
"Bagaimana kabar Nona Youra, Tuan Muda?" tanya pamannya Nana seolah tahu apa yang ada di pikiran Nana.
"Dia pasti sangat baik sekarang." Lee Young memajukan sedikit tubuhnya. "Dia sedang bersama Putra Mahkota," bisiknya tersenyum bahagia.
"Benarkah?" Nana dan pamannya saling melempar mata, mereka tersenyum riang. "Syukurlah," tambah mereka.
"Hmm ... terkadang aku merasa seperti nyamuk yang mengganggu kebersamaan mereka. Aku jadi berpikir untuk menikah juga. Sayang sekali, aku malah akan membuat istriku menderita karena berdiam diri dalam peresembunyian seperti ini."
Uhuk! Uhuk!
Perkataan Young membuat Nana berhenti mengunyah. Ia tersedak oleh kenyataan pilu yang mematahkan hatinya. Sangat sadar, bahwa dia tidak akan bisa lagi mencintai tuannya itu seperti sedia kala. "Minumlah dulu, Nana." Paman memberikan segelas air tawar kepada Nana dengan raut khawatirnya. Mukanya sampai memerah karena tersedak sampai melukai hidungnya.
Lee Young terpaku. Sembari mengulurkan sebuah sapu tangan, Young memandangi raut Nana yang sedang kesakitan. Ada yang aneh dari raut wajah Nana. Dia sampai menangis karena mungkin saja hidungnya amat sakit.
"Maaf Tuan Muda, ponakanku mengganggu makan siang Anda."
"Tidak. Tidak masalah," jawab Young tercengang. Paman membawanya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Young yang terhampar bersama tanda tanya.
***
Putra Mahkota terpaku di belakang gubuk mereka. Memandangi sebuah kakus (******) yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Mukanya mengernyit kebingungan. Selama ini setiap kali hendak buang air, para pelayan lah yang akan menyiapkan segala keperluan.
Zaman dahulu pada era kerajaan, bahkan istana selalu mempekerjakan seorang pelayan yang bertugas untuk menampung dan membersihkan sisa-sisa pembuangan para penguasa. Memang terdengar jorok dan tidak masuk akal, tetapi posisi ini bahkan memiliki upah luar biasa yang diperebutkan oleh banyak orang.
Raut wajah Putra Mahkota sudah berubah semakin lama. Youra yang baru saja selesai membersihkan piring makan mereka, mendekati suaminya yang tampaknya ingin segera buang hajat. Ia merayapi tatapan Putra Mahkota yang terpojok lemas memandangi tempat itu.
Youra tertawa terbahak-bahak karena itu sangat lucu. Putra Mahkota pasti tidak tahu cara menggunakannya, karena tidak pernah hidup susah. Putra Mahkota menoleh pada sumber suara yang sedang meledeknya. Tak lama, dia ikut tertawa karenanya. "Istriku, jangan menertawakan aku." Wajahnya malah membuat Youra semakin tak kuasa. Bahkan ia sampai terduduk di atas tanah karena pemandangan menggelitik itu.
"Sayang, jangan menertawakan aku. Bagaimana aku harus memulainya?" Wajah Putra Mahkota yang tertawa kecil benar-benar membuat Youra terpingkal-pingkal. Youra sampai sakit perut, dan memukul-mukul manja pada dada bidang suaminya. "Suamiku, Anda benar-benar lucu sekali."
Putra Mahkota terus saja memandangi istri yang sibuk meledeknya. Youra berusaha keras untuk menahan tawa itu. Dia melangkah maju menuju kakus itu. "Anda hanya perlu membuka celana Anda, lalu berjongkok di atas sini, Suamiku." Youra berjongkok di atasnya.
"Mana air pembersihnya?" tanya Putra Mahkota saat menyadari tidak ada air disana. "Anda bisa mencucinya dengan batu, atau dedaunan." Youra menipu suami lugunya.
"Jorok sekali. Aku tidak mau. Carikan aku tempat yang lain." Putra Mahkota menggeleng cepat.
Youra kembali tertawa. Kali ini lebih parah dari sebelumnya, hingga air matanya keluar. Ia berjalan menuju suaminya, tapi tubuhnya yang melemah karena tertawa membuatnya tak seimbang hingga hampir saja tumbang. Putra Mahkota memeluk tubuh istrinya. "Sayang, apa itu sangat lucu? Aku benar-benar sudah tidak tahan."
__ADS_1
Youra mendongak ke atas melihat wajah tampan yang sudah memerah. "Hm, ada tempat lain yang biasanya digunakan rakyat untuk buang air." Youra hendak memberikan saran lain.
"Cepat, antarkan aku ke sana." Youra menarik tangan suaminya. Dia mengajaknya ke tempat yang tepat.
"Tara!" Youra menyajikan pemandangan anak sungai yang tidak jauh dari gubuk mereka. "Di-disini? Di sungai ini?" tanya Putra Mahkota melotot pada Youra. Dia tidak bisa mempercayai itu.
