Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kekecewaan


__ADS_3


Tak ada yang lain, selain betapa aku sangat menyesal karena begitu terlambat. Segala luka dan bencana di negeriku, semuanya karena aku dan kebodohanku. Saat ini, aku sangat takut kehilangannya. Kehilangan pria, yang terus saja menghujaniku dengan cinta. Dia selalu saja berbohong sama seperti kakakkku. Selalu saja memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja. Padahal, luka dan racun di tubuhnya akan terus mengancam nyawanya. Jika ini memang kesempatan bagiku, kuharap langit tak mengambilnya dariku.


Aku jatuh cinta. Aku sangat jatuh cinta.


***


"Permaisuriku." Sekali lagi Putra Mahkota memanggil, mengajak Youra untuk kembali ke dalam gubuk.


Jung Hyun dan Lee Young tercengang hebat, hingga mereka saling melempar tatap. Putra Mahkota bersikap manja pada istrinya di hadapan banyak orang. Jelas sekali, betapa dia sangat mencintai wanita yang sudah lama menyakitinya itu.


Ditemani sebuah lilin, Youra menghidangkan makan malam untuk suaminya di dalam gubuk sempit yang hanya diisi oleh mereka berdua. Wajahnya sangat lucu karena khawatir yang berlebihan. "Yang Mulia, Anda benar-benar belum memakannya kan? Aku tidak bisa mempercayai kakakku. Dia dulu sering berbohong."


Putra Mahkota tidak memberikan tanggapan. Hanya sibuk memandangi seluruh wajah permaisurinya. "Lee Youra, boleh aku tanya satu hal?" Putra Mahkota meraih dagu sang istri, memandangi wajah cantiknya tiada henti. Youra mengangguk.


"Apa yang ada pada Guru Jun, tetapi tidak ada padaku?" tanya Putra Mahkota. Sangat kasihan, dia masih saja merasa istrinya masih belum mencintainya. "Mengapa Anda menanyakan itu, Yang Mulia?" tanya Youra cekatan.


"Aku membutuhkan cintamu. Aku tidak butuh yang lain." Putra Mahkota membelai mesra wajah Youra, menarik ikatan rambutnya hingga terlepas.


Ini sudah malam, Youra tahu apa yang sedang suaminya pikirkan. Gerak-gerik dan wajah tampan Putra Mahkota benar-benar telah menggodanya. "Yang Mulia, mari makan dulu. Setelahnya, kita akan berbincang." Youra menanggapi sikap itu dengan baik, tidak seperti yang lalu.


"Sayangku, apa aku yang telah kau pilih?" Sekali lagi Putra Mahkota mengeluarkan pertanyaan menohok sembari terus saja memainkan rambut Youra. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar Youra mengatakan cinta. Hanya saja, entah mengapa Youra tak pernah mengatakannya hingga detik itu.


"Yang Mulia, makanannya sudah habis. Sekarang kita makan obatnya." Youra mengurus suaminya dengan baik. Memanjakannya dengan baik pula. Namun, dia tak pernah tahu, Putra Mahkota masih terluka karena sikapnya yang terkesan biasa saja setelah sekian kali menyakiti. Masih berharap istrinya mengungkapkan cinta.


"Lee Youra, kau mengkhawatirkan aku?" tanya Putra Mahkota lembut. Youra gemas sekali karena sang suami sangst cerewet padanya. Dia memandangi wajah tampan itu hampir menangis.


"Sangat, aku sangat mengkhawatirkan Anda." Youra tiba-tiba melabuhkan kepalanya di dada bidang suaminya. Memeluknya erat. "Aku tidak akan meninggalkan Anda lagi. Aku tidak mau meninggalkan Suamiku lagi." Youra memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari tubuh wangi suami yang selama ini dia abaikan.

__ADS_1


"Sayangku." Putra Mahkota memeluknya lebih erat. "Meskipun kau berbohong, aku akan tetap mempercayaimu," sambungnya ikut memejamkan mata.


Tiba-tiba kemesraan itu berakhir lantaran suara teriakan dari salah satu pengawal membuat Youra segera bangun dari tempat ternyaman di muka bumi itu. Wajah Putra Mahkota langsung berubah urung karena Youra mengangkat tubuhnya dari pelukan. Tak berbicara apapun dan keluar begitu saja meninggalkannya lagi.


***


"Apa yang terjadi?" tanya Youra pada salah seorang petugas.


"Yang Mulia, Anda harus pergi dari sini bersama Putra Mahkota. Beberapa pengawal istana sedang ditugaskan kemari. Tuan Muda Lee Young memantau dari luar, dan Jung Hyun sedang menyelinap ke istana. Kami akan mengiring Anda dan Putra Mahkota pergi dari sini sekarang juga." Tergesa-gesa mereka berlarian. Youra kembali ke dalam gubuk.


"Suamiku, kita berdua harus pergi dari sini. Istana sedang mencari kita." Youra merapikan dan mengemas seluruh pakaian suaminya saat itu juga. Disaat genting seperti itu, Putra Mahkota masih sempatnya membuang waktu hanya untuk memandangi wajah istrinya. Dia membantu Youra berkemas. Gaun-gaun Youra dan beberapa helai pakaian dalam yang berada di dalam lemari yang sama dengan Putra Mahkota membuat Putra Mahkota tertawa senang. "Istriku, apa kau mengganti pakaian disini?" tanyanya.


