
“Selamat datang putra dan menantuku,” sapa raja hangat sesaat setelah Putra Mahkota dan Youra tiba. Mereka berdua duduk bersebelahan menghadap raja, dengan sebuah meja kecil berisi hidangan di depan mereka.
Youra merasa risih karena harus berdekatan dengan suaminya, padahal jarak mereka tak juga dekat. Dengan sengaja, dia melepaskan genggamannya dari lengan sang suami. Youra menggeser tubuhnya sedikit lebih menjauh, menyisakan ruang yang cukup untuk ditempati dua orang di antara mereka. Putra Mahkota melirik sedikit, menyadari sang istri berusaha menghindarinya, mendatangkan kemarahan dalam dirinya sekali lagi.
Tiba-tiba saja, Putra Mahkota membuka penutup wajahnya dengan kasar. Ia menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri, bahkan sebelum raja meminta pelayan yang melakukannya. Dengan tergesa-gesa, Putra Mahkota meneguk teh itu, membiarkannya berserakan di sekitar mulutnya. Dia menghempaskan cangkir itu, lalu kembali mengisi cangkirnya sendiri, dan meneguknya dengan cara yang sama. Membiarkan teh itu berserakan dan membasahi jubah mewahnya, membuat raja kebingungan apa yang terjadi pada putranya.
Youra dan para pelayan memalingkan muka, agar tak dapat melihat wajah Putra Mahkota. Youra yang geram dengan tingkah gila suaminya, membuat hatinya terus saja mengutuk. Sementara, raja yang melihat tingkah putranya yang aneh, sangat kebingungan. “Putra Mahkota, apa kau tidak sehat?” tanya raja. Putra Mahkota terus saja melakukan hal yang sama berulang-ulang hingga teh itu habis.
“Pelayan! Ambilkan aku teh!” dia menghempaskan cangkirnya ke atas meja dengan putus asa. Suara hempasan itu, mengejutkan semua yang ada disana. “Putra Mahkota! Bersikaplah sopan di ruanganku!” bentak raja. Namun, Putra Mahkota tak peduli. “Putra Mahkota cepat tutup kembali wajahmu!” sekali lagi raja membentak, tetapi sekali lagi pula Putra Mahkota mengabaikannya. Raja terus saja memperhatikan gerak-gerik putranya, hingga pandangan itu singgah pada sesuatu yang mencuri perhatiannya.
“Putra Mahkota, apa yang terjadi pada tanganmu? Tanganmu yang sudah terbalut itu sekarang tampaknya kembali berdarah.” Raja berusaha meraih tangan Putra Mahkota.
“Aku baik-baik saja, Ayahanda. Memangnya, siapa yang akan peduli?” dengan seringai tipis yang terukir di sudut bibirnya, Putra Mahkota mengangkat alis kirinya. Cara bicara yang tidak sopan itu, menimbulkan kemurkaan raja. Darah itu mendidih di ubun-ubun, menenggelamkan raja dalam kobaran kemarahan. Namun, melihat ada Youra disana, berupaya keras raja memalingkan diri dari kenyataan, untuk kembali mengumpulkan kesabaran yang tersisa.
Youra melirik tangannya sendiri. Dia terdiam beberapa saat sebelum menemukan kesadaran yang tertinggal sejak tadi. Hal yang terjadi saat itu, membuatnya merasa canggung. Saking tak pedulinya, dia bahkan tidak tahu bahwa tangan suaminya juga terluka. Tadi, saat Putra Mahkota mengobati tangannya di kediaman ratu, dia bahkan tak mau tahu mengapa tangan sang suami terbalut kain putih.
Aku tak peduli padanya, apapun yang terjadi.
Putra Mahkota kembali menarik kain penutup wajahnya, setelahnya dia berdiri meninggalkan ruangan tanpa memberikan salam hormat, meninggalkan Youra bersama raja disana. Melihat suaminya bergegas pergi, Youra dengan terpaksa mengikuti langkah arogan itu.
Putra Mahkota, tidak hanya bodoh. Bagiku, dia benar-benar hina.
“Tampaknya, Yang Mulia butuh istirahat. Kalau begitu, hamba akan kembali mengunjungi Yang Mulia kapan-kapan.” Youra yang sadar akan situasi, segera menengahi. Raja yang hampir saja menunjukkan betapa besar kemarahannya, segera menyudahi pertemuan itu.
__ADS_1
**
Di depan istana raja, Putra Mahkota sedang berdiri disana menunggu Youra keluar. Dia berdiri tegap, terus menatap Youra dengan wajah yang ditutupi kain. Tak berpaling sedikitpun, hingga dengan langkah panjang, Putra Mahkota berhenti di depan Youra menundukkan tubuhnya.
“Jangan pernah, menjauh dari sisiku lagi,” bisik Putra Mahkota tepat di wajah sang istri. Youra tak menatapnya sama sekali. Dengan sombongnya, Youra malah tersenyum mendengarnya.
“Apa aku harus menuruti perintah orang yang sangat terhina seperti Anda?” jawabnya lancang. Tarikan napas Putra Mahkota tak lagi teratur, mendengar jawaban Youra membuatnya semakin sesak. Segera Putra Mahkota kembali berdiri berteriak memanggil pelayannya.
“Pelayan!!! Cepat bawa wanita lancang ini, dan kurung dia di kamarnya!” perintah Putra Mahkota, berbalik memunggungi Youra.
Youra malah tertawa melihat murkanya Putra Mahkota. Dia melangkah sedikit lebih dekat di belakang tubuh sang suami yang sedang bergejolak marah. “Terima kasih. Kalau begitu, aku tak perlu lagi keluar dan melihat Anda.” Youra melangkah pergi meninggalkan sang suami bersama seluruh kemarahan itu.
