
"Lari!"
Pangeran Yul menarik tangan adiknya berlari sekencang mungkin. Saat itu, tiba-tiba saja terputar kembali kenangan lama. Dulu, saat mereka masih sama-sama muda ... tak pernah sekalipun mereka bertengkar. Mereka saling berbagi canda dan tawa. Bermain bersama, bahkan bercerita soal gadis-gadis.
Namun, seiring berjalannya waktu ... semuanya berubah. Pangeran Yul lambat laun cemburu pada kekuasaan Putra Mahkota, apalagi setelah melihat Pangeran Hon dan Putri Shin yang sangat menyayangi beliau. Pangeran Yul tidak pernah sadar, Putra Mahkota adalah yang paling menderita di muka bumi ini.
Pangeran Yul tumbuh menjadi sosok yang keji dan haus kekuasaan. Dia menghabiskan waktunya di rumah bordil, bermain wanita dan berjudi. Tak ada cinta sama sekali. Dia hidup dengan dirinya sendiri, dengan kekuasaan yang dia anggap segalanya.
Sejak saat itu hubungannya dan Pangeran Hon tak lagi baik. Mereka selalu bertentangan. Genggaman tangan yang begitu erat saat itu, kembali menyadarkan. Keluarga adalah segalanya. Mereka saling berpandangan. Tangan itu semakin erat menggenggam. Mereka berlari bersama. Masuklah mereka ke dalam sebuah gudang gandum, bersembunyi sementara.
Saat itu Pangeran Hon terus menatap kakaknya yang terlihat berbeda. "Kakak ... " panggil nya dengan nada yang lembut lagi tulus. "Terimakasih," sambung Pangeran Hon.
***
Sejak saat itu, semuanya berubah dalam waktu yang singkat. Putri Shin telah sadar dari masa kritisnya. Dan Youra memimpin tahta dengan kelemahannya. Tidak tahu siapa yang telah menyusun siasat baru, sehingga sampai detik itu juga Jung Hyun dan Kasim Cho tak bisa dibebaskan. Penyelidikan kasus kematian kedua orang tuanya juga tidak membuahkan hasil sama sekali. Baru-baru ini Youra berhasil melakukan temu damai dengan negeri musuh. Dia menjadi lega karena setidaknya satu masalah selesai dengan cara yang baik.
Hingga detik itu setelah berbulan-bulan, tak ada kabar apapun tentang suaminya. Perutnya yang mulai membesar membuatnya menjadi sangat terluka. Kenyataan memojokkan Youra pada dimensi yang sempit. Hatinya tak lagi ada kelonggaran. Meski semua orang yakin Putra Mahkota sudah tiada, dia masih sangat yakin bahwa sang suami masih hidup sampai detik ini.
Belum lagi semua luka itu kering, tiba-tiba kabar mengerikan kembali menyapa.
"Yang Mulia! Seseorang ... seseorang telah membawa kabur Tuan Muda Young! Beliau menghilang!" Youra melonjak kaget. Jantungnya seolah jatuh dari tempatnya tergantung.
"Tidak, tidak mungkin." Youra segera membawa langkahnya yang lemah menuju ruangan istimewa, tempat dimana dia menyembunyikan kakaknya yang sudah lama tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Dan semua yang terpampang oleh keadaan adalah nyata. Young tak ada lagi disana. "Cepat! Cepat cari kakakku!"
Padahal, Youra sudah berusaha keras untuk menyimpan semuanya sampai Putra Mahkota kembali. Sayang sekali takdir memaksanya untuk segera sadar.
"Yang Mulia ... seorang petugas berhasil menemukan mantan pekerja dapur istana yang dulu pernah melayani Ibu Suri." Cepat-cepat Youra dengan tangisnya melangkah ke ruang Investigasi.
Di dalam sana tertunduk seorang wanita paruh baya yang meringkuk ketakutan. Youra melotot tajam padanya, sebelum mencoba merakit sedikit kesabaran yang mulai hilang.
"Yang Mulia ..." Wanita itu langsung meringkih di kaki Youra. Menyentuhnya seraya memohon iba. "Ampuni aku, Yang Mulia ..."
Youra menelan ludahnya, sangat lelah baginya terus bersabar. "Katakan padaku, siapa yang mengutusmu?" Sangat tenang Youra bertanya. "Yang Mulia, kumohon ampuni aku." Wanita itu terus saja menangis keras di kaki Youra.
