Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Ketahuan


__ADS_3

Dua hari kemudian, Youra kembali bertemu dengan Jun. Kali ini sesuai janji, mereka bertemu di tepi sungai kehidupan tak jauh dari kaki gunung. Rasanya, sangat aneh.


Suara air mengalir menciptakan harmoni indah bersamaan dengan kilauan senja di kaki gunung. Tampak burung berkicau kian-kemari seolah menciptakan nada menyambut kebersamaan mereka berdua. Youra dengan kecanggungan yang luar biasa hanya bisa tertunduk membuka buku meski tidak membacanya. Sementara Jun yang berdiri jauh darinya tengah asik memainkan air sungai sambil mencium aroma damai pegunungan.


Saat itu, ia menoleh ke arah Youra. Namun, sesuatu yang tidak biasa hadir diantara mereka berdua. Youra yang memang menyukai Jun tak bisa menduga apa-apa, yang dia harapkan dekat dengannya hanya sebatas sebagai guru dan murid saja sudah cukup menyenangkan. 


Jun tersenyum padanya. Entah kenapa, Youra lebih canggung dari biasanya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jun khawatir.


“Aku? Ah tentu saja. Aku sangat baik,” Youra membalikkan halaman buku itu.


Jun yang menyadari situasi kemudian tertawa.


“Kenapa Guru Jun tertawa?” Youra yang canggung menjadi merasa bersalah.


Jun mendekat, datang untuk mengelus kepala Youra.


“Lucu sekali muridku ini. Jangan panggil aku Guru Jun lagi, panggil saja aku Jun, atau Kak Jun juga boleh. Kita kan teman".


Teman, hanya teman.


Youra bangunlah. 


Youra terdiam mendapat perlakuan manis itu, tapi wajahnya tampak kecewa.


 “Bagaimana?” tanya Jun memastikan.


“Baik, Kak Jun,” jawab Youra.


Jun tersenyum dan pergi ke pinggir sungai mengambil air. Kemudian, ia memercikkan air itu pada Youra.


“Aw, kak Jun!” Youra berdiri dan dengan sigap membalas Jun.


Percikan air itu, malah mengenai mata Jun, hingga ia kelilipan. Youra yang bersalah merasa khawatir. 


“Kak Jun, kau baik-baik saja? Maafkan, aku tidak sengaja,” Youra sangat khawatir.


Jun terus saja menutup wajahnya dengan tangan, tetapi, saat ia membuka matanya, ia memandang Youra dengan tatapan indah. Jun tampak serius di hadapan Youra. Hal itu membuatnya deg-degan.


“Kau suka pada gurumu ini?” tanya Jun serius.


Youra terdiam, ia tak menjawab apa pun.


“Aku ini tampan dan pintar, kau pasti menyukaiku kan?” Jun kembali tersenyum padanya. Berusaha meledek wanita, yang benar-benar menyukainya itu.


Aku tidak hanya menyukaimu..


“Kak Jun ini memang sangat pede, kakakku jauh lebih tampan. Mana mungkin aku menyukai guruku sendiri,” ledek Youra


Tapi, aku telah jatuh cinta…


Jun mendekat pada Youra, ia menundukkan sedikit tubuhnya, hingga wajahnya kini berhadapan dengan wajah gadis yang sudah lama menyukainya itu. 


“Benarkah?” tanyanya lembut, menatap Youra selengkap dari wajahnya.


“Te-tentu saja tidak".

__ADS_1


.. bahkan, saat pertama kali kita bertemu.


Youra yang canggung berkali-kali membuang pandangannya yang gugup.


”Sudah banyak pemuda seusiaku menikah. Aku pikir aku akan segera menikah juga, apa kau tidak keberatan?”.


Youra yang mendengar pertanyaan itu terbatuk.


“Kak Jun ini bicara apa, kita datang kesini untuk belajar bukan untuk membicarakan pernikahan,” bantahnya.


“Baik, itu artinya kau tidak setuju,” Jun kembali memercikkan air pada Youra. 


Mereka saat itu asik bermain air dan saling tertawa. Namun, tak lama selang itu Youra terhenti. 


Jauh di ujung sana, ia melihat seseorang sedang berdiri memandangnya.


“Kakak” bisiknya.


Jun terdiam dan menoleh ke arah pandangan Youra. 


Young sedang berdiri disana menatap mereka tajam.


**


Saat itu, hari mulai senja. Young datang menghampiri adiknya yang ketakutan.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Young pada sang adik.


Youra terdiam tak mampu berkata-kata.


“Kutanya padamu sekali lagi, apa yang kau lakukan disini?!”.


