Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Apa yang terjadi padaku?


__ADS_3

Pangeran Hon hanya bisa pasrah, tak diizinkan untuk masuk ke dalam bilik kakaknya. Dia hanya terus berdiri di depan bilik itu dengan wajah penuh harap. Namun, hingga malam itu tiba, Putra Mahkota tak kunjung sadar juga.


Sementara, Putri Shin diantar oleh para pelayan kembali ke kediamannya. Putri Shin yang tak dapat menolak perintah untuknya agar segera kembali, hanya bisa mengikuti perintah itu dengan suka rela. Air matanya terus saja mengalir. Entah sudah berapa banyak air mata itu terbuang karena duka, dia tetap saja tak pernah berhenti.


"Putri, Anda baik-baik saja?" tanya Ha Sun, suami Putri Shin yang menunggu di depan kediaman mereka. Putri Shin tak mengatakan apapun, lewat begitu saja masuk ke dalam biliknya. Ha Sun mengikuti langkah itu. Dia mendekati Putri Shin yang duduk di atas ranjang mereka.


"Putri, Anda pasti belum makan malam. Makanlah dulu. Nanti Anda tidak bisa menangis lagi jika tidak punya tenaga," ledek Ha Sun mencoba menenangkan Putri Shin yang masih dengan isak tangisnya.


"Maaf Tuan, bisakah Anda meninggalkan aku sendiri dulu?"


Jawaban Putri Shin, tak lagi bisa disanggah oleh Ha Sun. Ia mencoba untuk memahami situasi ini. Putri Shin saat ini sedang bersedih. Ha Sun meninggalkan sang istri, membiarkan dia untuk menenangkan diri.


***


Malam itu, Jun menyusup masuk ke rumah aman, tempat dimana Youra diamankan. Kekuasaannya sebagai putra Perdana Menteri Han yang disegani membantunya untuk memperoleh segalanya dengan mudah, termasuk menemui Youra yang sedang dikawal ketat oleh para pengawal istana.


Air mata itu jatuh, saat menyaksikan wanita yang sangat dicintainya itu sedang terlelap di antara banyaknya tumpukan jerami. Dengan pakaian sederhana yang tak menghangatkan di tengah dinginnya malam, Youra tertidur tanpa alas kaki dan selimut. Jun mendekat, berdiri tepat di depan kurungan itu.


"Permaisuri," panggil Jun pelan.


Youra tak dapat mendengarnya, mungkin karena suara Jun yang terlalu kecil. Jun menoleh ke segala sisi, memperhatikan tiap sudut. Memastikan tak ada yang melihatnya disana. "Tuan Muda, waktu Anda hanya 10 menit. Cepatlah, sebelum pergantian penjaga." Salah seorang pengawal mencoba mengingatkan Jun.


Jun berjongkok, berusaha menjangkau Youra dengan panggilannya. "Youra," panggilnya sekali lagi. Sudut mata Youra bergerak, menunjukkan adanya sebuah reaksi. Ia membuka mata itu pelan-pelan, ada cahaya yang terlalu silau untuk dipandangnya.


"Youra ini aku, Jun."


Youra tersentak, suara itu dikenal baik olehnya. Pelan-pelan dia bangkit, untuk memeriksa siapa yang datang. Matanya bengkak, dia menangis sepanjang hari. Ia menyipitkan matanya, mencoba memeriksa, "Kak Jun?" jawabnya lirih.


"Youra .. maaf, maksudku permaisuri, apa Anda baik-baik saja?" tanya Jun berbisik.


Setelah mengumpulkan kesadarannya, akhirnya Youra mendekat pada sumber suara itu. "Kak Jun, kenapa kakak bisa ada disini?" tanya Youra sangat terkejut.

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa. Tenanglah dulu, secepatnya, aku akan membantumu keluar dari tempat jelek ini." Jun mengajak Youra sedikit bercanda.


"Jangan panggil aku permaisuri seperti tadi," balas Youra.


Tiba-tiba seorang pengawal mendekat, "Tuan Muda, Anda harus segera pergi dari sini," ujarnya sedikit mendesak.


Jun menoleh pada Youra, kegelapan itu menghalangi perjumpaan mereka yang singkat. Tangan Jun menerobos masuk menuju sela-sela susunan bambu itu, meraih kepala Youra ragu-ragu. Meletakkannya di kepala Youra, ingin segera mengelusnya lembut.


Entah kenapa, Youra merasa sedikit bingung. Aneh, seharusnya dia senang mendapat sentuhan manis dari pria yang dicintainya itu. Namun, tubuhnya malah refleks menghindar, menyisakan tanda tanya di hati Jun yang terdalam. Mereka canggung, beberapa detik tampak saling tertunduk malu-malu.