"Aku tanya padamu, siapa yang mengutusmu?!" Teriakan yang sejak tadi mencekat tenggorokannya, akhirnya lepas.
Wanita itu kemudian menggenggam tangan Youra dengan tatapan penuh keyakinan. "Yang Mulia, itu adalah benar. Namun, ada hal aneh yang terjadi di luar dugaan." Kalimat ini, menambah tumpukan air mata di pelupuk Youra.
"Apa ... apa maksudmu?" tanya Youra. "Racun yang mencelakai Putra Mahkota, bukan jenis racun yang Ibu Suri berikan. Yang Mulia ... racun yang mencelakai Putra Mahkota waktu itu ... ada orang lain yang menukarnya. Karena ratu tidak menggunakan racun sekuat itu. Beliau hanya menggunakan racun yang melumpuhkan, bukan membunuh." Terlihat bagaimana urat-urat di mata wanita itu menusuk keadaan.
Youra yang dari tadi dihantam keras oleh kenyataan yang pahit, terhuyung-huyung membawa langkahnya beranjak. "Antar aku menuju kediaman."
***
Di kediamannya, Ibu Suri (Ratu Kim) menggigit-gigit jari-jemari. Dia duduk terpaku dengan mata yang mulai menghitam. "Yang Mulia ... tidurlah. Sudah lama Anda bahkan tidak tidur dengan baik. Hamba mohon pikirkanlah kesehatan Anda."
__ADS_1
"Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati." Ibu Suri terlihat mulai tidak waras. Dia menggeleng cepat, terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
"Yang Mulia, Anda ... "
"Dayangku! Tahta ini milikku, bukan milik wanita iblis itu. Ini milikku. Selamanya ini milikku! Hahahaha!" Ibu Suri terlihat sangat putus asa.
"Kita harus menyingkirkan wanita itu," tambahnya sekali lagi. "Yang Mulia, jangan membuatku sedih. Saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan." Sang pelayan mencoba mengulik kesadaran Ibu Suri.
BRAKK!
Suara pintu cekatan dibuka oleh seseorang. "Ibu Suri!" Putri Shin dengan perutnya yang sudah membesar menangis sedu sedan, langsung menghadap ibu kandungnya itu. Dia langsung menggenggam tangan sang ibu dengan wajah penuh harap.
"Putriku ... kau sudah sehat?" tanya Ibu Suri. "Ayo, bantu Ibu ... bantu Ibu, Nak." Ibu Suri bahkan tidak terlihat waras.
"Ibu ... kumohon mengalahlah pada takdir. Kumohon akuilah saja kejahatan yang sudah Ibu lakukan." Suara lirih Putri Shin membawa penuh harapan yang menggantung.
Bukannya merasa bersalah atau takut, Ibu Suri yang bahkan sudah dipojokkan oleh bukti-bukti tidak mau mengalah. Tetap kokoh mempertahankan egonya. "Tidak. Aku tidak pernah salah. Sejak awal tahta ini adalah milikku dan anak-anakku."
"Ibu ... kami tidak pernah mengharapkan tahta ini. Kami hanya ..."
"Keluar dari kamarku!" Teriakan Ibu Suri berhasil membuat semua orang terkejut, termasuk Putri Shin.
"Ibu ..." Putri Shin yang masih lemah dan pucat, meraih tangan sang ibu menyentuh perutnya yang sudah sangat besar. "Anda akan segera memiliki cucu dari putra putri Anda. Tidakkah Anda ingin melihat mereka? Kumohon, akuilah saja kejahatan Anda." Putri Shin masih terus menangis terisak-isak
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengambil lagi apa yang seharusnya menjadi milikku." Tatapan Ibu Suri yang dingin menjatuhkan semangat Putri Shin. Wanita itu akhirnya berdiri dari duduknya. "Kupikir, Anda masih pantas dipanggil Ibu. Dan aku dengan bodohnya terus saja berharap pada kenyataan yang menyedihkan ini. Namun, ternyata aku salah besar. Jangankan sebagai ratu, Anda bahkan tidak pernah benar-benar menjadi seorang ibu." Putri Shin membungkukkan tubuhnya untuk yang terakhir kalinya. Itulah terakhir kalinya Putri Shin menginjakkan kaki di istana.