
Sebenarnya, Kasim Cho sangat khawatir pada keselamatan Putra Mahkota. Mengingat beliau menyetujui pertemuan bersama kepala pemberontak yang sebenarnya punya hubungan dekat dengan istana. Kasim Cho berlari masuk ke dalam pustaka pribadi Putra Mahkota untuk segera menyampaikan kabar bahagia tentang kedatangan permaisurinya. Putra Mahkota pasti sangat senang karenanya. Kasim Cho berharap Putra Mahkota akan mngurungkan niatnya karena ini.
"Yang Mulia, tadi Putri Mahkota datang kemari. Apa Anda ingin hamba memanggilnya kembali?" tanya Kasim Cho bersemangat.
Awalnya, Putra Mahkota tampak sangat bahagia. Dia langsung mengangkat wajahnya karena rasa senang itu. Namun, wajah tampan itu kembali muram, saat menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Youra mencintai pria lain, itu yang beliau tahu.
"Beliau tampaknya sangat ingin menemui Anda. Bahkan beliau berpesan agar Anda makan dan istirahat yang teratur." Dengan raut cerah penuh semangat, serta segaris senyum bahagia yang menghiasi wajahnya, Kasim Cho sangat sadar Putra Mahkota membutuhkan perhatian dari wanita yang sangat dicintainya itu.
"Kasim Cho, aku tahu kau tidak berbohong. Dia seperti itu hanya kasihan kepadaku. Aku ini tidak ada arti baginya." Putra Mahkota kembali menyapu darah yang keluar dari hidungnya. "Dia ingin aku mati. Dia tidak membutuhkanku."
"Yang Mulia, itu semua tidaklah benar. Saat ini, beliau sangat memperdulikan Anda. Mungkin saja beliau sudah jatuh cinta kepada Anda." Kasim Cho berusaha menghibur Putra Mahkota, meski dia sendiri sangat ragu akan hal itu.
"Aku bermimpi, dia mendatangiku saat malam tiba. Aku harap, malam ini benar-benar terjadi."
Kasim Cho merasa iba, tak ada yang menyemangati Putra Mahkota. Bahkan, Youra begitu mudahnya menyerah untuk menemui sang suami tanpa usaha lebih. Tidak berusaha untuk menenangkan hati suaminya yang sedang terluka. Youra tak pernah kembali sejak saat itu. Benar-benar tidak pernah lagi datang mengunjungi istana suaminya.
***
Sejak saat itu, Youra sangat gelisah. Dia tidak terima Putra Mahkota menolak kedatangannya. Berusaha keras untuk memikirkan hal-hal baik, tetapi hatinya tak dapat melawan. "Mengapa dia menolak kedatanganku waktu itu?" gerutunya semakin barlarut-larut. Hingga malam tiba, Youra bahkan tak bisa tidur. Terus saja memikirkan sang suami.
"Jika Anda ingin sekali bertemu dengan beliau, Anda bisa mencoba datang kembali malam ini, Yang Mulia." Dayang Nari membuka celah.
"Apa kau tidak dengar saat itu? Dia menolak kedatanganku," bantah Youra tersulut kesal.
Setelah sekian lama Dayang Nari menahan diri, akhirnya emosi itu tertumpah juga. Dia mendekat pada Youra dan berlutut padanya. "Yang Mulia, kumohon turunkanlah sedikit saja ego Anda. Tidakkah Anda kasihan pada beliau? Beliau seperti itu pasti karena kecewa kepada Anda. Berusahalah untuk mencari cara agar beliau tidak marah lagi. Bujuklah beliau dan berikanlah dukungan. Anda tidak takut kehilangan beliau? Beliau menyetujui pertemuan dengan pimpinan negeri Barat besok pagi. Anda tidak khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada beliau? Mereka bisa saja menggunakan pertemuan itu untuk menjebak Putra Mahkota dan menyingkirkannya. Yang Mulia, Anda telah jatuh cinta pada Putra Mahkota, tidakkah Anda menyadari itu?"
