
Sejak ketahuan oleh Young, sudah beberapa waktu lamanya, Youra tak pernah lagi bertemu dengan Jun. Mengingat apa yang sudah diperintahkan kakaknya, Youra tak pernah mencoba untuk meninggalkan kaki gunung lagi.
Hatinya gundah, seolah tak bertepi, ia terus mengingat pertemuan terakhirnya dengan Jun. Saat Jun mencoba menggodanya, bertanya apakah dia menyukainya, Youra merasa menyesal tidak mengakuinya. Perasaan itu membuat hatinya tak tenang. Pikirnya, andai saja dia tahu itu hari terakhir dia berjumpa dengan Jun, mungkin dia akan lebih berani mengakuinya.
Perasaan gundah itu berubah urung, mengingat soal kabar banyaknya pemuda yang akan segera menikah di desa. Youra duduk termenung di bebatuan tepian sungai. Dia mengingat bagaimana saat itu dia dan Jun saling bercanda disana.
Ia memangku tangannya sendiri dan melihat bayangannya sendiri melalui tenangnya air hari itu. Sesaat kemudian, ia menitikkan air mata. Lambat laun air mata itu berubah menjadi tangisan pilu.
Ia benar-benar sedih. Bagaimana tidak, kematian kedua orangtua nya yang tragis, temannya Ara yang pergi meninggalkannya, belum lagi Jun yang akhirnya diusir oleh kakaknya sendiri.
Ayah, ibu..
Temanku Ara,
Dan Jun…
Bisakah aku melihat mereka sekali lagi?
Saat itu, dia berhenti menangis, tapi isaknya masih terdengar. Teringat kembali olehnya perjuangan sang kakak. Satu persatu perlakuan dan tingkah manis sang kakak yang sebenarnya dingin membuatnya sedikit tersenyum.
Tak lama, ia berdiri dan berlari ke tempat indah yang ditunjukkan sang kakak waktu itu. Disana masih dengan air mata yang tiada henti, ia terus tertawa. Tertawa sepuasnya. Tertawa seolah-olah tiada beban. Tertawa selepas mungkin, tetapi, setiap dia mencoba tertawa, wajah sedih dan air matanya tak pernah berhenti mengalir. Hingga akhirnya dia yang tidak kuat, berhenti tertawa. Mengalah pada rasa sedihnya. Dan menangis sekeras mungkin.
Saat itu, sang kakak Lee Young berdiri jauh di balik sebuah pohon memperhatikannya. Ia menangis melihat bagaimana tersiksanya sang adik saat itu. Young yang bersedih, mencoba mendekat untuk menenangkan sang adik, tetapi, saat ia hendak melangkah, jauh dari sana terlihat Jun berjalan mendekati sang adik.
Young diam di tempat.
Saat itu, dia yang ingin mencegah mereka bertemu tak dapat berbuat apa-apa. Sang adik yang tadinya menangis, akhirnya terdiam saat melihat Jun mendekatinya.
Jun datang tersenyum padanya.
“Kak Jun?” lirihnya.
Young berusaha menahan langkahnya. Ia terus mengawasi mereka.
Sementara Jun duduk di sebelah Youra.
“Aku datang ke pinggir sungai. Namun, aku seperti mendengar suara harimau betina, dan saat aku periksa, ternyata harimau betinanya sedang mengamuk disini".
Youra yang mendengar celotehan Jun kemudian tertawa dengan wajahnya yang sembab.
Sang kakak yang hanya terus memandang dari jauh, hanya bisa terdiam. Young yang tadinya hendak menghampiri mereka untuk mengajak Youra pulang, mengurungkan niatnya.
”Apa bersama Guru Jun, bisa membuatmu sebahagia itu?” gumam sang kakak dari balik persembunyiannya.
