Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Pertemuan Pertama Jun dan Putra Mahkota


__ADS_3

Keesokan harinya, di kediaman Jun.


“Selamat siang Tuan Muda Jun”.


Beberapa orang yang menggunakan seragam pengawal istana datang bersama sebuah tandu mewah. Mereka semua membungkuk hormat pada Jun yang baru saja keluar dari rumah. Nyonya Han tampak kebingungan.


“Apa perdana menteri yang mengirim kalian?” tanya Jun dengan wajah tidak senangnya.


“Kami datang atas perintah Yang Mulia Raja, tuan,” jawab salah seorang dari mereka.


Jun menyipitkan matanya.


“Benarkah?” tanya Jun.


Orang-orang itu mengeluarkan lencana bukti perintah Yang Mulia. Akhirnya tanpa berpikir panjang, Jun pun naik ke atas tandu itu dengan izin sang ibu.


Sesampai di istana, Jun diperintahkan untuk datang menemui Yang Mulia Raja. Jun sangat gugup, karena selama ini dia tak pernah berbincang hanya berdua saja dengan raja. Namun hari itu, ia harus melakukannya.


Jun pelan-pelan menunduk masuk ke ruang pertemuan raja. Sesampai di dalam ia membungkuk hormat.


“Selamat datang Guru Jun,” sapa raja hangat.


Jun gugup tertunduk mengedipkan matanya beberapa kali.


“Ss-selamat ss-siang, Yang Mulia,” jawabnya. 


Raja berjalan mendekatinya.


“Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi mengajar di biro pendidikan”.


“Ya, Yang Mulia?” jawab Jun kebingungan.


Sang raja menyentuh pundak Jun dan tersenyum bersamanya.


“Mulai sekarang, kau akan menjadi guru untuk Putra Mahkota”.


Mendengar perkataan raja, Jun sangat terkejut. Saking terkejutnya, Jun batuk-batuk tak henti setelah mendengar pernyataan itu.


“Kau baik-baik saja, Guru Jun?” tanya raja memastikan.


“Bb-baik, baik Yang Mulia,” jawabnya terbata-bata. 

__ADS_1


Raja tersenyum, beliau menyadari raut wajah Jun yang lucu karena ketakutan.


“Pengawal!” panggil raja membuat Jun terkejut.


“Antar Guru Jun, menemui Putra Mahkota,” sambung sang raja.


**


Langkah tegap Jun, dia atur sambil berjalan menyisiri istana menemui Putra Mahkota. Pikirannya kalut tak menentu mengingat betapa buruknya Putra Mahkota. Dia sadar, tanggung jawab yang akan diembannya bukan lagi soal mencerdaskan para siswa. Lebih dari itu, kini ia menjadi guru pribadi Putra Mahkota. Tidak hanya mengajarkan soal pengetahuan dan sejarah, dia juga mengajarkan tentang moral dan etika sesuai perintah raja.


Di kepalanya, tak ada yang ia pikirkan selain rasa takut atau kebencian, entahlah. Yang jelas, tiada satu orang pun yang mau menjadi dekat dengan Putra Mahkota, termasuk dirinya. Siapapun yang terlibat dengan Putra Mahkota, selalu berakhir malang dan sia-sia. Jun mengepal keras tangannya bergetar. Entah karena permintaan raja, atau sang ayah yang mencoba membujuk raja untuk mengangkatnya, ia dengan sangat sadar, tidak suka dengan pekerjaan ini dan berkeinginan untuk menentangnya.


Namun, apalah daya. Status dan posisinya tak memiliki kuasa untuk menentang perintah raja. Seluruh rasa kalut dan amarah yang ada di kepalanya, menghantarkan ia hingga sampai di perpustakaan Putra Mahkota.


Jun masuk dan membungkuk hormat di hadapan Putra Mahkota, dengan perasaan kacaunya. Ia berkedip berkali-kali menahan rasa cemasnya. Guru Jun menarik napasnya dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Barulah kemudian ia bangkit dari sikap hormatnya dan pelan-pelan memandang Putra Mahkota. 


Bagaimana jadinya, jika dua orang yang saling bertolak belakang di pertemukan?


Saat itu, Putra Mahkota tampak duduk santai di kursinya tanpa peduli siapa yang ada di depannya. Padahal, dalam aturan kerajaan, setinggi apapun pangkat seseorang di dalam istana, adalah kewajiban baginya untuk membungkuk hormat pada seorang guru. Apalagi, Guru Jun, yang dengan terhomat, sekarang sudah menjadi guru pribadi Putra Mahkota.


Bagaimana jadinya, jika cinta dan kebencian saling di pertemukan?


