
DEG
Terpukul, perasaan yang membuatnya sangat sesak. Mendengar pertanyaan ratu, Youra merasa ada sesuatu yang merobek hati dan jantungnya. Napas yang tak lagi beraturan, mengubah suhu tubuh itu seketika. Menjadi lebih pucat dan kedinginan, tangannya bahkan menjadi putih kebiruan.
Memiliki selir?
Mengapa? Seharusnya dia sangat senang, jika istana akan membicarakan soal istri lain yang akan mendampingi Putra Mahkota, itu artinya dia tak perlu berpikir panjang untuk merencanakan perpisahan atau lebih baiknya, tak perlu repot membunuh Putra Mahkota. Namun, semakin dia meyakinkan diri untuk membiarkan, hatinya semakin tidak menerima.
"Aku yakin kau tidak keberatan," tambah ratu membuyarkan lamunan Youra yang terlalu panjang. Ratu tersenyum pada Youra, menggambarkan tentang sebuah kemenangan.
Youra memperhatikan raut angkuh di wajah ratu, mengerutkan dahi, hingga kedua alisnya hampir saja menyatu. Sementara, Ara yang ada di dalam sana masih dengan diamnya memperhatikan interaksi mengegangkan kedua wanita penguasa negeri itu.
Tidak akan kubiarkan!
"Putri Mahkota, mengapa kau diam saja?" tanya ratu sekali lagi dengan wajah menjijikkan yang membuat Youra ingin sekali menamparnya. Youra tak bisa menjawab, dia masih pada ego tingginya untuk tak terlihat lemah.
"Belakangan Putra Mahkota tak pernah terlihat di luar kediamannya lagi. Apa kau tidak mengunjungi istananya?" tanya ratu memancing kemarahan Youra. "Beliau sedang sibuk mengurus urusan negara," bantah Youra.
Ratu meraih tangan Ara, sambil mengenggamnya, ratu kembali menohok Youra dengan perkataan-perkataan hinanya. "Hari ini Putra Mahkota dikabarkan berlatih ke lapangan bersama seluruh pelayan dan pengawalnya. Dia tidak mengunjungimu?" kembali ratu memanaskan.
Youra menarik napas, pikiran buruk mulai menghantui otak kecilnya. Benar, Putra Mahkota tak pernah lagi mengunjunginya sejak malam itu, bahkan untuk sekedar terlihat sedang memandanginya dari jauhpun tak lagi pernah. Youra melotot pada ratu, merasa sangat sakit hati.
"Jangan melotot seperti itu kepadaku. Bukankah seharusnya kau setuju?" Ratu tersenyum liciik. Dia menyentuh wajah Ara, "Bukankah aku benar, menantu kesayanganku?" tanya ratu pada Ara. Ara tak berkutik, hanya bisa tersenyum membalasnya sambil sedikit melirik Youra yang tersulut emosi.
"Anda ingin menyingkirkanku?" balas Youra menohok ratu yang spontan membatu. "Anda yang sudah berusaha membunuhku?" tambah Youra semakin menekan ratu. "Jaga mulutmu!" bantah ratu cepat.
"Tidak tahukah Anda apa yang sudah Anda lakukan itu hampir saja membunuh putra Anda sendiri?" Youra terus melemparkan kecurigaannya melihat bagaimana ratu selalu ingin menginjak-injak harga dirinya.
"Siapa yang kau sebut putraku?! Dia bukan putraku!" Ratu berteriak. Tak lama kemudian dia terkekeh, entah apa yang lucu dari perkataan itu. Youra dan Ara langsung terbelalak. Tercengang tak menyangka setelah mendengar pernyataan itu. "Jangan pernah mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi. Kalau tidak, akan kukatakan pada semua orang, kau gadis perawan yang tidak pernah mengabdi pada suamimu. Tidak hanya Putra Mahkota, kau pun akan dibenci oleh seluruh rakyat negeri ini," ancam ratu semakin menekan. Kali ini sudut bibirnya lebih runcing, menunjukkan betapa tingginya dia berkuasa.
__ADS_1
Youra tertikam oleh kenyataan. Selain kecurigaan terhadap perkataan ratu, luka hati yang timbul entah kenapa, mengusik pikirannya. Dia berusaha menahan diri, untuk tak bertindak lebih. Ada banyak telinga yang bisa mendengar semua kalimatnya. Dia tak boleh gugur sebelum memulai peperangan. Dia harus kuat dan bertahan sampai menemukan seluruh fakta itu.
