Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Apa aku sudah gila?


__ADS_3

Pangeran Yul mendekat pada Ara, di atas pelaminan itu untuk bersandiwara mesra. Ara lantas percaya saja. Semuanya terasa tulus dan manis baginya. Dia tersenyum senang menatap suaminya yang sedang membelai mesra kepalanya, mendaratkan kecupan manis di dahinya.


DEG


Ara melotot, kesenangan. Bukankan sangat manis, diperlakukan dengan baik oleh orang yang kita sukai. Belum lagi, pancaran pesona Pangeran Yul mampu menyuntikkan cinta dalam waktu sekian detik saat pertama kali dia melihatnya. Tiba-tiba, semua khayal sedikit intim yang mulai dia pikirkan buyar, lantaran pekikan orang-orang saat melihat raja jatuh pingsan.


Para tamu dan pejabat berhamburan, heboh oleh berita mengejutkan itu. Beberapa tetua bersama para pelayan segera mengantar Ara menuju kediamannya dan Pangeran Yul tinggal. Sementara, Pangeran Yul bergegas menemui sang ayah, membantunya mengantar balik ke istana.


"Nona, selagi menunggu suami Anda kembali, masuk dan tetaplah di kamar. Beliau akan kembali setelah selesai dengan urusannya," ucap salah seorang pelayan.


Ara dengan wajah cemasnya hanya bisa menunggu, berharap kepulangan sang suami membawa berita baik baginya. Karena ini malam pertama mereka, Ara menunggu sang suami pulang dengan gaun pengantinnya. Hal ini dilakukan karena menurut tradisi gaun pengantin wanita yang hanya boleh di lepas oleh suaminya di malam pertama mereka. Dia duduk di tepi jendela yang menghadap ke gunung. Malam itu, berbeda dari biasanya. Bulan terlihat sangat terang dan menawan. Entah kenapa, malam itu terasa penuh keberkahan.


****


(Istana Putra Mahkota)


Di dalam bilik hangat itu, Putra Mahkota tersenyum senang, melihat bagaimana jari-jemari indah sang istri menyentuh lengannya hati-hati. Dia menyipitkan matanya, mengarungi indahnya wajah istrinya itu. "Kenapa diam saja?" tanya Putra Mahkota menatapnya lembut.


Youra tak memperdulikannya, hanya terus melakukan pekerjaannya dengan baik sampai luka itu terbalut rapi. Dia merapikan gaunnya yang kusut, ingin segera beranjak dari sana.


"Aw.."


Suara Putra Mahkota yang merintih kesakitan membuat Youra kembali berbalik. "Apa masih sakit?" tanya Youra.


Putra Mahkota meraih tangan istrinya itu, membawanya kembali duduk di sebelahnya. "Minta maaflah kepadaku," kata Putra Mahkota.


"Aa-apa?" tanya Youra kebingungan.


Putra Mahkota meletakkan tangan di bawah dagu istrinya, mengangkatnya, membawanya dekat ke wajahnya. "Minta maaflah kepadaku. Aku akan memaafkanmu," tambah Putra Mahkota dengan wajah tampannya.


Deg... Deg...


Jantung Youra berdetak sangat kencang.


Youra mengalihkan wajahnya cepat, "Putra Mahkota, ini keterlaluan. Aku ke sini hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih karena sudah menolongku." Youra mendorong tubuh suaminya, bergegas pergi dari bilik itu. Namun, sekali lagi langkah itu terhenti, kala mendengar suara erangan dari sang suami. Kembali dia berbalik, mendekat untuk membantu suaminya.


"Jangan banyak bergerak, luka Anda akan kembali berdarah."


Putra Mahkota menatap sang istri, malah semakin meremuk lukanya.


"Putra Mahkota, apa Anda sudah tidak waras?!" teriak Youra melihat darah itu kembali membasahi pembalut lukanya.


"Apa aku perlu meremuk jantungku juga agar kau tetap disini?"


Pertanyaan Putra Mahkota membuat Youra meneteskan air mata, wajahnya tersenyum, tetapi hatinya tak bisa berbohong. Dia hanya mencintai Jun, dan merasa Putra Mahkota hanya sedang berpura-pura baik padanya, untuk menutupi kesalahannya yang sudah membunuh kakaknya Young. Dia selalu berpikir Putra Mahkota mungkin saja sedang bersandiwara, karena merasa bersalah padanya.


"Kenapa Anda berpura-pura baik kepadaku? Apa ada yang menarik dariku? Anda tidak mengenalku, lalu tiba-tiba saja memaksaku untuk menikah dengan Anda. Apa Anda tidak tahu malu?" tanya Youra berlebihan, semakin menyakitkan untuk di dengar.


Putra Mahkota mengatur sesak di dadanya. "Aku mencintaimu."

__ADS_1


Youra berusaha mengumpulkan kesadarannya yang hampir saja melayang, dia benar-benar tidak bisa berkutik setelah mendengar beberapa kata dari seorang lelaki tanpa pakaian atas itu.


