
Jung Hyun melengos cepat menuju kediaman lama Youra. Sangat sepi, tak ada tanda kepemilikan yang terlihat. Hanya ada beberapa tumpukan jerami kering yang tidak terurus dengan baik. Tidak baik. Perasaan Jung Hyun tak enak. Pintu gerbang pagar itu terkunci rapat. Dia melompati pagar dengan kemampuannya, berdiri di samping pohon tumbang yang menghiasi halaman rumah itu.
Jung Hyun mendekat, mencoba mengintip ke dalam rumah yang gelap dan sunyi. Benar, tak ada orang disana. Dia berdiri cukup lama, mematung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Jung Hyun kembali keluar, mampir di gubuk tak jauh dari sana.
"Permisi, boleh aku tanya? Gadis yang tinggal disana, apa kalian melihatnya?" tanya Jung Hyun.
Orang-orang itu melempar pandangan satu sama lain, sebelum akhirnya bersuara. "Oh gadis yang tinggal dengan lelaki paruh baya itu? Terakhir kami melihatnya sekitar tiga sampai lima hari yang lalu. Setelah itu tidak pernah lagi terlihat," jelas salah satu mereka.
"Kalau boleh tahu, kemana ya mereka?" tanya Jung Hyun kembali.
Seorang lelaki keluar dari kediamannya sembari menggigit potongan kue beras. "Ada lelaki menjemputnya bersama beberapa orang. Aku tidak melihat wajah mereka dengan jelas. Gadis itu dan pamannya mengikuti orang-orang itu," kata lelaki itu.
"Apa yang terlihat? Maksudku, ciri orang yang membawa mereka. Salah satu saja," kembali Jung Hyun menggali lebih dalam.
"Hm, orang-orang itu sangat rapi. Hanya saja, aku sedikit bingung dengan hal lain." Semua lelaki termasuk Jung Hyun langsung menoleh.
"Bingung kenapa?"
"Aku melihat pemuda yang sama saat itu. Dia meletakkan beras di depan rumah warga tengah malam saat semua orang sudah tertidur. Pemuda itu, aku melihatnya sering datang, tetapi tidak pernah bertamu. Dia suka berdiri di depan sana, cukup lama. Tidak ada yang terlihat kecuali bekas luka di sekitar sini." Lelaki itu menyentuh dahinya.
"Itu pasti pemuda yang tadi. Siapa dia?"
"Baik, terima kasih."
Jung Hyun beranjak dari tempat itu, bergegas menuju istana.
***
Putra Mahkota berdiri di balkon istananya, terus memandangi istana sang permaisuri. Malam sudah semakin gelap. Langit menunjukkan tanda akan segera turun hujan, tetapi Putra Mahkota masih berdiri disana berharap sang istri keluar sebentar untuk melihatnya.
"Yang Mulia, angin sangat mengerikan. Masuklah dulu dan istirahatlah," Kasim Cho berusaha membujuk.
"Kasim Cho," panggil Putra Mahkota yang masih terus menatap istana Youra.
"Apa dia marah padaku? Karena sikapku yang lancang?" tambah Putra Mahkota.
Kasim Cho menjadi iba mendengar kalimat yang keluar dari mulut Putra Mahkota. Tampaknya, Putra Mahkota merasa bersalah.
"Apa yang harus permaisuri marahkan, Yang Mulia?" tanya Kasim Cho.
Putra Mahkota menarik napas, duduk di atas meja balkon meneguk teh setelahnya. "Aku sudah lancang menyentuhnya," lirih Putra Mahkota.
Kasim Cho tersenyum. Ada rona merah yang menempel di pipinya. "Yang Mulia, Anda adalah suami sah beliau. Anda berhak untuk menyentuh permaisuri. Jangan khawatirkan hal itu."
"Tapi dia tidak menginginkannya. Dia sama sekali tidak merindukanku setelah apa yang aku lakukan tadi pagi. Tidak terlihat di balkon istana. Tidak juga memberikan tanggapan setelah dikirimkan bunga. Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku ingin sekali memilikinya. Namun, dia tidak memberikan tanggapan yang baik. Dia tidak tulus menatap mataku. Sangat terpaksa saat aku menyentuhnya. Dia benar-benar tidak menginginkannya. Apa yang harus aku lakukan agar dia mencintaiku?" gundah Putra Mahkota semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Mengingat bagaimana Youra tidak membalas pelukannya, juga tidak membalas kecupan dari bibir suaminya. Hanya mematung dan segera pergi setelahnya, membuat Putra Mahkota menjadi putus asa ditambah oleh kenyataan Youra tak menunjukkan rasa bahagia.
