Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Menikah


__ADS_3

Gerbang istana utama telah dibuka. Para pelayan berlarian dengan gaun baru mereka yang indah, bersiap untuk segera membukakan pintu bilik Youra. Di dalam sana, Youra masih berselimut sedih, terus saja bertengkar dengan perasaannya yang hancur berantakan. Napasnya yang sesak membuatnya terus saja menahan diri, untuk tak bertindak di luar nalar. 


Dayang Nari, pelayan barunya datang mendekat. Mengambil selendang sutra putih dengan motif naga emas yang luar biasa mewah, segera menutup kepala Youra hingga wajahnya tak lagi terlihat. Diam saja Youra di atas ranjang, mencoba melepas semua rasa benci itu untuk sementara, setidaknya di depan para bangsawan agar tak mempermalukannya. 


Air mata itu mengalir deras di pipinya, perpisahan ini sudah di depan mata. Menjadi istri pria yang telah membunuh kakaknya, menjadi mempelai orang yang sangat dibencinya, mengharuskannya meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya. Hingga air mata itu tak menunjukkan keinginan untuk segera berhenti. Youra menarik gaun indah itu ke dalam genggamannya, sangat sakit. Para pelayan yang ada di dalam sana, ikut menangis karenanya. Entah kenapa, tatapan itu, air mata itu, adalah yang paling pilu dari semua tangis yang pernah mereka lihat. Seorang gadis yatim piatu, tanpa keluarga dan pendukung akan segera masuk ke istana menjadi istri pria yang dikenal hina. 


Di luar sana, Nana dan pamannya berjalan putus asa menuju gerbang istana. Mereka mendongak ke atasnya. Menurut mereka, tak ada lagi yang tersisa, selain harapan agar Youra baik-baik saja.


**


Kini, pintu biliknya telah terbuka. Putra Mahkota sudah selesai mengucapkan sumpah dan janjinya. Itu artinya, Youra dan Putra Mahkota sudah resmi menjadi suami istri. 


Ayah..


Segera seluruh pelayan berbaris rapi, dari depan bilik menuju istana utama untuk mengantar Youra bersanding dengan suaminya. Dayang Nari dan satu lagi pelayan membantu Youra berdiri.


Ibu..


“Selamat Yang Mulia, mulai sekarang Anda sudah resmi menjadi istri Putra Mahkota”.


Para dayang yang membantu Youra berdiri, segera membungkukkan tubuh mereka, mengucapkan selamat penuh hormat. 


Kakak..


Di anak tangga terakhir kediamannya, dia berhenti cukup lama.


Hari ini aku menikah. 


Selendang sutra yang menutupi wajahnya, dia singkap sedikit. Menengadah ke langit, melihat betapa terangnya mentari. Air mata itu tak pernah berhenti, masih sama, betah untuk terus mengalir di pipi Youra.  


Maaf, aku menikah tanpa kalian disini.


Youra menghapus air mata itu dari wajahnya dengan hati-hati, agar riasan cantik yang menempel itu tak terhapus. Terlihatlah sempurna di depan banyak orang agar mengundang banyak pujian. Tahta, adalah satu-satunya harapan Youra. Setidaknya, dengan tahta itu, ia punya kemampuan untuk menemukan pembunuh ayah dan ibunya. 


Youra menuruni anak tangga terakhir, kembali menutup wajahnya dengan selendang mewah itu. Bersama seluruh pelayan istana ratu, mereka sama-sama mengantar Youra menuju istana utama.


“Berikan hormat pada mempelai wanita!”.


Teriak seorang kepala gerbang utama. 


Aku, Lee Youra,

__ADS_1


Gaun putih mewah bercorak merah hati, berkilau lantaran berlapis payet-payet emas yang berbaris rapi, menjalar di sepanjang kembang gaunnya yang sangat indah, menghiasi langkah Youra saat mulai menginjakkan kaki masuk ke istana utama.


Membawa seluruh kebencian ini.


Dia berjalan sangat anggun, dengan dayang-dayang muda yang mendampinginya, Youra membusungkan dadanya. Sangat tegap. Serentak seluruh orang yang ada disana, menundukkan wajah dan pandangan mereka, membungkuk hormat menyambut kedatangan Youra, yang akan segera lewat di hadapan mereka. 


Demi seluruh penderitaan yang aku alami,


Langkah itu, terasa sangat lamban. Youra yang tadinya terus menunduk, kini dengan berani mengangkat wajahnya. 


Aku bersumpah… 


Senyuman kebencian, terukir menyeramkan dari sudut bibirnya. Ia melirik seluruh orang yang ada disana. Orang-orang yang membungkuk hormat padanya.


Akan membuat kalian semua membayarnya.


Senyuman itu kini lebih lebar dari sebelumnya.


Menghancurkan kalian semua.


Dayang Nari yang menemani langkah Youra, dapat merasakan getaran kebencian yang amat dalam itu, bahkan dari langit yang menjadi saksi pernikahan terkutuk itu.


Karena aku,


Di balik selendang mewah itu, dengan genangan air mata, dia tersenyum setelahnya.


