
Para menteri keluar dari aula pertemuan bermuka masam. Tak satupun dari mereka membawa senyum atau tawa setelahnya. Putra Mahkota benar-benar menunjukkan kekuasaannya, sebagai pewaris tahta.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menuntut pengembalian hukum yang selama ini berlaku. Baru sekali muncul saja sudah sok sekali dia."
"Kalau begini caranya, bisnis kita tidak akan berkembang dengan baik. Keuntungan yang kita rasakan selama ini akan berkurang."
Bahkan setelah rapat itu selesai, mereka tetap tidak menerima kenyataan itu dengan baik. Keputusan sepihak yang dibuat Putra Mahkota merugikan bagi mereka. Hal ini menyebabkan mereka memikirkan cara lain untuk tidak membiarkan Putra Mahkota semakin berkuasa. Tak lama setelah asik bergulat dengan emosi, sekretaris negara mendekat kepada para menteri.
"Apa yang diputuskan Putra Mahkota adalah langkah yang baik. Bahkan diawal pertemuan kita, beliau memberikan kesan yang baik," sanggah Sekretaris Negara.
"Anda mengatakan hal seperti itu, karena Anda orang terkaya setelah raja di negeri ini, kan? Coba Anda berada di posisi kami, aku sangat yakin Anda tidak akan menerima semuanya dengan mudah."
Berkali-kali mereka melayangkan protes dan keluh kesah secara personal, hingga Perdana Menteri Han yang muak hengkang dari tempat itu secepatnya. Di depan istana, Perdana Menteri Han tak sengaja berjumpa dengan putranya, Jun. Dia terus saja berjalan melewati ayahnya, tak sedikitpun menyapa.
"Apa yang sudah kau ajarkan pada Putra Mahkota?" tanya Perdana Menteri Han, menghentikan langkah putranya.
Jun berbalik, menoleh pada sang ayah. "Apa maksud Anda?" tanya Jun kebingungan.
Perdana Menteri Han berjalan mendekat pada putranya. Wajahnya sangat serius dan penuh keyakinan. "Putra Mahkota, murid kesayanganmu itu ... beliau berani mengubah sistem aturan yang pernah berlaku. Tapi menurutku, yang menarik bagimu bukan tentang itu. Putra Mahkota, menutup kasus percobaan pembunuhan yang terjadi padanya. Bukankah itu sangat aneh?" Perdana Menteri Han tersenyum, menatap lekat mata putranya itu. "Aku kasihan padamu. Dia akan berusaha keras untuk memiliki anak dari wanita yang kau cintai. Kau pasti sangat terluka jika itu benar-benar terjadi."
"Tutup mulutmu!" sanggah cepat Jun. Dia menarik kerah ayahnya, dan mengangkatnya sedikit tinggi. "Itu tidak akan terjadi. Kau dan mulut busukmu ini akan berhenti mencampuri urusanku!"
Reaksi putranya membuat Perdana Menteri Han tertawa keras. Saking kerasnya, hampir semua orang yang ada di sekitar sana melihat mereka lekas.
__ADS_1
"Jika kau terus saja mencampuri urusanku, aku tidak akan tinggal diam lagi," ancam Jun pada ayahnya sendiri, sebelum akhirnya melepaskan genggaman itu dan pergi dari sana penuh emosi, sangat cemburu.
***
(Kediaman Putri Shin)
Putri Shin duduk di tangga rumahnya, meratapi nasib malang yang melandanya. Adik dan ayahnya jatuh sakit, tetapi dia tak mendapatkan izin untuk datang ke istana. Ha Sun sang suami yang baru saja tiba, langsung mendekat setelah meletakkan beberapa peralatan di halaman rumah.
"Tuan Putri, apa ada hal yang mengganggu?" tanya sang suami. Para pelayan sedikit menjauh memberikan kebebasan pada pasangan yang tak saling mencintai itu. Mereka saling tersenyum, berharap Putri Shin dan Ha Sun bisa mengenal lebih jauh.
"Aku ingin sekali ke istana, tapi aku tidak di izinkan untuk berkunjung dalam waktu dekat," sedih Putri Shin. Ha Sun tersenyum, dia duduk tepat di sebelah Putri Shin. "Tidak masalah. Nanti jika sudah diizinkan, aku yang akan langsung mengantar putri ke istana. Oh iya, bagaimana kalau kita masak?" Ha Sun mencoba menghibur sang istri, seperti biasanya.
Putri Shin yang dari tadi hanya tertunduk sedih, akhirnya mengangkat wajah cantiknya. "Memasak? Maafkan aku. Aku tidak pandai memasak," balas Putri Shin di tengah-tengah kesedihannya. Ha Sun tertawa cekikikan, kali ini kelihatan begitu bahagia. Putri Shin menatap wajah pemuda yang saat itu terus saja tertawa di depannya.
