
Hanya untuk dihina, Youra dibiarkan berlutut begitu lama, sampai akhirnya ratu mengeluarkan perintah.
“Segera antar calon menantuku ini menuju kediaman barunya!” perintah ratu pada pelayan yang sedang menunggu di luar biliknya.
Ratu menurunkan tubuhnya, sedikit berjongok. Dia menatap mata Youra yang sudah diremuk kebencian itu.
“Ingat, kau gadis yatim piatu yang tak punya siapapun. Bersikaplah hormat padaku jika kau tetap ingin aman. Di istana ini tidak akan ada yang membelamu, selain kepatuhanmu padaku”.
Ratu berdiri setelah puas menghina gadis malang itu. Dia tersenyum licik memperhatikan wajah Youra yang sembab. Air mata itu terus menggenangi ruas-ruas matanya, tapi Youra sama sekali tak gentar. Tetap tersenyum manis, Youra seolah tak kalah dengan rasa sedihnya. Padahal, jauh di dalam sana, luka itu memburuk dari biasanya.
Dengan segera para pelayan masuk, bergegas mengantar Youra menuju kediaman mewahnya. Youra menghapus cepat air matanya, membungkuk hormat meninggalkan bilik ratu. Langkah anggun itu ia percepat untuk segera pergi dari sana.
Seluruh pelayan memberikan hormat padanya.
Kehormatan,
Dia melewati sisi istana itu dengan anggun, tetap rendah hati dan hormat. Berjalan lambat, membuatnya dapat melihat seberapa banyak orang menyambut kedatangannya.
Pangkat,
Gadis-gadis penghuni istana yang terus saja menatapnya, para pelayan yang tetap membungkuk hormat, dan tatapan-tatapan lain yang berjalan bersama langkahnya.
Sebentar lagi ada di genggamanku.
Youra tersenyum. Kali ini, senyuman itu tampak lebih mengerikan. Dendam, yang membuatnya tersenyum. Ia membusungkan dadanya, berjalan sangat angkuh.
Kalian semua,
“Mari Nona,” kata salah seorang pelayan menunjuk sebuah bangunan mewah.
Akan berlutut padaku.
Youra berhenti di depannya beberapa saat, memperhatikan seluruh struktur keindahan itu. Bukan karena kekaguman, melainkan tiang-tiang kebencian yang akan menjadi tempat tinggalnya menyusun strategi.
Beberapa orang opsir berlari, membukakan gerbang mewah itu untuk Youra. Saat gerbang itu terbuka, serentak beberapa pelayan membungkuk hormat, menyambutnya dengan senang hati.
“Selamat datang, calon istri Putra Mahkota,” sambut mereka serentak dengan wajah sangat bahagia.
Seorang gadis muda, dengan pakaian rapi dan wangi mendekati Youra.
“Selamat datang, Nona. Perkenalkan, namaku Nari. Mulai sekarang, aku adalah pelayan setia Anda. Akan mengabdikan seluruh hidupku pada Anda,” gadis itu melipat kedua tangannya di dada, segera ia memberi salam kehormatan untuk Youra.
__ADS_1
Youra tersenyum padanya. Segera setelahnya mereka mengantar Youra masuk. Pelayan Nari datang mendekat. Dia membukakan sepatu Youra dan menyiapkan beberapa cemilan untuknya.
Youra terus saja memandang gadis itu dengan curiga. Mungkin saja, dia salah satu dari mereka, orang-orang yang ditugaskan untuk mengawasinya. Youra memutar tubuhnya, memperhatikan seluruh pelayan yang membungkuk hormat padanya.
Orang-orang yang malang ini, mereka mengawasiku.
Youra mengangguk kecil. Mengusir seluruh pikiran itu. Setidaknya sampai mereka semua pergi, bertindaklah seperti orang polos yang bodoh.
”Nona, tidak lama lagi, pernikahan A nda dan Yang Mulia Putra Mahkota akan segera dilaksanakan. Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan setelah menjadi istrinya. Hamba rasa, Anda sudah mengetahuinya,” jelas salah seorang pelayan.
