
Melihat keramaian di kedai tempat Youra bekerja, Jun langsung berlari karena khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk pada Youra.
“Permisi, permisi,” Jun menerobos keramaian.
Jun menjadi lega saat melihat sang kekasih ternyata sedang bekerja dan terlihat baik-baik saja. Ia memutar badannya ke arah orang-orang yang berkumpul.
“Maaf, ada apa tadi?” tanya Jun kepada orang-orang itu.
“Tadi, ada seorang pemuda dengan wajah yang tertutup hampir saja memukul seseorang disini. Syukurlah, gadis itu membantunya,” kata orang itu sambil menunjuk Youra.
Jun tersenyum karenanya. Ia mendekati sang kekasih.
“Aku pesan mie rebusnya, Buk,” kata Jun pada Youra yang sedang sibuk.
Youra menghentikan pekerjaannya dan langsung menoleh.
“Kak Jun?” tanya Youra terkejut.
**
Jun dan Youra duduk tak jauh dari kedai menikmati pemandangan gunung.
“Kakak tidak bekerja kah hari ini?” tanya Youra.
Jun mengangguk pelan.
“Aku ke sini karena mendengar ada seorang gadis hebat yang menjadi pahlawan untuk rakyat yang lemah,” jawab Jun tersenyum.
Youra mencubit pinggang Jun karena tahu, ia sedang diledek.
“Aduh,” kata Jun terkejut.
“Aku tidak menyangka, kau benar-benar mirip dengan kakakmu. Benar-benar seorang pahlawan,” kata Jun.
Seketika itu, wajah Youra yang tadinya bahagia berubah sedih. Jun yang menyadari apa yang baru saja dia katakan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hei, tadi saat aku mengajar, ada anak kecil yang sangat mirip denganmu,” kata Jun mencoba alihkan suasana.
Youra tertunduk lesu seolah tak peduli. Saat itu, suasana menjadi sangat hening, hingga akhirnya Youra mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya.
Hal yang membuatku terluka,
Youra mengeluarkan sesuatu yang terbungkus dengan sapu tangan. Ia membuka sapu tangan itu, mengeluarkan sebuah batu dan memandanginya.
.. bukan hanya fakta pembunuh ayah dan ibuku ada di istana.
Jun yang melihatnya sangat terkejut.
Tapi,
“Youra, darimana kau mendapatkan ini?”.
Dengan wajah seriusnya, Jun menarik batu itu dari tangan Youra. Melihat respon Jun, jantung Youra berdetak tak karuan, karena itu pertama kalinya Jun tampak sangat panik.
Rasa khawatir Jun tergambar dari wajahnya yang sangat terkejut. Youra berusaha mempersiapkan dirinya, terhadap fakta yang akan segera ia dengar.
“Kenapa?” tanya Youra serius menatap Jun yang sangat terkejut.
Jun menoleh ke segala sisi tempat mereka bertemu, memastikan tak ada seorang pun yang melihat mereka. Dengan sigap Jun kembali memasukkan batu itu ke dalam sapu tangan milik Youra.
“Ini batu mulia, bukan batu sembarangan. Ini sebuah lencana,” kata Jun dengan wajahnya yang gugup.
“Batu ini, milik Putra Mahkota”.
Perkataan Jun yang menampar seluruh isi hatiku, menghancurkan seluruh puing-puing yang tersisa soal harapan untuk balas dendam.
__ADS_1
Youra terbelalak kaget dengan mata yang berkaca-kaca. Ia terdiam tak dapat percaya tentang apa yang baru saja dia dengar.
Pembunuhan yang terjadi pada kakakku,
“Youra? Darimana kau mendapatkannya?” tanya Jun sekali lagi.
Youra tak bisa menjawabnya. Mulutnya seolah terkunci oleh pahitnya penderitaan yang terasa menyayat jantungnya.
“Apa maksudnya?” ucap Youra pelan.
Pembunuhan kakakku,
“Batu itu, biasanya diberikan pejabat istana kepada seseorang, sebagai izin menjalankan sebuah perintah,” jelas Jun sekali lagi.
… adalah perintah Putra Mahkota?
“Tidak mungkin”.
Tak ada kata yang terlontar dari bibirnya selain rasa tidak percaya. Jantungnya berdebar sangat kencang membuat napasnya tersenggal-senggal.
Buliran air bening mengalir dengan sendirinya dari kedua pelupuk mata Youra. Jun yang sedang terkejut semakin terkejut melihat tanggapan Youra terhadap apa yang baru saja dia katakan.
“Youra, apa yang terjadi?” tanya Jun.
Youra menoleh padanya, dengan raut wajah yang tampak sangat terkejut, air matanya terus saja mengalir.
“Tinggalkan aku sendiri,” jawab Youra.
Jun yang tidak mengerti apapun, mencoba untuk memahami situasi. Dengan segala tanda tanya di kepalanya, Jun akhirnya membiarkan Youra menenangkan diri.
Sejak saat itu aku semakin percaya, bahwa tidak hanya pantas dibenci, Putra Mahkota itu, lebih pantas tersiksa, baru kemudian mati.
**
Putra Mahkota…
**
Sore menyapa Youra dan Nana yang selesai bekerja. Saat itu, burung-burung kembali pulang berpamitan pada matahari. Youra menatap langit senja dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kira-kira, kakakku sedang apa disana?” kata Youra sembari menatap langit yang mulai gelap.
