
Sejak hari itu, Youra tak bisa tidur dengan nyaman. Bahkan tak bisa makan dan minum dengan baik. Dia terus saja membuka jendela kediamannya untuk melihat istana Putra Mahkota dari kejauhan. Sayang sekali, sejak malam itu dia tak pernah melihat suaminya lagi berdiri di balkon istana. Bahkan, tak pernah lagi mendengar soal sang suami keluar dari biliknya. Belakangan, seluruh urusan istana diserahkan kepada Putra Mahkota. Kerugian yang ditimbulkan badai harus segera ditanggulanginya. Karena sibuk, mungkin itu satu-satunya alasan bagi Putra Mahkota untuk tak pernah lagi terlihat di sekitar kediamannya.
Youra terus saja berdiri di jendela biliknya, tak berpaling sedikitpun untuk melihat istana Putra Mahkota.
"Yang Mulia?" panggil Dayang Nari padanya. Youra melongok, menyadarkan dirinya yang hampir melewati ambang kesadaran.
"Hari ini, ada panggilan khusus dari ratu. Istana wanita akan mengunjungi raja yang sedang sakit."
Youra mengangguk, merapikan gaun indahnya. Sesekali ia kembali berpaling ke istana Putra Mahkota.
"Yang Mulia, Anda ingin berjumpa dengan Putra Mahkota?" tanya Dayang Nari. Youra menampik, "Tidak. Tidak akan."
Setelah selesai bersiap-siap, Youra diantar para pelayan untuk menemui ratu. Mereka harus melewati lapangan pribadi milik Putra Mahkota terlebih dahulu. Youra menoleh, mendengar suara orang-orang dari lapangan pribadi sang suami. "Apa Putra Mahkota ada di lapangan?"
Pertanyaan Youra berhasil melukis senyum di wajah para pelayannya. Sejak hari itu, Putra Mahkota bahkan tak lagi mengunjungi kediamannya, atau sekedar mengirimkan bunga. Tak ada kontak atau pertemuan lagi.
"Yang Mulia, Putra Mahkota sedang berada di lapangannya. Apa Anda ingin berkunjung sebentar?" tanya seorang dayang.
Youra menepis, segera melengos untuk memperlihatkan keangkuhannya kembali. "Tidak. Aku hanya penasaran, tumben sekali dia tidak mengunjungi kediamanku padahal bisa pergi ke lapangan," kilah Youra.
Para pelayan hanya bisa saling berpandangan, "Jika Anda ingin berjumpa dengan beliau, Anda memiliki hak untuk mengunjungi istananya, Yang mulia."
"Tidak," pungkas Youra cepat.
Tak terasa, akhirnya mereka tiba di istana ratu. Gerbang itu dibuka lebar."Selamat datang Yang Mulia Putri Mahkota."
Seluruh pelayan dan opsir memberikan salam hormat pada Youra. Mereka mengiringi langkah Youra sangat istimewa melewati gerbang terakhir kediaman ratu, memperlihatkan seorang gadis lain yang sedang membungkukkan tubuhnya penuh hormat. "Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia," sapa gadis itu ramah.
"Ara?" panggil Youra pelan, merasa tak percaya bisa kembali berjumpa dengan sahabat masa kecilnya. Ara segera berdiri, memberikan senyuman terbaiknya. "Senang, Anda masih mengingatku," balas Ara.
__ADS_1
Sambil menangis, sudut senyum itu tercipta di wajah Youra. Bahagia sekali baginya dapat bertemu kembali dengan sahabat lama. Dia maju beberapa langkah untuk memeluk Ara, tetapi Ara lekas menghindar. "Maaf Yang Mulia, tidak baik urusan pribadi dibawa ke istana," timpalnya menyinggung perasaan Youra. Ara terus saja menundukkan pandangannya, sama sekali tak menunjukkan rasa senang.
"Ara, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu. Kau tidak merindukanku?" tanya Youra menaruh harap.
Belum lagi Ara menjawab, gerbang terakhir itu dibuka dengan hormat. Pelayan ratu, mengiring kedua menantu istana itu masuk menghadap ratu.