Entah apa yang dikatakan oleh pelayan itu, Youra masih saja sibuk bercengkrama dengan akal liciknya. Siasat untuk segera membalaskan dendam itu dipendamnya dulu. Bersikap baik dan patuh adalah langkah pertama. Dia tersenyum, mengikuti semua aturan dan permainan mereka.
**
Di istana Putra Mahkota, beliau duduk di beranda bersama seorang tetua. Mendengarkan nasehat-nasehat pra nikah untuknya. Sebagai calon pemimpin, ada beberapa hal yang tidak boleh dia lakukan bersamaan dengan statusnya yang akan menjadi seorang suami. Memasang kupingnya, mendengarkan seluruh materi hari itu dengan baik.
Kasim Cho, sang pelayan setia terus saja tersenyum karenanya. Dia sangat senang, Putra Mahkota akan segera menikah. Pikirnya, setidaknya ada cinta yang dia rasakan. Jung Hyun ada disana, menatap lekat dengan rasa bersalah. Dia tahu betul Youra tidak ingin menikah dengan Putra Mahkota. Adik sahabat yang seharusnya dia lindungi, kini dengan terpaksa diantarnya ke kandang singa.
Tak lama setelah itu, tetua itu beranjak segera diganti oleh guru lain. Jun sudah ada disana, dengan wajah kecewanya yang menyedihkan, segera masuk untuk mengajarkan sastra pada Putra Mahkota.
“Selamat datang, Guruku,” sapa Putra Mahkota semangat.
Hal tidak biasa itu, membuat Jun terperanjat. Terpelongo sangat terkejut memandang Putra Mahkota yang dengan semangat membuka buku. Sangat ceria. Tak pernah sekalipun ia melihat Putra Mahkota seperti itu, membuat hatinya sangat terluka.
Ia berusaha mengendalikan diri, segera membuang pandangan itu dari Putra Mahkota agar tak mencurigakan. Melirik ke arah Jung Hyun yang ternyata juga berwajah murung. Tampak sangat tertekan, menggali lebih dalam jiwa penasaran Jun.
Melihat Putra Mahkota yang begitu bahagia, membuat Jun ingin segera melayangkan pukulannya. Dengan susah payah ia menahan seluruh rasa sakit dan emosinya. Bersikap hormat, membuatnya lebih terluka. Pria yang saat itu ada di hadapannya, calon penguasa negeri ini, sedang tersenyum bahagia di depannya yang sedang sangat sakit hati.
“Terimakasih, Yang Mulia,” jawab Jun terpaksa.
Akhirnya pertemuan hari itu berjalan lancar berkat kesabaran Jun yang berusaha keras mengendalikan diri. Segera ia pamit, meninggalkan ruangan dengan rasa benci. Sekarang, berapa banyak yang membenci Putra Mahkota, sudah tak dapat lagi dihitung.
**
“Kasim Cho?” panggil Putra Mahkota.
Segera sang pelayan mendekat, menyerahkan seluruh kemampuannya dengan bahagia di hadapan Putra Mahkota.
“Ya, Yang Mulia?” jawab sang pelayan ceria, menampakkan gigi putihnya.
Putra Mahkota segera membuka jubah mewahnya, bergaya santai membuatnya merasa lebih nyaman, ketimbang harus selalu memakai jubah kerajaan. Dia naik ke atas ranjang, bersandarkan tumpukan bantal dengan wajah tertutupnya.
__ADS_1
“Apa yang wanita sukai?” tanya Putra Mahkota, membuat Jung Hyun yang ada disana spontan menoleh.
Kasim Cho berusaha menahan tawa genitnya, setidaknya membiasakan diri karena tuannya memang akan segera menikah, dan punya kekasih.
“Menurut hamba yang sudah berumur ini, pengalaman masa kecil adalah yang terbaik. Para gadis, biasanya sangat suka bunga dan makanan manis seperti gula-gula dan coklat,” jawab Kasim Cho.
“Bukankah mereka lebih suka harta dan tahta?” bantah Putra Mahkota.
