
Seorang dayang berlari mendekat ke istana, membawa berita buruk tentang raja. Malam itu juga, ratu tergesa-gesa panik mendampingi para tabib untuk segera memeriksa raja. Para menteri yang mendengar kabar buruk itu langsung saja beranjak dari kediaman mereka, berlarian menuju istana.
"Benar-benar malapetaka! Raja jatuh sakit karena beban pikiran. Semua ini karena Putra Mahkota! Dia benar-benar membawa kutukan!" teriak mereka sebelum masuk ke istana.
"Singgasana tak boleh kosong karena raja jatuh sakit. Putra Mahkota belum juga sadarkan diri, dan istrinya masuk penjara. Benar-benar malapetaka!" tambah mereka.
"Ini kesempatan untuk Pangeran Yul naik ke atas tahta."
Bising mereka merusak suasana hening itu dengan menghujat dan bergosip buruk. Mereka berbaris rapi di depan istana raja karena sangat khawatir, padahal dalam waktu depan raja harus memimpin rapat. Namun, suasana ribut itu menjadi hening tatkala Pangeran Hon putra bungsu istana berlarian dengan wajah paniknya datang.
"Bagaimana keadaan Ayahanda?" tanya Pangeran Hon ketakutan, ingin menerobos masuk ke dalam.
"Tenang Yang Mulia Pangeran. Saat ini, tabib sedang memeriksa."
Pangeran Hon tertunduk lesu di depan kediaman sang ayah.
"Lihatlah putra bungsu istana itu. Dia pasti tertekan karena semua masalah yang terjadi. Kakaknya diracuni permaisurinya sendiri, dan sekarang di hari pernikahan kakaknya yang lain, sang ayah malah jatuh sakit."
Mereka semua saling mengutarakan pikiran mereka yang campur aduk. Tak peduli bagaimanapun latar belakang kejadiannya, yang jelas bagi mereka Putra Mahkota adalah pembuat masalah, dan harus segera dimusnahkan.
***
Youra tertegun di dalam biliknya, menyentuh bibirnya cukup lama. Sangat terkejut menyadari apa yang baru saja terjadi. Ingin menyesal karena memberikan ciuman pertama itu pada lelaki yang tidak dia cintai, tetapi tidak bisa semua sudah terlanjur. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, teriak kesal. Terus saja menepuk-nepuk wajahnya menahan malu. Dayang Nari melihatnya, tersenyum keheranan.
"Yang Mulia, tabib sudah datang," ucap Dayang Nari terus membaca pikiran Youra. Dia tersenyum, saat melihat Youra terus saja menutup wajahnya.
Tabib wanita itu masuk, dia mendekati Youra yang wajahnya memerah. "Untung saja, Anda sangat sehat dan tidak ada sesuatupun yang kurang. Sangat cantik, dengan pipi merah merona, semerah delima," puji tabib itu.
Sang tabib meraih tangan Youra, menyentuh nadinya. "Hamba adalah tabib yang dikirim Putra Mahkota secara pribadi untuk memeriksa kesehatan Anda secara rutin. Syukurlah, permaisurinya ini sangat sehat dan subur."
__ADS_1
"Apa Anda baru saja habis berlari, Yang Mulia? Detakan jantung Anda terlalu cepat. Hamba akan memberikan obat untuk menenangkannya," tambah sang tabib.
Seluruh pelayan Youra langsung menoleh pada Youra, melihat bagaimana wajah itu sedang tersipu malu. Sang tabib menoleh sedikit, memberikan isyarat agar seluruh pelayan selain Dayang Nari dan beberapa pelayan pribadi Youra untuk segera keluar.
Sambil meracik beberapa obat, sang tabib berbicara ramah pada Youra. "Sangat beruntung Anda yang terpilih menjadi permaisuri Putra Mahkota. Beliau sangat setia, bahkan menolak untuk disentuh seorang tabib wanita. Beliau juga tidak mengizinkan pelayan wanita masuk ke dalam biliknya. Banyak sekali yang ingin menjadi tabib pribadinya. Hanya saja, dia hanya menerima suamiku sebagai tabib pribadinya."
"Ketika beliau kecil, hamba selalu memeriksa kesehatannya. Dia sangat lincah dan berbakat. Kasihan sekali, karena sejak kecil dia dikurung di istana. Sulit sekali baginya untuk keluar bahkan untuk sekedar bertemu adik kesayangannya, Pangeran Hon." Tabib itu menyisihkan beberapa helai daun herbal di atas porselin cantik.
"Beliau sangat baik bahkan kepada para pelayannya. Membiarkan mereka untuk beristirahat bahkan membawanya makan bersamanya. Hamba yakin, Anda tahu tentang itu setelah bertemu dengannya. Beliau benar-benar berbeda dari rumor yang beredar."
Youra tercengang, semua cerita sang tabib bertolak belakang dengan pemikirannya. Tabib itu tersenyum pada Youra, "Senang sekali rasanya, bisa dipercaya Putra Mahkota untuk menjadi tabib pribadi istrinya."
