Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Aku adalah Seorang Pengkhianat


__ADS_3

Pangeran Hon melempar pandangannya kepada Perdana Menteri Han, dia terus menatap pria tua itu berlama-lama.


Kepala Menteri Perang tidak menyerah sedikitpun. Beliau bahkan bersujud di bawah singgasana raja. "Aku bersumpah atas nama langit, Yang Mulia! Aku tidak berbohong! Semua itu memang benar. Aku memang membenci beliau! Itu semua karena beliau adalah penipu yang menjebak banyak orang! Beliau bermuka dua, Yang Mulia. Tolong percaya pada hamba." Sangat bermohon Kepala Menteri Perang pada raja.


"Yang Mulia! Jangan mempercayai beliau. Selama ini Kepala Menteri Perang selalu semena-mena kepada kami dan para rakyat, sangat berbeda dengan Perdana Menteri Han! Beliau sangat murah hati meski terkadang menyeramkan dan suka sekali emosi." Kembali lagi para menteri membela Perdana Menteri Han. Rakyat pun ikut bersuara membela beliau.


Raja memutar matanya mengarah pada sang permaisuri. "Bagaimana menurutmu, Permaisuriku?" tanya raja.


Youra mencoba mengintip dari balik selendang yang menutupi wajahnya. Dia melihat wajah Kepala Menteri Perang, sebelum melabuhkannya kepada Perdana Menteri Han.


Awalnya, mungkin itu semua bisa saja terjadi. Namun, kenyataan memang seperti itu. Jika Perdana Menteri Han adalah dalang yang sudah membunuh kakaknya, mengapa Perdana Menteri Han tidak membunuh Youra juga? Padahal, Perdana Menteri Han tahu Youra masih hidup. Bahkan Perdana Menteri Han tahu Youra punya hubungan dengan Jun, putranya waktu itu. Beliau sama sekali tidak mengusik atau mengancam Youra. Beliau juga tidak pernah terlibat apapun pada Youra. Beliau bahkan menghormati Youra dan sama sekali tidak pernah menunjukkan kebencian. Rasanya sangat tidak mungkin.


"Yang Mulia, aku merasa ... Perdana Menteri Han bukan orang yang seperti itu. Namun, kita tidak bisa mengesampingkan pernyataan dari Kepala Menteri Perang. Bagaimanapun juga, hal ini harus terus dikaji. Mungkin kita perlu waktu untuk menyelidiki lebih lanjut, mengingat sudah cukup lama persidangan ini terlaksana. Ada baiknya, kita menyerahkan kasus ini kepada Biro Investigasi kembali." Youra mengeluarkan pendapatnya, untuk menghentikan jalannya persidangan yang sudah sejak pagi terlaksana. Namun, panasnya persidangan itu membuat rakyat tak ingin beranjak dan ingin segera melanjutkan. Raja menuruti nasehat istrinya untuk menghentikan sidang.


"Baiklah, kasus ini akan kembali kami kaji. Sebelum aku menutup pertemuan hari ini, aku akan mengumumkan secara langsung di hadapan publik." Raja berdiri di atas singgasananya, membusungkan dadanya untuk segera berteriak. "Aku membuka kembali kasus perampokan yang terjadi pada Penasehat Negara dan keluarganya. Aku harap, jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan 10 tahun yang lalu ... segeralah memberikan laporan. Dan ... aku juga membuka untuk semua kasus yang dirasa perlu diluruskan. Baik lah, untuk itu pertemuan hari ini, aku ..."


Seorang opsir berlari dari tengah lapangan secara mendadak menghentikan perkataan raja dan berhasil mencuri perhatian para hadirin. "Yang Mulia, ada seseorang yang dari tadi memaksa masuk untuk menemui Anda. Beliau mengatakan ada hal yang harus beliau sampaikan dan tidak ada lagi kesempatan selain hari ini. Namun, beliau sama sekali tidak berpakaian rapi dan formal. Beliau enggan membuka penutup kepalanya. Bahkan saat ditanya, beliau enggan menjawab."


Laporan opsir itu membuat semua orang kebingungan. Raja sangat bimbang, tetapi sepertinya seseorang itu memang ingin menyampaikan sesuatu. "Baiklah, izinkan dia masuk."


Entah kenapa tepat setelah raja memberikan restu, angin bertiup lebih kencang. Awan menggelap lebih hitam. Dan bahkan petir yang dari tadi bersembunyi mulai mengeluarkan suara. Semua orang memandang ke arah langit yang mulai bereaksi. Mereka semua merinding aneh. Ada hawa berbeda yang meraup seisi langit. Ada aura hitam dan gelap yang saling tumpang tindih.


