Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Youra Tidak Mencintai Putra Mahkota?


__ADS_3

Youra duduk memangku wajahnya di tepi jendela yang terbuka. Memandang sudut gunung ditemani malam yang hening. Istana terlalu sepi, tidak seperti di desa. Saat bersama keluarganya dulu, dia bisa mendengar tawa dan cengkrama banyak orang. Anak-anak berlari kian-kemari membawa ceria, memperlihatkan betapa riangnya mereka. Sejak menikah dengan Putra Mahkota, kesepian itu semakin saja bertambah.


Meski tak lagi punya keluarga di desa, pikirnya masih ada paman dan Nana yang selalu menghibur. Masih ada Jun sang kekasih yang selalu membawanya belajar dan bercanda. Namun, di istana sangat menyiksa. Setiap orang punya satu bangunan istana. Kakak, adik tak tinggal bersama. Bahkan, suami istripun tak bisa serumah. Sebenarnya, bisa. Hanya saja, Youra tak sudi untuk sekamar dengan suaminya, Putra Mahkota.


Youra memutar bola matanya ke seluruh sisi yang dapat ia lihat di istana. Tak sengaja, mata itu berhenti pada sebuah bangunan mewah yang tak jauh darinya. Di atas sana, seorang pemuda dengan piyama mewah sedang berdiri memandang langit malam yang indah. Putra Mahkota, sendirian tanpa penutup wajahnya.


Apa dia benar-benar sedang bersandiwara?


Tertangkap basah. Putra Mahkota menoleh ke istananya, menangkap basah Youra yang sedang duduk di tepi jendela memandanginya dari kejauhan. Youra menarik cepat daun jendela itu hingga tertutup rapat. Dayang Nari terkejut heran.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya sang dayang.


Youra menggeleng pelan, "Tidak, anginnya terlalu kencang."


Dayang Nari membantu menutup jendela itu lebih rapat, mencoba memeriksa apakah anginnya memang terlalu kencang. Nyatanya, yang dia temukan hanyalah angin sepoi-sepoi yang sangat nyaman. "Hamba sudah menutup jendelanya dengan baik, Yang Mulia." Dayang Nari mendekat, memijat lengan Youra pelan.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda, Yang Mulia?" tanya Dayang Nari kebingungan.


"Apa kau bisa membantuku mengirimkan surat balasan untuk Guru Jun?" tanya Youra penuh harap. Dayang Nari menepis senyum di wajahnya. Memperlihatkan raut yang tak nyaman. "Maaf Yang Mulia, tentu hamba akan mematuhi segala perintah Anda. Namun, apakah Anda tidak bisa untuk menahannya dulu?" Dayang Nari menatap Youra sangat serius. Ada sesuatu yang sedang merayapi pikirannya.


Youra menghela napas, "Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Ada hal yang harus aku selesaikan." Tatapan penuh keyakinan Youra merajam hati Dayang Nari. Dengan terpaksa, Dayang Nari mengangguk kecil.


***


Malam itu, Ara termangu di dalam biliknya. Banjir air mata, membuatnya sangat sesak. Sesekali ia menyela air mata itu, sebelum akhirnya kembali tersedu-sedu. Bagaimana bisa, dengan mudahnya sang suami mengatakan kata berpisah.


Belum selesai dia menangis, suara bisik para lelaki mengguncang pikirannya. Ara mengintip dari sudut pintu, ada banyak tamu di luar sana. Dia bersandar di pintu bilik itu, sedikit menempelkan telinga. Mencoba menggali lebih dalam, perbincangan apa yang sedang dilakukan suaminya, dengan orang-orang itu.

__ADS_1


"Putra Mahkota benar-benar menghadiri rapat. Di luar dugaan. Dia juga menghapus beberapa sistem yang pernah berlaku. Jika begini caranya, rakyat pelan-pelan akan menyukainya. Nama baik Anda akan terhapus begitu saja."


"Benar Pangeran Yul. Belum lagi adik Anda, Pangeran Hon memberikan dukungan penuh untuk perubahan aturan ini."


"Apa raja menyetujuinya?" balas Pangeran Yul. Mereka saling melempar pandangan. "Jika belum, tidak ada yang harus dikhawatirkan." Pangeran Yul menuangkan teh ke dalam cangkir mereka.


"Tapi, raja sepertinya akan menyetujui itu." Perkataan itu, menghentikan tangan Pangeran Yul yang sedang bekerja. "Kau yakin?"


Mereka mengangguk bersamaan, hingga simpul senyum itu menghilang dari wajahnya. "Ayah benar-benar pilih kasih," ketus Pangeran Yul tak terima.


Di dalam biliknya, Ara memperbaiki posisi duduknya, menggeser pelan kepalanya untuk lebih mendengarkan.