Ara dan Youra berdiri sejajar, membentuk pemandangan indah di dalam ruangan. Dua wanita berparas cantik itu kini sedang menghadap ibu mertua. Sama-sama menunjukkan rasa hormat mereka. "Senang bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia Ratu," sapa Ara sangat ramah. Ya, benar-benar seperti dirinya. Youra mendongkol. Tak sudi rasanya untuk menyapa ibu mertua yang selalu menginjak-injak kehormatannya. Akan tetapi, dia tetap berupaya untuk tak menunjukkan kebenciannya. Setidaknya, di depan sang sahabat. "Senang bertemu Anda, Yang Mulia Ratu," sapa Youra sama.
Para pelayan berdatangan, menghadirkan beberapa hidangan mewah untuk mereka. Suasana sangat hening, selama para pelayan menuangkan minuman hangat ke dalam tiap cangkir. Setelahnya, ratu langsung meraih tangan Ara, menyambutnya sangat bahagia.
"Menantu kesayanganku, kau benar-benar sangat cantik dan anggun. Putraku pasti sangat bahagia memiliki istri seperti dirimu," puji ratu apa adanya.
Saat mendengar pujian itu, Ara menarik panjang napasnya. Begitu menyakitkan baginya untuk terus berpura-pura memiliki keluarga bahagia. Dia memberikan segaris senyum tulus di wajah bulatnya. Menunjukkan betapa beruntungnya dia. Sama sekali tak memperlihatkan betapa sakit dan terluka hatinya. Youra merasakan sensasi aneh itu di diri Ara. Sahabatnya, tampaknya menyembunyikan sesuatu. "Tentu saja. Aku lebih beruntung memiliki suami seperti Pangeran Yul, Yang Mulia," balas Ara setelah berhasil mengalahkan rasa sakit itu.
Youra menatap mereka curiga. Baginya, tak ada lagi kebenaran di istana. Semua orang pandai dan ahli bersandiwara. Dia meraih porselin itu segera, tak sengaja menyenggolnya hingga mengenai gaun Ara.
"Putri Mahkota! Apa yang kau lakukan pada menantuku?!" teriak ratu. Beliau langsung menggeser meja makanan itu, meraih tangan Ara dan menyeka air yang tertumpah di gaunnya. Melihat reaksi ibu mertua, Ara tersenyum tipis. Sangat jelas, sang ratu lebih menyayanginya daripada Youra, sang Putri Mahkota.
Youra mengernyitkan dahi, melihat bagaimana sang sahabat tersenyum sangat senang melihatnya diteriaki.
"Putri Mahkota, minta maaflah kepada menantuku!" bentak ratu. Youra tercengang, wajah mereka berdua seolah sangat meremehkan. Dia terus menatap Ara yang sedang tersenyum palsu. Memperlihatkan bukti bahwa sang sahabat kini benar-benar sudah berbeda. Youra mengepal kedua tangannya, mengatur napasnya untuk bicara. "Maafkan aku," lugas Youra pada Ara.
"Kalau begitu, tuangkan teh ke dalam cangkir menantuku," tambah ratu kembali memerintah. Youra semakin tidak terima. Namun, dia mencoba untuk tidak gegabah. Ada banyak mata, yang sedang memperhatikannya. Tiba-tiba setelah asik berduel dengan seluruh emosinya yang memberontak di dalam jiwa, seorang tabib masuk ke dalam kediaman ratu.
"Aku membawakan seorang tabib terbaik di negeri ini. Dia juga sangat hebat dalam meramal."
Tabib itu duduk setelah memberikan salam hormat seperti biasanya. Dia duduk di hadapan kedua menantu itu. Saat dia menegakkan wajah untuk memandang wajah kedua menantu ratu, sang tabib terbelalak. Tertegun setelah sangat terperanjat. "Bencana," batinnya ketakutan.
"Ada apa tabib?" tanya ratu membuyarkan lamunan sang tabib. "Maaf Yang Mulia, hamba hanya terkejut melihat wajah cantik kedua menantu Anda."
__ADS_1
Tabib wanita bersusah payah menahan diri, sangat jelas dari sudut keningnya yang mulai berkeringat. Dia meraih tangan Ara lebih dahulu ragu-ragu. Wajah tegangnya memunculkan raut baru yang membuat semua orang terdiam, saling penasaran. Dia mengenggam tangan Ara, lalu tersenyum kemudian. "Tampaknya sebentar lagi menantu Anda yang satu ini akan mengandung."