"Yang Mulia, milikilah seorang anak. Ini bukan hanya perintah dari raja karena tuduhan rakyat yang tidak-tidak terhadap Anda, tetapi ini juga akan jadi cara agar permaisuri bisa mencintai Anda." Kasim Cho menawarkan cara.
"Bagaimana bisa?" tanya Putra Mahkota.
"Istana ratu, sudah mulai membicarakan soal pemilihan selir untuk Anda, karena permaisuri tak kunjung mengandung. Hamba yakin, Anda hanya ingin memiliki anak dengan permaisuri Lee." Kasim Cho memberikan pandangannya terhadap keadaan.
Putra Mahkota berubah urung. Jika dicium saja Youra tidak menginginkannya, bagaimana bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Putra Mahkota tidak mau Youra marah. Dia ingin Youra juga menginginkannya. Namun, rasa tak sabar Putra Mahkota untuk menunjukkan cintanya sudah tak lagi dapat dia tahan begitu lama. Sesuatu yang dewasa mulai menggerayangi Putra Mahkota. Memiliki anak agar Youra tak bisa lagi pergi darinya, membuat Putra Mahkota berpikir untuk menjadi liar dan tak mau lagi kalah.
***
Youra berdiri di depan cermin dalam biliknya. Melepas ikatan rambut dan menggerainya. Dia menyentuh rambut itu cukup lama. "Dayang Nari, apa aku lebih cantik dengan rambut terurai?" tanya Youra.
Dayang Nari tersenyum, "Anda cantik dengan tampilan bagaimanapun, Yang Mulia."
"Wajah cantik yang menggerai rambutnya. Aku ingin selalu melihatnya."
Terulang kembali dalam memori, perkataan sang suami saat menyentuh rambut indahnya. Jantung Youra berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia merapikan rambutnya kembali, dan menggeleng cepat. Mungkin, berusaha menyingkirkan bayangan itu dari kepalanya.
"Ada apa, Yang Mulia? Anda belum mengantuk?" tanya Dayang Nari.
Youra tiba-tiba saja menangis. Hatinya tak lagi terarah. Awalnya, dia memang ingin melenyapkan Putra Mahkota. Namun, semakin lama, semakin sulit baginya untuk kembali pada tujuan utama. Entah itu rasa bersalah, rasa iba, atau dia telah jatuh cinta. Hanya saja, Youra merasa tidak bisa melakukannya. Ada perasaan kuat baginya untuk tidak bisa melakukannya.
Dayang Nari mendekat. Menyapu air mata di pipi Youra. "Anda harus membuka mata Anda, Yang Mulia. Anda tidak akan menemukan apa yang Anda cari, jika Anda terus saja menutup mata," batin Dayang Nari, mengunci mulutnya.
"Yang Mulia, janganlah menangis lagi. Hamba tidak bisa melihat Anda menangis seperti ini," bujuk Dayang Nari menenangkan. Youra memeluk Dayang Nari, dan berusaha tenang setelahnya.
***
Setelah selesai menggali lebih dalam informasi, Jung Hyun yang baru saja tiba di istana, terburu-buru menemui Putra Mahkota.
"Yang Mulia, Jung Hyun datang. Katanya, ada berita penting yang harus dia sampaikan."
Putra Mahkota yang saat itu baru saja akan berbaring, merasa sangat khawatir. Kedatangan tamu di tengah malam yang gelap dan sunyi memang sangat mencurigakan.
"Yang Mulia, ada hal penting yang harus hamba sampaikan," kata Jung Hyun dengan raut cemas di wajahnya.
"Tampaknya, seseorang sedang menjebak Anda. Tetaplah Berhati-hati, dan tunda pertemuan Anda bersama Kaisar Qing," tambah Jung Hyun semakin tegang.
"Yang Mulia, maafkan aku. Sebenarnya, aku tidak ingin menyampaikan ini. Namun, aku tidak bisa lagi menutupinya," sedikit terbata Jung Hyun mencoba menjelaskan.
"Permaisuri Lee Youra, telah melakukan transaksi dengan salah seorang peracik herbal yang bekerja untuk musuh. Beliau membeli racun yang tampaknya akan dia gunakan suatu hari. Hamba harap, ini bukan jebakan. Hamba takut mereka akan menjadikan bukti kedatangan permaisuri waktu itu, untuk menjatuhkan Anda. Karena permaisuri adalah tanggung jawab Anda. Akan sangat mudah bagi mereka untuk melakukannya. Dan Yang Mulia, ada sesuatu yang mencurigakan di desa. Hamba pikir, ini ada kaitannya dengan percobaan pembunuhan yang terjadi kepada Anda."