"Kami, benar-benar sangat ingin Anda yang mewarisi tahta, Pangeran. Oh iya, ada yang aneh dari keputusan sepihak Putra Mahkota." Pangeran Yul spontan menoleh pada lelaki itu, mengernyitkan dahinya seolah menunjukkan rasa penasaran.


"Putra Mahkota, menutup kasus percobaan pembunuhan yang terjadi padanya setelah mencabut status terdakwa dari permaisurinya," jelas lelaki itu.


Ara yang curi-curi dengar membuka lebar matanya. Baru tahu, bahwa sahabat masa kecilnya itu telah dijadikan terdakwa pembunuhan suaminya sendiri. Ara menggeleng pelan, sangat percaya bahwa Youra tidak mungkin melakukan hal seperti itu.


"Dia benar-benar sangat bodoh. Wanita itu jelas-jelas tidak menyukainya, tapi tetap saja dia berusaha melindunginya," Pangeran Yul menimpali.


Para lelaki itu terperangah. Berusaha mengimbangi pikiran mereka bersamaan. "Maksudnya, Pangeran?"


Ara membungkam mulutnya, sangat hati-hati agar tidak ketahuan sedang mencuri informasi.


Pangeran Yul tertawa, "Haha, sudahlah. Akan kukabari lagi selanjutnya."


Pertemuan singkat itu menimbulkan tanda tanya bagi Ara. Setiap hari, sang suami selalu saja kedatangan tamu tak dikenal. Setiap kali bertemu, mereka selalu berbicara tentang tahta dan politik. Tidak hanya itu, mereka juga menyusun siasat dan rencana mengerikan. Berbicara buruk soal popularitas Putra Mahkota dan rumor yang beredar membuat Ara semakin mengerti akan situasi.

__ADS_1


"Youra tidak mencintai Putra Mahkota? Dia benar-benar pembunuh suaminya? Apa semua itu demi tahta juga?" bisik Ara pada dirinya sendiri.


***


Putra Mahkota yang berdiri di balkon kediamannya terus saja menatap istana Youra dari kejauhan, sangat berharap Youra datang ke istananya, memeluknya, memberikan selamat karena sudah berani memimpin rapat. Namun, semua mimpi itu hanya bisa tersimpan jauh di hatinya.


"Yang Mulia, masuklah ke dalam. Angin ini sudah tidak baik bagi tubuh Anda," panggil Kasim Cho.


"Kasim Cho.." Putra Mahkota tak mengindahkan.


Kasih Cho mendekat, mendongak sedikit memperhatikan wajah sang pewaris tahta yang sangat tampan.


"Apa menurutmu, jika seorang wanita sudah berani menciummu, itu artinya dia sudah mencintaimu?" tanya Putra Mahkota.


Kasim Cho memandang sosok sangat tampan itu dengan tatapan sayu yang tulus. "Yang Mulia Putri Mahkota, akan sangat mencintai Anda."


Putra Mahkota menoleh padanya, "Kau yakin?" tanyanya. Kasim Cho mengangguk pelan, terkesima oleh pesona Putra Mahkota dengan rambut basahnya yang terlihat sangat menggoda.


"Jika beliau tetap menyia-nyiakan Anda. Langitpun akan bersumpah, Putri Mahkota akan sangat menyesalinya," tambah Kasim Cho. Kali ini, wajahnya sangat serius.


Putra Mahkota menyentuh dadanya, tertawa kecil, "Tidakkan itu terlalu berlebihan?" Kasim Cho tersenyum melihat wajah tampan yang belakangan ini terlihat begitu bersemangat.


"Yang Mulia, boleh aku bertanya?" Kasim Cho sedikit menjinjit, menyelimuti tubuh gagah itu dengan lapisan jubah hangat.


Putra Mahkota meraih porselin cantiknya, meneguk beberapa kali. "Tentu saja," balasnya. Kasim Cho sedikit ragu, tetapi sudah tak lagi sabar untuk segera tahu. "Mengapa, Anda menutup kasus percobaan pembunuhan yang terjadi kepada Anda? Bukankah seharusnya Anda mencari dalang sesungguhnya?" tanya Kasim Cho hati-hati.


Tersenyum, lagi-lagi Putra Mahkota memberikan senyuman. Betapa dahsyatnya pesona itu, hingga Kasim Cho saja tak mampu untuk terus menoleh pada wajah indahnya. "Aku tidak ingin menyelidikinya. Aku takut, permaisuriku terbukti memang benar pelakunya. Dia membeli racun diluar istana untuk menyingkirkanku. Bagaimana, jika dia benar-benar pelakunya?" wajah itu menggambarkan betapa terlukanya dia.

__ADS_1


**


__ADS_2