Saat itu, keheningan menghampiri mereka. Posisi yang lebih mirip drama. Saat sang adik bersama dengan Jun, pria yang dicintainya. Kakaknya, yang tadinya ingin marah, menjadi tak bisa berbuat apa-apa, lantaran sang adik tampak begitu bahagia.
“Youra,” panggil Jun.
Youra kemudian menoleh padanya, menyeka air mata yang masih menempel di pipinya.
“Ya?” Youra tampak canggung.
Jun kemudian mendekat.
“Aku ingin membuat sebuah pengakuan,” tambah Jun.
Perkataan Jun membuat Youra menjadi berharap. Youra berusaha membuang harapan itu jauh-jauh. Tapi,
“Aku melihat kau melukis wajahku,” kata Jun yang sontak membuat Youra kaget.
“Saat aku membantumu mengutip kertasmu yang terjatuh hari itu, aku tidak sengaja melihat sketsa wajah yang tak asing. Apa itu aku?” tambahnya.
Youra berusaha mengelak.
__ADS_1
”Pede sekali. Aku suka membuat sketsa acak,” bantahnya.
“Aku berulang kali memergokimu memperhatikanku, saat di biro, di jalan, saat aku duduk di…”.
“Berhenti!” teriak Youra padanya.
Jun terdiam dan berkedip beberapa kali.
“Apapun yang aku lakukan, itu semua hanyalah kebetulan. Baju Kak Jun selalu bagus, jadi aku suka memperhatikannya. Itu saja,” Youra berusaha mengelak.
Jun yang sadar rasa canggung itu hanya bisa tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Youra.
“Benarkah?” tanya Jun membuat Youra malu.
Jun tersenyum. Ia berdiri dan membersihkan jubahnya.
“Dua hari lagi aku akan menemuimu lagi. Aku akan bicara dengan kakakmu,” kata Jun sambil terus merapikan pakaiannya.
Jun mengubah ekspresi wajahnya, melangkah dekat sekali hendak mengayunkan tangan, lalu menyentuh kepala Youra pelan-pelan.
“Aku akan menikah. Dan kau adalah gadis yang akan kunikahi".
Youra terdiam di tempat tak percaya. Kesadarannya seolah berada di genggaman Jun. Perkataan Jun membuat harapannya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ia hanya bisa diam di tempat memandangi Jun yang pergi setelah tersenyum manis padanya.
Saat itu, yang hanya aku pikirkan, adalah aku harus bahagia.
Youra tersenyum lepas. Sementara Young terdiam menitikkan air mata.
Aku tidak pernah mau tahu, apakah kakak juga ikut bahagia atau tidak.
**
Youra berjalan kerumahnya dengan sangat bahagia. Dia terus tersenyum, sehingga Nana pun ikut tersenyum melihatnya. Sementara itu, Young duduk di halaman gubuk mereka sambil memotong-motong kayu dan mengikisnya.
“Dari tempat yang indah,” jawab Youra semangat.
“Oh, begitu,” Young berpura-pura tidak tahu.
Sesaat setelah itu, Youra mendekat padanya.
“Kakak sedang apa?”.
Youra kemudian duduk melihat-lihat kayu-kayu dan bambu hasil kerja sang kakak.
“Apa Putra Mahkota juga memintamu untuk membuat semua ini?” tanya polos Youra.
Young diam saja karena pikirannya masih tentang Jun dan adiknya tadi.
“Apa Putra Mahkota sekejam itu? Dia menyuruh kakak membuat semua ini sendirian?” tanya Youra sekali lagi.
Young terkejut mendengar pertanyaan sang adik.
“Tidak. Putra Mahkota itu tidak kejam. Aku membuat ini semua untuk diriku sendiri. Tidak ada kaitannya dengan Putra Mahkota,” Young kembali memotong kayu tersebut.
“Kenapa ada banyak sekali senjata?" tanya Youra.
Young terhenti mengerjakan semua itu, kemudian beberapa detik berikutnya barulah ia menjawabnya.
