Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kita Percaya


__ADS_3

"Kurang ajar!"


Hap! Youra menghentikan tangan yang hampir saja mendarat di pipinya. "Saat ini bukan Anda lagi yang berkuasa. Akulah yang memimpin negeri ini. Aku, ibu dari seorang pewaris tahta." Youra mendekatkan mulutnya pada telinga Ratu Kim. "Tidak seperti Anda, selir hina yang malah dijadikan ratu," bisik Youra penuh penekanan.


Ratu Kim tak dapat berkata-kata. Dia bahkan tidak menyangka Youra bisa lebih sadis daripada dirinya. Dia menatap mata yang terus saja melotot tajam padanya, sebelum akhirnya beranjak dari sana.


Youra menghela kesal. Dia meraup seluruh emosi masuk kembali ke dalam dirinya. Dia memang berpura-pura bersedih, tapi air mata itu asli. Perasaan yang membuatnya kalut adalah keberadaan Putra Mahkota yang tidak diketahui. Suami manja dan pemaksa seperti Putra Mahkota memang tidak mungkin bisa Youra lupakan.


***


Sore itu, Youra duduk memeluk lututnya menatap istana Putra Mahkota. Setelah acara pemakaman palsu itu selesai, dia tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah kabar mengerikan.


"Yang Mulia ... "


Youra langsung berlari menuju penjara bawah tanah. Terlihat disana ada seorang lelaki yang sedang sekarat. "Kakak?" rintihnya langsung memegang sel dengan kedua tangannya.


"Kakak?!" panggil Youra berusaha menyadarkan kakaknya yang tak sadarkan diri.


"Kak!"


Tiba-tiba suara tepuk tangan datang dari belakang. Ratu berjalan turun dari tangga bersama para pengawal. "Sudah kubilang padamu jangan berani-beraninya kau bermain api denganku." Ratu Kim tersenyum miring lantaran merasa menang.



"Apa yang kau lakukan pada Kakakku?" Suara Youra bergetar sesak. Air mata sudah menumpuk dipelupuk hendak terjatuh.


Ratu Kim yang terlihat sangat kusut, mendekat pada Youra. "Aku berikan kau dua pilihan. Tapi kau hanya boleh memilih satu. Kakakmu, atau Suamimu?"

__ADS_1


Apa...


Youra terkesiap mendengar pertanyaan Ratu Kim. "Apa maksudmu?!" teriak Youra tak percaya.


"Katakan padaku dimana Putra Mahkota yang asli atau Kakakmu akan mati!" Ratu Kim menggebu-gebu. "Bukankah kau sudah melihat jasadnya? Apa itu belum cukup membuktikan dia sudah tewas?" Youra bahkan tidak tahu apakah suaminya yang asli saat ini masih hidup atau tidak.


Ratu Kim turun dari tangga terakhir. Mencapit wajah Youra dengan jari-jemari. "Bawa tabib itu kemari!" teriak Ratu Kim pada salah seorang pelayan. Youra diam saja tak melakukan perlawanan. Degup jantungnya bersamaan dengan langkah kedatangan seorang tabib yang baru saja memeriksanya tadi.


"Katakan dengan lantang apa yang baru saja kau katakan padaku!" perintah ratu kepada tabib. Dengan wajah ketakutan tabib itu memberikan penjelasan. "Yang Mulia ... Yang Mulia Ratu Lee, dia ... dia baru saja mengandung, Yang Mulia." Penjelasan singkat itu sudah cukup menghantam Youra.


"Katakan padaku! Dengan siapa kau bercinta?!" Ratu Kim membentak Youra berapi-api. "Kau dikabarkan hamil beberapa bulan yang lalu, bukankah seharusnya sekarang perutmu sudah membesar?" Terus-terusan Ratu Kim memojokkan Youra. Mencoba untuk mengalahkannya.


"Jawab!" Teriakan Ratu Kim membuat Youra terkejut. "Jawab bodoh! Jika itu memang anak Putra Mahkota, katakan kepadaku dimana kau bercinta dengannya? Dimana dia?!"


"Aku tidak tahu." Jawab Youra ketakutan. Dia meletakkan kedua tangannya di atas perutnya dengan air mata yang hampir tumpah.



Ratu tertawa terbahak-bahak sebelum melangkah pergi meninggalkan Youra.


"Anda telah dikutuk." Satu kalimat dari Youra berhasil menghentikan langkah ratu.


