani karena tidak mengenal ampun. Melihat bagaimana dia begitu berani, kali ini aku memilihnya,” jelas Pangeran Yul.
Pangeran Hon, ia menoleh ke wajah sang kakak.
“Kenapa?” tanya Pangeran Hon.
“Dari pertanyaanmu, sudah kuduga, kau pasti memilih putra penasehat negara. Aku hanya suka sesuatu yang berani dan menantang. Won Bin itu, bukankah dia sangat berani? Dia gigih dan sangat cocok dengan kepribadian yang kupikirkan,” jelas Pangeran Yul.
Pangeran Hon terdiam memandangi wajah sang kakak.
“Saat memasuki gerbang itu, aku memang menyukai karakter putra penasehat negara meski aku tidak mengenalnya. Saat pertama kali, aku melihat wajahnya, aku sangat terkejut karena dia memiliki visual seperti seorang pangeran. Bukankah kesempurnaan itu, sangat mirip dengan..”.
“Bukankah akan sangat menarik, di masa depan Won Bin menjadi penantang bagi Putra Mahkota?” bantah cepat Pangeran Yul membuat perkataan sang adik terputus.
“Apa maksudmu?” tanya Pangeran Hon.
“Kepribadian Won Bin yang berani itu, akan sangat menarik untuk menghadapi betapa pengecutnya Putra Mahkota, bukan? Itu akan membuatnya menjadi lebih berani menghadapi khalayak umum,” jelas Pangeran Yul pada sang adik.
Tatapan cinta, atau kebencian. Semuanya terlihat sama saat mengayunkan pedang. Mereka enggan memberikan tawa dan senyuman. Karena dukungan dan cinta yang mereka beri, mungkin saja pelarian dari sebuah harapan soal kehancuran. Percaya pada apa yang terlihat, tanpa memandang balik pada tabir penghalang, sama saja membunuh cinta demi sebuah kepalsuan.
__ADS_1