Youra terkejut, pertanyaan tidak masuk akal itu membuatnya malu. "Sayang sekali, aku tidak melihatnya waktu itu," keluh Putra Mahkota. Youra memerah. Wajah malunya menghancurkan suasana yang mestinya membuat mereka takut. Tapi Putra Mahkota malah mengubahnya menjadi manis.


Youra mendekati suaminya, duduk di antara kedua kaki Putra Mahkota yang menekuk lutut. Youra memasangkan penutup wajah itu dengan cara yang paling manis. "Hanya aku, yang boleh melihat wajah tampan Anda, kan?" ledek Youra bangga.


Youra terus saja mendongak ke atas, memandangi sorot mata tajam suaminya yang berwaspada. Perasaan risau itu merasa sangat nyaman, karena berada dalam perlindungan suaminya.


***


Pangeran Hon datang ke istana, sedang melakukan pertemuan dengan ibunya. "Yang Mulia Ibunda, mohon tarik kembali titah Anda untuk menangkap Ratu Lee. Beliau tidak mungkin melarikan diri dari istana. Beliau sangat bertanggung jawab." Pangeran Hon melayangkan protes terhadap ibunya, dengan seribu hormat.


"Pangeran Hon, aku sudah muak mendengarnya. Jangan membahasnya lagi." Ratu meraih secangkir teh hijau dan segera meneguknya.


"Yang Mulia, sebenarnya kebencian apa yang membuat Anda seperti ini? Sebagai seorang ibu, apa Anda tidak kasihan kepada Putra Mahkota dan keturunannya?" tanya Pangeran Hon.


Ratu Kim cekikikan mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut putra bungsunya. "Hon, permaisuri yang kau kira hamil itu sudah membohongi kita semua. Dia tidak mungkin hamil anak Putra Mahkota. Jika memang dia mengandung, dia pasti mengandung anak pria selingkuhannya."


"Maksud Anda?" tanya Pangeran Hon tak percaya. "Dia tidak mencintai Putra Mahkota. Lagi pula, siapa yang mau mencintai anak hina itu? Mungkin sudah saatnya kau mengetahui kebenaran." Ratu menuangkan teh ke dalam cangkir Pangeran Hon, sebelum kembali melanjutkan.

__ADS_1


"Putra Mahkota, bukan anakku. Dia adalah anak ratu sebelumku. Anak dari seorang wanita, yang sudah merebut suamiku."


DEG


"Maaf Yang Mulia, aku tidak mengerti maksud Anda." Pangeran Hon berupaya memantapkan diri untuk tidak bertindak lebih.


"Ratu Kim sudah lama mati. Akulah, selir yang diangkat menjadi ratu di istana ini. Selir Seol, istri pertama raja yang tidak pernah dia cintai, adalah aku. Ratu negeri ini."


Semua perkataan itu seolah sedang mengais seluruh isi otak Pangeran Hon. Sangat terpukul mendengar kenyataan yang tidak pernah ingin dia ketahui. Benar, jika ibunya seorang penipu, itu artinya dia juga seorang penipu.


"Hon, bukan hanya aku dan kau, kakakmu juga akan ikut mati jika kau berani membantah perintahku, dan mencoba untuk mengatakan semua ini pada orang lain. Jadi, berhati-hatilah setiap kali bertindak."


Air mata itu sudah berkumpul pada kedua sudut mata Pangeran Hon. Pantas saja. Pantas saja sang ibu selama ini berusaha keras menyingkirkan Putra Mahkota.


"Ibu ... " Pangeran Hon mencengkram jari-jemarinya, tak lama setelah itu dia melanjutkan kalimatnya yang menyakitkan. "Aku pikir, Anda adalah seorang ibu yang dapat aku percaya." Tiba-tiba air mata menetes dari pelupuknya, tanpa ekspresi. "Ternyata aku salah. Anda lah orang yang seharusnya dibenci oleh rakyat."


"Hon!"


"Yang Mulia Ratu Kim, kurasa ini akhir pertemuan kita. Aku tidak pernah ingin dilahirkan, dari rahim seorang ibu yang membuang cinta ... demi tahta semata." Pangeran Hon lekas beranjak dari tempatnya, berjalan keluar dari kediaman sang ibu.


Ratu Kim terpaku pada ujung kilauan pedang yang menusuk jantungnya. Kalimat yang tidak pernah dia pikirkan, datang dari bibir putra bungsu yang selama ini sangat manja kepadanya. "Hon!" Ratu Kim kembali memanggil Pangeran Hon. Namun, Pangeran Hon tetap kokoh melangkah pergi.


"Aku tidak pernah ingin dilahirkan, dari rahim seorang ibu yang membuang cinta ... demi tahta semata."


"Mengapa dia tega melukai perasaan ibunya?! Hon!! Kau tidak boleh melawan pada ibumu!" Ratu Kim sangat sengsara mengingatnya. Sudut mata yang penuh kebencian itu, membungkam seluruh isi kepalanya.


Terkadang, kita lupa ... tentang siapa kita sebenarnya. Ada kalanya semua yang terlihat tidak berharga, menjadi sangat berharga. Tepat setelah segalanya pergi meninggalkan kita.


***

__ADS_1


__ADS_2