Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putra Mahkota Hadir


__ADS_3

Pagi yang indah, burung berkicau seolah melambai pada tiap-tiap sudut istana. Wangi udara pagi yang tenang dan sejuk menjernihkan pikiran siapa saja yang menghirupnya. Tepat di hari itu,  untuk merayakan hari kelahirannya, Pangeran Hon memutuskan untuk tidak melakukan perayaan apapun dan lebih memilih untuk mengalihkan uang perayaan untuk amal.


Sebagai gantinya, ia meminta izin pada raja untuk melakukan permainan bola kaki di lapangan istana dan bersenang-senang bersama para siswa Biro Minat Bakat terutama keluarga kerajaan. Acara itu, juga dihadiri oleh seluruh keluarga kerajaan termasuk Putri Shin.


Para dayang dan pelayan istana yang sudah jauh hari mempersiapkan penyambutan, tergesa-gesa berbaris rapi menuju lapangan untuk menyambut para putra terbaik negara itu. Tak perlu menunggu lama, para putra terbaik negara itu tiba di lapangan lengkap dengan pakaian latihan mereka. Pesona dan wibawa para putra terbaik negara yang sudah tumbuh dewasa itu, menjadi pesona yang jauh lebih indah dari sebelumnya.


“Waahh….,” kagum para dayang melihat para pemuda-pemuda yang baru saja tiba itu.


“Seandainya saja, Tuan Muda Lee Young itu masih hidup, dia pasti akan jauh lebih tampan daripada mereka. Jika mereka saja sudah semenakjubkan ini, apalagi dia? Sayang sekali, padahal aku sangat ingin masuk ke istana, supaya bisa melihat wajahnya secara langsung,” kata seorang dayang.


“Apa, dia benar-benar sudah tewas?” tanya salah seorang lainnya.


Mereka melirik kiri dan kanan, kemudian mendekat satu sama lain.


“Aku dengar begitu. Kasihan sekali mereka. Dengar-dengar mereka semua dibunuh oleh kelompok perampok. Bukankah itu sangat aneh?”. 


Para dayang itu saling berpandangan, hingga salah seorang dayang yang pendiam angkat bicara.


“Hei, aku menemukan fakta yang aneh".


Dayang pendiam itu membuka suara, hingga mereka tampak sangat dempet agar tak seorang pun yang mendengar.


“Jika itu memang perampokan, kenapa pamanku menemukan perhiasan mewah milik Nyonya Eri terbengkalai di rumah mereka? Bukankah perampok itu bekerja untuk mengambil barang berharga?” tambahnya, membuat seluruh mata dayang yang bergosip itu terbelalak.


“Benarkah?” tanya mereka tak percaya.


Sang dayang mengangguk, kemudian menyentuh kuduknya yang merinding.


“Sejak hari itu, orang-orang bilang rumah mantan penasehat negara itu berhantu. Mereka sering melihat bayang hitam sekelebat melintas melewati tiang-tiang rumah itu. Tidak hanya itu, pamanku juga bilang, benda berharga milik Nyonya Eri itu selalu berpindah-pindah setiap harinya. Sejak saat itu, tak ada satu orangpun yang berani memasuki rumah mereka,” tambahnya sekali lagi.   


Tak lama setelah itu pembicaraan mereka berakhir saat melihat para opsir berlarian memberikan keamanan untuk Putri Shin yang ditutup wajahnya dengan selendang tipis, untuk menghindari tatapan para pemuda. Kemudian, beberapa diantara mereka juga memberi pengawalan kepada kedua pangeran yang baru saja tiba. Pangeran Yul dan Pangeran Hon berjalan beriringan. Saat itu, Pangeran Hon yang tampak sangat bahagia tersenyum lepas kepada semua orang. 


“Terimakasih sudah menyambutku dengan baik".


Sapaan Pangeran Hon, tersenyum pada para dayang membuat mereka semua meleleh, terperangah karena sangat bahagia.


“Tidak hanya tampan, dia juga sangat manis dan baik hati,” puji salah seorang dayang yang matanya tak berhenti menatap Pangeran Hon terkesima. 


“Berikan hormat pada Yang Mulia!!” teriak pengawal istana berdiri di depan para pemuda. 