Panjang lebar Jung Hyun menjelaskan, melepaskan seluruh rasa curiga itu dengan tulus dan apa adanya. "Mengapa?" tanya Putra Mahkota.
__ADS_1
Jung Hyun terdiam. Dia yang kebingungan hilang arah. Pertanyaan Putra Mahkota seolah mengunci tubuhnya. "Ya, Yang Mulia?" jawab Jung Hyun tersendat-sendat.
"Siapa yang bisa aku hukum? Jika semua orang yang aku sayangi juga ingin membunuhku."
Ada sesuatu yang merobek jantung Jung Hyun. Hatinya tersentuh mendengar tanggapan itu. Putra Mahkota selalu saja berpura-pura baik-baik saja. Berpura-pura kuat dan tidak terluka. Dia tahu jelas segalanya. Orang-orang yang menginginkan kematiannya, dia tahu semua soal itu. Hanya saja, dia terlalu menyayangi. Sehingga dia hanya bisa pasrah karenanya, tak pernah berniat untuk menyelidiki.
Tiba-tiba...
Jung Hyun terhenyak di atas ubin, berlutut di kaki Putra Mahkota. Tubuhnya bergetar, ingin menangis dan berteriak. Di depan Putra Mahkota, Jung Hyun melepaskan sabuk dan ikat kepalanya. Menyerahkan pedang kepada Putra Mahkota.
"Yang Mulia," panggil Jung Hyun terbata-bata.
Langit yang hitam menunjukkan kekuasaannya. Gemuruh bersahut-sahutan, menciptakan nada apik yang menegangkan. Air mata Jung Hyun mengalir begitu deras, satu persatu menggambarkan rasa penyesalan. Putra Mahkota menatap sendu, saat tangan kekar itu menyentuh ujung kakinya.
"Yang Mulia, aku sudah mengkhianatimu." Suara itu bergetar, memperlihatkan betapa menyesalnya sosok itu.
"Aku sudah mengkhianati kepercayaanmu," tambah Jung Hyun putus asa.
Putra Mahkota diam saja, tidak memberikan reaksi apa-apa. Dia sudah tahu, dan hanya berpura-pura tidak tahu. Kasim Cho yang mengintip dari celah pintu bilik, ikut terhenyak dan menangis. Kenyataan memang sepahit itu. Putra Mahkota benar-benar sendirian di muka bumi ini.
"Bunuhlah aku, Yang Mulia." Jung Hyun menyerahkan pedang miliknya, dengan penuh hormat untuk pertama kalinya.
Putra Mahkota menarik pedang yang Jung Hyun berikan.
"Membunuhku, belumlah cukup untuk memaafkan pengkhianatan yang aku lakukan," terus saja terisak, tubuh yang berlutut itu hanya bisa menundukkan wajahnya.
Putra Mahkota mengangkat pedangnya, cukup tinggi. Sebelum akhirnya benar-benar meletakkannya di leher sang pengawal pribadi.
"Berdirilah," perintah Putra Mahkota mengejutkan. Jung Hyun menepis air matanya, terkejut terhadap perintah itu. Sedang, pedang masih saja Putra Mahkota letakkan dekat sekali dengan tenggorokannya.
Jung Hyun berdiri, tetapi tetap menundukkan pandangannya.
"Aku hanya punya satu teman di dunia ini. Bagaimana aku bisa membunuhnya?" Putra Mahkota melepaskan pedang itu. Membuangnya cukup jauh.
"Aku tidak punya siapapun. Meski kau menganggapku musuh, aku tetap menganggapmu temanku."
Entah kenapa, perkataan Putra Mahkota lebih menampar keras perasaannya. Memukulnya tak henti. Semakin lama, semakin menyakitkan. Semakin lama, semakin menyedihkan.
Putra Mahkota mendekat, menyentuh pundak Jung Hyun dengan tangan kanannya. "Tetaplah menjadi temanku. Jangan mengatakan soal ini lagi."
Jung Hyun menatap tangan itu. Tangan pucat yang penuh luka. Sudah banyak penderitaan Putra Mahkota. Namun, beliau selalu menyembunyikan segalanya. "Kembali lah lagi besok pagi. Anggap tidak ada yang terjadi."
Jung Hyun menangis haru, dia kembali berlutut pada Putra Mahkota. "Aku bersumpah tidak akan lagi mengkhianati Anda, Yang Mulia. Aku akan membantu Anda," jawabnya lantang dan penuh keyakinan.
"Aku bersumpah, tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Anda, Yang Mulia."
__ADS_1