Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jangan Berharap


__ADS_3

“Tundukkan pandanganmu pada putri raja!” 


Jung Hyun yang saat itu tak bisa berkata-kata hanya bisa menundukkan pandangannya.


Putri raja..


Sementara itu, Putri Shin yang saat itu bahagia, terjatuh lemas ke tanah.


“Dayangku, kenapa dia ada disini? Apa dia melihatku?” tanya Putri Shin.


Para dayang berduyun-duyun mendekat.


“Tuan Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya para dayang.


“Katakan padaku kenapa mereka membawa Jung Hyun?!” teriak Putri Shin menangis khawatir.


Putri Shin mengira raja telah menangkap Jung Hyun karena mengetahui hubungan terlarang mereka.


Di depan istana Putra Mahkota, dia melihat Jung Hyun berdiri disana.


“Apa itu artinya?” tanya Putri Shin pada salah seorang penjaga istana Putra Mahkota.


“Tuan Putri, pemuda itu bernama Jung Hyun. Dia, pengawal pribadi Putra Mahkota,” 


Tangis sang putri pecah. Ia tampak sangat terkejut.


Setelah itu, Putri Shin menunggu Jung Hyun kembali dari istana Putra Mahkota. Jung Hyun berjalan keluar sendiri hendak pergi ke lapangan. Disana ia melihat Putri Shin berdiri menunggunya. Namun, dia melewatinya begitu saja.


"Berhenti!” perintah Putri Shin.


Jung Hyun yang berjalan, akhirnya berhenti, berbalik badan dan membungkuk hormat. 


“Jung Hyun, aku..”.


“Adalah larangan bagi seorang putri raja bertemu dengan pemuda seperti ini. Sekali lagi, aku permisi,” perkataan Jung Hyun menghentikan kalimat sang putri.


Jung Hyun yang hanya terus menunduk, kembali bangun, lanjut berjalan melewati putri, tanpa memandangnya sama sekali.


“Jung Hyun! Berhenti!” teriak putri padanya.


Namun, Jung Hyun hanya mengabaikannya dan terus berjalan.


Melihat pujaan hati yang melewatinya begitu saja, Putri Shin menitik air mata.


**


Keesokan harinya, Putra Mahkota dipanggil raja untuk menemuinya di kediaman ratu. Disana juga ada Ibu Suri. Tidak hanya itu, ratu ternyata secara pribadi juga memanggil kedua putranya yang lain.


“Para pangeran, selamat datang".


Ratu mendekat kepada para putranya dan mengelus kepala mereka berdua. Ibu Suri tersenyum kepada cucu-cucunya itu dan ikut mengelus rambut mereka berdua.


Tak lama setelah itu, raja datang.


“Yang Mulia, selamat datang,” mereka semua menunduk hormat pada raja. 


Raja kemudian duduk, sementara sang ratu menuangkan teh untuk suami dan anak-anaknya.


“Kau memanggil para pangeran juga?” tanya raja.


“Sudah lama, aku tidak melihat ketiga putraku berkumpul bersama, Yang Mulia. Aku sangat ingin melihat mereka semua bersamaan,” jelas ratu. 


Mereka duduk sebentar sambil menunggu kedatangan Putra Mahkota, tetapi sampai saat itu, putra mahkota belum juga datang.

__ADS_1


“Yang Mulia, apa mungkin, Putra Mahkota tidak mau datang? Dia tidak pernah mengunjungiku, mungkin dia tidak ingin bertemu denganku,” kecewa sang ratu.


“Dia pasti datang,” jawab Ibu Suri.


Tak lama kemudian,


“Yang Mulia, Putra Mahkota ada disini,” kata seorang penjaga pintu.


“Biarkan dia masuk”.


Putra Mahkota masuk dalam kediaman ratu. Saat itu, para pangeran membungkuk hormat kepadanya. Pangeran Hon yang tampak bahagia melihat sang kakak hadir, berbinar mendekatinya.


"Kakak, sudah lama, aku tidak bertemu denganmu,” kata sang adik bungsu bahagia.


Namun, Putra Mahkota sama sekali tidak memberikan respon apapun dan duduk begitu saja. Melihat pemandangan itu, Ibu Suri dan ratu tampak kecewa. 


“Ada apa Yang Mulia memanggilku kemari?” tanya Putra Mahkota.


Raja yang kesal, mencoba menahan emosinya. 


“Mana hormatmu pada kami?” tanya raja.


Putra Mahkota akhirnya berdiri dan membungkuk hormat, lalu ia duduk kembali.


“Putra Mahkota anakku, kenapa kau tidak pernah mengunjungiku?” tanya ratu memecah suasana.


“Belakangan aku sibuk berlatih bersama pengawal baruku,” jawabnya.


Ibu Suri mendekat padanya, dan mengelus rambut sang cucu.


“Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya sang nenek.


Putra Mahkota yang jutek tiba-tiba mulai mengangkat wajahnya.


“Ibu Suri, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” tanya Putra Mahkota.


Ratu yang mendengar drama cucu dan nenek itu, batuk tersedak.


Selama ini, Putra Mahkota hanya berlaku sopan dan baik kepada Ibu Suri saja. Sementara itu, Ibu Suri tampak sangat menyayangi sang cucu. Hal ini membuat ratu berpikir, bahwa Ibu Suri sudah pilih kasih.