"Yang Mulia, Pangeran Yul telah tiba di istana raja. Alangkah baiknya, setelah ini Anda dan para menantu istana menyusul." Laporan dari salah seorang pelayan berhasil mengalihkan suasana mengerikan itu.
Mereka bersama diantar secara hormat untuk mengunjungi raja yang sudah lama terbaring lemah. Para menantu wanita bersama ratu masuk terlebih dahulu. Di dalam kediaman raja, Youra dan Ara duduk di belakang tirai penghalang. Sementara ratu duduk di dekat raja, membantunya untuk duduk bersandar. Tak terlihat ada Pangeran Yul disana, hanya raja bertemankan seorang pelayan setia.
"Senang rasanya, dikunjungi oleh menantuku," sapa raja sedikit parau. Menunjukkan kesehatannya yang sangat tidak baik. "Aku datang kesini, untuk memberikan salam hormat dan doaku demi kesehatan Anda, Yang Mulia." Ara sangat manis dengan senyuman itu.
Raja berpaling, menoleh pada Youra yang terus saja berusaha keras menahan kemarahan yang sudah sejak tadi berada di ubun-ubun. "Putri Mahkota, bagaimana kabarmu?" tanya raja. Youra tersentak, "Baik Yang Mulia," jawabnya canggung.
"Selamat datang Pangeranku," sapa salah seorang pelayan setelah pintu bilik raja dibuka. "Pangeran Yul, putraku yang selalu datang mengunjungiku," sapa raja sangat senang. Pangeran Yul masuk ke dalam bilik itu, membungkukkan tubuhnya pada raja, ratu, dan Youra Sang Putri Mahkota. Dia duduk tepat di sebelah istrinya, Ara. Merangkul pinggul sang istri, dan memperlihatkan betapa manisnya hubungan mereka. "Kalian mengingatkan masa mudaku," puji raja terlihat antusias.
Youra melihat keluarga penuh kepalsuan itu. Ara dan kedua mertuanya tampak sangat akrab dan disayang. Mereka terus saja bercengkrama berempat tanpa memperhatikan Youra yang juga ada di tempat. Setelahnya raja menoleh ke pintu bilik itu, mengernyitkan dahi. "Putri Mahkota, apa suamimu tidak bisa hadir?" Youra gelagapan, tak tahu harus menjawab apa. Dia bahkan tak pernah berkomunikasi dengan suaminya, bahkan untuk sekedar bertanya alasan sang suami tak pernah berkunjung ke istana ratu, atau sekedar mengunjungi ayahnya yang sakit.
Youra menoleh pada pintu bilik itu. Ini pertama kali baginya sangat berharap suaminya datang menyelamatkan kecanggungannya. "Mungkin dia sibuk mengurus urusan istana, Yang Mulia." Persis seperti istrinya, Pangeran Yul juga berpura-pura membela.
Youra menoleh pada Ara dan Pangeran Yul yang terlihat sangat mesra. Juga pada raja dan ratu yang terlihat sangat manis. Sementara, dia sendirian di tempat itu tanpa suaminya. Ratu melirik Youra, tersenyum hina padanya dari atas ranjang Yang Mulia Raja. "Putri Mahkota, apa kau tidak mengajak suamimu kemari?" tanya ratu berusaha menunjukkan kesalahan Youra di hadapan raja.
"Belakangan, Putra Mahkota tidak keluar kamar. Mereka mengatakan beliau jatuh sakit."
Sakit?
Youra spontan mengangkat wajahnya, sangat terkejut saat tahu ternyata suaminya kembali jatuh sakit. Sementara, dia tak pernah mendapatkan kabar itu.
"Tapi sepertinya beliau sudah sangat sehat Yang Mulia. Hari ini, beliau ada di lapangan sedang berlatih," tambah ratu kembali menyindir Youra.
"Benarkah itu, Putri Mahkota?" tanya raja memastikan. Youra hanya bisa mengangguk. Sedangkan Pangeran Yul dan Ara terus saja menundukkan wajah mereka.
