Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Aku Tidak Menggoda


__ADS_3

Dayang Nari masih dalam penahanan. Sekalipun dia tak pernah membuka suara. Sampai kapanpun, dia akan menunggu Putra Mahkota dan Youra kembali ke istana, tak peduli jika dia harus mati sebelum itu. Setelah berhari-hari melalui banyak penyiksaan, Dayang Nari sama sekali tak terlihat lemah. Dia bahkan semakin kuat hari demi hari. Begitu pula dengan Jung Hyun.


Semakin lama, Ratu Kim semakin bertindak gila. Dia bahkan memerintahkan para pengawal untuk menggeledah kediaman Putra Mahkota. Menangkap Kasim Cho dan menudingnya sebagai pengkhianat istana. Berita mengerikan ini akhirnya sampai di telinga rakyat. Dalam satu malam, kehidupan rakyat tanpa pemimpin membuat Ratu Kim mulai berkuasa. Beliau memegang semua kendali, termasuk melakukan pemecatan terhadap beberapa menteri dan pelayan. Hal ini menyebabkan kacaunya istana karena para pendemo mulai bergerak. Sementara itu, panggilan penuh hormat dikirim ratu untuk putra sulungnya, Pangeran Yul.


Hanya saja setelah berhari-hari surat itu dikirim, Pangeran Yul tak kunjung datang ke istana. Beliau selalu berdalih sedang sibuk dengan kegiatan lain.


Pangeran Hon juga tak pernah lagi datang ke istana. Sementara Putri Shin masih dengan pendiriannya, memaksa Ratu Kim melepaskan Jung Hyun dari penahanan.


***


Youra berjalan terhuyung-huyung. Dia tampak sangat kelelahan tetapi menolak untuk beristirahat. "Istriku, mari berhenti sejenak."


"Youra, kau tidak dengar perintah Suamimu?" Sekali lagi Young memperingatkan. "Apa kakak tidak lihat tadi? Panah itu hampir saja mengenai Suamiku. Pokoknya kita harus sampai secepatnya ke kaki gunung." Youra berjalan lebih cepat dari kakak dan suaminya. Mereka hanya tercengang melihat gadis bertubuh imut itu mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, melangkah lebar berdiri di paling depan. Putra Mahkota menahan senyumnya saat melihat sang istri begitu bersemangat. "Lee Youra, kau terlalu jauh dariku. Jangan membuatku marah." Putra Mahkota hanya terus memandanginya.



Tanpa memandang wajah suaminya, Youra mengurangi langkahnya. Putra Mahkota tersenyum riang. Mimpinya menjadi nyata. Setelah sekian lama menantikan perhatian dari sang istri, Youra akhirnya memberikan perhatian itu. Meski sebenarnya Putra Mahkota belum begitu puas, karena Youra terkadang masih terlihat cuek padanya.


Suara serigala yang melolong, membuat langkah Youra terhenti. Dia berbalik dan berlari ke sisi suaminya. "Dasar penakut," ledek Young saat melihat adiknya memegangi erat lengan Putra Mahkota. Putra Mahkota senyum-senyum sendiri. Dia berjongkok di depan Youra, mengejutkan Young secara tiba-tiba.


"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya Young.

__ADS_1


"Lee Youra, naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu." Putra Mahkota memberikan bidang hangatnya kepada Youra yang memang sangat membutuhkan.


"Yang Mulia, Anda tidak perlu melakukan itu. Biar adikku, aku yang menggendongnya," Young menimpali, khawatir dengan kesehatan Putra Mahkota.


"Tidak perlu, Suamiku. Aku masih kuat berjalan kaki." Youra berusaha keras mempertahankan diri untuk tidak menyusahkan suaminya.


"Naik. Ini perintah." Sekali lagi Putra Mahkota mengeluarkan perintah yang tidak dapat dibantahnya. Youra pelan-pelan naik ke bidang hangat yang wangi itu. Dia terlihat sangat senang karena digendong oleh suaminya. Putra Mahkota terlihat sangat gagah dan kuat. Bahkan tubuh Youra dapat dengan mudah dia bawa kemana-mana.


Youra melingkarkan tangannya di leher Putra Mahkota. Hingga pria yang amat sangat mencintainya itu merasa sangat bahagia. "Yang Mulia, apa aku berat?" tanya Youra, menyandarkan wajahnya di pundak kanan suaminya. "Tidak sama sekali, Sayang. Sangat empuk, dan nyaman." Putra Mahkota menahan tawanya.


"Ssst ... jangan bicara tentang itu dulu. Nanti Kakak dengar. Aku malu."


Youra menepis. Tak peduli kakaknya bicara apa, yang penting saat ini dia sedang bersandar di punggung hangat seorang pangeran tampan. "Suamiku, kenapa Anda wangi sekali?" bisik Youra pelan, mengendus di leher suaminya. "Youra, jangan menggodaku sekarang," balas Putra Mahkota.


"Menggoda? Aku tidak menggoda. Apa aku terlihat menggoda?" Youra semakin mengencangkan pelukannya. "Apapun yang ada padamu, membuatku tergoda." Wajah Putra Mahkota selalu dengan raut seriusnya setiap kali dia berkata. "Cium aku," perintahnya semakin terdengar lucu. "Apa?"


