
Malam indah itu berganti suram. Langkah kaki orang-orang yang sibuk berlarian di seluruh bagian istana, mendekorasi tiap sudut agar tak terlewatkan membuat Youra kesakitan. Para rakyat berduyun-duyun menuju dinding-dinding yang tak lagi kosong.
“PERNIKAHAN PUTRA MAHKOTA”.
Kertas pengumuman itu tertempel dimana-mana. Kabar tentang pernikahan Putra Mahkota diumumkan tepat di malam pernikahannya. Jun ada disana, menatap kosong ke arah papan pengumuman itu, membawa hatinya yang hancur. Besok pagi, kekasihnya akan menikah, dengan orang lain.
Jun berjalan menerobos kerumunan, menarik satu dari sekian banyak pengumuman yang ditempelkan. Meremuknya, menjatuhkannya. Di paling depan, ia terus melirik ke arah kertas-kertas pengumuman, yang semakin melukai hatinya. Bergegas ia menarik dan mencabut seluruh pengumuman itu. Tak peduli, saat itu orang-orang memandangnya keheranan.
“Mengapa, orang hina itu yang harus menikah denganmu?” gumam Jun, meredam amuknya.
Segera ia pulang ke rumah, membawa air mata kecewa itu. Saat di perjalanan, dia mendengar orang-orang tetap berbicara buruk tentang Putra Mahkota. Sangat berbeda, kali ini dia begitu senang orang-orang tetap menghujat Putra Mahkota, memunculkan sifat jahat pada dirinya. Dia menangis, tetapi tersenyum puas. Dengan begini, Youra bisa secepatnya hengkang dari istana. Tak ada cara lain untuk keluar dari istana, selain atas persetujuan Putra Mahkota sendiri, selain karena bercerai, Youra tak akan bisa keluar dari istana.
Jun memalingkan wajah, menghapus air matanya, bergegas cepat pulang ke rumah. Benar saja sesuai dugaannya, undangan istimewa dari istana datang untuknya. Kertas mewah itu diantar langsung oleh petugas istana. Sudah jelas, betapa terhormatnya Jun disana. Jun mengambilnya, segera membakar undangan yang hampir membuatnya gelap mata itu.
**
Suara renyah tawa para pelayan istana di malam pernikahannya, membuat Youra semakin terluka. Youra menenangkan diri, meraih seluruh mimpi yang sudah hancur berantakan itu. Menyusun semuanya kembali menjadi puing-puing kenyataan untuk segera dirakit.
Nana..
Paman..
Kak Jun, Nyonya Han..
Bagaimana kabar kalian hari ini?
Tatapan kosong Youra terus diarahkan ke langit olehnya. Malam itu, cahaya indah rembulan adalah kegelapan baginya. Terus saja menyelam lebih dalam menuju harapan hampa. Cita-cita dan segalanya yang sudah kandas begitu saja, memaksanya mengarungi lautan terdalam tanpa rakit lebih dulu.
Pipinya basah oleh banjiran air mata. Tatapan kosong itu, dibalas iba oleh pelayan barunya, Nari. Para pelayan menghentikan tawa mereka, saat memergoki Youra dengan air matanya. Secepatnya mereka menyusun dan merapikan kamar Youra. Menyiapkan segala persiapan untuk pernikahannya besok. Setelahnya, mereka terburu-buru meninggalkan kediaman Youra, lantaran segan.
“Menurutmu, apa yang membuatnya menangis?” tanya seorang pelayan berbisik kepada pelayan yang lain saat tiba di luar bilik Youra.
“Kalau Putra Mahkota itu adalah Pangeran Yul atau Pangeran Hon, mungkin saja dia akan tertawa lepas malam ini. Itu pasti karena dia tahu tentang rumor Putra Mahkota. Dia pasti sedih karena takut menikah dengan pria yang dibenci oleh hampir seluruh rakyat di negeri ini,” jawab pelayan yang lain.
__ADS_1
“Lagipula, gadis itu biasa saja. Tak ada yang menarik sama sekali, bukankah sangat pantas bersanding dengan Putra Mahkota yang hina itu?”.
