
Ratu Kim mengeluarkan titah pembebasan selir Han Ji-Eun dari penahanan yang dilakukan Youra. Dengan mudahnya, Han Ji-Eun bebas setelah melakukan banyak kesalahan fatal.
Sementara itu, berita tentang telah kaburnya Youra dari istana akhirnya sampai ke telinga para pejabat dan rakyat. Saat itu rakyat terbentuk menjadi dua kubu yang saling melakukan penolakan dan perkelahian. Mereka yang mulai mendukung Putra Mahkota menyoroti ladang penuh manusia yang sedang melakukan protes.
Ratu Kim malah tertawa bangga setelah menyaksikan rakyat yang ribut. Tak ada cara lain baginya, selain menyingkirkan Youra secepatnya agar putranya-Pangeran Yul-menjadi raja generasi selanjutnya.
***
Pagi sekali bahkan matahari belum menampakkan diri, Youra sudah berangkat ke sisi hutan mencarikan ramuan herbal untuk Putra Mahkota. Dia tak pernah menyerah sedikitpun meski Tabib Nam mengatakan Putra Mahkota tidak akan lagi selamat. Setelah membersihkan dan mengganti pakaian suaminya, dia beranjak menyusuri lembah menakutkan itu tanpa rasa takut. Yang menakutkan baginya saat itu hanyalah kehilangan suaminya. Tak peduli kakinya luka atau tangannya dihinggapi tumbuhan berduri, karena yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa suaminya tak bisa bangun lagi.
"Youra."
Suara yang sangat tidak asing itu terdengar lirih dan sedih. Youra segera berbalik saat menyadari kehadiran kakaknya. Wajah Young menggambarkan sesuatu yang tidak ingin Youra dengar.
"Putra Mahkota ... " Young menahan napasnya cukup lama karena jantungnya yang berdebar hebat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Beliau menghembuskan ... "
"Tidak! Tidak boleh!" Youra berteriak histeris. Air matanya bahkan langsung tertumpah. Dia melepaskan dedaunan itu dari genggamannya. Berlari secepat mungkin meninggalkan kakaknya disana.
***
"Yang Mulia!" Youra ingin mendobrak pintu bilik gubuk dimana Putra Mahkota terbaring dengan tergesa-gesa.
"Mengapa kau terburu-buru sekali. Bukankah ini keajaiban? Suamimu sadar setelah istrinya merawatnya semalaman." Young tiba-tiba saja datang, langsung merangkul adiknya dengan rasa bahagia yang luar biasa, membawanya menjauh dari bilik itu.
"Huh!" Youra memukul-mukul lengan kakaknya karena kesal. Jantungnya hampir saja meledak karena rasa takutnya yang berlebihan. Tangisnya semakin pecah saat mengetahui ternyata Putra Mahkota telah sadar.
"Kakak, aku ingin di dekatnya," Youra memaksa. "Tahanlah sebentar. Beliau masih sangat sakit dan tertekan."
__ADS_1
***
"Yang Mulia, senang melihat Anda kembali sadar." Jung Hyun mencoba menenangkan Putra Mahkota yang tampaknya sangat frustasi.
Putra Mahkota seperti sedang kesakitan, dia menahan kepalanya dengan kedua tangan. "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Jung Hyun sangat khawatir.
"Aku ingin bebas dari rasa sakit yang ada di hatiku, mengapa kalian malah menyelamatkan aku?" Putra Mahkota jelas masih kesakitan. Suaranya parau dan terbata-bata.
"Yang Mulia, Anda tidak boleh berbicara begitu. Rakyat masih membutuhkan Anda." Jung Hyun sangat khawatir.
"Jung Hyun, apa dia sudah pergi dengan selamat? Apa dia benar-benar pergi dengan Guru Jun?" Baru saja sadar, Putra Mahkota langsung saja mengingat istrinya.
Jung Hyun tersenyum. Harapan itu lebih indah dari sekedar mimpi. "Beliau ada disini, Yang Mulia."
Mendengarnya, Putra Mahkota terpaku. Kepalanya yang sakit bahkan terlihat membaik setelahnya. "Benarkah?" tanyanya sangat senang dengan wajah pucat itu. Tiba-tiba, sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya terjadi.
***
Youra tak lagi tahan. Dia langsung berlari menerobos masuk ke dalam. "Yang Mulia ... " Tak ada hal lain yang dia lihat, selain banyak darah yang berserakan di lantai. Putra Mahkota sedang bersandar di dinding gubuk itu tampak sangat kesakitan. Youra langsung mendekat.
"Yang Mulia, jangan banyak bergerak. Ayo aku bantu kembali berbaring." Youra sangat khawatir hingga dia menangis melihat suaminya seperti itu. Rasa takut kehilangannya yang berlebihan membuat jantungnya berdetak sangat kencang hingga perutnya sakit.
Sekali lagi, Putra Mahkota menundukkan wajahnya. Kembali memuntahkan darah. "Yang Mulia, Suamiku. Ayo berbaring dulu, ya?" Youra menyentuh wajah suaminya yang penuh darah. "Lee Youra ... " lirih Putra Mahkota.
"Ya, Suamiku?" jawab Youra terisak. Youra membantu Putra Mahkota untuk kembali berbaring. "Mengapa kau ada disini?" jawab Putra Mahkota sedikit tertatih.
"Apa yang terjadi?" Tabib Nam datang mendekat tergesa-gesa berlari. Kembali memeriksa Putra Mahkota.