“Aku ingin menjualnya,” jawab Young singkat kemudian mengangkat semua perkakasnya ke belakang.
“Kakak, apa istana sudah menemukan pelaku pembunuh Ayah dan Ibu?”
Kakak tidak mengatakan apapun, kecuali satu hal..
__ADS_1
“Keadilan hanya milik mereka yang punya nama, keluarga bangsawan yang punya pangkat di istana. Kita tak bisa mengharapkan apapun karena kita bukan siapa-siapa lagi,” jawab Young.
Keadilan, hanya milik mereka yang punya status.
“Tapi ayahkan penasehat negara, pejabat kesayangan raja. Pasti istana berusaha menemukan pelakunya, kan?” tanya Youra lagi.
“Semoga saja,” jawab singkat Young.
Youra merasa, ada yang aneh dengan tingkah kakaknya hari itu. Namun, dia tidak berpikir tentang hal buruk apapun dan hanya terus memikirkan soal Jun.
**
Dua hari kemudian, sesuai janji, dengan perasaan yang sangat bahagia, Youra bangun dari tidurnya penuh semangat. Dia meminta Nana untuk menyiapkan pemandian bunga untuknya agar tubuhnya wangi.
Aku tak bisa tidur menunggu hari itu.
Sehabis mandi, Youra membuka lemari kayu kecilnya. Disana, ada gaun jahitan sang ibu yang pernah digunakan ibunya untuk datang ke istana. Youra tersenyum bahagia, gaun itu masih sangat indah dan cantik saat ia mencoba membentangnya. Dengan segera dia memakai pakaian itu, dan meminta Nana untuk menilai penampilannya. Hari itu, dia benar-benar tampil berbeda.
Hari, dimana aku memakai gaun terindah dalam hidupku.
”Sangat cantik. Anda benar-benar mirip sekali dengan Nyonya Eri,” puji Nana.
Gaun sutra milik ibuku, kupakai untuk bertemu pujaan hatiku.
Sambil menitikkan air mata, Youra sangat bahagia dan memeluk Nana.
“Ikutlah denganku. Nanti, aku akan mengajak Jun bertemu kakak. Apa kakak sudah pergi?” tanya Youra.
“Ya, Nona Youra. Tuan Muda sudah pergi dari subuh tadi,” jawab Nana.
“Cepat sekali dia pergi".
Saat itu, aku sangat bahagia.
Youra kemudian pergi menuju tepian danau bersama Nana. Nana sangat bahagia melihat nonanya terus tersenyum. Tak terasa, mereka pun tiba di tepian danau, dan duduk disana menunggu Jun datang.
Aku menunggunya..
Saat itu, burung-burung pagi sudah berpergian dari gunung. Tandanya, waktu sudah mendekati siang.
Aku terus menunggu, orang yang kucinta..
Sambil membuang bosannya, Nana dan Youra terus bermain di tepian danau sambil tertawa ceria. Mereka berbicara tentang banyak hal. Hingga sadar, siang telah berganti sore.
“Nona, apa Tuan Muda itu akan datang sore ini?” tanya Nana.
Youra tersenyum.
“Tentu saja. Dia sudah berjanji akan bertemu disini hari ini. Kita tunggu saja”.
Tapi,
Langit menguning lantaran matahari mulai tenggelam. Pemandangan danau mulai redup dan samar-samar. Suara kicauan burung senja terdengar dimana-mana. Rasa senang itu berubah sedikit takut karena langit menjadi gelap menuju malam.
Bahkan saat malam datang menyapa,
Youra yang wajahnya tampak kecewa, tetap dengan kokoh berdiri di tempatnya.
Bahkan sampai saat itu,
“Nona, ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu? Mungkin saja Tuan Muda itu ada urusan penting sehingga dia tidak bisa datang hari ini,” Nana mencoba membujuk Youra pulang.
.. dia tak juga datang.
__ADS_1