Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Fakta yang Terungkap


__ADS_3

Youra yang dari tadi menunduk sangat terkejut, tak menyangka sang suami sudah menggali dalam soal percobaan pembunuhan yang terjadi pada kakaknya beberapa tahun yang lalu.


"Seluruh hukuman dan keputusan akan langsung diumumkan di hadapan rakyat, berdasarkan hukum dan undang-undang yang berlaku. Rakyat dapat melontarkan penolakan dan pembelaan, jika memang pernyataan ini salah! Dan rakyat dapat mengacungkan tangan untuk menjadi saksi terhadap kejahatan yang dirasa perlu untuk diungkapkan!" teriak raja.


"Apa-apaan ini?! Mengapa melibatkan rakyat yang tidak berpendidikan?!" Para menteri mulai memanas.


***


"Baik, aku mintakan kepada Kasim Cho untuk membacakan seluruh keputusan yang telah kutulis." Setelah menyerahkan seluruh kertas itu untuk dibacakan oleh Kasim Cho, raja kembali duduk di atas singgasana. Dia menoleh pada permaisurinya, sebelum memandangi para pejabat satu persatu.


***


Kasim Cho mulai membentang kertas itu untuk segera membacanya. Dia tampak sangat tegang dan cemas. Setelah selesai menarik napas panjang, dia mulai membacakan satu persatu bukti sebelum memanggil saksi untuk masuk.


"Telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh beberapa pejabat yang telah melakukan propaganda di daerah timur! Menipu rakyat untuk membayar uang kelebihan tanah sewa dua kali lipat! Meletakkan dasar-dasar kebohongan untuk menakut-nakuti rakyat agar membayar denda untuk kesalahan yang sama sekali tidak tertulis dalam undang-undang! Dan rakyat adalah saksi yang dapat memberatkan! Jika ada di antara para pejabat yang merasa melakukannya, harap maju! Dan jika namanya disebutkan tetapi tidak maju, maka hukuman akan diberatkan!"


***


Pengumuman pertama saja sudah menegangkan bagi semua pejabat. Para rakyat yang baru tahu mereka telah ditipu berteriak marah.


"Untuk kasus selanjutnya, kita serahkan kepada saksi terberat yang tidak dapat terbantahkan. Kepada saksi kita yang terhormat, Pangeran Hon ... waktu dan tempat dipersilakan."


Semua mata membeliak hampir keluar, sangat terkejut karena selama ini Pangeran Hon terlihat damai dan tak mau tahu soal politik istana. Pangeran Hon maju beberapa langkah, berdiri menghadap para menteri.

__ADS_1


"Aku telah berkelana selama bertahun-tahun di sekitar desa." Pangeran Hon mengeluarkan beberapa buku dari balik jubahnya dan melempar buku itu ke atas lantai. "Dan menemukan fakta-fakta soal ini semua. Telah terjadi suap dan korupsi yang mengatas namakan raja selama hampir 20 tahun."


Pangeran Hon menyilang kedua tangannya ke belakang, memandangi satu-persatu pejabat. "Semua tuduhan dan bukti yang sudah tertulis di dalamnya, merujuk kepada ..." Seluruh rakyat saling melempar mata. Mereka semua mulai menebak-nebak.


"Semua bukti merujuk kepada banyak menteri. Namun, satu orang ini adalah dalang yang memiliki banyak transaksi ilegal. Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan, Anda terbukti telah mengambil bagian yang bukan hak Anda." Pangeran Hon langsung menatap lekat Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan yang sangat terkejut.


"Tidak, Yang Mulia!" Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan melangkah cepat bersimpuh di depan singgasana raja. "Semua itu tidak benar, Yang Mulia! Itu semua kebohongan! Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu!" Sangat yakin pria tua itu membela diri.


Raja tak bersuara, tetapi Pangeran Hon menjadi sangat geram. "Apa perlu aku menyebutkan seluruh rinciannya? Seperti meminta bayaran kepada Dinasti Qing atas nama Putra Mahkota soal pemindahan tanah yang seharusnya gratis?" Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan gelagapan. Segera beberapa opsir menyergap dan menyeretnya pergi dari tempat itu. "Yang Mulia! Ampuni aku, Yang Mulia!" terus saja dia berteriak bahkan hingga dibawa pergi jauh dari tempat itu. Hampir 50 orang menteri yang terlibat diseret pergi dari tempat.


