
Kabar tentang pernikahan Putri Shin yang akan segera dilangsungkan, mematahkan hati Jung Hyun menjadi potongan puing tak berbentuk. Terduduk lemah diantara hampir seluruh tawa bahagia orang-orang di istana, menghancurkan seluruh mimpi itu seketika. Setiap malam, biasanya Jung Hyun berada di istana untuk sekedar memeriksa dan beristirahat. Namun, malam itu terasa sangat menyakitkan baginya, hingga ia tak tahan untuk secepatnya beranjak dari sana.
Dia beranjak dari kediaman Putra Mahkota, menuju sebuah lapangan kosong tak jauh dari istana. Disana, dengan seluruh kekecewaan dan kesedihan yang ditanggungnya, Jung Hyun menarik pedang dari sabuknya. Terus saja memainkan pedang itu untuk sekedar berlatih, tetapi terus pula melukai dirinya. Seorang diri, di malam yang gelap gulita bersama pedangnya, sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Sementara itu, di kediamannya, Putri Shin bermanjakan tangis dan kesedihan. Putri Shin menyilang kedua lututnya, memangku wajah cantiknya yang sembab karena menangis sepanjang malam.
"Dayangku, aku tidak ingin menikah dengan pria itu," ucap Putri Shin terisak. Kemilau butiran air bening terus saja mengalir di pipinya. Sang pelayan datang mendekat, mencoba untuk memberikan sedikit pengertian.
"Tuan Putri, mohon pikirkan kesehatan Anda. Makanlah dengan baik dan tidur yang cukup. Apa yang dilakukan Yang Mulia Raja, adalah yang terbaik untuk Anda," bujuk sang pelayan.
Pelayan pribadi Putri Shin mendekat, membawakan semangkuk nasi dan lauk. "Tuan Putri, makanlah dulu. Anda sangat pucat," kembali sang pelayan membujuk.
Putri Shin terus saja terisak, tak mau mengangkat wajahnya. Napasnya sesak, dengan keringat dingin yang mengalir di kulit putihnya. Dia terus saja bermandikan air mata, tampak sangat menyedihkan.
"Tuan Putri, Jung Hyun pasti tidak ingin Anda menangis seperti ini. Dia pasti ingin Anda sehat dan tampil cantik di hari pernikahan Anda," kata sang pelayan sebelum akhirnya bersimpuh di sebelah Putri Shin.
"Jung Hyun itu, dia pasti ingin Anda menuruti perkataan Yang Mulia untuk menerima pernikahan ini dengan lapang dada. Setelah Anda menikah, dia juga pasti akan bertemu dengan jodohnya. Semuanya sudah punya jalan masing-masing." sekali lagi sang pelayan memberikan pengertian.
Putri Shin mengangkat wajahnya, seketika menghentikan air mata itu mengalir. "Aku tidak ingin dia menikah dengan perempuan lain. Aku tidak ingin, dia menjadi milik orang lain." Jawaban Putri Shin benar-benar mengejutkan sang pelayan.
Putri Shin membaringkan tubuhnya miring. Membiarkan air mata itu terus mengalir dengan sendirinya. Di atas ranjang itu, ia terus saja menyentuh ruang kosong yang ada di sebelahnya. Penuh khayal, berharap Jung Hyun lah yang akan tidur bersamanya suatu hari nanti.
Putri Shin semakin tersedu-sedu menyadari takdir yang tak berpihak padanya. Selang beberapa detik kemudian, tiba-tiba Putri Shin duduk dan menghapus air mata itu. Ia turun dari ranjangnya tergesa-gesa menuju pintu biliknya.
"Tuan Putri, Anda ingin kemana dengan pakaian seperti ini?" tanya sang pelayan cemas. Bagaimana tidak, gaun malam itu memiliki potongan yang rendah di bagian punggung dan dadanya, sangat tipis, memperlihatkan betis dan pundak indahnya.
Cepat-cepat sang pelayan mengambilkan jubah indah untuk menutupi tubuhnya, tetapi Putri Shin sama sekali tak peduli. Ia berlari keluar dari kediamannya, membiarkan jubah itu terlepas.
"Tuan Putri!!" para pelayan mengejar Putri Shin.
Putri Shin terus saja berlari mengangkat sedikit gaunnya, memperlihatkan betapa indahnya kaki jenjang itu. Dia tak memakai alas kaki. Gelang kakinya berbunyi indah di malam yang gelap itu.
Sekuat tenaga, Putri Shin berlari sekencang mungkin agar para pelayan tak dapat mengejarnya. Saking kencangnya ia berlari, ikatan pada rambut panjangnya itu terlepas, hingga rambut pekat yang tebal dan indah itu tergerai bebas kian-kemari.
Tak peduli jika kakinya terluka oleh serpihan batu, atau terinjak beling. Yang jelas, dia hanya terus berlari dengan keadaan yang menyedihkan seperti itu. Dengan deraian air mata.
**
"Jung Hyun!"
__ADS_1
Tak asing, suara seorang wanita mengejutkan Jung Hyun yang hendak menutup pintu kediamannya. Jauh di depan sana, tampak seorang wanita bergaun putih berlari ke arahnya.
"Tuan Putri?" bisiknya tak percaya.
Segera Jung Hyun memutar tubuhnya berbalik. Menggelengkan kepalanya berusaha sekuat tenaga menyadarkan diri, menjangkau imajinasi yang tidak-tidak di malam hari bukanlah keinginannya. Namun, tampak sangat nyata.
Putri Shin yang di kira mimpi itu rupanya benar-benar datang. Menyentak tubuhnya yang kedinginan dengan pelukan dari belakang. Menghasilkan hasrat berlebih yang mengguncang jiwanya. Ia segera berbalik ke belakang. Menoleh pada sentuhan halus di tubuhnya.