Youra yang mendengar kakaknya berteriak, terkejut dan tanpa sadar, air mata ketakutannya mengalir.


“Apa hanya karena ini, Kakak berteriak padaku?” tanya Youra yang hatinya terluka.


“Pulang, aku bilang pulang!” perintah kakaknya membuat Youra berlari pulang sambil menangis.


Jun yang melihat kejadian itu di depan matanya mendekat pada Young dan membungkuk hormat.


“Tuan Muda Lee Young, adalah suatu kehormatan bagiku bertemu kembali disini denganmu,” sapa Jun.


Young hanya diam saja memandangi Jun yang saat itu tertunduk hormat padanya.


“Sejak kapan kau mengajak adikku bertemu diam-diam?“ tanya Young padanya, dengan wajah seriusnya.


Jun menegakkan kepalanya.


“Sampai kapan, Anda terus mengurungnya? Apa Anda tahu, betapa menderitanya dia? Apa tidak pernah terpikir oleh Anda, bagaimana caranya agar dia bisa bahagia? Apa Anda pernah terpikir apa dia baik-baik saja dengan perlakuan Anda?” jawab Jun.


“Apa yang kau tahu?” tanya Young.


“Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun soal ini. Aku hanya ingin Youra bahagia,” jawab Jun.


Dengan seringai tajamnya, Young membalas perkataan Jun.


“Kenapa kau begitu peduli? Siapa kau? Kau menyukai adikku?” tanya Young.

__ADS_1


Jun terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Young mengangguk pelan.


“Jangan pernah menemui adikku lagi. Anggap kami sudah mati,” Young melangkah pergi meninggalkan Jun. Namun, Jun menarik tangan Young sigap.


“Aku akan pergi, tapi bisakah anda berjanji untuk membuat dia kembali tertawa?”.


Young tak menjawab, ia pergi melepas paksa genggaman Jun di lengannya dan pergi meninggalkannya.


“Aku akan terus menemuinya! Aku tahu anda menyayanginya!” teriak Jun pada Young yang sudah melangkah jauh.


**


Sesampai di rumah, Young mendekati sang adik.


“Kau berbohong padaku? Sudah kukatakan jangan pernah melanggar apa yang sudah kita sepakati!” Young marah pada sang adik.


Youra menangis tersedu-sedu. Nana datang mendekat dan bersujud di kaki Young.


“Tuan Muda, semua ini salahku, aku mohon hukum saja aku,” mohon Nana.


Young tidak menggubris sama sekali. Ia hanya terus menatap sang adik.


Ia menarik napasnya dalam-dalam. 


“Mulai sekarang, jangan pernah menemuinya lag”.


Jun hendak pergi meninggalkan sang adik. Tetapi,


“Kenapa aku tidak boleh? Kenapa hanya Kakak yang bisa keluar seenaknya bermain bertemu teman-teman, sesuka-suka Kakak, kenapa aku tidak bisa?! Apa hanya Kakak yang boleh bahagia?”. 


Saat itu, aku tidak tahu apa-apa..


“Jangan bodoh. Jangan menunjukkan kebodohanmu,” jawab Young.


“Aku memang bodoh, apa urusannya denganmu?!” Youra menangis semakin menjadi-jadi.


Dan hanya terus bicara sesukaku..


Young yang geram menarik tangan sang adik kuat-kuat ke halaman rumahnya. Nana dan pamannya melihat itu khawatir.


Young berjalan cepat mengambilkan sang adik pedang. 


“Lawan aku!” perintah Young sambil melemparkan pedang itu.


Karena Youra diam saja dan hanya terus menangis, Young mencoba melawannya lebih dulu. Dia menyerang Youra dengan pedangnya. Youra berusaha menangkis pedang sang kakak.


“Sekarang, serang aku!” perintah kakaknya kembali.


Tapi Youra sama sekali tidak bisa bermain pedang. Ia malah semakin menangis. Young kembali menyerangnya, dan Youra berusaha menangkisnya.


“Tuan Muda, aku mohon hentikan,” teriak Nana dan pamannya.


Young tidak peduli, ia terus menyerang sang adik. Youra spontan menangkis, tetapi akhirnya pedang itu terjatuh dari tangan Youra.


Youra sangat putus asa, ia berjongkok menangis terisak-isak. Young melempar pedangnya ke tanah.


“Jika kau sudah tahu artinya bertahan hidup, sampai saat itu jangan pernah bermimpi untuk pergi dari tempat ini lagi”.

__ADS_1


Young meninggalkan sang adik yang terisak.


Aku tidak pernah bertanya, siapa diantara kami yang lebih menderita. Yang aku tahu, kakak sangat egois dan akulah yang menderita.


__ADS_2