"Youra, jangan membantah. Cium aku." Putra Mahkota malah menjadi marah karena Youra tidak melakukannya dengan cepat. "Aku malu, nanti kakak lihat," bisik Youra pelan. "Youra, cepatlah." Putra Mahkota terus saja memaksa.


"Apa kau tidak lihat? Aku sedang menerangi jalan, mana mungkin aku melihatnya. Aku juga akan menikah nanti, jangan meledekku." Young malah membuat Youra gelagapan. Young berdiri di depan, membawa obor untuk menerangi jalan mereka.


Youra akhirnya mengecup pipi kanan suaminya. Sebentar saja, sudah membuat wajahnya merah merona. "Yang lama." Putra Mahkota merasa tidak puas. Youra menjadi kesal, hingga ia mencubit pipi suaminya. "Ah ... "

__ADS_1


Young langsung menoleh pada mereka, setelah mendengar suara Putra Mahkota yang lebih mirip seperti mendesah. "Apa yang terjadi?" tanya Young. "Dia mencubit pipiku. Dia kejam sekali." Putra Mahkota malah mengadukan sikap Youra pada kakaknya. "Anda benar-benar sama seperti kakak. Menyebalkan!" Youra akhirnya mencium pipi suaminya berkali-kali. Putra Mahkota mengeluarkan suara tawa, yang selama ini tidak pernah mereka dengar. Youra tersentuh. Ternyata membuat Putra Mahkota tertawa sangat mudah, tapi dia tidak pernah memperlakukannya dengan baik.


Hal itu membuat cinta Youra semakin menggebu-gebu. Dia lantas memeluk mesra suaminya. Meraba-raba dada hangat itu. Putra Mahkota menolehkan wajah pada Youra yang hendak mencium pipinya sekali lagi, tetapi tak sengaja bibir mereka malah bertemu. Youra yang malu, menyembunyikan wajahnya di leher sang suami.


"Youra ... apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Putra Mahkota yang saat itu sedang memandangi langit. Youra mengangguk manja. "Hm, sangat," balasnya memeluk erat.


Youra bertingkah manja pada suaminya. Ada-ada saja yang dia lakukan. Mulai dari memainkan rambut suaminya, menurunkan kancing dada Putra Mahkota, bahkan sampai menutup wajah Putra Mahkota dengan telapak tangannya yang tak seberapa. Putra Mahkota sampai memerah karena terlalu bahagia. Dia menggigit kelingking Youra, saat gadis itu meraba-raba bibirnya.


"Sayang, kalau kau ingin aku meninggalkan tahta, aku akan melakukannya. Kita bisa hidup sederhana disini, dan punya banyak anak. Aku akan mencari pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan kita." Putra Mahkota membuka percakapan yang semakin serius. Youra terharu mendengarnya, dia tidak menyangka bisa memiliki suami sesempurna Putra Mahkota. Satu dari satu juta orang bahkan belum tentu memilikinya. Dia menyandarkan manja tubuhnya. "Kemanapun Anda pergi aku akan mengikuti Anda dengan senang hati, Suamiku." Youra kembali mencium pipi suaminya.


***


Mereka terus saja melanjutkan langkah itu menuju tempat persembunyian terakhir yang akan ditempati Youra dan Putra Mahkota untuk sementara waktu sebelum kembali ke istana.


Berbeda dengan Youra dan Putra Mahkota, Jun sedang merana di kediamannya setelah mendengar kepergian Youra. Dia meminum banyak arak hingga mabuk berat. Perdana Menteri Han, memandangi wajah putranya yang malang dengan iba. Cinta memang tak pernah salah. Yang salah adalah saat memaksakan kehendak pada jalan yang sudah terputus. Jun bukan pria sembarangan. Dia sangat kaya, sangat pintar dan bijaksana. Dia juga punya wajah yang tampan. Ramah, dan murah senyum. Dia masih punya banyak waktu untuk mencari tambatan hati yang jauh lebih baik.


Hanya saja, ketika cinta itu sudah berlabuh, mungkinkah dapat mudah dilepas begitu saja? Sama halnya dengan Hong Jin-Yi. Gadis paling cantik di negeri itu bahkan hanya terus bersedih hati setelah mendengar kabar kematian Putra Mahkota. Dia tak berniat untuk menikah, dan masih berharap bisa menjadi selir pria yang sangat dia cintai itu. Meski dia tahu, Putra Mahkota tidak akan mau memiliki selir karena cintanya kepada permaisuri yang luar biasa.


Saat yang bersamaan, Han Ji-Eun sang selir yang dibebaskan oleh ratu mendatangi peramal untuk mengetahui keberadaan Putra Mahkota. Dia yang sedang tergila-gila pada Putra Mahkota tidak mau menyerah begitu saja. Dia sangat yakin lelaki yang dia cintai itu masih hidup untuk kembali kepadanya.


"Yang Mulia, tidak peduli seberapa lama Anda menolakku. Aku akan menyingkirkan wanita itu, hingga hanya aku satu-satunya ratu. Satu-satunya yang memilikimu." Han Ji-Eun meneteskan air mata, saat semua kalimat itu tercoret dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2