Ara tertawa riang, menyentuh perutnya sangat tidak percaya. Tak menyangka, jika rahimnya akan ditumbuhi benih cintanya untuk Pangeran Yul. Dia memeluk ratu hangat, hingga ratu kelihatan sangat bahagia. Mereka terus saja bercengkrama setelahnya, mengabaikan hasil pemeriksaan Youra
Belum lagi tabib itu memeriksa, dia sudah menghapus satu persatu air mata yang menetes ke pipinya. Youra mematung, membisu tak sanggup bicara. Jantungnya berdebar, darahnya mengalir deras. Tak sanggup mendengar perkataan sang tabib yang kelihatannya menyedihkan, jelas dari raut wajahnya. "Ada apa?" tanya Youra gelisah. Tabib itu meraih tangan Youra, melirik sedikit pada ratu dan Ara yang tak memperdulikan.
"Anda menutup mata dari kenyataan."
Kalimat pertama yang keluar dari mulut sang tabib, membawa Youra terbang menuju luka lama yang menyakitkan. Tabib itu menekan tangan Youra dalam genggamannya.
"Takdir itu terikat satu sama lain, di ujung pedang yang Anda miliki."
Youra semakin kelabakan. Sepertinya ini tidak masuk akal, pikirnya. Dia menarik kembali tangannya, memberengut tak percaya. "Aku tidak mengerti," pungkasnya.
"Janganlah memancing langit menjadi murka, Yang Mulia." Tatap sang tabib penuh harap. Menonjolkan beberapa titik kecemasan diwajah tua itu, sebelum akhirnya kembali menyambung kalimatnya. "Segera menyadarkan diri, sebelum semuanya terlambat."
"Kesalahan Anda, akan merenggut segalanya." Tabib itu melotot pada Youra. Wajahnya penuh keyakinan, dengan buliran air mata yang menambah kesan mengerikan.
Ratu kebingungan, "Tabib, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya ratu membelenggu Youra di tempat. Tabib menghapus air matanya cekatan, segera tersenyum pada ratu. "Menantu istana yang satu ini, sangat sehat dan subur."
Ratu menyipitkan matanya. "Apa dia tidak hamil?" tanya ratu pada tabib. Tabib kembali memandang Youra, dia menggeleng pelan setelahnya. "Untuk saat ini, sepertinya belum Yang Mulia."
Jawaban tabib memunculkan aura kemenangan pada ratu. Ratu seperti mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka, ratu dan Ara saling melempar pandangan satu sama lain, sebelum akhirnya bersuara. "Dia memaksa istana untuk menunjuk wanita pilihannya sebagai istri. Setelah mendapatkan keinginannya, dia tidak memberikan yang terbaik. Aku rasa, surat perintah dari raja itu harus aku setujui," ujar ratu.
Youra tersentak, coba meraba-raba maksud perkataan ratu yang aneh. Tabib itu menundukkan wajahnya, sesekali melirik Youra. Ratu menuangkan teh kembali di cangkir Youra. "Beberapa waktu yang lalu Putra Mahkota menolak perintah ini sekuat tenaga, tetapi sepertinya dia mulai menyetujuinya karena keadaan juga paksaan dari rakyat dan raja." Ratu mendekatkan wajahnya di hadapan Youra, menyipitkan mata untuk menerawang lebih dalam apa yang sedang Youra pikirkan.
"Memilihkan selir untuk Putra Mahkota adalah jalan satu-satunya. Bukankah begitu, Putri Mahkota?" Sudut bibir ratu naik ke atas, menciptakan seringai menusuk yang entah kenapa, begitu menghantam keras perasaan Youra.
"Apa maksud Anda?" Tubuh Youra bergetar, ingin sekali menampar wajah ratu sombong itu dengan sekuat tenaga. Ratu melengos, memberikan isyarat agar sang tabib dan para pelayan keluar. Ara masih di tempat, membungkam mulutnya untuk tak bersuara.
__ADS_1
"Kau keberatan suamimu menikah dengan wanita lain?" tanya ratu tersenyum sinis.