Dayang Nari yang mendengar itu hanya diam saja, ia tak berbuat apa-apa bahkan untuk sekedar membela. Terus melototi mereka, memandang langit setelahnya.
“Ini aroma kekalahan. Nona Youra, apa yang sedang Anda rencanakan?” gumam Dayang Nari, pelayan baru Youra, yang punya kemampuan meramal masa depan itu.
Dari sudut lain, sekelompok dayang berbaris rapi mengantar kedatangan Putri Shin. Serentak mereka semua panik dan kembali pada posisi mereka masing-masing. Putri Shin menatap seluruh pelayan, segera berjalan cepat menuju bilik Youra.
“Umumkan, aku ingin menemui calon istri adikku,” perintah Putri Shin pada penjaga pintu.
“Nona, Putri Shin ada disini,” lapor sang penjaga pintu.
Youra segera menghapus air matanya, memperbaiki tatanan baju dan duduk seanggun mungkin.
“Silakan,” jawabnya setelah itu.
Putri Shin melangkah kecil, masuk setelah pintu itu terbuka. Dua gadis yang mengalami nasib cinta yang sama itu, kini mata mereka saling bertemu. Bertumpu, menyakitkan entah kenapa. Putri Shin mendekat. Youra bangun dari duduknya, memberikan sambutan hormat pada Putri Shin.
“Selamat datang Tuan Putri. Senang rasanya bisa bertemu denganmu disini,” sapa Youra ramah.
Putri Shin membungkuk hormat padanya. Tatapan sayu sang putri tampak penuh harap. Ia meraih tangan Youra yang bergetar ketakutan.
“Bolehkah aku berpesan satu hal padamu?”.
Perkataan lembut sang putri membuat Youra lebih berani untuk menatapnya.
“Ya, Putri?” tanyanya.
Sambil meneteskan air mata, Putri Shin menggenggam tangan Youra dengan kedua tangannya.
“Kumohon, patuh dan bersikap baiklah pada adikku”.
Putri..
__ADS_1
”Berikanlah dia cinta, yang tidak pernah dia rasakan selama ini”.
Mengapa..
“Bantulah dia untuk berubah”.
Kau meminta pada seseorang..
“Aku tidak tahu seberapa hinanya dia di matamu, tetapi aku mohon, jangan membencinya”.
.. yang ingin membunuh adikmu itu.
”Jika nanti dia bersikap kasar, kumohon bersabarlah. Itulah dia, yang harus kau terima”.
Maafkan aku..
Sepasang mata itu kini menaruh seluruh harapan itu pada Youra. Youra tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa terdiam di tempat. Terpaku, mencoba meraih seluruh bayang-bayang kelam yang hampir saja terbang meninggalkannya.
Tetaplah tenang, bersikap baik dan berpura-puralah menyetujuinya, begitu saja dulu.
”Tentu saja, aku bisa Tuan Putri”.
Aku tidak bisa.
Sesuatu seolah tersangkut di tenggorokan Youra, ingin segera lepas dari sana. Teriakan kepedihan itu serasa sangat mencekik. Entah sampai kapan, Putri Shin terus berdiri disana. Youra tak lagi sabar, ingin segera mengusirnya, tapi tak bisa.
“Dia mengemis pada raja untuk dapat menikahimu, aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Maka, aku mohon terimalah dia dengan baik”.
Putri Shin mulai mengangkat gaun indahnya. Ya, dia segera keluar dari sana. Saatnya Youra bisa kembali bebas mengekspresikan rasa kesalnya. Tak lama setelah Putri Shin pergi dari biliknya, akhirnya Youra bisa bernapas lega, melepaskan jerat-jerat kawat yang hampir saja menyayat jantungnya.
**
Sementara itu, Putra Mahkota bersama perasaannya, sedang duduk manis di balkon kediamannya. Memperhatikan kediaman calon istrinya yang jauh di seberang.
__ADS_1
Tidak tahu apa yang sedang Putra Mahkota itu pikirkan, Jung Hyun terus saja memandangnya disana. Dari bawah kediamannya. Menatapnya dalam waktu yang cukup lama, membuat Jung Hyun semakin penasaran. Sebenarnya, alasan Putra Mahkota meminta Youra menjadi istri, karena cinta, atau sebuah strategi?