Nana yang luka hatinya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Setidaknya di hadapan Youra.
“Dia selalu marah padaku yang nakal ini,” sambung Youra yang matanya terus menatap langit.
Nana ikut menatap langit bersama Youra.
”Tuan Muda Young…,” gumam Nana dalam lamunannya.
Tampak buliran air mengalir dari sudut mata Youra yang berbinar.
“Ajarkan aku bagaimana caranya tetap kuat,” tanya Youra dengan suara lirihnya yang menyedihkan.
Nana membuyarkan lamunannya sendiri menoleh pada Youra.
“Nona…,” panggil Nana lembut.
“Dia menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dariku,” tambah Youra.
Youra berjongkok dan menutup matanya dengan kedua lututnya.
“Apa yang selama ini dia sembunyikan dariku? Kenapa dia menyuruhku bersembunyi selama ini?” tangisnya pecah saat itu.
Nana ikut berjongkok bersama Youra.
__ADS_1
“Nona?” panggil Nana kembali.
“Nana, aku ingin ke kediamanku yang dulu”.
Youra memegang tangan Nana dengan kedua tangannya.
“Kumohon,” wajah Youra tampak penuh banjiran air mata.
Nana yang sangat khawatir, tak tega melihat Youra yang tampak sangat menyedihkan itu.
“Baiklah, tapi kita hanya sebentar. Akan sangat berbahaya jika ada yang melihat kita,” pinta Nana.
Akhirnya, mereka berjalan bersama menuju kediaman lama Youra. Youra dan Nana berjalan menutup kepala dan wajah mereka dengan kain yang tebal.
Sesampai di kediaman lama Youra, mereka berhenti sejenak di halaman rumah, memastikan tak ada seorangpun yang ada disana. Lokasi tempat tinggal Youra, benar-benar sangat sepi dan kosong. Tak ada lagi yang berani kembali tinggal disana, mengingat kejadian mengerikan beberapa tahun yang lalu.
Youra melangkahkan kakinya yang sangat lemah pelan-pelan. Ia meraba tembok tempatnya berdiri saat menyaksikan kematian ayah dan ibunya. Ia berjalan pelan menyusuri halaman rumahnya, tempat dimana dia selalu menunggu ayahnya pulang.
Sebuah kursi di halaman rumah, tempat dulu dia duduk menunggu ayah dan kakaknya pulang sudah lapuk dan hancur. Air matanya yang terus mengalir menemani matanya yang sibuk menjelajahi seisi halaman. Ia memandang tembok samping rumahnya, tempat dimana kakaknya selalu melompat masuk.
Ia berjongkok meraba kursi kayu yang hancur itu, dan akhirnya menangis tersedu-sedu.
Nana sudah tak tahan lagi melihatnya. Ia terus menutup mulutnya agar Youra tak dapat mendengar isak tangisnya.
Pelan-pelan, Youra melangkah ke dalam rumahnya. Di teras rumahnya, darah sang ibu yang diseret masih berbekas disana. Youra duduk meraba lantai serambi rumahnya itu.
“Iblis istana itu, menyeret tubuh ibuku yang malang disini,” kata Youra terisak.
Youra bangun dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.
“Disini, tempat kita saling bercanda saat itu, apa kau mengingatnya?” tanya Youra pada Nana tampak sangat tertekan.
Nana mendekat padanya terisak tak kuasa.
“Nona, kumohon, hentikan semua ini,” kata Nana menangis iba.
“Di tempat ini, kami biasanya makan bersama,” sambung Youra yang tak peduli.
Youra berdiri menyusuri kamar sang kakak. Ia masuk terburu-buru ke bilik sang kakak.
“Ini kamar seorang pembohong”.
Saat berdiri di kamar sang kakak, Youra menangis terisak memukul dadanya berkali-kali.
“Dia selalu berbohong padaku,” kata Youra sekali lagi, terjatuh lemah tertunduk di lantai.
Nana menangis mengejar Youra dan membantunya berdiri.
“Nona, liat aku”.
Nana menggoncang tubuh Youra dengan memegang kedua pundaknya.
“Ingat, saat ini Anda sudah punya Guru Jun. Tuan Muda Young tidak ingin Anda terus bersedih seperti ini,” bujuk Nana sambil menangis.
Youra terus menangis, sekeras mungkin tertunduk layu di atas lantai kamar sang kakak. Sesekali ia memukul lantai itu dan berteriak. Namun, tak lama kemudian Youra terdiam. Ia bangun dari tempatnya dan mendekat pada Nana.
“Bagaimana? Bagaimana caranya kau bisa terus berpura-pura?”.
Youra menatap wajah Nana dengan sungguh-sungguh.
“Bagaimana kau bisa berpura-pura tidak terluka, melihat orang yang kau cintai, mati terbunuh di hadapanmu?”.
Nana terkejut tak percaya, karena ternyata Youra mengetahui perasaannya.
Kakak, tidakkah kau kasihan?
__ADS_1
“Nona, aku…,” perkataan Nana terputus saat Youra langsung memeluknya. Akhirnya Nana menangis di pelukan Youra terisak.
… saat ini, ada dua gadis yang menangisimu. Apa kakak tidak bisa mendengarnya?