
“Aku ingin menemui Kak Jun”.
Youra merapikan gaunnya dengan semangat, berdiri diam di depan cermin tersenyum bahagia.
“Nona, anda benar-benar cantik sekali,” puji Nana sambil menata helaian demi helaian rambut Youra.
“Kau mirip sekali dengan teman lamaku, suka sekali memuji, padahal punya wajah lebih cantik dariku," jawab Youra tertunduk lesu, teringat kembali akan kenangan lama bersama sahabatnya, Ara.
Nana mengetahui itu, ada luka yang belum sembuh di dalam sana, yang sedang berusaha merakit kembali agar terbiasa.
“Nona?” panggil Nana setelahnya.
“Hmm?”.
Youra sibuk memperhatikan penampilannya, bersolek sedikit, memoles serbuk kemerah-merahan di sekitar pipinya yang berisi.
“Bukankah seharusnya anda datang ke istana untuk mendengarkan pengumuman?” tanya Nana merapuhkan senyum Youra pagi itu.
Youra memutar tubuhnya, berbalik menghadap Nana. Dia mundur pelan, menyandarkan tubuhnya di depan cermin.
“Aku ini hanya mencintai Kak Jun, apa kau lupa?”.
Youra tersenyum licik, menyentuh rambut indahnya yang sudah ditata cantik.
“Aku sudah menghancurkan ujianku, aku pasti tidak akan terpilih,” jawabnya sangat percaya diri.
Raut wajah Nana tampak tak berbohong, dia ikut tersenyum, tapi senyum itu sangat hampa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
“Kau tak perlu khawatir. Aku tak perlu datang ke istana untuk mengikuti seleksi itu. Menjijikkan sekali,” tambah Youra.
Youra kembali berbalik, sekarang sedang melihat dirinya yang berada di dalam cermin.
“Kenapa, dia memberikan perintah menjijikkan itu? Dia pikir, semua gadis ingin menjadi istrinya? Lebih baik mati, daripada menjadi istri pria hina yang sudah membunuh kakakku,” katanya menatap tajam dirinya sendiri melalui cermin.
Youra menarik napasnya dalam-dalam. Pelan-pelan dia hembuskan lembut sembari menepuk kedua pipinya.
“Aku pergi dulu”.
Youra segera melangkah keluar dari kediamannya, dipasangnya sepatu cantik bermotif dandelion di kaki indahnya. Dengan anggun, menghirup udara pagi yang segar, mencoba menembus lebih banyak kebahagiaan. Segera menemui Jun, dan berbaikan dengannya adalah keinginannya saat itu juga.
Namun, kebahagiaan itu berubah sengasara. Tandu mewah milik istana, terparkir rapi di depan kediamannya. Ada Jung Hyun disana, sedang menunduk hormat padanya.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Youra geram.
Ia merasa tak terkendali, mencoba menarik lebih banyak energi agar terbiasa dengan situasi yang mengganggunya.
“Maaf Nona Youra, Putra Mahkota meminta kami untuk menjemput anda,” jawab salah satu mereka.
Pria bodoh itu,
“Aku tidak bisa datang, aku punya kesibukan,” jawabnya.
Youra segera melangkah, namun berbalik dan tersenyum ringan.
“Pergilah dari sini, untuk apa menjemput wanita tak terpilih,” protesnya.
Para pengawal itu saling berpandangan, tampak tak setuju. Mereka berbaris rapi, menghalangi langkah Youra yang hendak pergi.
__ADS_1
Jung Hyun maju beberapa langkah hingga sampai di hadapan Youra. Sambil membungkuk dia menyerahkan sebuah kotak.
Youra yang tak dapat menahan diri, segera membuka kotak itu dengan kasar. Di dalamnya, ada sebuah kertas berwarna biru keemasan, membuatnya kaget tak percaya. Segera ia membuka kertas itu, menjatuhkan kotaknya tanpa rasa bersalah.
Melakukan segala cara,
Youra membatu di tempat, harapan yang telah ditata rapi olehnya seolah runtuh tanpa jejak.
“Aku.. terpilih?” tanyanya tak percaya.
.. agar aku terpilih.
Dengan wajah yang tampak sangat menyesal, hanya dengan beberapa kali berkedip, Jung Hyun seolah sudah memberikan jawaban.
“Bagaimana bisa?”.
