Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Bertemu Calon Suami


__ADS_3

Youra diantar petugas istana menuju tandu kehormatan. Dia keluar dari ruangan tanpa tersenyum sama sekali. Wajahnya murung, menggambarkan besar kebenciannya. Hatinya menangis, memberontak, menolak untuk dipinang pria hina itu. Baru saja ia menyusun rencana, menikah dengan Jun dan hidup bahagia bersamanya. Namun, seluruh mimpi yang telah disusunnya, menghancurkan dan menyadarkan tempatnya berdiri saat itu. Dia tidak menyangka, semuanya benar-benar hanya mimpi. Tak ada hal lain yang dipikirkannya selain Jun kekasihnya. Dia bingung, harus berbuat apa. Apa yang harus dikatakannya pada Jun, membuatnya putus asa. Dia pasti akan dibenci pria yang dicintainya itu, pikirnya. 


Para petugas hendak mengantarkan Youra untuk berpamitan. Jin-Yi, dengan keanggunannya, tampak ikhlas berusaha menahan tangis kecewa. Dia melangkah anggun ke hadapan Youra.


“Selamat, Nona,” Jin-Yi membungkuk hormat, tersenyum teduh di depan Youra mengucapkan selamat.


Youra tak peduli, pikirannya terbang entah kemana. Dia tak memberikan reaksi apapun, termasuk ucapan terimakasih sekalipun. Dia berjalan begitu saja, melewati Jin-Yi yang terus saja memperhatikannya. 


Masih ada kesempatan untuk tidak menikah. 


“Antar aku menemui Putra Mahkota”. 


Youra dengan wajah datarnya, hanya terus memandang lurus ke depan. Wajah kecewa itu, bercampur benci dan dendam, menciptakan raut baru yang lebih mirip rasa jijik yang meluap-luap. 


Permintaan Youra yang mencengangkan, membuat seorang dayang berlari mendekat padanya.


“Maaf Nona, adalah larangan bagi Anda untuk menemui calon suami Anda, sebelum kalian menikah”.


Persetan, dengan pernikahan menjijikkan ini. 


Youra yang tadinya terus saja menatap ke depan, menoleh pada sang pelayan. Melotot tajam, mengeluarkan butiran air mata yang terus saja mengalir tanpa henti. Tangis itu, tak menunjukkan rasa sedih. Tangis itu, lebih mirip rasa benci.  


“Aku yang akan mengantarkannya”.


Sontak, seluruh orang menoleh pada sumber suara itu. Jung Hyun berdiri disana, membungkuk hormat, menghindari tatapannya dari Youra. Sementara itu, Jin-Yi yang hendak meninggalkan mereka, menghentikan langkahnya. Harapan indah yang sudah hancur, memaksanya untuk menerima semuanya dengan tabah. Ia menahan dirinya untuk segera pergi. Melihat Jung Hyun dari kejauhan yang hendak membawa Youra untuk bertemu Putra Mahkota, membuat Jin-Yi penasaran. 


**


Jung Hyun mengiring Youra menemui Putra Mahkota. 


“Peraturannya, Anda tidak diperkenankan untuk menatap wajah calon suami Anda,” jelas Jung Hyun.


Youra terus saja menitikkan air mata, tak peduli Jung Hyun sedang bicara apa. Dia hanya sibuk dengan seluruh strateginya, untuk segera hengkang dari istana.


“Kak Jung Hyun,” panggilnya.


Jung Hyun tertegun. Raut wajahnya yang iba, membuatnya hampir saja ikut menitikkan air mata.


“Aku tidak akan menikah dengan pria hina itu,” tambah Youra.


Jung Hyun menarik napasnya, dia berusaha untuk tak berbicara lebih pada Youra karena aturan istana. Jung Hyun menahan diri, hingga mereka tiba di sebuah taman pribadi milik Putra Mahkota. Para pelayan perlahan mundur, berdiri cukup jauh. 