Youra menarik napasnya, baru kemudian tertawa terbahak-bahak. "Haha.. Cinta? Apa yang Anda ketahui soal cin.."


"Lee Youra. Tentang cinta, hanya kau yang aku ketahui."


Perkataan itu menghentikan tawa Youra yang seakan menghina. Dia benar-benar tidak menyangka hal itu bisa terjadi.


Putra Mahkota sadar, sang istri sedang terkunci. Dia mengambil kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Youra. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Youra. Matanya sedang menjelajahi bibir mungil merah muda milik istrinya yang tampak berisi dan begitu indah. Youra semakin sesak, ingin segera menghindar, tetapi entah kenapa dia malah semakin membatu. Wajah tampan suaminya terlalu dekat dengan wajahnya, memperlihatkan betapa sempurnanya garis-garis wajah itu. Dengan rambut yang basah oleh keringat, poni itu sedikit menjuntai menutupi dahi Putra Mahkota, bibirnya merah dengan alis dan bulu mata tebal yang memperindah wajah itu. Youra terpana, tak bisa bergerak karena tingkat khayalnya mulai bekerja.


"Minta maaflah kepadaku, sebelum kau benar-benar kehilanganku," kata Putra Mahkota berbisik.


Napas mereka saling berbenturan, menciptakan irama tumpang tindih yang menggairahkan. Napas dan tubuh wangi Putra Mahkota seolah menghipnotis Youra, mengikat tubuhnya untuk tak bisa bergerak.


Sangat tegang, Youra begitu tegang hingga dia melotot melihat bagaimana mata tajam milik suaminya itu sedang memandang hangat bibirnya penuh gairah. Tangan Putra Mahkota menjalar di belakang punggungnya, menariknya lebih dekat hingga tubuh itu hampir saja saling berdempetan.


"Aku adalah milikmu. Kau berhak memiliki apa saja yang ada padaku, kau tahu itu?" tanya Putra Mahkota dengan nada rendah yang sedikit menggoda. Youra mengangguk cepat agar segera lepas.


"Apa suamimu tidak boleh memilikimu?" tanya Putra Mahkota sekali lagi menatap mesra matanya penuh harap. Youra hampir saja terbuai jatuh dalam indahnya senja bersama suaminya. Namun,


"Aku berjanji, aku akan kembali pada kakak setelah semuanya selesai."


Janjinya pada Jun, mengembalikan puing-puing kesadaran yang masih tersisa. Hanya saja, tubuhnya terkunci dalam dekapan suaminya, tak bisa bergerak. Putra Mahkota melihat wajah kaku sang istri, segera melepaskan dekapannya. Sangat sadar, bahwa sang istri tidak akan sudi memberikan dirinya.


"Antar aku mandi." Putra Mahkota mengembalikan suasana canggung itu menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Ha? Anda masih sakit, bagaimana bisa Anda..." tanya Youra terpotong, saat menyadari Putra Mahkota yang saat itu berada di depannya, sedang bertelanjang dada menatapnya.


Youra tercengang, segera menarik tubuhnya pergi sedikit menjauh. "Aa-apa? Tidak, aku tidak mau."


"Aku tidak ingin pelayan melihat diriku. Hanya kau, yang boleh melihatnya."


Perkataan Putra Mahkota benar-benar membuat Youra menelan ludah. Otaknya entah kemana melayang sudah. Pikirannya menjadi lebih dewasa dari biasanya. Lelaki dengan visual sempurna yang sedang memberikan dirinya, adalah suaminya sendiri. Youra tak ingin mendengar perkataan yang lebih dalam lagi dari itu, tetapi kakinya berat untuk melangkah pergi.


Youra dengan berat hati mendekat, memegangi lengan sang suami erat-erat, membantunya untuk melangkah ke ruang pemandian. Putra Mahkota ingin menurunkan celananya, ingin membuka semuanya, tetapi Youra cekatan berbalik badan. "Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya Youra marah karena malu.


"Aku ingin mandi. Kenapa?"


"Kenapa kata Anda? Bagaimana bisa Anda membuka pakaian Anda di depan seorang wanita?" tanya Youra menekan.


"Aku membuka pakaianku di depan istriku, apa itu masalah?"


Mendengarnya, Youra hanya bisa menggigit bibirnya. "Kalau begitu mandilah sendiri, jangan memintaku!"


Putra Mahkota tersenyum, sangat senang melihat reaksi lucu sang istri. Ini pertama kalinya, Youra berbicara cukup lama bersamanya. Dimarahi sang istri sangat menyenangkan baginya. Saking bahagianya, rasa sakit yang luar biasa itu membuatnya lupa. Putra Mahkota masuk ke dalam bak pemandian itu dengan perasaan senangnya, dengan celana panjang yang masih bersamanya. Belum lama ia merasa senang, tiba-tiba Youra menorehkan kembali luka yang begitu dalam di hatinya.


"Jangan pernah berpikir aku melakukan ini karena aku menginginkannya. Sudah kukatakan bahwa aku melakukan ini sebagai ucapan terima kasihku kepada Anda."