Opsir melepaskan tangannya dari orang yang baru saja di antar menghadap raja. Orang itu adalah seorang wanita, terlihat dari gaun kumuh yang ia gunakan. Wanita itu menutup kepalanya sangat rapat. Dia bertelanjang kaki dengan langkah yang tertatih-tatih lambat. Wanita itu ... sedang hamil tua. Dia menggenggam perutnya dengan tangan sebelah kanan, dan tangan lainnya berusaha menarik penutup wajahnya. Semua keributan lantas menjadi hening tak bersuara, semuanya terfokus pada sosok yang sedang berdiri dengan perut besarnya.


Youra yang saat itu juga sedang mengandung, ikut meraba perutnya. Langit mulai menunjukkan ketidakramahan. Suara langit menakutkan, membuat mereka semua terus saja terkejut. Namun, wanita yang berdiri di hadapan raja itu tidak takut sama sekali. Pelan-pelan dia membuka penutup kepalanya. Dan, apa yang mereka lihat benar-benar membuat mereka tidak percaya.

__ADS_1


Sekali lagi seluruh mata membeliak. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini terasa sangat menyeramkan. Orang-orang saling berpandangan heran.


"Itu ..."


Tak ada satupun yang tidak terperangah. Semua orang bahkan tak habis pikir. Kepala Menteri Perang dan Won Bin yang saat itu masih disergap petugas ikut kebingungan.


Sret!


Jung Hyun langsung tersentak.


Penutup wajah dan kepala itu tergeletak di atas tanah. Wajah cantik yang telah lama hilang itu kembali terpampang di hadapan umum. Wajah datar, dengan air mata itu bahkan langsung membuat orang ikut bersedih.


"Kakak?" Pangeran Hon dan raja ikut terkejut.


"Putri Shin?" lirih Youra ikut bingung.


Belum bersuara sama sekali, tetapi wajah lebam lengkap dengan air mata itu sudah berhasil menggores luka di hati para hadirin. Youra bahkan sampai menitikkan air mata.


Langitpun seolah ikut bersedih. Dayang Nari yang berada jauh dari lokasi, langsung memutar tubuhnya menghadap lapangan.


Dia sudah datang. Bintang yang telah lama redup itu sudah datang. Satu saksi akan bercerita soal luka. Satu saksi yang akan bercerita hingga terluka.


"Putri Shin, Anda darimana saja?" Raja dan Pangeran Hon ingin mendekat untuk memeluk kakak perempuan mereka yang sudah lama menghilang, tetapi tiba-tiba saja Putri Shin terisak hingga membuat semua orang yang bahkan tidak tahu mengapa ikut menangis.


Langkah raja dan Pangeran Hon terhenti, kala kakak mereka itu berhati-hati bersimpuh dengan memegangi perut besarnya. Tak seharusnya beliau menghadiri rapat, di usia kandungan yang sudah mendekati masa bersalin. Jung Hyun ingin sekali mendampingi wanita tercintanya itu, tetapi ia berusaha keras untuk tak gegabah.

__ADS_1


"Kakak, apa yang Kakak lakukan?" tanya raja tak percaya.


"Yang Mulia." Suara Putri Shin yang bergetar ikut menggetarkan langit. Semua orang saling berpandangan melihat penampilan Putri Shin yang menyedihkan.


"Aku ingin menyampaikan sebuah pengakuan ..." Semua orang lantas terdiam kaku di tempat. Tak ada satupun dari mereka yang ingin meninggalkan lapangan.


"Sesuatu yang telah lama kusimpan, selama lebih dari 20 tahun lamanya," sambung Putri Shin.


Jung Hyun mengepal erat tangannya. Gerak-gerik Putri Shin mencurigakan. Dia tampak sangat putus asa dan bahkan terlihat pasrah.


Pelayan Putri Shin berbondong-bondong ingin mencegah beliau, tetapi para petugas menahan mereka untuk tidak mendekat. Ada beberapa orang yang bahkan berusaha untuk menghentikan Putri Shin, tetapi petugas dengan cepat pula mencegat.


"Tolong hentikan itu, Tuan Putri!!!" teriakan para pelayan Putri Shin malah semakin membuat orang kebingungan. Kecurigaan dan praduga muncul dimana-mana. Semua orang memasang telinga dan mata mereka dengan baik.


"Apa yang terjadi?" tanya raja tak percaya. Putri Shin tak menjawab apapun, selain bunyi tetesan air mata yang terjatuh di atas karpet merah itu.


Dayang Nari yang saat itu berada di istana Youra berlari cepat mengangkat gaunnya menuju lapangan.


"Putri Shin, apa yang Anda lakukan?" panggil Pangeran Hon.


Putri Shin menegakkan kepalanya menatap raja. Dia tersenyum sembari meneteskan air mata. Pemandangan itu menyayat hati semua orang. "Putri Shin, aku sedang tidak bercanda. Apa yang Anda lakukan disini?" Raja mulai menaruh cemas berlebih.


"Aku ... " Putri Shin mengelus perutnya. Dia menatap Jung Hyun sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku adalah seorang pengkhianat."

__ADS_1


DEG


__ADS_2