"Benar, Sayangku. Di sinilah para rakyat mandi dan buang air." Youra menjelaskan itu tersenyum bangga. "Tidak, tidak mungkin. Kita minum dan mandi dengan air di sungai ini. Bagaimana aku bisa buang air disini?" Putra Mahkota kembali menolak. Sekali lagi pula Youra tertawa.
"Memang benar, Suamiku. Tapi begitulah kenyataannya. Mereka mandi dan minum dengan air sungai. Dan buang air juga di sungai." Youra sampai menangis menjelaskannya.
Putra Mahkota memandangi seluruh sisi hutan itu hati-hati. "Sayang, kenapa kau tega sekali pada Suamimu? Bagaimana kalau ada yang melihatku? Apa kau rela suamimu di intip oleh orang lain?"
"Suamiku Sayang, hanya ada kita berdua di hutan ini. Anda bisa mengeluarkan seluruh kotoran-kotoran berharga itu sepuasnya tanpa harus takut diintip oleh orang lain." Youra mulai menertawakan kembali suaminya.
"Begitu ya? Kalau begitu kenapa tadi malam kita tidak melakukannya di luar, di halaman misalnya. Bukankah cuma kita berdua di hutan ini? Kau bahkan menghentikan aku, hanya untuk bertanya apakah pintunya sudah di kunci atau tidak."
Perkataan polos Putra Mahkota berhasil membuat Youra berhenti tertawa. Dia menarik tangan suaminya kembali ke gubuk mereka. Youra mengambilkan air untuk suaminya. "Disini saja, Suamiku. Bersihkan lah dengan air bersih. Aku tidak mungkin rela suamiku diintip oleh orang lain." Youra memegangi manja lengan suaminya, sebelum Putra Mahkota akhirnya lari terburu-buru masuk ke dalam sana.
***
Suara itu mengejutkannya. "Sudah selesai, Suamiku? Sudah paham caranya, kan?" tanya Youra sembari bersusah payah menahan tawa.
"Aku menghukummu." Satu kalimat dari Putra Mahkota yang berhasil membuat Youra membatu. "Di-dihukum?" tanya Youra tak percaya. "Istriku, kau sudah mempermainkan aku."
Mendengarnya Youra langsung mendekat pada suaminya. "Yang Mulia Suamiku, kumohon ampuni aku. Aku tidak bermaksud untuk ... "
"Malam ini aku masih menginginkan hadiah. Aku belum puas. Hukumanmu adalah membuatku puas. Tidak ada pertanyaan soal pintu, atau yang lain yang menghentikanku seperti tadi malam." Putra Mahkota memeluk sang istri dalam dekapannya.
Entah kenapa, hukuman itu membuatnya merinding. Tadi malam saja dia sudah merasa sangat kelelahan, bagaimana dengan nanti karena sang suami sedang marah padanya. Youra tersenyum licik untuk membuat suaminya lelah.
"Baik. Tapi sore ini, kita harus menangkap ikan di sungai. Kita harus menangkap banyak ikan untuk persediaan selama badai. Awan masih sangat gelap. Anda maukan, Suamiku?" Youra membujuknya mesra.
"Apapun yang istriku minta, akan aku penuhi." Tanpa ragu dan curiga, Putra Mahkota menyetujui itu secepat kilat. Youra tertawa menang di dalam hatinya.
Mereka duduk bersama di beranda gubuk mereka. Youra yang masih sibuk memikirkan cara licik untuk membuat suaminya lelah, tiba-tiba kembali terpesona pada wajah tampan yang saat itu sedang berkeringat memandangi langit yang gelap.
"Lee Youra, apa aku tampan?" Meski tak menoleh, Putra Mahkota tahu Youra sedang asik memandanginya. "Anda benar-benar sangat percaya diri. Siapa yang bilang Anda tampan? Kakakku yang lebih tampan," ketus Youra mengelak dari kenyataan.
__ADS_1
"Berarti aku beruntung karena memiliki permaisuri secantik dirimu." Jawaban Putra Mahkota benar-benar diluar dugaan. Putra Mahkota menoleh pada istrinya. Kini mereka duduk berhadapan. Putra Mahkota mengecup dahi sang istri cukup lama.
"Lee Youra, kau tahu betapa aku sangat menginginkan masa berduaan denganmu seperti ini? Sudah lama, aku bahkan berharap keajaiban datang mengantarkan langkahmu menuju istanaku. Aku tidak pernah bisa tidur. Aku sangat terluka saat tahu kau mencintai pria lain. Aku tidak bisa makan, aku juga tidak bisa tenang. Semua orang membenciku. Bahkan wanita yang sangat aku cintai juga membenciku. Apakah saat itu, aku tak bernilai apapun di matamu?"