“Aku memanggilmu kemari, karena dirimu,” kata raja yang tiba-tiba membuat semuanya terdiam.


“Sebagai seorang anak, seharusnya kau mengunjungi ibumu. Tapi lihat, sudah bertahun-tahun lamanya, kau bahkan tidak pernah datang ke istana ratu. Kau tahu, kau ini adalah Putra Mahkota. Kau harusnya memberikan contoh yang baik untuk rakyat. Bagaimana jika mereka tahu, Putra Mahkota negeri ini adalah anak yang tidak berbakti"


Perkataan raja membuat semuanya semakin terkejut. Pangeran Hon yang menunduk langsung menatap wajah Putra Mahkota.


“Kakak..” gumamnya.


“Bukankah seluruh rakyat juga sudah tahu, segala hal tentang diriku? Apa yang perlu ditutupi lagi?” jawaban sang anak membuat raja menjadi geram.


“Kau ini..”.


“Yang Mulia, maafkan Putraku, dia seperti ini mungkin karena kelelahan,” ratu mencoba menenangkan raja.


Para pangeran saling berpandangan. 


“Baiklah, sekarang cium tangan ibu kalian,” Ibu Suri mencoba mengembalikan suasana.


Para pangeran, bergerak, mendekat ke hadapan sang ibu, mencium tangannya. Tapi,


“Putra mahkota, ayo kemari, ciumlah tangan Ibumu,” kata sang nenek.


Putra mahkota diam saja. Ia tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


“Putra Mahkota, jangan merusak suasana hatiku, cepat, cium tangan Ibumu!” perintah raja.


“Aku tidak mau".


Putra Mahkota yang angkuh, dengan sigap berdiri dari duduknya.


“Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku permisi,” Putra Mahkota melangkah pergi, kemudian meninggalkan ruangan.


“Yang Mulia, kumohon tolong maafkan kesalahan Putra Mahkota. Aku rasa, saat ini suasana hatinya mungkin memburuk,” ratu kembali mencoba menenangkan raja.


Sementara itu, Pangeran Hon meminta izin keluar untuk menemui sang kakak. Pangeran Hon kemudian menuju istana Putra Mahkota dan melihat Kasim Cho disana.


“Pangeran Hon, selamat datang pangeran,” Kasim Cho sangat senang melihat Pangeran Hon yang datang.


“Sudah sangat lama, aku tidak bertemu denganmu. Oh iya, dimana kakakku?” 


“Maaf pangeran, saat ini Putra Mahkota sedang berlatih bersama Jung Hyun,” jelas Kasim Cho.


“Aku akan menyusul".


Beberapa saat kemudian, Pangeran Hon tiba di lapangan dan bertemu kakaknya disana. Jung Hyun yang saat itu sedang bersama Putra Mahkota menunduk hormat kepada Pangeran Hon. Sementara itu, Putra Mahkota hanya sibuk memanah, seolah tak peduli dengan kehadiran adiknya.


“Anda masih sama seperti dulu. Sangat hebat,” puji sang adik yang hanya terus melihat keterampilan sang kakak. 


Jung Hyun saat itu hanya melihat interaksi mereka berdua.


“Dulu saat aku masih kecil, Anda pernah berkata, akan mengajari aku memanah".


Menaruh harapan yang terlalu tinggi terhadap sesuatu,


Putra Mahkota hanya diam saja, tetapi tak lama kemudian ia melepaskan busurnya tanpa memandang sang adik.


“Yul pasti sudah mengajarimu,” jawab Putra Mahkota.


Mengharap cinta terlalu besar pada seseorang,


“Tapi dia tidak sehebat Anda. Di negeri ini, aku pernah sekali melihat seseorang yang sangat mirip dengan Anda. Dia adalah Lee Young, putra mendiang penasehat negara”.


Jung Hyun yang mendengar itu tertegun, ia segera tampak fokus pada pembicaraan mereka.


“Aku tidak akan lebih hebat darinya,” jawab Putra Mahkota, kembali melepaskan anak panahnya.


Saat itu, panah itu tepat mengenai sasaran. Jung Hyun memperhatikan gerak-gerik Putra Mahkota dan mulai terkejut. Putra Mahkota, yang tidak bermain panah dengan serius, bisa mengenai sasaran itu begitu saja. Jung Hyun menatap tajam wajah Putra Mahkota. Sementara itu, Pangeran Hon tersenyum.


“Kenapa tadi, Anda tidak berpura-pura saja, agar raja tidak marah?”.


Mendengar pertanyaan itu, Putra Mahkota menghentikan latihannya. 


“Aku benci kebohongan".


Putra Mahkota berbalik, melangkah pergi meninggalkan sang adik. 


Keduanya adalah sakit yang tercipta oleh diri sendiri.


Sementara itu, Jung Hyun terdiam melihat interaksi mereka.


“Kakak,” panggil Pangeran Hon menghentikan langkah sang kakak.


Maka,


“Sampai kapan kau terus bersembunyi?” tambah sang adik.


ikhlaskan saja.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Putra Mahkota yang tidak memandang sama sekali, akhirnya meninggalkan sang adik dan pergi bersama para pengawalnya.


Dan lupakan semuanya. 


__ADS_2