__ADS_1
***
"Bagaimana keadaan Putra Mahkota?" tanya Youra sangat cemas setelah Tabib Nam keluar. "Beliau masih sangat lemah. Beliau tidak boleh banyak bergerak dulu, Yang Mulia." Tabib itu membungkukkan tubuhnya pada Youra. "Terima kasih. Berkat herbal yang Anda berikan, Putra Mahkota akhirnya sadar. Sepertinya Putra Mahkota tidak bisa mengkonsumsi umbi-umbian untuk sementara waktu. Usahakan beliau makan yang cukup dan teratur. Hamba akan kembali membawakan herbal untuk beliau." Tabib Nam akhirnya beranjak sebentar.
***
"Yang Mulia. Semalaman, Permaisuri Lee bersama Anda. Tidur disini dan menjaga Anda. Beliau juga membersihkan Anda, menggantikan pakaian Anda, dan meminumkan herbal kepada Anda," jelas Jung Hyun menghibur. Putra Mahkota sebenarnya tak punya keinginan hidup. Dia bahkan berniat mengakhiri hidupnya tanpa sepengetahuan orang lain. Namun, ada sedikit menunjukkan semangat setelah mendengar pernyataan Jung Hyun. "Benarkah? Apa bukan kalian yang memaksanya kembali?" tanya Putra Mahkota sedikit kecewa.
Belum lama Putra Mahkota menyampaikan kekecewaannya, Youra masuk membawakan makanan dan herbal untuk suaminya. Jung Hyun tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Youra malu-malu mendekat pada suaminya saat menyadari mereka benar-benar sedang berduaan saja. Wajahnya sangat senang dan memerah saat tubuhnya duduk menghadap suaminya yang sedang bersandar. "Yang Mulia?" panggil Youra sangat lembut. Putra Mahkota tak memberikan jawaban, hanya sibuk memandangi wajah istrinya. "Kita makan dan minum obat dulu, ya?" tambah Youra terlihat sangat malu. Putra Mahkota mengangguk. Sementara, Youra mulai menyuapkan nasi pada suaminya. Putra Mahkota membuka mulutnya, menerima suapan itu dengan senang hati.
"Lee Youra," panggil Putra Mahkota. "Jangan menundukkan wajahmu," tambahnya. Youra akhirnya menengadah, menatap suaminya. "Mengapa kau kembali?" tanya Putra Mahkota. "Jika akan menyakitiku lagi, bunuhlah aku sekarang juga." Putra Mahkota tampak sangat putus asa. Dia takut Youra kembali hanya karena kasihan kepadanya.
Tiba-tiba saja Youra kembali menangis setelah bergulat panjang dengan rasa rindunya. Meletakkan makanan itu dan langsung memeluk suaminya. "Jangan tinggalkan aku lagi," lirihnya memeluk erat Putra Mahkota tersedu-sedu, tak sadar naik ke pangkuan suaminya. Putra Mahkota membatu. Ini pertama kalinya Youra memeluknya. Apalagi pelukan itu terasa sangat menyenangkan dan tulus. Putra Mahkota semakin bersemangat mendapat perlakuan manis dari wanita yang dia cintai.
Youra yang saat itu terisak tiada henti memunculkan sudut senyum di wajah Putra Mahkota yang kegirangan. Putra Mahkota menghapus air mata Youra. Dia membawa wajah gadis yang dia cintai itu mendekat padanya. Menapaki bibir indah Youra dengan bibirnya yang pucat. Sangat lama, Putra Mahkota melepaskan kerinduannya pada sang istri dengan penuh emosi. Kali ini Youra tak lagi diam. Sentuhan mesra dari bibir suaminya, dia balas dengan lembut dan mesra pula. Youra tidak sadar, tangannya sudah menyilang di belakang pundak Putra Mahkota, membuat rambut Putra Mahkota berantakan. Tampak sangat menikmati pelepasan rindu yang amat sangat mendalam itu.
"Ah.." suara rintihan Putra Mahkota yang pelan mengembalikan kesadaran Youra yang hampir melayang. "Ma-maaf." Tak sadar sikutnya mengenai luka suaminya. Mereka berpandangan sangat lama dalam keheningan saat Youra mengangkat bibirnya.
"Youra kau meninggalkan obat suamimu yang ini." Young membuka pintu bilik itu, tak menyangka tentang apa yang terjadi di dalam sana. Young langsung berbalik badan. "Hahah, maaf. Aku letakkan disini ya." Young meletakkannya di depan pintu. Sangat canggung setelahnya.
Youra cekatan turun dari pangkuan suaminya. Dia terlihat sangat malu setelah apa yang sudah dia lakukan tadi. Dia langsung menatap luka di perut Putra Mahkota. Untungnya, luka itu tak kembali berdarah. Mengapa itu bisa terjadi? Padahal suaminya baru saja sadar.
"Kita makan dulu, ya?" Youra kembali menyuapkan makanan pada Putra Mahkota. Putra Mahkota memakannya dengan lahap. Dia tak sedikitpun berpaling dari wajah Youra.
Cukup hening. Tak ada yang dibicarakan keduanya karena Youra terlihat sangat malu dan gugup. Youra hendak keluar dari sana, tetapi Putra Mahkota menarik tangannya. "Mau kemana?"
__ADS_1
"Aku akan kembali lagi, Yang Mulia," jawab Youra. Wajah Putra Mahkota merengut, sangat sedih karena Youra cepat sekali keluar. Youra sadar, suaminya terlihat kecewa. Youra berbalik. Mengecup bibir Putra Mahkota sekali lagi, sebelum akhirnya benar-benar keluar. Mengunci Putra Mahkota tersenyum di tempatnya.