Youra menyadari satu hal yang hampir saja terlewat. Putra Mahkota tidak pernah makan dan tidur dengan baik di istana. Bahkan dia sering melukai dirinya sendiri. Namun di gubuk kecil ini, dia tidur sangat nyaman dan tenang dalam pelukan Youra. Masakan Youra yang sangat sederhana dan jauh dari hidangan istana, Putra Mahkota memakan itu dengan lahap. Tak sedikitpun mengeluh, atau menolak. Apapun yang dimasak Youra, dia selalu menghabiskan semuanya.
Dia yang biasa hidup kaya raya dan selalu dilayani oleh para pelayan, tidak mengeluh mengerjakan apapun. Meski sebenarnya dia tidak tahu apa-apa tentang hidup susah, dia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk Youra.
Youra naik ke pangkuan sang suami. Putra Mahkota memeluknya erat dari belakang. Youra menitikkan air mata, mengingat bayang kelam saat dulu dia selalu saja menyakiti. "Suamiku, apa yang harus aku lakukan untuk membayar semuanya? Aku akan melakukan apapun untuk Anda." Youra menggenggam tangan lebar itu di dekapnya.
"Lee Youra, jawablah dengan jujur pertanyaanku. Apa saat ini, masih terisa perasaanmu untuk Guru Jun? Jika memang begitu, katakan saja. Aku akan membantumu belajar mencintaiku."
Pertanyaan Putra Mahkota membuat Youra membalikkan tubuhnya. Dia meraih wajah itu, memandanginya lama. "Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya, Suamiku. Aku bahkan tidak lagi mengingatnya. Cintaku kepada Anda, tidak sama seperti cintaku kepada Guru Jun dulu. Aku sangat mencintai Anda. Benar-benar sangat mencintai Anda."
Youra memeluk suaminya. "Aku hampir saja ingin mati mendengar kabar Anda tewas. Aku tidak bisa kehilangan Anda. Aku tidak bisa." Youra memeluknya semakin erat. Putra Mahkota tersenyum sangat senang. Dia semakin yakin tentang cinta Youra kepadanya.
"Suamiku, apa sakit pada luka itu mulai hilang?" tanya Youra mendadak melepaskan pelukannya. "Saat bersamamu, aku tidak tahu mengapa rasa sakitnya musnah. Tapi saat aku tidak melihat permaisuriku, aku merasa hatiku mendominasi rasa sakit ini." Putra Mahkota selalu saja bersikap manis kepadanya. Youra kembali memeluknya.
"Kalau nanti kita kembali ke istana, bolehkah aku meminta sesuatu yang terkesan egois?" tanya Youra.
"Apa saja, akan aku berikan," jawab Putra Mahkota lantang. "Aku tidak ingin Anda memiliki selir. Aku juga tidak ingin istana mengirimkan wanita-wanita ke kediaman Anda. Apa itu boleh?" tanya Youra sedikit ragu.
"Bahkan meski kau terus menyakitiku, aku tidak pernah berpikir untuk mencari yang lain." Putra Mahkota memeluk sang istri, menggoyangkan sedikit tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Membawa tubuh mungil itu menikmati hembusan angin yang cukup kencang itu bersama. "Tapi kan itu sebelum Anda mendapatkan cintaku. Sekarangkan sudah. Aku jadi takut Anda bosan," keluh Youra.
"Aku tidak akan pernah bosan pada permaisuriku. Aku akan sakit jika kehilangan sesuatu yang pernah aku miliki. Dulu aku sakit, saat pelayan setia yang biasanya membuka pintu bilikku dipecat. Aku juga sakit saat kehilangan kuas kesayanganku. Mereka bilang, aku terkena penyakit mental yang memaksaku untuk tetap kuat jika kehilangan sesuatu. Sebagai contoh, sudah lebih dari 15 tahun Kasim Cho bekerja bersamaku. Aku tidak pernah bosan melihatnya. Apalagi ini soal wanita yang sudah aku cintai sejak aku kecil. Aku malah takut, kau yang akan mencoba pergi meninggalkan aku lagi."
"Aku tidak mungkin meninggalkan Anda. Sampai kapanpun tidak akan. Saat ini aku sangat berharap benar-benar bisa memberikan Anda dua orang anak," pungkas Youra cepat.
"Dua? Kenapa tidak berbicara dulu kepadaku? Aku ingin punya 5 orang anak," Putra Mahkota kembali menimpali.
"Punya lima orang anak di istana akan menjadi sulit, karena bertemu dengan Anda sangat dibatasi. Mengapa aturan di istana seperti itu? Mengapa suami istri harus tinggal berpisah? Padahal kalau tinggal di desa, semuanya hidup bersama dalam satu atap yang sama." Youra menuangkan segala inginnya.
"Aku sangat menginginkan hal itu. Jika kau tidak ingin kembali ke istana, kita bisa hidup bersama anak-anak kita disini. Bukankah disini lebih baik?" tanya Putra Mahkota kembali membahas hal yang sama seperti waktu itu.
"Apa Anda yakin?" tanya Youra meyakinkan. "Aku sangat yakin. Bersamamu, aku pasti bisa melewati semuanya." Pria itu selalu saja berkata manis kepadanya.
***
__ADS_1