
Youra menepis seluruh perkataan Dayang Nari dengan langkah putus asanya. Sebenarnya dia tidak mau pergi, lantaran fakta soal pembunuh kakak dan orang tuanya belum di ketahui. Namun, rasa kesal dan egonya tak mau mengalah.
Jung Hyun berdiri disana, di depan tandu itu. Membungkuk hormat kepadanya. "Aku diperintahkan Putra Mahkota untuk mengawal Anda sampai tiba di tempat tujuan, Yang Mulia."
Youra akhirnya benar-benar masuk ke dalam tandu yang dikirimkan Putra Mahkota untuk pergi meninggalkan istana. Entah kenapa saat Youra masuk, tiba-tiba saja langit berubah mendung dalam waktu singkat, membiaskan gemuruh panjang hingga langit tampak menakutkan.
Dia akhirnya pergi dari sana. Di dalam tandu itu, Youra tak henti-hentinya menangis. Memukul dadanya berkali-kali. Hatinya bingung soal siapa yang sebenarnya dia cintai, membuatnya terus saja merasakan sakit. Namun, wajah sang suamilah yang selalu terkenang olehnya. Yang membayangi setiap langkahnya. Pelukannya, belai mesranya, hingga kecupannya. Semuanya tersusun menjadi satu kisah yang tak dapat dia lupakan.
Youra lupa, ada satu surat lagi yang belum dia buka. Dengan pemandangan buram akibat air mata yang menumpuk di matanya, Youra mulai membaca sudut nama yang mengirimkan.
"Nana?"
Surat itu datang dari Nana, yang sudah lama tak membalas surat darinya. Sambil terisak Youra membuka surat itu pelan-pelan.
"Nona Youra, maaf karena aku baru bisa membalas surat Anda sekarang. Nona, ada hal penting yang mungkin akan membuat Anda sangat terluka ... "
Beberapa kalimat pertama yang membuat Youra cekatan menghapus air matanya.
"Nona, aku sudah tahu alasan mengapa lencana milik Putra Mahkota ada di tempat pembunuhan Tuan Muda Lee Young."
Beberapa kalimat setelahnya, yang malah membuat Youra semakin sesak.
"Terlebih dahulu, aku memohon agar Anda tidak gegabah. Aku, sudah beberapa waktu ini tidak lagi tinggal di desa. Beberapa orang yang tidak dikenal terus saja menyerang aku dan paman."
Manik mata Youra membebaskan tetesan air ke atas kertas itu, tatkala membaca beberapa kalimat terakhir, yang menampar dan membanting hebat seluruh isi kepalanya. Yang meremuk jantung dan merobek seluruh isi hatinya.
"Nona ... Tuan Muda Lee Young, kakak Anda ... masih hidup. Dan saat ini, aku dan paman sedang bersembunyi bersamanya."
Youra semakin sesak, kali ini sudah tak lagi tahan untuk membaca kalimat selanjutnya.
"Putra Mahkota adalah orang yang sudah menyelamatkannya. Menyembunyikannya, dan mengobatinya hingga Tuan Muda Lee Young bersumpah akan menjadi abdi yang setia. Kumohon, belajarlah mencintai Putra Mahkota dan lupakanlah Tuan Muda Jun. Putra Mahkota sudah mencintai Anda sejak pertama kali kakak Anda mengenalkan Anda kepadanya. Nona, ada yang aneh dengan Tuan Muda Jun. Aku harap, Anda tak lagi berkomunikasi dengan beliau. Jalanilah rumah tangga yang bahagia dengan suami Anda sekarang. Mohon bantulah beliau dan berikanlah dukungan. Saat ini ada masalah besar. Seseorang mencuri seluruh informasi yang masuk kepada Putra Mahkota. Mereka sedang menjebak beliau untuk menghadiri pertemuan yang mungkin akan segera terjadi. Mereka berencana melakukan pembunuhan dengan taktik licik mereka. Mohon cegahlah beliau. Selain Anda, tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Semua ini, aku sampaikan atas permintaan Tuan Muda Young. Selamatkan Putra Mahkota."
Youra hampir saja tumbang setelah mendengar kenyataan itu. Dia menopang tubuhnya yang lemah. Meremuk dadanya sekuat tenaga.
"Berhenti ..." Youra memerintah, tetapi tandu itu tak juga dihentikan.