Youra yang sangat tidak percaya seolah kehilangan arah. Napasnya sesak tak terima. Tentang harapan dan cita-cita yang telah disusunnya, membuatnya hampir saja putus asa. Namun, ia berusaha mengembalikan semangat itu. Masih ada ujian selanjutnya, dia bisa menghancurkannya lebih. Begitu pikirnya, saat menemui takdir yang tak pernah diharapkan.
Dia terpaksa mengikuti ujian pemilihan istri Putra Mahkota karena aturan istana. Dengan segala cara, berusaha menyingkirkan dirinya sendiri dari ujian itu. Bertindak bodoh adalah jalan satu-satunya.
Aku harus cepat-cepat tersingkir.
**
Embun pagi bahkan belum sempat berpamitan, tetapi para utusan istana sudah datang menjemput Youra untuk mengantarnya kembali ke istana. Hari itu, pengumuman hasil ujian sebelum seleksi terakhir pemilihan istri Putra Mahkota. Kabar baik, tentang siapa yang lebih dulu tersingkir, menyemangati Youra yang tak putus asa.
Rasa percaya diri yang tinggi menemani langkah Youra saat memasuki tandu istana itu. Disingkirkan secepatnya, harapan soal itu kini berada dalam genggamannya. Gadis bertubuh mungil itu tersenyum angkuh, bukan karena merasa terpilih, tapi sangat bahagia karena kemungkinan terpilih tak lebih besar dari sebutir pasir yang dibelah tujuh.
Wajah-wajah cemas para gadis jadi sarapan pagi paling lezat bagi Youra, sesaat setelah dia tiba disana. Semua orang tampak penuh harap. Ya, Youra juga begitu. Hanya saja, harapan itu sedikit berbeda. Jika akan menikah, hanya Jun yang akan menikah dengannya, tak akan ada seorangpun selain itu, apalagi Putra Mahkota. Begitu keingingannya.
Tak lama, wajah cemas para gadis berubah lebih buruk dari itu. Seolah nyawa berada di ujung pedang, begitu raut wajah mereka saat melihat ratu berjalan sangat anggun, kali ini tanpa Ibu Suri. Ratu mendekati singgasananya dan segera memutar tubuh menghadap para gadis muda itu. Seorang dayang datang, berlari kecil, tapi tetap menjaga keseimbangannya. Dayang itu membawa beberapa kertas mahal bermotif bunga sakura. Sangat wangi, bahkan Youra yang berbaris cukup jauh bisa menghirup kesegarannya.
Kepala dayang mengangkat wajahnya, membusungkan sedikit dadanya di belakang ratu. Dia menarik napasnya dalam-dalam, segera membacakan hasil keputusan ratu.
Youra tersenyum, tak ada wajah khawatir sedikitpun yang tergambar. Sangat tenang, tanpa peluh dan harap. Dia berdiri cukup tegap, tak seperti para gadis lain yang menyatukan kedua telapak tangan mereka, Youra malah menyilangkan tangan di belakang tubuhnya. Sangat santai.
Dayang itu, mulai berbicara. Mengumumkan satu persatu dari tiga nama kandidat besar yang terpilih untuk mengikuti seleksi terakhir.
“Hong Jin-Yi!”.
Bagus. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang terpilih.
Nama itu, membuat Youra semakin percaya, bahwa pemilihan ini tak akan berpihak padanya. Jawaban asal dan tanpa popularitas, ia bisa didepak secepatnya.
“Han Ji-Eun!”.
Melihat seluruh wanita terpilih, pikirnya, harapan itu akan segera terwujud. Dia tak akan terpilih, menyenangkan.
Aku tak ingin menjadi istri pria menjijikkan itu.
Kepala dayang terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengumumkan nama terakhir yang lulus.
Aku sudah bersiap untuk segera pergi, tapi..
“Lee Youra!”.
Harapan yang telah kususun, melebur hingga tak bersisa.
__ADS_1
Suara itu, menghancurkan seluruh asa yang telah ditatanya rapi. Harapan untuk tersingkir, seolah lenyap bersama embun pagi itu. Dia terdiam, membatu di tempat melotot tajam kepada sumber suara itu.
“Tidak mungkin, aku pasti salah dengar,” batinnya meyakinkan.
Kepala dayang itu turun satu langkah dari anak tangga, menyingkirkan kertas mewah itu dari hadapannya. Kemudian kembali berteriak.