Sangat sakit, tawa itu membuat Putri Shin lebih terluka. Dia tidak mencintai pria yang sudah menjadi suaminya. Tak pernah pula memperhatikannya. Namun, sang suami selalu memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja, selalu saja bersikap baik padanya.
Melihat wajah ceria itu, Putri Shin ikut tersenyum. "Apa Anda pernah menangis?" tanya Putri Shin. Ha Sun berhenti tertawa, lalu menoleh padanya, "Tentu saja. Aku selalu saja menangis, tapi seorang pria tidak boleh terlihat cengeng. Apalagi di depan istrinya," jawab Ha Sun membalas tatapan Putri Shin.
Kedua pasang mata itu tiba-tiba saja bertemu, ada kedamaian yang tercipta disana.
"Maafkan aku, karena belum siap menjadi istri yang baik untuk Anda. Anda selalu saja memasak untukku, merapikan pakaianku, memberikan aku tempat untuk bernaung. Apa aku tidak melukai perasaan Anda?" Sambil menitikkan air mata, Putri Shin mencoba tersenyum pada suaminya.
Ha Sun meraih pipi cantik itu, menghapus air mata yang mengalir disana. "Tidak. Aku akan baik-baik saja, agar Anda tetap dalam keadaan baik."
__ADS_1
Jawaban Ha Sun menimbulkan satu titik aneh dalam hatinya. Ingin rasanya Putri Shin menangis, berteriak menolak takdir dan melupakan Jung Hyun secepatnya. Pria seperti Ha Sun, terlalu baik untuk disakiti. Hal itulah yang membuat Putri Shin semakin bersedih. Cinta dan politik, terlalu menyiksa untuk dijalani. Mereka hidup dibawah perintah kerajaan, menjalani sisa takdir yang menyakitkan. Cinta selalu saja diabaikan di zaman itu. Mereka percaya bahwa pernikahan politik jauh lebih menguntungkan dan membuahkan kebahagiaan. Padahal kenyataan selalu berbeda, banyak hati yang terluka karenanya.
***
(Istana Putra Mahkota)
Keputusan sepihak Putra Mahkota, sangat berbahaya bagi hidupnya sendiri. Para menteri akan menolak dan membuat petisi. Nyawa Putra Mahkota akan lebih berbahaya lagi. Namun, bukannya khawatir, Putra Mahkota malah senyum-senyum sendiri setelah sampai di dalam biliknya. Dia berdiri di depan cermin itu, kembali menyentuh bibirnya.
"Yang Mulia, tidakkah keputusan Anda itu akan membahayakan diri Anda?" wajah khawatir Kasim Cho merubah raut wajahnya menjadi lebih lucu dari biasanya. Putra Mahkota tertawa kecil, berbalik menghadap sang pelayan. "Aku tahu," jawabnya mantap.
"Mengapa Anda melakukannya?" tanya Kasim Cho sekali lagi.
"Aku tidak menyukai pria-pria tua munafik itu. Mereka pengkhianat yang selalu saja berpura-pura memikirkan rakyat. Jika aku mati karena keputusanku, aku tidak akan menyesal."
"Yang Mulia, bisakah Anda tidak mengaitkan segalanya dengan kematian? Hamba takut mendengarnya," balas Kasim Cho.
Putra Mahkota kembali menatap wajahnya yang tampan melalui cermin. "Tidak ada yang abadi di dunia ini, tapi ..." Putra Mahkota kembali menyentuh bibirnya. "Dia membuatku ingin tetap hidup selamanya."
Kasim Cho mendekat, menyentuh lengan Putra Mahkota. "Begitu bahagianya hamba melihat Anda seceria ini Yang Mulia. Setelah ini, apa Anda ingin kembali menemui permaisuri Anda?" tanya Kasim Cho.
Sambil membuka jubahnya, sudut kanan bibir Putra Mahkota membentuk simpul senyum yang luar biasa manisnya. "Sebagai seorang pria, kurasa kau sangat memahami isi pikiranku. Hanya saja, aku tidak ingin dia bosan melihatku."
...----------------...
__ADS_1
Note: Untuk pembaca yang udah kasih support, vote, komen, like, saran, makasih banyak semuanya 💞Semoga panjang umur, sehat selalu, rezeki dan jalan rezekinya selalu mudahkan. Yuk, Aminin sama-sama. Aamiin 💞 Semoga kalian semua suka dan betah baca novel ini. Maaf kalau episode kali ini kurang menarik. Ikuti terus kisah selanjutnya, untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Author akan berusaha memperbaiki jalan cerita ini imenjadi lebih menarik kedepannya.