Saat itu, seluruh orang membungkuk hormat pada beliau, sampai beliau duduk pada singgasananya. Wajah raja tampak sangat bahagia, melihat bagaimana para pemuda sangat antusias mengikuti perayaan hari itu. Raja berdiri, mempersilakan sang putra untuk membuka acara. Pangeran Hon tersenyum pada sang ayah, tetapi senyuman itu buyar saat matanya tertuju pada singgasana Putra Mahkota yang kosong. 


Pangeran Hon terus menatap tempat kosong itu tak berkedip. Wajahnya yang awalnya tampak gembira berubah murung seketika. Pangeran Yul yang menyadari perubahan itu pada sang adik menatap lama wajahnya. 


“Kau harus memulainya,” bisik Pangeran Yul pada sang adik.

__ADS_1


Pangeran Hon membalas tatapan sang kakak, kemudian ia balik menoleh kepada para pemuda. Saat itu, matanya sibuk berkelana di seluruh sisi istana, berharap Putra Mahkota hadir meski hanya sekedar melihatnya sebentar. Saat matanya sibuk menjelajah, pandangannya berhenti kepada Putri Shin yang sedang menatapnya. 


Pangeran Hon maju satu langkah di hadapan sang ayah.


“Yang Mulia Ayahanda, bisakah kita menunggu Putra Mahkota sebentar?” tunduknya hormat pada sang ayah.


Ratu yang mendengar perkataan sang putra, seketika terhapus langsung senyum yang terukir dari sudut bibirnya. 


“Jangan menunggu lagi. Dia tidak akan datang,” jawab ratu.


Wajah raja tampak sedih.


“Baik, kita akan menunggunya”.


Para pemuda tampak sangat heran, karena Pangeran Hon tak kunjung memulai permainan. Ia terus menatap gerbang yang tertutup. 


Tba-tiba, Jun yang baru saja tiba membuat lamunan para pemuda berhamburan. 


Saat itu, Jun hampir saja tersandung di hadapan raja, yang membuat hampir seluruh pemuda menertawainya. Raja yang melihat itu menjadi kesal.


“Jangan pernah menertawakan guru besar istana!” teriak raja, membuat seluruh pemuda terdiam.


Semua orang terkejut saat melihat Jun diberikan tempat duduk istimewa dekat dengan raja, sementara Won Bin yang juga hadir disana, tersenyum sinis.


Mereka semua terus menunggu Putra Mahkota, tetapi Putra Mahkota tak juga tiba. Hingga akhirnya, Pangeran Hon yang putus asa tertunduk lesu.


Saat itu, seluruh pemuda sudah berkumpul di lapangan dan sedang pemanasan. Pangeran Hon tertunduk tak semangat, membuat ratu yang menyaksikannya menjadi geram. Sementara itu, Pangeran Yul menatap tajam sang adik.


“Apa kau bodoh? Dia tak akan datang, apa sampai disini kau mengerti?”.


Ia menarik tangan adiknya dan mengajaknya bermain.


“Kau tim merah, aku tim biru. Karena kita sudah dewasa, aku pikir ini akan lebih seru, hingga aku tak harus mengalah lagi darimu,” ledek Pangeran Yul.


Tiba-tiba,


“Berikan hormat kalian, pada Yang Mulia Putra Mahkota!!” teriak seorang opsir dari jauh.


Saat itu, seluruh orang terkejut. Para pemuda, para menteri, ratu, Putri Shin, terutama raja terbelalak tak percaya.


Pertama kalinya, bintang yang redup itu mencoba menerangi.


Pangeran Hon tersenyum bahagia tak percaya.


“Apa masih ada satu tempat lagi untukku?” tanya Putra Mahkota dari kejauhan.

__ADS_1


Saat itu, orang-orang terdiam dan tidak bertindak apapun. Mereka sangat tidak percaya, untuk pertama kalinya Putra Mahkota hadir di tengah-tengah mereka. Mereka terus memandang wajahnya. Beberapa diantara mereka tampak ketakutan, beberapanya lagi tampak penasaran. Lantaran, wajah Putra Mahkota itu, ditutupi topeng emas. 