"Aku bilang, berhenti!" perintah Youra pada para pengangkat tandu dengan suaranya yang bergetar. Mereka menurunkan tandu itu, dan Youra segera keluar dari sana. Youra terisak lebih kuat dari biasanya. "Kemana kalian akan mengantarku?" tanya Youra.
__ADS_1
Jung Hyun yang memimpin jalan, mendekati Youra dan membungkuk hormat kepadanya. "Putra Mahkota, meminta kami untuk mengantar Anda ke kediaman Tuan Muda Jun yang ada di gunung."
"Aa-apa?" lirih Youra menyedihkan. Youra lagi-lagi hampir saja tumbang. Untung saja, para pelayan cepat menopang tubuhnya untuk bertahan.
"Aa-apa dia ... "
"Ya, Yang Mulia. Putra Mahkota tahu, Anda mencintai Tuan Muda Jun." Jung Hyun menjawabnya sedikit lantang. Semua pelayan yang mengiringi langkah Youra langsung menangis. Selama ini, Putra Mahkota tahu, dan dia tidak menghukum Jun atas kesalahan fatal yang seharusnya membuatnya dihukum mati karena tahu Youra sangat mencintai laki-laki itu.
"Kak Jung Hyun, ke-kenapa? Kenapa kakak ada disini? Kenapa tidak menemani suamiku?" tanya Youra histeris. Ini pertama kalinya, Youra menangis sehisteris itu. Bahkan tangis itu tidak sama saat orang tua dan kakaknya dikabarkan meninggal.
Jung Hyun sang pejantan kuat pun, ikut terhenyak lemas ke tanah. Dia menundukkan wajah penuh rasa bersalah itu dengan banyak tetesan air mata. "Aku ingin menemani beliau, tapi beliau memerintahkanku untuk mengawal Anda pergi. Saat ini, raja tidak akan sembuh lagi. Mereka akan menyingkirkan Putra Mahkota, karena tidak ingin Putra Mahkota menjadi raja." Jung Hyun menangis pada gelapnya hitam yang menghiasi langit yang sore.
***
"Kita akan berpisah, hanya jika aku mati."
"Lee Youra, katakanlah sesuatu kepadaku. Kumohon, cegahlah aku."
"Sayang, setelah ini kau akan merindukanku."
"Aku melepaskanmu."
"Kak Jung Hyun ... " lirih Youra menyedihkan.
"Apa ... apa dia tahu, apa dia tahu mereka sedang menjebaknya?" tanya Youra merangkak mendekati Jung Hyun berderaian air mata.
Jung Hyun tak memberikan jawaban. Namun, air matanya sudah memberikan gambaran tentang betapa pasrahnya Putra Mahkota saat ini.
"Putra Mahkota, tidak ingin adiknya menjadi pemberontak. Dia ingin memberikan tahta kepada Pangeran Yul. Jika beliau mati, maka Anda akan ikut terbunuh. Oleh karena itu, beliau segera melepaskan Anda agar Anda selamat, Yang Mulia." Terbata-bata Jung Hyun menjelaskannya sambil berlutut.
"Kak Jung Hyun, aku tidak bisa meninggalkan suamiku. Kumohon, antar aku menemuinya. Aku harus mencegahnya." Youra memohon, menangis sehebat mungkin, hingga suaranya tak begitu jelas. Rongga napas telah dikerubungi oleh isak yang melekat.
"Maaf Yang Mulia. Ini sudah sangat terlambat. Putra Mahkota sudah berangkat," jawab Jung Hyun putus asa.
Youra merangkak lebih dekat, menyentuh lengan baju Jung Hyun tersedu-sedu. "Kalau begitu, antar aku kesana. Kumohon ..." Jung Hyun merunduk. Tidak, ini bukan lagi saatnya. Sudah sangat terlambat.
***
__ADS_1
Putra Mahkota turun dari kudanya. Para pengawal mengiring langkah itu menuju tempat pertemuan. Semua mata tertuju padanya. Mereka hanya menatap saja. Tak ada suara keributan, atau bahkan gesekan sandal yang terdengar. Sangat sepi, hingga menambah kecurigaan Putra Mahkota. Putra Mahkota mendekati tempat itu, dan sangat terkejut. Rakyatnya sedang disiksa di dalam sebuah kastil tua tak bertuan. Dia menjadi geram, lantas mempercepat langkahnya.