Dayang Nari tersenyum senang, mendengar semua percakapan manis itu. Berharap, setidaknya sedikit saja hati Youra yang sekeras batu itu terketuk.
Sang tabib tersenyum genit, memperlihatkan wajah malu-malunya pada Youra. Dia langsung menggenggam tangan Youra yang canggung. "Putra Mahkota bertubuh bugar dan sangat sehat. Dia akan jadi suami yang sempurna untuk Anda di luar dan di dalam. Miliki lah setidaknya 5 orang anak. Beliau sangat menyukai anak kecil. Anda pasti takluk setelahnya."
Uhuk! Uhuk!
"Tidak, tidak sama sekali," bantah Youra cepat.
Dayang Nari tertawa kecil cekikikan melihat interaksi itu. Memikirkan apa yang mungkin Youra pikirkan setelah mendengarnya.
**
Sementara itu, Putra Mahkota terus saja tersenyum riang, menyandarkan tubuh berlapis piyama malamnya yang mewah, menyentuh bibirnya berkali-kali. Wajah tampannya jauh lebih berseri dari biasanya.
"Yang Mulia ... tabib ada disini." Kasim Cho tersenyum senang, melihat ini pertama kalinya Putra Mahkota tersenyum begitu bahagia. Putra Mahkota tak memperdulikannya, hanya sibuk memainkan bibirnya.
"Senang bertemu Anda, Yang Mulia." Tabib itu menyentuh nadi Putra Mahkita, menghasilkan tatapan menyedihkan.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda masih sangat sakit dan butuh istirahat. Racun itu belum sepenuhnya keluar dari tubuh Anda. Hamba akan menyiapkan resep herbal terbaik. Mohon untuk perbanyak istirahat." Sang tabib beralih memeriksa dan hendak mengobati lengan Putra Mahkota yang terluka parah.
"Jangan sentuh yang ini. Istriku yang sudah mengobatinya."
Sang tabib tersenyum, "Ini daun binahong dengan campuran batang talas halus yang diambil getahnya. Tampaknya permaisuri benar-benar punya kemampuan untuk menjadi istri sekaligus seorang tabib untuk suaminya," puji tabib itu.
"Catatan riwayat kesehatan Putri Mahkota sangat baik. Beliau sangat sehat dan subur. Semoga pernikahan Anda menghasilkan keturunan yang baik dan berakhlak mulia, persis seperti ibu dan ayahnya," tambah sang tabib.
Putra Mahkota semakin senang, "Tentu. Aku hanya ingin dia yang menjadi ibu dari anakku."
Tak lama setelah itu, seorang kasim berlari menerobos masuk ke kamar Putra Mahkota tanpa permisi, menghancurkan kebahagiaan itu seketika. "Yang Mulia, mendengar Anda telah sadar mengantarkan hamba datang kemari untuk memberikan kabar, bahwa saat ini Yang Mulia Raja jatuh sakit."
Putra Mahkota bahkan tak bisa meneguk minumannya lagi setelahnya.
**
**
Ciutan suara burung yang saling bersahut-sahutan membentuk melodi indah di pagi yang cerah, membangunkan para penghuni bumi. Pangeran Yul bangun dari tidurnya, mendapati tubuhnya yang tanpa busana sedang ditutupi oleh selimut hangat. Dia menyentuh kepalanya yang sepertinya masih sedikit sakit, mencoba mengembalikan memori tadi malam.
Saat yang bersamaan, Ara sedang duduk di beranda rumahnya, menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami. Tepat sekali, Pangeran Yul keluar dari kediaman itu sambil memasang kancing bajunya. "Suamiku, kemarilah makan bersama," sapa Ara ramah.
Pangeran Yul mendekat, duduk di depan meja kecil itu menunggu sang istri selesai mengambilkannya nasi dan lauk. "Makanlah, suamiku."
Pangeran Yul menyuap makanan itu tanpa mengatakan sepatah katapun pada Ara. "Apa masakan itu tidak enak?" tanya Ara berusaha memecah suasana.
Pangeran Yul terus saja menghabiskan makanannya, meneguk air putih setelahnya. "Lumayan," jawab Pangeran Yul setelah selesai makan.
Ara tersenyum, setidaknya pujian itu mampu membuatnya bahagia. Pangeran Yul bergegas meninggalkan kediaman, tetapi Ara langsung menahan tangan suaminya. "Anda mau pergi kemana? Kita baru saja menikah, bisakah Anda membawaku pergi bersama?" tanya Ara lembut penuh hormat.
__ADS_1
Pangeran Yul menarik tangannya dari sang istri. Dia mengarahkan tangan itu berjalan manja di rambut istrinya, membelainya mesra, seolah penuh kasih. "Apapun yang aku lakukan, itu bukan urusanmu. Dan, soal kejadian malam tadi, lupakan saja semuanya. Anggap kita tidak pernah melakukannya," jawab Pangeran Yul tersenyum manis pada istrinya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.