Jung Hyun datang mendekat, menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.
“Maaf Yang Mulia, tapi Nona Youra bukan gadis seperti itu. Hamba memang tidak terlalu mengenalnya, tetapi setahu hamba beliau adalah gadis sederhana dan menyukai kesederhanaan,” tambah Jung Hyun membela.
Putra Mahkota tersenyum, ia segera melepaskan penutup wajahnya. Jung Hyun dan Kasim Cho cepat-cepat memalingkan muka, agar tak melihat wajah Putra Mahkota. Sang Putra Mahkota membangkitkan tubuhnya dari ranjang. Dia berdiri, mendekati Jung Hyun yang berusaha untuk tak melihat wajahnya.
“Ceritakan padaku, seperti apa masa kecilnya,” perintah Putra Mahkota.
Jung Hyun yang berdiam diri di tempat, menarik napas.
“Nona Youra, dia sangat menyayangi keluarganya. Hanya itu, yang hamba ketahui selain kesederhanaannya,” jawab Jung Hyun.
Putra Mahkota menatap Jung Hyun ragu, seolah melepas rasa penasarannya yang belum terpecahkan. Namun, Putra Mahkota tak memaksa, bersikap biasa saja.
“Kirimkan seluruh jenis bunga tercantik di negeri ini ke kediamannya”.
Perintah Putra Mahkota segera ditunaikan oleh para pelayannya. Kasim Cho mengatur jalannya pengiriman bunga, sedangkan Jung Hyun meratapi diri di tempat, karena rasa tak percayanya.
Putra Mahkota kembali ke atas ranjangnnya, membuka buku dan mulai membacanya.
“Yang Mulia, ini cinta, atau hanya sebuah rencana?” gumam Jung Hyun ragu.
**
Di dalam bilik mewahnya, Youra sedang memangku kesedihannya. Dia yang dari tadi berusaha tegar, akhirnya menangis tersedu-sedu di dalam biliknya itu. Apa gunanya seluruh kemewahan itu, jika akan terus hidup kesepian, sendirian, tanpa keluarga, tanpa cinta. Dendam yang menggebu-gebu terus berpacu dengan jati dirinya, membuatnya akan tumbuh menjadi wanita paling kejam di muka bumi ini.
Tak lama, tangis itu segera ia hapus secepatnya, setelah seorang dayang membuka pintu biliknya. Mereka berbondong-bondong masuk mengantarkan bunga-bunga indah tanpa permisi padanya. Mereka menyusun bunga-bunga itu mengelilingi sudut kamar mewahnya. Mengosongkan tempat di balkonnya.
Tanpa bertanya, Youra terus saja memperhatikan orang-orang yang sibuk mendekorasi kamarnya dengan bermacam-macam bunga segar. Hingga, Pelayan Nari (pelayan pribadinya) masuk, membawa banyak dandelion menuju balkon yang dikosongkan, membuat Youra sangat terkejut. Itu, tanaman yang sangat disukainya.
Para pelayan itu keluar setelah menata rapi kamar Youra, meninggalkan dia sendirian di dalam sana. Youra segera mendekat pada kumpulan dandelion itu, menangis bahagia melihatnya. Dia menggapai dandelion itu, menyentuhnya, membuatnya menitikkan air mata. Saat itu, angin berhembus sangat kencang, menerbangkan dandelion, menciptakan pemandangan indah untuknya.
Sementara itu di sisi lain, Jun sedang duduk sendirian di pinggir sungai, tempat ia bertemu Youra saat di kaki gunung. Dia duduk bersama rasa sedihnya. Rasa tidak terima itu terpaksa dipendamnya atas keinginan sang kekasih.
__ADS_1
Dan Putra Mahkota, dia sibuk sendiri dengan khayal tingginya. Berdiri di balkon kediamannya, melihat dandelion-dandelion yang bertebaran dari seberang sana, dari kamar calon istrinya.
Mereka bertiga, siapa yang akan tetap berdiri dan siapa yang akan menyerah dan pergi, semuanya masih menjadi misteri. Tentang takdir yang berpihak pada siapa.