DEG
"Dayang Nari, aku tidak mencintainya." Meski ragu-ragu, Youra tetap mempertahankan ego itu. "Keluarlah dari sini, aku ingin tidur segera." Youra menutup tubuhnya dengan selimut. Malam itu berlalu begitu singkat, meski Youra tak pernah benar-benar bisa tertidur. Kepalanya terus saja memikirkan Putra Mahkota.
***
__ADS_1
Langit mendung tak mengubah apapun. Pagi itu sangat mengerikan. Sehabis mandi Youra berdiri di balkon istananya, memandangi istana sang suami dari kejauhan. Hari ini, Putra Mahkota akan berangkat menemui pemimpin pemberontak dari negeri bagian Barat. Youra termangu cukup lama.
"Katakan padaku, kau seperti ini karena kau takut kehilanganku."
"Yang Mulia, Anda telah jatuh cinta pada Putra Mahkota."
"Anda tidak takut kehilangan beliau?"
Semua perkataan itu kembali terputar di benaknya. Pelan-pelan Youra mencoba meraba. Belakangan ini dia tak pernah lagi mengingat Jun meski hanya sebentar saja. Apa itu karena dia telah jatuh cinta pada Putra Mahkota, atau hanya karena kasihan kepadanya. Youra terus menatap istana Putra Mahkota. Tiba-tiba Youra menyentuh bibir basahnya.
"Lee Youra, sampai kapan kau terus menyakitiku?"
Ciuman dan belaian mesra dari sang suami kini merayapi tubuh dan otaknya. Pagi menggoda itu terus saja membuatnya terkenang. Menimbulkan hasrat pada dirinya untuk terus bertemu Putra Mahkota setelahnya.
Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? Pada pembunuh kakakku sendiri?
Belum lama dia termangu, tiba-tiba seorang pelayan datang memberi laporan.
Dengan pakaian super mewah itu, Putra Mahkota tak perlu pikir panjang untuk langsung mendatangi Youra yang sedang mematung. Dia menarik tubuh Youra kembali masuk ke dalam bilik. "Kenapa kau tidak berusaha menemuiku lagi?" Putra Mahkota bertanya dengan emosi yang terkesan berlebihan.
"Yang Mulia, bukankah Anda yang tidak ingin menemuiku?"
Andai saja aku tidak egois.
Mendengar bantahan keras dari sang istri, Putra Mahkota memojokkan tubuh mungil Youra ke dinding. "Mengapa kau selalu saja menyakiti hatiku? Mengapa aku selalu saja ingin bertemu denganmu, meski aku hampir mati karenanya? Mengapa membiarkan hatiku terluka parah? Mengapa mudah menyerah untuk menemuiku?" Youra tak bisa berkata-kata. Suaminya saat ini sedang begitu marah.
Andai saja aku mengerti...
"Bujuklah aku agar aku tidak pergi." Lembut sekali Putra Mahkota memintanya. Namun, Youra sama sekali tidak bersuara. "Cegahlah aku untuk tidak pergi." Kembali Putra Mahkota meminta, tetapi lagi-lagi Youra hanya diam saja. "Lee Youra, katakanlah sesuatu. Kumohon." Memelas Putra Mahkota memintanya, hingga air matanya yang berharga seluruhnya tumpah.
"Mengapa aku harus mencegah Anda?" Jawaban Youra sama sekali tidak menyenangkan. Seolah tak peduli terhadap betapa bahayanya situasi ini bagi suaminya. "Aku memberimu kesempatan terakhir, cegahlah aku. Mintalah aku untuk tetap tinggal. Katakan padaku kau mencintaiku, aku akan menuruti segalanya." Putra Mahkota menatap lekat Youra yang terus saja menundukkan pandangannya. Youra tak menjawabnya, tak pula berusaha menenangkan sang suami yang sedang marah.
__ADS_1
Aku ingin mengulang kembali waktu.