“Siapa diantara kalian yang bernama Lee Youra? Segera maju ke depan, berkumpul bersama para kandidat yang terpilih!”.
Youra terpaku lemas. Tangannya bergetar geram. Keadilan memang tidak ada di negeri ini, pikirnya. Jawaban asal dan kertas kosong yang dikumpulkannya seolah tak berguna. Dia bergelut dengan dirinya sendiri. Diantara keributan dan pandangan dengki dari para gadis yang sedang mencari-cari keberadaan Lee Youra, mengusik jiwanya yang sudah sangat hancur. Dia tampak tak terima. Melangkah pelan setelah menoleh ke seluruh gadis. Di hadapan kepala dayang dia membungkuk hormat.
Seluruh gadis menatapnya tajam, tampak tak terima. Youra tidak mencolok, hasil ujian yang sangat berantakan, penampilan biasa tanpa persiapan. Semuanya biasa saja, selain gaun pemberian Putra Mahkota yang terpaksa dipakainya. Youra melangkah berat, mengingatkannya kembali pada sang kakak yang telah tewas membuatnya meremuk erat gaun indah itu.
“Berikan hormatmu pada Yang Mulia Ratu,” perintah kepala dayang.
Api itu bergejolak dalam dirinya. Ingin segera berteriak dan memberontak.
Kak Jun..
Tampak sangat sesak, ia berusaha melepaskan jeratan kebencian dalam dirinya dengan berpura-pura tersenyum senang.
Aku harus bagaimana?
“Terimakasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia”.
Youra tersenyum berat, membungkuk hormat tak terima. Ia mengepal erat kedua tangannya. Ratu tersenyum angkuh menundukkan sedikit tubuhnya, berusaha menyebrangi tatapan kebencian yang ada pada Youra.
“Siapa namamu?” tanya ratu.
Youra menarik dalam napasnya sekali lagi, berusaha membohongi diri adalah jalan keluar satu-satunya. Berpura-puralah tersenyum, setidaknya sampai ujian terakhir dan segera pergi. Begitu harapannya.
“Aku…”.
Youra yang saat itu sedang bertengkar hebat dengan egonya, berusaha sedikit untuk mengalah.
“Aku Lee Youra, putri mendiang penasehat negara,” jawabnya mantap.
Ratu terbelalak kaget. Sekarang mata itu sedang melotot tajam tak terarah karena tidak percaya. Melihat ekspersi ratu, Youra yang kebingungan akhirnya tersenyum kecil. Bukan, bukan senyuman, itu sebuah seringai penghinaan. Tatapannya seolah mengatakan kepuasannya setelah meledek ratu tentang keberadaan dirinya yang masih hidup.
“Aku masih hidup dan berdiri di depan anda, adalah karena ratu yang tak berhenti berdoa untuk rakyat”.
Ratu menyentuh dadanya. Ia meremuk bagian-bagian gaun itu dengan kasar.
“Pelayan!” teriaknya.
Seluruh pelayan mendekat, membantu ratu yang hampir saja tak sadarkan diri. Mereka membopong ratu yang sangat lemah. Sementara itu, Youra yang masih terus membungkuk tersenyum leluasa, sangat puas.
Han Ji-Eun, salah satu kandidat terpilih menatapnya tajam. Pandangan penuh curiga itu sekarang tertuju pada Youra. Dia berlari, berusaha membantu ratu bangkit, tapi Youra masih di tempat dengan senyum sinisnya.
Hong Jin-Yi menatap Youra. Namun, tatapan itu sangat berbeda. Bukan kebencian, tapi sesuatu yang tak terpikir olehnya. Setelah membungkuk hormat pada Youra, Hong Jin-Yi melangkah pergi.
Sesaat setelah mereka semua tak ada di tempat karena mengantar ratu menuju kediamannya, Youra bangun dari hormatnya. Masih dengan senyuman yang sama. Dia menatap tajam ke arah mereka semua, sesekali menoleh pada Hong Jin-Yi yang sudah cukup jauh darinya.
“Dengan begini, secepatnya aku bisa pergi,” gumamnya.
Youra kemudian merapikan seluruh gaunnya. Dia menata kembali puing-puing harapan itu dan segera membawanya keluar dari istana. Harapannya, setelah ini dia akan bebas lalu menikah dengan Jun, pujaan hatinya.
__ADS_1