Aneh. Pertemuan Putra Mahkota terbilang cukup rumit. Mereka tidak memberikan izin Putra Mahkota masuk ke dalam kastil tua itu bersama seorang pengawal pun. Ini benar adalah jebakan.
"Selamat datang calon penguasa negeri." Seorang pria paruh baya yang kelihatan lebih tua dari raja, membungkuk pada Putra Mahkota. Salam hormat itu, akhirnya diikuti oleh seluruh orang yang ada disana.
"Lepaskan rakyatku." Putra Mahkota tak perlu ancang-ancang untuk mempertaruhkan dirinya. Dia duduk di depan meja kecil yang berisi penuh hidangan.
Pria paruh baya itu tertawa kecil. "Sangat tidak terduga, Putra Mahkota negeri yang selalu terhina ini mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan rakyat yang membencinya."
"Kau membenciku, bukan rakyatku. Jadi lepaskan mereka." Suara berat Putra Mahkota yang tenang, berhasil mencuri perhatian semua yang ada di dalam sana.
"Hahaha! Aku tidak menyangka, bahwa Putra Mahkota negeri ini sepertinya punya wajah yang sangat tampan dan berjiwa pemberani. Mereka benar-benar salah menilai Anda." Pria paruh baya itu menuangkan arak mahal ke dalam porselin cantik Putra Mahkota.
"Aku tidak butuh basa basi. Aku meminta perdamaian. Aku akan mengirimkan setengah tanah di bagian timur secara terus menerus, asal Anda tidak menjadikan rakyatku tawanan lagi." Putra Mahkota meletakkan sekantung keping emas ke atas meja kecil itu.
"Bagaimana dengan informasi ini? Apa Anda bisa menukarnya dengan emas?" Pria paruh baya itu mengeluarkan kertas dari dalam jubahnya. Putra Mahkota mengernyitkan dahi, mencoba menerawang informasi apa yang mereka dapatkan.
"Aku sangat terkejut mendapatkan informasi menarik ini. Putri Mahkota negeri ini, bukan wanita yang berpendidikan. Dia kasar dan tidak berlaku sopan. Putri Mahkota negeri ini, tidak pernah melayani suaminya ... "
Putra Mahkota mencengkram gelas berisi penuh arak itu sangat kuat.
"Putri Mahkota negeri ini meneriaki selir suaminya, dan mengganggu malam pertama mereka. Waw! Istri Anda benar-benar egois."
"Tutup mulutmu." Putra Mahkota menjadi sangat geram karenanya. Ingin sekali dia memukul pria itu, hanya saja statusnya yang mengincar perdamaian akan menyulitkan rencananya.
"Dan ini yang paling menarik. Lee Youra sang permaisuri, melakukan transaksi ilegal dengan peracik herbal terpopuler untuk membeli sebuah racun yang akan digunakan untuk membunuh suaminya. Tidak hanya itu, dia juga berkali-kali kabur dari istana untuk melakukan perselingkuhan dengan pria lain di luar istana, terapi Putra Mahkota selalu menutupi dosa istri tercintanya."
Bruak!!!
Putra Mahkota memukul meja itu dengan kepalan tangannya. Meraih kerah pria tua itu dan menariknya ke atas. "Jangan membawa istriku dalam urusan politik, kau mengerti?" Putra Mahkota terlihat begitu marah. Pria tua itu akhirnya tertawa lepas. "Bagaimana caranya Anda menutupi semua itu? Berapa Anda sanggup membayarku? Bagaimana dengan kematian 5 orang rakyat?" tawar pria tua itu menggila.
"Aku sedang tidak bercanda padamu, jangan membuatku marah."
"Kalau begitu pertama-tama, minumlah satu gelas arak ini," tawar pria tua itu sembari mengulurkan minuman pada Putra Mahkota. "Aku tidak meminum arak," sanggah cepat Putra Mahkota.
"Anda tidak hanya pemimpin yang loyal, Anda benar-benar suami yang sempurna. Bagaimana kalau beradu pedang dengan murid terbaikku? Aku akan melepaskan rakyat, dan juga akan membakar semua informasi tentang istri Anda."
__ADS_1
Putra Mahkota sadar, ini salah satu cara mereka untuk menyingkirkannya. Pedang itu pasti sudah dibaluri racun oleh mereka agar dia tewas dalam sekali tebas. Seharusnya Putra Mahkota menolaknya. Namun,
"Baik, aku menerimanya."