Putra Mahkota putus asa. Youra sama sekali tak mengatakan apapun juga. "Baiklah." Putra Mahkota meraih dagu Youra, mengangkat wajah sang istri perlahan-lahan. Dia mengecup dahi sang istri, lalu melabuhkannya di bibir merah merekah itu. Sangat lama, lebih dari biasanya. Tak peduli jika Youra akan marah atau malah akan mendorong tubuhnya, Putra Mahkota tetap akan menikmati bibir miliknya itu selama mungkin, sepuas keinginannya.
"Sayang, kau akan merindukan aku setelah ini." Putra Mahkota membelai mesra wajah cantik itu bercucuran air mata. Dia meraih tangan Youra, membawanya dekat ke bibir. Setelahnya, Putra Mahkota memeluk tubuh mungil Youra sangat lama.
"Lee Youra ... " Putra Mahkota terdengar sedang mengolah napasnya yang sesak.
"Aku sangat mencintaimu." Masih memeluk Youra, Putra Mahkota tampak enggan mengakhirinya.
Kasihan sekali, perlakuan manis itu sama sekali tidak dibalas oleh Youra. Membuat Putra Mahkota semakin sadar diri, bahwa sang istri tidak memerlukan arti hidupnya.
"Lee Youra ... Aku melepaskanmu. Pergilah sekarang juga."
DEG
Dia melepaskanku, sebagai akhir pertemuan kami.
Bukankah harusnya aku senang?Tapi mengapa, rasanya begitu sakit?
Putra Mahkota akhirnya melepaskan pelukan itu, setelahnya dia kembali mengecup bibir Youra sebentar. Memandanginya cukup lama hingga akhirnya pergi dari bilik Youra.
Youra terhenyak ke tanah. Perginya Putra Mahkota bersamaan dengan dua surat yang dia terima. "Yang Mulia, cegahlah Putra Mahkota." Dayang Nari memaksa. Entah kenapa, kali ini sangat memaksa. Dayang Nari meraih surat yang dikirimkan kepada Youra, segera membukanya.
"Yang Mulia, apa maksudnya ini? Putra Mahkota mengirimkan tandu untuk menjemput Anda keluar dari istana?" Dayang Nari berlutut di kaki Youra. "Yang Mulia, kumohon tolong jangan tinggalkan Putra Mahkota. Cegahlah dia, memohonlah padanya untuk tidak pergi."
Youra tak memperdulikannya, sambil menangis Youra terus mengemas hampir seluruh pakaiannya masuk ke dalam tas untuk segera meninggalkan istana.
"Yang Mulia, Anda akan sangat menyesal."
Youra terus saja menata rapi seluruh barangnya masuk ke dalam tas itu. Tak peduli seberapa keras para pelayan membujuknya untuk tidak meninggalkan istana. Bagi Youra ini adalah kesempatan. Kesempatan besar baginya untuk keluar dari istana mengerikan itu. Hidup damai di luar sana, menata kembali kehidupan lamanya yang telah hancur. Meski hatinya sangat berat hingga air matanya tak berhenti mengalir, ia akhirnya tetap melangkah cepat keluar dari sana sesuai perintah di atas kertas. "Yang Mulia!" teriakan Dayang Nari menahan langkah Youra sebentar.
__ADS_1
"Yang Mulia, maafkan aku jika mengatakan hal selancang ini. Namun, Anda tidak hanya kejam. Anda benar-benar tidak punya hati. Putra Mahkota sedang marah kepada Anda, tetapi Anda malah menganggap semua ini serius? Yang Mulia, apapun yang menyebabkan kematiannya, Andalah yang membunuh Putra Mahkota. Setelah ini, Anda tidak akan bisa melihatnya lagi. Selamanya. Ini adalah sumpah dari langit. Hukuman untuk hati Anda yang terus saja menutup kebenaran. Hukuman seseorang yang tidak pernah mencari kebenaran."