"Putri Shin?" suara lembutnya membuat Putri Shin kembali menangis.
Jung Hyun diam saja. Tak membalas pelukan itu sama sekali, hanya terpana melihat kecantikan murni yang dengan bebas dapat dilihatnya.
"Jung Hyun bawa aku lari." terisak di pelukan sang kekasih membuat Putri Shin tak dapat menahan diri meminta Jung Hyun untuk membawanya pergi.
Jung Hyun melepaskan pelukan sang kekasih. "Tuan Putri, apa yang Anda lakukan disini?" tanya Jung Hyun tanpa memandang wajah Putri Shin.
Perlakuan Jung Hyun membuat Putri Shin kecewa. Ia bergerak, maju sedikit berdiri tepat di depan Jung Hyun dan menariknya masuk ke dalam bilik kecil itu.
"Apa hanya aku, yang sangat menginginkanmu?" tanya Putri Shin dengan nada kecewanya yang menyedihkan.
Mendengar pertanyaan itu, Jung Hyun terpaku di tempat. Ia segera menutup pintu bilik itu, lalu berbalik kembali pada Putri Shin. Ia melangkah pelan ke arah sang kekasih, dengan tatapan mata tajam yang menenggelamkan.
"Siapa yang bilang, aku tidak menginginkanmu?" tanya Jung Hyun pelan sejengkal dekat dengan wajah kekasihnya.
Putri Shin menyentuh wajah Jung Hyun dengan tangan kanannya. Tatapan cinta itu penuh harap.
"Bawa aku pergi bersamamu. Kita bisa pergi dari istana ini jauh-jauh." bercucuran air mata, Putri Shin terus saja memohon.
Jung Hyun menghapus air mata itu dengan tangannya. Dia bahkan merapikan rambut Putri Shin yang acak-acakan dengan lembut.
"Putri," panggil Jung Hyun. Putri Shin terus saja menatap wajah sang kekasih lekat.
"Jangan mencoba menggodaku lagi." tambah Jung Hyun setelahnya.
Putri Shin hanya diam saja, terus menyentuh wajah sang kekasih yang kini hanya sejengkal di atas wajahnya. Tak lama, ia menutup matanya. Tampak sangat pasrah.
Kini, mata Jung Hyun beralih pada bibir merah berisi, yang terdiam pasrah di bawah tubuhnya. Jung Hyun tersenyum, menyentuh bibir indah itu dengan jempolnya. Setelahnya, dia mencium dahi Putri Shin cukup lama.
Kecupan itu, membangunkan Putri Shin dari mimpinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Putri Shin, penasaran.
Jung Hyun tak menjawab. Dia berdiri membuka jubahnya lalu menutupi tubuh kekasihnya yang sangat terbuka itu.
"Datang ke rumah seorang pria dengan pakaian seperti ini, akan sangat berbahaya," jawab Jung Hyun tersenyum.
"Aku hanya akan memberikannya padamu," jawab Putri Shin penuh harap.
Jung Hyun tersenyum. Dia menatap wajah kekasihnya itu erat-erat. Ia meraih tangan Putri Shin dan membantunya kembali duduk. Di belakang tubuh Putri Shin, Jung Hyun mengangkat rambut sang putri dan mengikatnya kembali.
"Kembalilah ke istana."
Jawaban Jung Hyun menampar hebat Putri Shin yang sangat putus asa. Segera Putri Shin membalikkan tubuhnya, duduk menghadap Jung Hyun. "Kau tidak menginginkanku sama sekali?" tanyanya lirih sekali lagi.
Jung Hyun berdiri, melepaskan tatapan itu secepatnya. Putri Shin ikut berdiri membuka jubah sang kekasih yang menutupi indah tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Putri Shin menarik pedang dari sabuk Jung Hyun. Mengarahkan pedang itu ke lehernya sendiri.
"Tuan Putri, apa yang Anda lakukan?" Jung Hyun tampak sangat khawatir. Ia melangkah mendekat, tetapi Putri Shin malah semakin menempelkan pedang itu di lehernya.
"Bukankah kau tidak menginginkanku?" tanya Putri Shin sambil menangis. Jung Hyun tak banyak bergerak, segera ia menarik sang kekasih dan melepaskan pedang itu secepatnya.
"Putri Shin, jika hanya aku yang mati setelah membawamu pergi, maka akan aku lakukan."
Tak lama, sang pelayan datang menjemputnya.
"Tuan Putri, apa Anda ada di dalam?" tanya pelayan pribadinya sedikit mengendap-endap. Jung Hyun kembali menutupi tubuh kekasihnya itu dengan jubah miliknya.
"Aku sangat mencintai Anda. Maka, tetaplah hidup untukku," bisik Jung Hyun. Dia menggendong kekasihnya itu, segera mengantarkannya keluar dari biliknya untuk kembali dibawa para pelayan.
"Jung Hyun," panggil Putri Shin sebelum pintu itu dibuka. Segera Jung Hyun menatap Putri Shin, tersenyum kemudian.
"Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan di istana?"
Pertanyaan Putri Shin mengejutkan. Jung Hyun segera membawa Putri Shin masuk ke dalam tandu rahasia yang dikirim pelayan istana.
"Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya. Jika ada yang memintamu untuk menyakiti adikku, tolong lupakan saja."
Entah kenapa, Putri Shin tampak menaruh curiga. Sebelum Jung Hyun menjawab, segera setelahnya tandu itu cepat-cepat ditutup agar tak ada seorangpun yang mengetahui kepergian Putri Shin dari istananya.
"Maafkan aku, Putri Shin."
__ADS_1