Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kau Akan Menyesal


__ADS_3

Bersandar pada dipan yang membentang panjang di balkon kediamannya, ratu yang hendak membawa keceriaan itu, menyilang kedua tangannya di dada sesaat setelah menyambut kedatangan putranya, Pangeran Yul.


"Mengapa membawa wajah yang begitu muram bertemu dengan ibumu?" tanya ratu dengan nada kecewanya. Pangeran Yul, keningnya berkerut. Wajahnya tak sedikitpun membawa kebahagiaan. Ia terus saja menggerutu sepanjang lamunannya.


"Pangeran Yul!" panggil ratu mengejutkan. Pangeran Yul yang jiwanya entah kemana, kini berhasil mengembalikan kesadaran.


"Maafkan aku, Ibunda Ratu."


Ratu tersenyum senang. Dia tertawa cekikikan melihat reaksi putranya yang terkejut. Saat itu, Pangeran Hon juga ada disana. Berbeda dengan kakaknya, Pangeran Hon bertemu ibunya berwajah cerah. Bahagia seperti biasanya. Dia menoleh pada kakaknya, Pangeran Yul. Lewat tatapan sekejap yang ia lakukan, entah kenapa Pangeran Hon merasa ada yang salah dengan sang kakak.


Ia mendaratkan tangan nya dengan lembut di paha sang kakak yang saat itu sedang sibuk dengan dunianya. "Kakak, ada apa gerangan? Hingga Anda tampak murung seperti ini?" tanya Pangeran Hon sangat sopan.


Pangeran Yul tak memberikan jawaban pada sang adik. Dia hanya duduk mendekat di sisi ratu dengan wajah suramnya itu. Pangeran Hon masih disitu, hanya bisa keheranan.


"Ibunda Ratu, tentang pernikahan itu, apa aku harus melakukannya?" tanya Pangeran Yul. Sontak, pertanyaan itu menggetarkan rasa penasaran Pangeran Hon. Ia segera menoleh untuk memperhatikan apa yang sedang berusaha dinegosiasikan oleh kakaknya.


Ratu meraih porselin cantik di depan mereka, meneguk beberapa kali sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Tampaknya, ratu sangat bahagia.


"Pernikahanmu dan putri Kepala Menteri Perang adalah keputusan matang yang sudah dipertimbangkan jauh hari. Bahkan sebelum kau lahir, kesepakatan ini sudah dibuat lebih dulu. Ini wasiat negara, dan bukan perkara main-main," jawab ratu sedikit santai.


Pangeran Hon tak dapat memberikan tanggapan, hanya bisa duduk tenang di dalam sana mendengarkan mereka. Dia melirik sedikit ke arah sang kakak, memergoki bagaimana Pangeran Yul meremas jubah mewahnya dengan kepalan tangan. Melihatnya, Pangeran Hon langsung menatap wajah kakaknya itu dari samping, memperhatikan celah-celah penolakan yang mungkin saja akan segera Pangeran Yul layangkan.


"Dia gadis yang cantik dan pintar. Menikah dengan gadis seperti itu akan membawa keberuntungan untuk kita. Selain karena ayahnya yang sangat berpengaruh untuk istana, dia bisa menjadi pertolongan pertama untuk kita di kemudian hari," jelas sang ratu.


"Kemudian hari? Apa maksudnya?" batin Pangeran Hon berusaha tenang, berpura-pura tak mau tahu.


"Ibunda Ratu, aku menyukai gadis lain di luar istana. Dia juga putri dari orang berpengaruh di istana ini," bantah Pangeran Yul.


Ratu meletakkan porselin cantik itu dengan wajah yang masih saja tersenyum. "Siapa gadis itu?" tanya ratu.


"Hong Jin-Yi, putri sekretaris negara."


Pangeran Hon yang saat itu sedang meneguk minumannya, langsung saja tersedak tak kuasa. Jawaban sang kakak membuatnya geleng kepala. Benar-benar tidak disangka. Ratu melirik Pangeran Hon yang tak berhenti batuk, sangat jelas putra bungsunya itu terkejut. Kembali ratu menoleh pada Pangeran Yul, menuangkan teh wangi itu ke dalam cangkir Pangeran Yul dengan hati-hati.


"Gadis itu adalah satu dari tiga kandidat istri Putra Mahkota yang pernah terpilih. Hukum kerajaan sudah mengatur soal itu. Dua dari tiga kandidat yang tak terpilih, tidak bisa lagi dinikahi oleh orang yang statusnya lebih rendah dari Putra Mahkota. Lagipula, Ara adalah gadis yang sangat aku sukai. Kau terima saja semuanya dengan lapang dada. Tidak lama lagi, kau akan melepas status lajangmu."

__ADS_1


Pangeran Yul tak dapat berkutik. Dia hanya terus berusaha tersenyum. Sementara, Pangeran Hon yang bingung akan situasi mencoba untuk mengembalikan suasana menjadi lebih hangat.


"Aku turut bahagia, karena semua kakakku memiliki pasangan dan calon pasangan yang sangat berkualitas. Aku akan merasa sangat senang, jika istana memilihkan gadis terbaik seperti istri Putra Mahkota dan calon istri Pangeran Yul untukku juga."


Kalimat pujian yang tulus dari Pangeran Hon berhasil menghancurkan ketegangan di antara mereka. Pangeran Yul berusaha lebih lega. Benar, tidak ada cara lain untuk memenangkan tujuan, selain mengikuti takdir yang baik berkat arahan sang ibu. Mau tidak mau, pernikahan itu harus diterima. Suka tidak suka, Ara tetap akan menjadi istrinya.