Jun menarik kembali tangan itu, menyadari Youra yang sepertinya tidak nyaman. "Maaf," kata Jun pelan.


Mengapa, aku tidak senang?


Youra terpaku di tempat, sebelum akhirnya mencoba bersikap tenang. "Maaf, aku hanya terkejut," timpal Youra.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku harus pergi saat ini. Nanti aku pasti kembali." Jun menoleh ke arah gerbang, tampaknya sudah mulai pergantian penjaga. Sedikit panik, tapi kerinduan itu masih tersisa. Hingga akhirnya Jun memberanikan diri untuk berbalik badan. Tangannya lantas menarik tangan Youra yang sedang terpaku dari sela sel itu.


Youra menatap genggaman Jun. Segera menariknya cepat, "Jangan membahayakan diri kakak lagi. Cepatlah pergi," pinta Youra.


Jun akhirnya meninggal tempat itu, meski hatinya masih ingin berlama-lama. Meninggalkan Youra bersama tanda tanya. Youra menyentuh kepalanya, meraba bagian yang disentuh Jun tadi. Anehnya, yang dia ingat bukan Jun.


Bayangan tangan lembut yang pernah menyentuh kepalanya, merapikan sisa rambutnya yang kusut. Suaminya, Putra Mahkota.


***


"Yang Mulia Permaisuri," panggil seseorang, membuyarkan lamunan Youra yang panjang.


"Dayang Nari?" sahut Youra terkejut. Dayang Nari mendekat membawakan beberapa hidangan. "Hamba membawakan makan malam untuk Anda. Makanlah dan minumlah air segar ini," tambah Dayang Nari.


Youra merangkak, melintasi tumpukan jerami yang kasar itu dengan kakinya yang sudah luka-luka. Cepat-cepat menggapai sela bambu itu. "Dayang Nari, kau kah itu?" tanya Youra sekali lagi.

__ADS_1


Malam itu terlalu gelap, tanpa cahaya yang cukup baginya untuk sekedar melihat wajah sang dayang. "Benar Yang Mulia, hamba disini untuk menemani Anda," sambung Dayang Nari dengan wajahnya yang basah oleh air mata.


"Yang Mulia, sungguh aku tidak kuasa melihat Anda dalam keadaan seperti ini. Ampuni hamba karena tidak dapat membantu Anda. Hari ini, mereka menggeledah kediaman Anda. Hamba telah menyembunyikan belati dan racun yang ada di balik gaun Anda."


Perkataan Dayang Nari menusuk hingga ke jantung Youra. Youra terdiam sangat lama. Belati, dan racun itu bisa saja menjadi bukti, betapa Youra ingin sekali melenyapkan suaminya.


"Jika hamba tidak menyembunyikannya, hamba takut Anda akan dijatuhkan hukuman mati," jelas Dayang Nari terisak sangat tragis.


Dayang Nari meletakkan nampan berisi hidangan itu di lantai. Ia yang sedang berjongkok meraih tangan Youra.


"Aku tidak melakukan ini untuk Anda, Yang Mulia. Aku melakukan ini untuk Putra Mahkota."


Air mata itu mengalir deras di pipi Youra. Manik matanya bahkan tak lagi terlihat jelas oleh genangan air yang dalam.


"Yang Mulia Permaisuri, hamba percaya, Putra Mahkota tidak ingin Anda terluka, bahkan meski Anda benar-benar pelakunya."


Youra terhenyak, napasnya sesak, semua perkataan itu mengarungi jiwanya yang lemah. "Hentikan! Jangan menyebutnya lagi!" tangis Youra menjadi-jadi.


Dayang Nari menggenggam tangan Youra yang kedinginan. "Anda membenci Putra Mahkota, apakah sedalam itu? Anda tidak ingin mengetahui kabar tentangnya?" tanya Dayang Nari merintih sedih.


Youra melepaskan genggaman itu dari tangannya, "Tidak, aku tidak ingin tahu."


"Racun itu, ada di gelas milik Anda, Yang Mulia. Putra Mahkota, meminumnya untuk Anda."


Youra menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, tapi Dayang Nari tak peduli. Sambil menangis, dia tetap melanjutkan perkataannya. Pikirnya, setidaknya sedikit saja Youra kasihan pada suaminya.


"Yang Mulia Putra Mahkota tahu, Anda keluar istana waktu itu, membeli racun untuk membunuhnya."


DEG


Youra terbelalak, membuka telapak tangan yang menempel di kedua telinganya.

__ADS_1


"Anda benar-benar tidak peduli pada suami Anda, Yang Mulia?"


__ADS_2