Youra mengangkat kepalanya yang dari tadi terus tertunduk. "Kau membenci anak yang bahkan tidak pernah membencimu." Satu lagi kalimat dari Youra yang membuat Ratu Kim terpukul.


"Jika dia mau, dia bisa saja menyingkirkanmu sejak awal. Tapi lihat ... putra yang kau benci itu, dia membiarkanmu terus berusaha membunuhnya," tambah Youra.


Youra berjalan mendekatkan diri pada Ratu Kim. "Dia tidak pernah menganggapmu Ibu tiri. Dia menganggapmu ibu kandungnya."

__ADS_1


"Ratu Lee!" teriak Ratu Kim berusaha menghentikan kalimat Youra.


"Tidak bisakah kau merasakan cinta Putra Mahkota? Apa bedanya Pangeran Yul atau Pangeran Hyeon?! Keduanya adalah orang yang menghormatimu sebagai ibunya! Siapapun diantara keduanya yang menduduki tahta, kau tetap ibu mereka!" teriakan Youra menggema memotong. Dia menangis terisak lebih dari biasanya.


"Ratu Kim, jika kau mengikhlaskan segalanya ... kau akan hidup bahagia dengan cinta yang selama ini kau idam-idamkan." Youra sampai tercekat di tenggorokan. "Aku tahu, kau bukan merindukan tahta. Kau merindukan kebahagiaan." Kalimat terakhir Youra sukses membuat Ratu Kim menitikkan air mata. Youra mmeutar balik menuju sel kakaknya bersimpuh di depan sana. Sementara Ratu Kim bergegas beranjak keluar dari tempat itu dengan hatinya yang keras.


***


Pangeran Yul pulang ke rumahnya dalam keadaan tertekan. Di depan pintu itu dia melihat sang istri dengan perut besarnya berdiri menunggunya. "Ara ... " panggilnya lirih.


Ara langsung mengejar sang suami dan memeluknya. "Tidak apa-apa, Suamiku. Anda sudah melakukan yang terbaik." Ara mengencangkan pelukannya. Mereka berdua sangat tahu takdir buruk apa yang akan segera tiba setelah ini. "Aku akan terus mendampingi Anda apapun yang terjadi. Anda sudah menjadi Ayah yang baik untuk anak kita." Ara tersenyum haru dengan air matanya.


"Apa jika aku tak punya apa-apa, kau masih mau menjadi istriku?" tanya Pangeran Yul.


"Aku mencintai diri Anda yang sederhana. Pangeran Yul yang hidup dengan cinta, bukan Pangeran Yul yang hidup dengan kebencian di atas tahta."


***


Jung Hyun menepi di depan pintu sel. Wajahnya mendongak menatap langit yang pelan-pelan berubah cerah, meski sedikit sekali. Sampai saat itu, tak ada yang terdengar baik soal Putri Shin maupun soal Putra Mahkota. Namun, entah kenapa kedamaian hari itu mampu menenangkan sedikit pikirannya. Dia sangat yakin dua orang paling berjasa pada negeri itu masih hidup dan baik-baik saja.


"Jung Hyun," panggil Kasim Cho dari seberang. "Apa aku benar, bahwa kau telah melakukan kesalahan fatal yang ... " tanya Kasim Cho terputus. Jung Hyun mengangguk putus asa. "Ya, aku yang melakukannya."


Kasim Cho mendekat pada selnya, agar suaranya sampai ke seberang sana. "Kalau begitu, simpanlah itu baik-baik. Jangan biarkan orang mengetahuinya. Karena bukan hanya kau yang akan mati ... anak yang ada di dalam rahim itu juga ikut mati." Entah kenapa, perkataan Kasim Cho seperti dorongan Jung Hyun yang direnggut putus asa untuk bangkit.


Dia lantas menoleh pada Kasim Cho, melihat wajah tua yang telah lama mengabdi pada Putra Mahkota. "Kasim Cho, apa Anda berpikir sama sepertiku?" tanya Jung Hyun.


Kasim Cho seolah mengerti meski Jung Hyun tidak mengatakannya secara langsung. Kasim Cho menitikkan air mata, sebelum dia mengangguk yakin. "Kalau begitu, berjanjilah untuk hidup sampai beliau kembali. Karena bukan hanya kau dan aku, langitpun percaya dia masih hidup." Jung Hyun kembali memandang langit dengan deraian air mata.

__ADS_1


__ADS_2