Calon ratu, negeri ini.  


**


Youra diantar naik ke singgasananya, menghasilkan tatapan dengki dari orang-orang yang melihatnya. Terutama ratu, ibu mertuanya.


“Berikan hormat pada Yang Mulia Putra Mahkota!!”.


Serentak, wajah-wajah penasaran itu langsung menoleh ke pintu gerbang utama. Bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Putra Mahkota, sosok tertutup yang tak pernah muncul di khalayak umum. Di atas singgasana itu, Youra hanya terus menundukkan wajahnya. 


Pintu itu telah terbuka. Seluruh opsir berlarian menuju gerbang, berbaris rapi membentuk dua jalur saling berhadapan. Para pelayan terburu-buru mengejar kedatangannya. Putra Mahkota negeri ini, akhirnya muncul di hadapan banyak orang.


Langkah itu sangat elegan. Tubuh tinggi itu kini terbalut pakaian mewah padat. Berjalan dengan wibawa yang mencuat, naga emas yang melekat pada motif dasar pakaiannya, membuat orang tak dapat berpaling darinya sedikitpun. Masih dengan penutup wajahnya, orang-orang tampak kesal karena dia tak juga membuka topengnya. 


Namun, kini mata indah milik calon penguasa negeri ini, menjadi alasan orang-orang tak dapat berpaling. Setelah berusaha keras menahan diri, orang-orang itu akhirnya kembali melirik. Matanya sangat indah dan tajam. Terus saja memandang ke depan, tatapan itu terus saja berlabuh pada Youra yang menundukkan wajahnya di singgasana. Sangat jelas, ingin segera berada di sisi istrinya.

__ADS_1


Jung Hyun yang menemani langkah Putra Mahkota, sangat khawatir. Dia hanya tidak ingin Putra Mahkota, menjadikan Youra sebagai umpan untuk memulai pertarungan di istana.  


Aku menikah…


Ego itu kalah. Kini ia segera mengangkat wajahnya. Berusaha menelusuri wajah suaminya. Jiwa penasaran itu membuat Youra segera menegakkan sedikit wajahnya, untuk melihat kedatangan suaminya.


Dengan orang yang tidak aku cintai.


Langkah itu akhirnya sampai di hadapan Youra. Putra Mahkota memutar posisinya, kini tepat berada di sisi Youra. Meninggalkan jejak kesedihan yang amat dalam.


Kekasihku yang malang..


Karena saat Putra Mahkota telah tiba di singgasannya, jauh di belakang sana, Youra melihat Jun sedang menatapnya.


Menjadi tamu di pernikahanku.


Dengan raut wajah penuh luka, Jun segera membuang pandangannya. Bagaimanapun juga, kini kekasihnya itu telah menjadi milik orang lain. 


“Silahkan, Guru besar istana, Jun, memberikan berkatnya kepada Putra Mahkota".  


Menarik dalam napasnya, berjalan menyusuri rasa sakit itu lebih dalam, Jun melangkah putus asa menghadap Putra Mahkota untuk segera memberikan restunya.


Sangat dekat, mereka berdua sangat dekat. Namun, jarak itu menjadi saksi, betapa jauhnya mereka saat ini. Dayang Nari tersentak. Dendam, getaran itu membuatnya spontan menoleh kepada dua pria yang kini saling berhadapan.


“Selamat Yang Mulia. Semoga….,” Jun menggenggam seluruh rasa sakit itu di tangan kirinya, sebelum akhirnya dia meneruskan perkataannya.


“Semoga pernikahan ini memberikan kebahagiaan untuk Anda dan seluruh rakyat negeri ini,” tambahnya.


“Semoga langit secepatnya menghukum Anda. Memisahkan kalian berdua, Putra Mahkota yang hina,” batin Jun bersamaan.


Dia yang terus saja menunduk, berusaha keras untuk tak melihat Youra. Namun, tanpa sengaja, ia kembali menoleh, saat menyadari ada air mata yang menetes ke ubin singgasana itu. Air mata kekasihnya. Hal itu, membuat kemarahannya menjadi lebih memuncak. Saat ini bersarang di ubun-ubunnya. Segera setelahnya, dia menyingkir dari hadapan Putra Mahkota dan Youra.


Putra Mahkota, menoleh ke kiri. Sedikit menundukkan wajahnya. Tangan itu sekarang sedang bergerak. Meraih selendang penutup wajah istrinya. 


“Senang, akhirnya kita bisa menikah,” bisik Putra Mahkota.


Pria terkutuk,


Kini tangan lebar dan hangat itu ada di atas kepala Youra, segera membuka selendangnya. Putra Mahkota membungkukkan sedikit tubuhnya, pelan-pelan ia membuka selendang sang istri dengan kedua tangannya. Setelahnya, ia mendaratkan bibir dari balik penutup wajah itu, menuju dahi Youra.


“Mulai sekarang, kau milikku,” bisik lembut Putra Mahkota .

__ADS_1


Putra Mahkota yang bodoh, mulai sekarang, aku akan segera menyingkirkanmu.


**


__ADS_2