Semua menteri menjadi pucat dan gugup. Tak ada seorangpun yang terlihat santai lagi, termasuk Perdana Menteri Han. Mereka tidak menyangka raja kembali membawa banyak bukti ke istana. Perdana Menteri Han mengepal erat tangannya dalam, di sisi jubah mewahnya.


Seluruh rakyat bersorak heboh menyuarakan kemarahan mereka.


***


Sudah saatnya, sudah saatnya semua kebohongan itu terungkap. Kepulangan yang menyedihkan, semuanya akan segera terungkap. Tentang banyak air mata yang telah tertumpahkan. Tentang takdir malang yang menyakitkan.


**


Sementara itu, Ara yang sedang duduk menggendong bayinya tak berhenti menyeka air mata yang terus saja menetes tak bersuara. Dia memandang putri kecilnya yang sangat mirip dengan wajah suaminya. Rasanya sangat sakit. Setelah sekian lama menderita, semuanya berakhir menjadi penderitaan yang lebih sakit lagi. Padahal, baru saja rasanya dia merasa benar-benar memiliki seorang suami. Sekarang tampaknya dia akan segera berpisah dengan pria yang sangat dicintainya.


"Dayangku, apa saat ini raja sedang melangsungkan pertemuan besar?" lirih Ara.

__ADS_1


"Benar, Nyonya."


Jawaban sang dayang tiba-tiba diikuti suara tangisan putri kecil tak berdosa itu. "Bahkan diapun mengerti, soal apa yang selanjutnya akan terjadi."


Suamiku, apapun keputusan Anda ... aku akan mendukungnya.


***


Kembali ke lapangan istana, beberapa opsir menyeret Ha Sun--suami Putri Shin--untuk berlutut pada raja hari itu juga. Pemuda yang merupakan putra tunggal Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan itu baru saja tertangkap saat hendak mencari Putri Shin yang menghilang entah kemana.


Jung Hyun mendekat pada Ha Sun. Bersamaan dengan dendam pribadinya, dia menyodorkan pedang tepat di wajah pemuda keji itu. "Akuilah kesalahanmu, maka pedangku tidak akan menyentuh tenggorokanmu." Penuh penekanan Jung Hyun mengatakannya.


Ha Sun yang sedang berlutut dengan tangan terikat ke belakang, menoleh kepada seluruh menteri. Dia tiba-tiba saja tertawa, hingga semua orang merinding ketakutan. Raja mengernyitkan dahi saat melihatnya yang terus saja tertawa tak henti-hentinya. "Apapun kesalahnku ... itu tidak sebesar kesalahanmu bung," jawab Ha Sun menatap Jung Hyun dengan suara rendah. Jung Hyun tersentak, dia menatap tajam pemuda itu.


"Yang Mulia!"


Tiba-tiba saat itu, Sekretaris Negara berjalan hingga berhenti tepat di sebelah Ha Sun. Beliau membungkukkan tubuhnya. "Ada yang ingin hamba sampaikan, terkait kejahatan yang telah dilakukan pemuda ini." Ha Sun yang mendengar itu bukannya takut, malah menjilati darah yang melekat di sudut bibirnya sembari tersenyum tipis.


"Silakan," jawab raja.


"Pemuda ini ... adalah salah seorang pengkhianat yang telah bekerja sama dengan pemberontak yang melakukan pertemuan bersama Anda saat Anda dikabarkan tewas. Putriku Hong Jin-Yi bersama para pelayannya, juga secara tidak sengaja melihat beliau menyeret dan menarik rambut Putri Shin di kediaman mereka. Aku juga telah membawa pelayan pribadi Putri Shin untuk menjadi saksi. Pemuda ini telah melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga terhadap istrinya, Yang Mulia. Beliau juga menghamili beberapa gadis desa, dan memaksa mereka melakukan aborsi."


Semua orang terkejut, lantaran selama ini Ha Sun bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Terlihat sangat baik dan berbudi. Tangan Jung Hyun bergetar, tampak dari pedang yang ia pegang bergetar penuh amarah. Rasanya dia ingin sekali menebas kepala pemuda tak bermoral itu dengan cepat. Sangat sakit baginya mendengar soal penyiksaan yang Ha Sun lakukan terhadap wanita yang dicintainya.

__ADS_1


***


__ADS_2