“Bukankah saat ini, itu yang sedang Anda pikirkan?” sapa hangat Putra Mahkota yang membuat Jun tersinggung dikepal keras Jun dalam genggamannya.


Mana yang akan lebih kuat, 


Jun menarik kembali napasnya dalam-dalam dan mencoba mengalihkan pandangannya. Saat itu, mata Jun dan Jung Hyun yang sedang berdiri tegap di samping perpustakaan bertemu. Jung Hyun langsung memberikan hormat padanya.  


Jun menatapnya. Lantaran, dia dan Jung Hyun saling mengenal sebelumnya. 


Jun berusaha menyapa Putra Mahkota hangat.


“Senang bertemu Anda, Yang Mulia Putra Mahkota,” sapa Jun mencoba menghapus kebenciannya.


Cinta?


Mendengar itu, Putra Mahkota meletakkan buku yang sedang ia baca. Putra Mahkota berdiri dan langsung membungkuk hormat pada Jun.


“Selamat datang guru,” jawab Putra Mahkota.


Jun bernapas lega. Setidaknya, ketegangan itu terusir sedikit demi sedikit jika Putra Mahkota sedikit saja menghargai kedatangannya. 

__ADS_1


“Aku Jun, putra Perdana Menteri Han. Aku ditugaskan Yang Mulia Raja, menjadi guru pribadi Anda, Putra Mahkota,” Jun memperkenalkan dirinya.


Saat itu, Putra Mahkota langsung menegakkan kepalanya, menatap Jun dengan tajam.


“Putra perdana menteri?” tanya Putra Mahkota.


Jun yang ditatap Putra Mahkota, tak dapat berkutik. Entah kenapa, tatapan itu terasa dingin dan menakutkan.


“Hm,” Jun mengangguk.


Saat Jun menundukkan wajahnya, teringat kembali olehnya batu milik Putra Mahkota yang ada di tangan Youra. Hal itu, membuat Jun sekali lagi menatap Putra Mahkota.


Putra Mahkota hanya sibuk membaca setelah berbincang sedikit dengannya. Tak ada yang terjadi saat itu, selain keheningan yang melewati mereka berdua. 


“Baiklah Putra Mahkota, aku undur diri. Besok, kita bisa memulai pembelajaran,” Jun membungkuk hormat pada Putra Mahkota undur diri, segera bergegas meninggalkan perpustakaan itu dan pergi.


Saat Jun berbalik hendak keluar dari perpustakaan, tiba-tiba Putra Mahkota mengucapkan sepatah kata yang membuat dia terdiam.


“Dengar, Anda diangkat bukan karena Anda putranya perdana menteri. Anda diangkat, karena kemampuan Anda,” kata Putra Mahkota tanpa memandangnya sama sekali, masih dengan buku-bukunya.


Jun kemudian lanjut keluar dari perpustakaan, dengan perasaan yang, entahlah. Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, tetapi perkataan Putra Mahkota, membuatnya merasa sedikit senang. Mengingat betapa ia sangat membenci ayahnya, membuatnya lega mengetahui kenyataan bahwa dia dipanggil murni atas perintah, bukan karena sang ayah.


Saat keluar dan berdiri tepat di luar perpustakaan, Jun kembali berbalik menoleh ke arah perpustakaan itu.


“Kenapa, aku harus menjadi guru dari murid mengerikan, yang sangat tidak kusukai,” gerutunya kesal. 


.. atau kebencian?


Jun yang mengiring langkah beratnya, termenung beberapa detik mencoba memikirkan apa yang telah terjadi, sehingga lencana milik Putra Mahkota ada di tangan Youra. Jun terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan keras. Ia tampak sangat kecewa, lantaran Youra seperti berusaha menyembunyikan segalanya darinya. Tidak terbuka sama sekali.


Jun mencoba untuk mengerti, mungkin saja pujaan hatinya itu belum siap untuk berterus terang mengingat betapa banyaknya penderitaan yang telah dia lewati. Jun kembali berhenti sejenak tepat di depan istana. Ia berbalik dan menatap kembali istana.


Tak lama setelahnya, Jun tersenyum bangga.


“Setidaknya aku bisa membahagiakan ibuku dan membuatnya bangga. Dan menunjukkan pada ayah, aku tidak membutuhkannya,” gumam Jun di selingan senyumnya.  


Jun melangkah gontai keluar meninggalkan istana. Saat itu juga, Pangeran Yul yang sedang berdiri jauh disana tersenyum memandangnya. 


“Selamat datang, Guru Jun,” sambil tersenyum Pangeran Yul membungkuk hromat pada Jun, tanpa diketahui Jun.


Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, tapi Pangeran Yul berdiri disana, dengan senyum liciknya.

__ADS_1


__ADS_2