Jung Hyun pun ikut pergi, meninggalkan tempat itu, memberi ruang untuk membiarkan mereka berdua menikmati waktu. Youra yang ada disana, meremuk gaunnya sekuat tenaga. Napas sesak itu tergambar jelas terlihat dari gerakan tubuhnya yang terus saja bergetar.


Saat ini, aku akan menghadapi, pembunuh kakakku sendiri. 


Dia terus saja mengatur isi otaknya yang mulai kandas. Darah yang mengalir di seluruh tubuhnya, memacu seluruh emosi menuju kepalanya. Membuatnya ingin segera berteriak di hadapan calon suaminya. 


Youra masih berdiri disana, dengan sumpah serapah dan kutukannya. Seluruh caci maki menggentayangi mulutnya untuk segera melabuhkannya, tepat setelah pria itu datang mendekat. Tak lama kemudian, bunyi langkah kaki datang mendekat dari belakang, mengusik seluruh rencana yang telah disusunnya.

__ADS_1


Pria itu berhenti di belakang tubuh mungilnya. Entah seberapa jauh jarak mereka, Youra dapat merasakan, hawa hangat dari pria itu. Aroma tubuh wangi dan segar, menyadarkan Youra bahwa calon suaminya itu adalah pewaris tahta negeri ini. 


Dia berusaha mengembalikan seluruh amarah itu, jauh di sudut kepalanya. Setidaknya, berpura-pura hormat, meminta untuk segera dicampakkan. Youra berbalik, menghadap calon suaminya itu tanpa memandang wajahnya. Dia membungkuk hormat, dengan napas sesaknya. 


“Selamat datang, Yang Mulia,” sapanya, berpura-pura hangat.


Youra kalah dari amarahnya, setelah bertengkar hebat dengan egonya. Dia yang tak lagi sabar, langsung saja, mengatakan keluhan hatinya. Putra Mahkota hendak melangkah maju, mendekati calon istrinya, tetapi dengan cepat Youra mematahkan langkah Putra Mahkota. 


“Aku tidak ingin menikah dengan Anda”.


Youra kembali membungkuk hormat padanya.


“Aku bodoh, tidak cantik, dan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan para kandidat yang lain. Mengapa aku yang terpilih?”. 


Youra yang amarahnya bergejolak, tanpa malu melayangkan protesnya.


“Jika keadilan ada di negeri ini, berkat keluasan hati Anda, mohon izinkan aku untuk undur diri,” tambah Youra yang masih dengan hormatnya.


Putra Mahkota tertawa. Suara tawanya, membuat dahi Youra berkerut, hatinya malah semakin terluka, merasa seakan dihina. 


“Aku menginginkanmu, bukan yang lain,” jawab Putra Mahkota. 


Youra semakin sesak, ia tidak terima karena merasa terhina. Tak lagi memperhatikan aturan istana, Youra mengangkat wajahnya, mendongak menatap wajah calon suaminya yang tertutup itu.


“Anda memang pantas terhina”. 


Tanpa rasa takut, Youra melayangkan kalimat yang membuat Putra Mahkota murka. Putra Mahkota melangkah maju, membiarkan Youra berdiam diri di tempat menatapnya dengan kebencian.


Putra Mahkota menundukkan tubuhnya, dengan wajah tertutup itu, ia tersenyum di baliknya.


“Bahkan, aku bisa membelimu dengan kekayaan yang kumiliki”. 


Putra Mahkota berdiri, mengepal tangannya, meninggalkan Youra bersama seluruh rasa benci.


**


(Kediaman ratu)


Han Ji-Eun, mengangkat gaunnya tinggi. Melaju cepat menuju kediaman ratu. Dia mendobrak pintu kediaman ratu tanpa permisi.


“Apa yang telah Anda lakukan? Bukankah Anda sudah berjanji untuk meloloskan aku?”.


Ji-Eun sangat tidak terima. Ratu seolah telah menipunya setelah memberikan janji untuk menjadikannya istri Putra Mahkota. Sementara itu, ratu tampak tidak peduli. Di atas ranjangnya dia bersandar, meletakkan tangannya pada bantalan. Terus saja menyentuh kepalanya. Penuh beban, membuatnya sangat pusing.