"Selamat datang, Yang Mulia Putra Mahkota." Semua sapaan itu terdengar bersahut-sahutan diluar bilik raja. Mereka semua yang ada di dalam tercengang tak menyangka. Wajah bahagia ratu berubah urung. Pangeran Yul dan Ara memperlihatkan ketidaksenangan. Namun, entah kenapa setelah mendengar itu, Youra yang tadinya tersulut emosi menjadi dingin setelah berapi-api. Jantung Youra berdebar kencang. Setelah sekian lama tak melihat suaminya, inilah kesempatannya untuk melihat kembali Putra Mahkota sejak kejadian malam itu. Tak sadar, segaris senyum terpancar di wajahnya. Dia terlihat sangat senang meski dengan rasa canggungnya.
__ADS_1
Putra Mahkota datang, membungkukkan tubuhnya kepada ratu dan raja. Youra berusaha keras menahan matanya agar tak melirik. Namun, kali ini akal dan hatinya tak dapat bekerja sama. Matanya terus saja melirik langkah sang suami.
Putra Mahkota sangat wangi. Dia datang dengan pakaian berlatih berwarna hitam bermotif merah hati yang sangat elegan. Kali ini rambutnya hanya diikat biasa. Menyisakan sedikit poni menambah pesona ketampanannya. Youra tertegun, saat langkah itu berhenti di sebelahnya. Duduk sangat dekat, hingga dia bisa merasakan hawa hangat yang keluar dari tubuh kekar yang penuh pesona itu. Pikirannya tak lagi bisa jernih, setelah mengingat kejadian malam itu. Putra Mahkota sang suami, sudah melihat separuh tubuhnya tanpa sehelai benang. Sangat malu, tapi tak merasa kesal.
Youra hanya terus menundukkan wajahnya. Melirik sedikit ke arah suaminya hati-hati. Membayangkan keindahan yang pernah dia lihat, ada di balik topeng dan baju mewah itu.
"Maaf aku baru bisa datang kemari, Yang Mulia. Bagaimana kabar Anda?" sapa Putra Mahkota.
Youra tersenyum, sangat senang bisa kembali mendengar suara jantan itu.
"Semakin membaik, melihat putra dan menantuku ada disini," jawab raja.
Kehadiran Putra Mahkota, membuat ratu dan Pangeran Yul tak bisa berkata-kata. Mereka hanya diam saja di dalam sana setelah kedatangannya. Youra melirik ratu, tersenyum penuh kemenangan setelah suaminya tiba.
Saat kembali menoleh pada Putra Mahkota, Youra merasa ada sesuatu yang berbeda. Anehnya, Putra Mahkota sama sekali tak memandang wajahnya. Tak sadar wajahnya malah merengut karena merasa kesal.
"Putri Mahkota, apa ada yang menganggumu?" timpal ratu seolah tahu apa yang sedang Youra pikirkan.
Youra tersentak, apa dia ketahuan sedang merasa kesal? Pikirnya. Dia berusaha keras untuk tersenyum, tetapi tidak bisa karena Putra Mahkota tak sedikitpun menoleh padanya. Saking kesalnya, dia tak segan-segan untuk terus memandang Putra Mahkota secara terang-terangan.
"Kami sedikit bertengkar sebagai pasangan suami istri biasa." Putra Mahkota berhasil menjawab rasa penasaran di wajah raja.
Raja pun tertawa karenanya, "Hahah! Benar-benar mengingatkan masa mudaku."
Setelah sedikit berbincang dan menyampaikan harapan untuk kesehatan raja, akhirnya mereka semua keluar dari sana. Pangeran Yul dengan mesranya digandeng oleh istrinya. Sementara ratu menetap di dalam.
Youra berdiri setelah suaminya berdiri. Dan keluar setelah suaminya keluar. Tak ada yang Putra Mahkota katakan selama di perjalanan. Youra hanya terus berjalan di belakang tubuh suaminya dengan canggung.
"Antar permaisuriku ke kamarnya," perintah Putra Mahkota pada para pelayan. Setelahnya, Putra Mahkota melangkah begitu saja meninggalkan sang istri bersama para pelayannya.
__ADS_1
Rasanya, ada sesuatu yang menancap di hati Youra, karena sang suami seolah mengusirnya.
Mengapa dia mengabaikanku?