Kasim Cho yang saat itu menemani langkah Putra Mahkota sangat terkejut mendengar jawaban Youra yang berani menentang suaminya sendiri. Kasim Cho tampak sangat khawatir, atau mungkin sangat iba. Tak ada yang berlaku hormat pada Putra Mahkota, bahkan istrinya sendiri. Melihat tangan Putra Mahkota yang kembali berdarah, membawa Kasim Cho masuk dalam gelapnya naluri itu. Membayangkan betapa derasnya hujatan dan penderitaan yang dialami Putra Mahkota yang terkenal sangat hina, membuat Kasim Cho takut Putra Mahkota akan putus asa.
Di depan kediamannya, Putra Mahkota terdiam cukup lama. Dia menyentuh dadanya yang sesak. Hampir saja terjatuh, segera ia menyandarkan tangannya yang terluka di depan pintu biliknya untuk menopang diri. Para pelayan berlari mengejarnya, membopongnya masuk ke dalam biliknya. Dia tampak sangat lemah dan tak punya semangat. Benar-benar mengkhawatirkan.
**
Sementara itu, Youra tertawa lega di dalam kediamannya. Melihat betapa marahnya Putra Mahkota padanya, menambah sedikit kepercayaan diri baginya. Setidaknya, satu langkah untuk segera diceraikan akan terwujud. Tak ada lagi keinginan selain berpisah dengan suami yang hina itu. Apalagi, mengingat Jun yang selalu ada di hatinya, itu selalu membuat Youra kembali bersedih. Pikirnya, pintu akhir akan segera terbuka. Secepatanya dia harus menemukan siapa pembunuh ayah dan ibunya, lalu menyingkirkan Putra Mahkota sebelum mereka benar-benar berpisah.
Dayang Nari, melihat tawa lepas itu mencuat lebar di kedua sudut bibir Youra. Hasrat dan seluruhnya tampak lapang dan berakhir bahagia. Youra benar-benar puas telah menghina suaminya. Tampaknya, tak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia, selain penderitaan yang harus dibalaskan secepatnya.
Dayang Nari datang mendekat, melepaskan sepatu mewah yang melekat di kaki Youra. “Yang Mulia, senang melihat Anda bisa tertawa seperti ini. Apa yang sudah membuat Anda sebahagia ini?” setelah melepaskan sepatu Youra, Dayang Nari berdiri, membantu Youra melepaskan gaun mewahnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan sang pelayan, Youra kembali tertawa. Kali ini, sedikit cekikikan. “Tidak ada. Aku hanya baru saja menyaksikan pemandangan yang menyenangkan,” jawab Youra tak acuh. Youra melepaskan lapisan gaun terdalamnya. Dia terus saja tersenyum puas, tanpa tahu apa yang saat itu terjadi pada suaminya.
Entah kenapa, bagi Dayang Nari, tawa Youra adalah awal dari penderitaan yang sesungguhnya.
“Yang Mulia, sebenarnya rencana apa yang sedang Anda persiapkan?”
**
**
“Putraku, bagaimana kabarmu?” tanya Perdana Menteri Han pada Jun, saat bertemu di sebuah kedai mewah. Setelah meneguk secangkir minuman, Jun menuangkan minuman itu ke cangkir ayahnya. “Aku baik,” jawabnya singkat.
“Aku berpikir untuk segera menikahkanmu dengan seorang gadis anak kenalanku. Hanya saja, aku tidak yakin kau sudah melupakan kekasihmu itu.” Perdana Menteri kembali membuka pembicaraan, kali ini dengan anggukan kecil bersamanya. Jun tertawa, tampak meledek pernyataan sang ayah.
“Aku memang tak lagi punya hak untuk mencintai istri calon penguasa negeri ini. Namun, aku masih punya hak memilih untuk tidak menikah” balas Jun angkuh. Perdana menteri tersenyum, segera meletakkan tangan kanannya di pundak sang anak.
“Seberapa benci pun kau kepadaku, kau tetaplah putraku. Jika kau menikah, kau tidak perlu mencintai siapapun gadis yang menjadi istrimu. Di dalam hidup, terkadang kita perlu hiburan. Seperti membutuhkan wanita, misalnya. Terkadang, wanita bisa menjadi hiburan saat kau merasa kesepian. Sebagai lelaki normal, bukankah kau butuh teman tidur? Ingatlah putraku, bagaimanapun juga kau tetap harus melanjutkan hidup dan memberikan keturunan untukku dan ibumu.” Sambil menyantap cemilan manis, Perdana Menteri Han tidak sadar saat ini putranya sedang menatapnya dengan tatapan kebencian.
“Seperti yang kau lakukan pada ibu? Kau pikir, aku sama sepertimu?” jawab Jun, terus melotot tajam pada ayahnya. Perdana menteri hanya diam saja, dan terus menyantap kudapan malam itu dengan santai. “Aku tidak sepertimu,” tambah Jun.
“Kau benar-benar keras kepala seperti ibumu. Cintailah gadis itu sepuasmu.” Perdana menteri menggeleng pelan, kali ini tidak dengan raut kecewa. Dia tersenyum seolah bangga. Mungkin, ada sesuatu yang tergambar dan telah ia susun di kepalanya. Segera setelahnya, dia beranjak dari tempat itu meninggalkan putranya.
“Aku dan Youra, kami akan kembali bersama, Ayah. Putra Mahkota yang hina itu, langit akan segera menghukumnya. Kita lihat saja.” Gumam Jun, sedikit tersenyum setelahnya.
__ADS_1