“Ji-Eun duduklah dulu,” kata ratu dengan tampang putus asa.


Ji-Eun yang melihat ratu tak bergairah, segera duduk setelahnya. Ratu memutar tubuhnya, berdiri dari ranjang, dan membangkitkan kekuatannya untuk memulai pembicaraan.


“Ini semua karena perintah raja, aku tidak dapat membantahnya,” keluh sang ratu.

__ADS_1


**


Sementara itu, di kediaman Jun.


Jun terkejut mendapati sang ayah sedang duduk santai di depan kediamannya. Perdana Menteri Han mendekat, menepuk pundak putranya yang baru saja tiba di rumah.   


“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Perdana Menteri Han ramah.


“Aku baik. Jika tidak ada keperluan, pergi dari sini lebih baik daripada hanya sekedar membuang-buang waktu”. 


Jun tersenyum, sedikit berkata halus untuk mengusir ayahnya dari sana. Setidaknya, sebagai guru besar, kesopanan adalah hal sangat dijunjung tinggi olehnya. 


Perdana Menteri Han terkekeh. Menyilang kedua tangannya ke belakang. Dia maju beberapa langkah, berdiri diam cukup lama di hadapan putranya. 


“Kau sudah berpisah dengan gadis itu?” tanya perdana menteri dengan wajah seriusnya.


Jun menanggapi tatapan serius itu dengan senyuman manis. Tampak sangat meremehkan kepedulian sang ayah.


“Kau pikir, aku akan menuruti seluruh perintahmu?”.


Jun mengangkat alis kirinya, tersenyum tipis di sudut kanan bibirnya. Namun, perdana menteri, menatapnya iba, dengan raut penyesalan yang terpampang nyata.


“Kau harus melupakannya”. 


Perasaan tak enak menghantui Jun, diantar oleh tatapan sang ayah yang membuatnya tak mengerti mengapa. Aneh sekali, pikirnya. Hari itu, ayahnya tampak berbeda. Tatapan yang tak pernah dia telusuri, menghasilkan perasaan cemas yang menghantuinya.


“Sudah kukatakan, jangan mencampuri urusanku,” Jun berusaha mengelak, membiaskan rasa aneh dalam dirinya.


“Kau boleh saja membantah perintahku, tetapi tidak dengan perintah raja,” bantah sang ayah.


Jun akhirnya bungkam. Dia kebingungan. Perdana Menteri Han, meletakkan tangan kanannya di pundak putranya.


“Lupakan dia. Dia wanita Putra Mahkota”.


Tak tahu jiwanya terbang kemana, Jun berusaha untuk tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Namun, tatapan sang ayah yang tampak tak berbohong membuatnya lebih sengsara. Jun diam saja, mencoba menapaki tanah lebih tenang.


“Adikmu tidak terpilih dalam seleksi ini, karena kekasihmu yang terpilih,” kata perdana menteri.


“Tidak mungkin, dia tak pernah mengatakan soal itu padaku. Lagipula dia sudah berjanji akan menikah denganku,” bantah Jun secepatnya.


Perdana menteri tampak lelah mengambil napas, lalu menghembusnya dengan kasar. 


“Putra Mahkota, menginginkan wanita yang kau cintai”.


Perdana menteri berkedip beberapa kali, tampak prihatin pada putranya yang hanya bisa diam saja.


“Mungkin dia akan datang kemari, sebelum akhirnya pindah ke istana. Secepatnya, Putra Mahkota akan mempersuntingnya. Hanya itu yang bisa aku sampaikan, aku permisi”.


Perdana Menteri Han meninggalkan putranya dengan luka hati yang begitu parah. Jun, dia berusaha untuk tak mempercayainya, tetapi semua tampak benar-benar nyata.

__ADS_1


Youra, kenapa..


Kau menyembunyikannya? 


__ADS_2