Saat itu, Putra Mahkota berdiri dengan tubuh tegapnya yang gagah. Dengan pakaian merah bermotif naga keemasan ia berjalan bersama pengawal pribadinya, Jung Hyun. Para dayang istana terkejut terheran-heran. Putra Mahkota, tampak lebih gagah, lebih tinggi, lebih kekar, dan lebih tegap daripada pangeran yang lain.


Perawakan sang Putra Mahkota tampak lebih berwibawa, dengan rambut panjang yang terikat menyisakan sedikit poni lurus di jidatnya. Tak ada yang bisa dilihat, selain punggungnya yang nampak lebar, dengan dada bidang dan sorot matanya yang sangat tajam. Pakaian mewah yang dia gunakan menambah pesonanya saat itu. Ia berjalan dengan pandangan yang lurus kedepan. Ia tak menoleh sedikitpun kemana-mana. Ya, tampak sangat angkuh dan sombong.


“Ii-itu, apa itu.. Putra Mahkota yang hina itu?” bisik orang-orang di sekitar.


“Bukankah itu sangat keren? Dia keren sekali. Jika Lee Young masih hidup, apa mungkin dia akan tumbuh dengan tubuh seperti itu?”.


“Hei, diamlah. Kita tidak pernah tahu, apa yang ada di balik topeng itu. Bukankah kalian juga mendengar, wajah Putra Mahkota itu buruk rupa? Dulu dia terkena penyakit kulit ganas. Ah sudahlah, sudah berhentilah berbicara. Dia itu sangat kejam, kita bisa mati jika dia mendengar semua ini”.


Orang-orang bergosip seputar pandangan mereka terhadap Putra Mahkota untuk pertama kali.


Akhirnya, permainan bola kaki itu dimulai. Saat itu, Pangeran Yul yang masih tidak percaya berusaha mengontrol dirinya dan bersikap biasa-biasa saja. Pangeran Hon tak berhenti menatap sang kakak karena sangat bahagia. 


Saat itu, Putri Shin yang juga dapat menonton pertunjukan itu, tersenyum sambil meneteskan air mata, karena dia melihat Jung Hyun tampak bahagia bermain bersama para pemuda.


Pangeran Hon mencoba mengambil alih bola, dan mengopornya pada Putra Mahkota yang saat itu berada satu tim dengannya. Namun, secara tak sengaja, salah seorang pemuda yang tampak sangat bersemangat tak sengaja menyilang kaki Putra Mahkota, membuatnya terjatuh ke tanah. Jung Hyun dan para pangeran berlari mendekat membantu Putra Mahkota berdiri. Jatuhnya Putra Mahkota ini,  membuat orang-orang disana cemas Putra Mahkota akan murka.


“Maaf, maaf, maafkan aku Yang Mulia…," tunduknya bersimpuh di kaki Putra Mahkota memohoh ampun.


“Cepat! Tangkap anak ini. Dengan beraninya dia mencelakai Putra Mahkota! Bukankah sudah ada aturan, dilarang menyentuh Putra Mahkota?!” teriak Pangeran Yul.    


Para opsir berlari hendak menangkap pemuda itu, tetapi..


“Lepaskan,” perintah Putra Mahkota.


“Ini biasa terjadi dalam permainan”. Putra Mahkota memutar tubuhnya ke hadapan para pemuda.


“Aku tidak membunuh karena kalah dalam permainan,” tambahnya.


Putra Mahkota kemudian menoleh kepada para menteri.


“Aku hanya ingin memenggal kepala orang-orang yang bergosip tentangku sedangkan aku masih berdiri disini,” sindirnya. 


Mendengar perkataan Putra Mahkota, seluruh yang ada di tempat itu terdiam bergidik takut. Mereka semua saling berpandangan dan tidak sedikit diantara mereka saling menyalahkan. Sementara itu, Jung Hyun terus memandangi Putra Mahkota .


Putra Mahkota berjalan menuju Pangeran Hon.


“Selamat bersenang-senang, Adikku,” katanya kemudian pergi meninggalkan lapangan bersama Jung Hyun.


Pangeran Hon, tampak bahagia meski sang kakak hanya sebentar bermain bersamanya. 


**

__ADS_1


__ADS_2