**


Putri Shin melangkah cepat menuju kediaman Youra. Mendapatkan kabar sang adik jatuh sakit, membuatnya membawa emosi yang terkubur karena kesedihan itu untuk menemui Youra. Tinggal menghitung hari, Putri Shin akan segera menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Kabar pernikahannya sudah membuatnya sangat terluka, ditambah lagi kabar buruk tentang sang adik memberikan tembakan lebih dalam lagi pada luka di hatinya.


"Yang Mulia, Tuan Putri ada disini."


"Izinkan masuk," perintah Youra bersamaan dengan masuknya Putri Shin. Wajah sembab dan mata yang memerah jadi kesan pertama Youra saat memandangnya. Putri Shin membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Ia cukup lama membungkuk, hingga Youra bertanya-tanya pada dirinya.


Beberapa tetes air dari mata Putri Shin yang sedang membungkuk jatuh ke lantai. Putri Shin terisak, cukup lama. Hingga Youra terkejut dan segera mendekat padanya.


"Tuan Putri, apa yang telah terjadi?"


Tak ada jawaban, tetapi...


Tangan kanan Putri Shin mendarat manis di pipi Youra. Membuatnya tertegun beberapa saat, hingga akhirnya terhenyak ke lantai.


"Kau sudah berjanji padaku untuk menjaga adikku. Sebagai istri apa yang sudah kau lakukan hingga membiarkan dia sakit?" Tak perlu pikir panjang, Putri Shin langsung saja menghujani seluruh kekhawatiran itu kepada Youra.


Para pelayan Putri Shin mendekat. "Tuan Putri, apa yang sudah Anda lakukan? Anda akan menerima hukuman jika bertindak tidak sopan kepada calon ratu negeri ini." Mereka menarik dan menahan tubuh Putri Shin yang tampaknya sudah digerogoti kemarahan.


"Apa kau tidak tahu betapa sulitnya aku bertahan di istana ini?! Apa yang akan terjadi pada Putra Mahkota jika aku tidak di istana lagi?!" Putri Shin berteriak, bersimbah air mata.


Para pelayan menahan tubuh Putri Shin, tetapi mereka tak kuasa untuk bertindak lebih dari itu. Putri Shin melepaskan penahanan dari para pelayan. Dia berjalan mendekati Youra yang duduk pasrah di lantai.


Putri Shin akhirnya ikut bersimpuh di depan Youra yang masih sangat terkejut. Ia mendekat, menatap lekat Youra yang saat itu sedang terus menatapnya.


"Aku bertahan disini, adalah demi adikku. Jika aku menikah, aku akan segera pergi dari sini dan tidak bisa menjaga dia lagi. Lantas, apa yang akan kau lakukan? Apa?!!" Putri Shin berteriak di wajah Youra, tak peduli seberapa banyak pelayan yang melihat.


Youra berusaha mengolah kesabarannya. "Putri Shin, tampaknya Anda sedang sangat tertekan karena pernikahan ini," jawab Youra seolah tak merasa peduli.

__ADS_1


Putri Shin menarik kerah baju Youra hingga tubuh Youra tertarik ke hadapannya. "Kau harus menepati janjimu untuk memberikan cinta kepada adikku. Jika kau tidak melakukannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu." Putri Shin merendahkan nada bicaranya.


Namun, Youra yang geram tak lagi dapat menahan diri. Tepat di telinga Putri Shin, dia membisikkan sebuah kalimat menyakitkan baginya.


"Putri, aku tahu kau sangat tertekan karena menikah dengan pria yang tidak kau cintai. Aku tidak tahu, kau begitu tertekan karena kau telah punya kekasih atau karena kau memang tidak suka pada lelaki itu. Hanya saja, kau harus tahu satu hal..." Youra tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.


"Apapun yang saat ini kau rasakan, adalah persis seperti yang aku rasakan saat menikah dengan adikmu yang hina itu."


DEG


Entah kenapa, perkataan Youra bagai cambukan hebat bagi Putri Shin. Jangankan untuk membantahnya, bahkan untuk berkedip saja rasanya dia tak mampu. Napasnya sesak luar biasa. Dia mengangkat wajahnya melotot tajam pada Youra. Segera dia berdiri sambil terus menatap tajam iparnya itu.


"Lee Youra..."


Kembali Putri Shin menarik napasnya pelan-pelan.


"Jika kau menganggap nasib kita sama, kurasa, kau salah besar."


Putri Shin memutar tubuhnya untuk segera keluar dari kediaman Youra. Ia berhenti sejenak di depan pintu bilik itu tanpa berbalik memandang Youra.


"Kau lah ... yang akan menyesal," tambahnya.


Putri Shin akhirnya meninggalkan kediaman Youra. Youra tersenyum, menggelengkan kepalanya karena simpatik.


Tentu saja takdir kita berbeda Tuan Putri. Karena aku, tidak lemah seperti dirimu!


**


Di depan gerbang istana Youra, Putri Shin berhenti.


"Lee Youra ... keputusanku untuk tidak mencintai calon suamiku adalah benar, karena aku tahu persis siapa yang akan menikah denganku nanti.."


Tak lama kemudian, Putri Shin berbalik menghadap dan menatap bangunan mewah itu, berlinangan air mata.


"Namun, keputusanmu untuk membenci adikku, akan membuatmu menyesal. Bahkan menangis hingga mati pun, tak dapat meredakan penyesalan itu."

__ADS_1


__ADS_2