Putra Mahkota sangat sesak, ia keluar dari bak pemandian itu tertatih-tatih dengan tubuh basahnya sangat marah, menarik tubuh Youra untuk berbalik memandangnya, kembali memeluknya erat.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan menyakitiku lagi!" Penuh emosi, Putra Mahkota bergetar mengeluarkan air mata di kedua sudut matanya.


Tak perlu pikir panjang, Putra Mahkota langsung saja membungkukkan tubuhnya sedikit, mendaratkan bibir indahnya di atas bibir Youra yang berisi. Youra memberontak, mendorong tubuh Putra Mahkota dengan sekuat tenaga, hingga Putra Mahkota yang lemah terdorong menjauh. "Apa Anda benar-benar tidak waras?!"


Suaminya tampak sangat frustasi saat bibirnya dengan terpaksa didorong pergi menjauh. "Maafkan aku," kata Putra Mahkota dengan raut kecewa yang dalam, beranjak menuju bak pemandian itu lagi.


Namun, jantung Youra yang berdebar kencang membuatnya kembali sadar. Itu suaminya, dia punya hak untuk melakukannya.


Youra menarik kembali tubuh suaminya untuk kembali menoleh padanya, menjinjitkan tubuhnya, dan..


Dia berlari cepat keluar dari kediaman Putra Mahkota itu, setelah mengecup bibir sang suami.


Apa aku sudah gila?


***


Hingga malam tiba, Pangeran Yul belum juga kembali ke kediamannya. Ara masih duduk di dalam biliknya dengan gaun pengantin yang berat itu menunggu lama. Dia terus saja berlari ke pintu untuk melihat apa suaminya sudah tiba atau belum, tetapi sampai saat itu, suaminya tak kunjung pulang ke rumah. Perasaannya sangat cemas, takut terjadi sesuatu yang buruk pada sang suami.


Selang beberapa waktu, setelah sekian lama menunggu, tampak dari gerbang utama kediaman mereka seorang lelaki dibantu oleh dua orang pelayan datang ke rumahnya. Ara cepat-cepat berlari tanpa alas kaki keluar dari biliknya. "Pangeranku!" teriaknya saat menyadari siapa yang pulang.


Ara mendekat, mencium bau arak dan parfum wanita begitu menyengat dari tubuh suaminya. Menampar keras dirinya menjadi sangat terluka. Bahkan di malam pertama mereka, dia harus menyaksikan kebenaran yang menyakitkan. Fakta-fakta baik yang orang katakan soal Pangeran Yul hanya sebuah tipu muslihat dan kebohongan. Dia baru menyadari satu hal, bukan Putra Mahkota yang suka bermain wanita di rumah bordil (tempat hiburan malam) seperti yang dikatakan orang-orang, tetapi kenyataannya, suaminya lah pria hina itu. Suaminya, Pangeran Yul.


Ara mencoba bersikap tenang, tak boleh menunjukkan kekecewaan itu di depan banyak orang. Dia paham, suaminya terkenal memiliki akhlak yang mulia. Dia harus membantu untuk menutupi aib dan kebenaran itu dari banyak mata.


**


Di dalam bilik mereka, Ara menangis sejadi-jadinya. Sementara Pangeran Yul tertawa cukup keras, menyakiti hati istrinya. "Kenapa kau menangis?" tanya Pangeran Yul.


Ara menarik kerah suaminya itu, "Tega sekali Anda melakukan hal sekeji ini di malam pertama kita? Tidakkah Anda menghargaiku sebagai istri?" bentak Ara sambil menangis.


"Ah iya, kau benar. Ini malam pertama kita ya? Kemarilah sayang, kemarilah."


Pria mabuk itu terus saja menarik-narik tubuh istrinya, hingga wanita itu terbaring ke atas ranjang. "Cantik sekali istriku ini, benar-benar pilihan raja." Tangannya yang lancang langsung saja mendarat di seluruh titik vital sang istri.


"Pangeran apa yang Anda lakukan?!" teriak Ara menggeliat saat tangan itu dengan lancang menerobos masuk ke balik gaunnya.


"Bukankah ini malam pertama kita?" Pangeran Yul membuka pakaiannya, menindih tubuh sang istri yang tak berdaya.


Ara menangis mendapatkan perlakuan kasar dan menjijikkan dari suaminya yang mabuk berat.


"Kenapa kau menangis, sayang?" tanya Pangeran Yul mengusap-usap rambut Ara yang berantakan.


Plak!


Ara melayangkan tamparan hebat di pipi suaminya. Tamparan itu di sambut tawa cekikikan Pangeran Yul yang kegirangan.


"Beginikah kelakuan seorang pangeran pada istrinya?!" teriak Ara menangis keras.


Pangeran Yul tak peduli seberapa marah sang istri. Dia terus saja tanpa etika memainkan insting buasnya di malam pertama mereka. Menyakitkan, bagi seorang wanita bangsawan yang sangat mengenal moral dan etika, itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


***


__ADS_2